
Lucky keluar dari mobilnya dengan tergesa. Beni dan juga beberapa pengawal mengikuti langkahnya masuk kedalam toko roti dimana pak Karim menunggunya dengan wajah tegang dan ketakutan.
Setelah menyadari kehilangan Sri, pak Karim segera menghubungi Lucky dan menyampaikan berita itu. Lucky sangat marah dan langsung saja meluncur ke toko roti. Toko itu langsung di kosongkan dari semua pengunjung. Beberapa orang-orang Lucky langsung di kerahkan untuk mengecek dan menelusuri keberadaan Sri.
Lucky berdiri tepat di depan pak Karim. Lelaki itu menunduk takut. Tangannya sampai menggeletar saking cemas memikirkan hukuman dari Lucky.
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Lucky dingin.
"M-ma-af tuan. S-saya tidak melihat langsung" pak Karim tergagap. Wajahnya pucat pasi.
"Lalu apa saja kerjamu! Hah??!! Menjaga istriku saja kau tidak benar!!" teriak Lucky marah. Matanya melotot menatap pak Karim yang terjangkit kaget.
"M-maaf tuan" lirih pak Karim menunduk semakin dalam.
"Ceritakan apa yang terjadi" pinta Lucky seraya menarik napas dalam.
"N-nona Sri meminta saya berhenti di sini tuan. Katanya sudah memesan kue buat tuan. Tapi nona muda minta saya yang turun. Nona menunggu di mobil"
"Lalu?"
"Karena pengunjung agak ramai, saya ikut mengantri. Saya tidak memperhatikan nona Sri lagi"
"Akhhh.. Kalian tidak becus! Bekerja tidak beres!! Apa harus aku memecatmu juga Karim?!" amarah Lucky tidak terbendung lagi. Sangat banyak masalah yang datang padanya. Kini istri tercintanya pun harus masuk ke dalam masalah ini.
"Tuan" seorang pengawal datang mendekat. Lucky meliriknya sekilas. "Anda harus melihat cctv, tuan"
Lucky berbalik. Mengikuti langkah pengawalnya ke dalam ruangan menejer toko. Tampak seorang lelaki muda, yang Lucky tebak adalah menejer toko, dan ada dua orang karyawan toko sedang memperhatikan layar monitor cctv.
"Selamat sore, tuan Lucky. Saya Kris, menejer toko ini" Kris mengulurkan tangannya pada lucky. Lucky menjabat tangan Kris. Lalu ikut melihat ke layar.
"Kami menemukan ini dari cctv area parkir, tuan"
Menampilkan mulai mobil Sri datang, sampai pak Karim keluar dari mobil. Lalu mobil lain datang di belakang Sri, dan keluar dua orang pria memakai rompi petugas parkir, topi dan masker. Wajah mereka tidak tampak jelas. Tapi jika melihat postur dan ciri-ciri salah seorang dari mereka, Lucky seakan mengenalinya.
"Apa itu Noah?" gumam Lucky pada dirinya sendiri.
Menghampiri mobil Sri dan mengetuk kaca pintu mobil. Berbincang sejenak dengan Sri, lalu terlihat Sri akan menutup jendela. Dan yang lain merogoh ke dalam mobil. Tak lama pintu mobil di buka dan mereka menarik Sri keluar dari mobil.
Lucky mengerutkan keningnya. Sepertinya Sri tak banyak memberi perlawanan. Sri keluar dari mobil di papah salah seorang dari mereka. Jalannya agak terseok, tapi masih bisa merangkul pundak pria itu. Masuk ke mobil di belakang mobil Sri. Lalu mereka pergi.
"Kau sudah mengecek plat mobil ini?" tanya Lucky pada pengawalnya yang bernama Andri itu.
"Sudah tuan. Tim kita sedang mencari keberadaannya sekarang"
"Bagaimana hasilnya?"
"Untuk saat ini belum ada, tuan"
Brak!!
Semua kaget. Lucky menggebrak meja dengan geram dalam kemarahan. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Dia tidak bisa lagi bersabar menanti kabar di mana istrinya sekarang.
"Cari istriku sampai dapat!! Kalau tidak, aku akan menghabisi kalian semua!!" teriak Lucky lantang memarahi semua pengawalnya.
Andri memerintahkan beberapa rekannya untuk langsung mengecek pengawal lain yang sedang mencari di mana keberadaan mobil yang menculik Sri.
Lucky berjalan mondar-mandir. Terpancar jelas kecemasan dan khawatir memikirkan Sri. Sampai akhirnya papi Frans datang dan menemui Lucky.
__ADS_1
"Bagaimana, Luck?"
"Belum ada berita, pa. Nihil" Lucky terduduk lesu.
"Sabarlah. Papi sudah mengerahkan orang-orang kita"
"Papi sudah lapor polisi?" Lucky mencemaskan itu.
"Tidak. Papi masih ingin mendengar keputusanmu"
"Sebaiknya jangan dulu, pi"
"Hm" Frans mengangguk. Ikut merasakan kekhawatiran putranya.
Andri kembali masuk. Wajah tegang terpancar jelas. Tapi dia membawa berita baik.
"Tuan, kami sudah menemukan mobilnya"
"Hah? Dimana?" Lucky langsung bangkit dari duduknya. Sangat antusias mendengar kabar baik dari Andri.
"Di hotel xxx. Terparkir di Basement hotel"
"Hotel?" Frans mengernyitkan dahi dengan bingung.
"Ayo. Segera berangkat ke sana. Katakan pada yang lain untuk memeriksa dengan seksama"
Lucky tidak mau memikirkan hal lain lagi. Menarik papinya untuk segera meluncur ke sana.
š
š
š
"Kami sudah memeriksanya tuan. Sepertinya tidak ada orang di dalam. Tidak ada pergerakan" anak buah Andri menjelaskan.
"Tapi aku kenal mobil ini. Ini sepertinya mobil Noah. Aku pernah melihatnya, pi!" Lucky semakin bingung kenapa jadi mobil Noah yang di gunakan menculik istrinya?
"Kau yakin?" tanya Frans.
"Iya. Aku yakin sekali. Mobil ini jarang di gunakan Noah"
"Sepertinya Sri ada di hotel ini, Luck. Lebih baik kita langsung ke dalam" ujar Frans.
Tak ingin membuang waktu, Lucky langsung saja keluar dari area basement. Frans, beni dan yang lain mengikuti langkah Lucky. Mereka memasuki area lobi hotel.
Banyak mata tertuju pada mereka. Pengunjung hotel yang berada di area lobi sangat kebingungan dengan kedatangan begitu banyak orang yang memakai seragam jas hitam menggeruduk masuk. Sudah seperti di film Hollywood saja rasanya. Pihak FBI akan menangkap tersangka yang sangat berbahaya.
Resepsionis yang berjaga terlihat bingung. Keamanan hotel sudah menyebar mengamankan situasi ini. Anak buah Andri datang mendekat.
"Kami sudah memeriksa tuan. Tapi mereka bilang tidak ada yang chek in atas nama nona muda"
"Hmm.. Periksa sekali lagi. Bila perlu geledah semua kamar hotel ini satu persatu!" geram Lucky dengan raut wajah gelap.
"Baik tuan"
Beberapa pengawal kembali memeriksa. Dan Lucky tampak sangat gelisah. Sampai Frans menepuk punggung Lucky untuk menenangkan putranya itu.
__ADS_1
"Lucky!"
Lucky menoleh mencari asal suara. Dia sangat kenal suara itu. Dan benar saja. Begitu dia menoleh, terlihat Amira datang mendekat dengan wajah bingung dan penasaran sekaligus.
"Hai Luck. Ada apa ini?" tanya Amira. Menatap Frans agak sedikit sungkan. Frans diam saja.
"Kenapa kau disini?" Lucky balik bertanya.
"Emm.. Aku? Aku sedang ada pertemuan disini" Amira menunjuk beberapa awak media yang sudah sibuk meliput kehebohan ini. "Aku sedang wawancara tadi. Dan aku melihat mu datang. Ada apa Luck? Kenapa seheboh ini?"
"Sepertinya ini bukan urusanmu, Mira. Pergilah" usir Lucky. Tapi Amira bergeming. Masih menatap Lucky intens. Seperti mencari apa yang di sembunyikan Lucky darinya.
"Mmm.. Apa kau mencari Noah?"
Deg!
Pertanyaan Amira ini membuat Lucky terperanjat kaget. Menatap Amira Lamat. Bagaimana Amira dapat menebak itu? Padahal dia hanya mencari istrinya.
"Apa maksudmu?" tanya Lucky tidak senang.
"Emm.. Bukan ya?" Amira tampak tak enak hati. Melirik Frans dan Lucky bergantian seraya tersenyum canggung. "Aku kira kau mencari Noah. Karena tadi aku melihat Noah naik lift menuju lantai atas"
"Apa?!"
Lucky semakin kaget bukan main. Bagaimana semua kebetulan ini terjadi? Istrinya di culik dan Penculiknya memakai mobil Noah. Dan Amira melihat Noah di sini. Kebetulan apa ini? Apa Noah balas dendam kerena dia memecat Noah?
"Iya, Luck. Aku tadi melihat Noah. Dan.. Dan.." Amira seperti sengaja menggantung bicaranya. Membuat Lucky semakin tegang dan penasaran.
"Dan apa? Bicara yang jelas, Amira!" sentak Lucky tak sabar.
Amira tampak beringsut takut melihat kemarahan Lucky. Sikap tak sabar Lucky menciutkan nyalinya.
"Sabar, nak" Frans mencoba menenangkan Lucky.
"Maaf Paman" Amira menatap Frans mengiba.
"Tidak apa-apa. Lanjutkan. Apa yang kau lihat lagi?" Frans bertanya dengan tenang.
"Tidak berapa lama, saya lihat Sri datang"
"Apa?! Kau tidak bohong kan?!" Lucky semakin terguncang mendengar apa yang di katakan Amira.
"Aku tidak bohong, Luck. Aku melihat Sri juga ada di sini. Aku pikir, istrimu hanya ingin menemui kamu. Mungkin kalian ada rapat di sini. Aku berpikir begitu" jawab Amira lagi.
Anak buah Andri datang lagi.
"Tuan, maaf. Tidak ada nama nona muda. Tapi kami mengecek, ada nama tuan Noah di daftar"
Duar!!!
Serasa kepala Lucky pecah berantakan mendengar informasi itu. Tangannya gemetar dengan wajah memerah tak mampu lagi menyembunyikan amarahnya.
"Dimana?"
"Kamar nomor 103"
Tanpa banyak bicara lagi, Lucky segera beranjak dengan langkah lebar. Tapi tak di sangka, Amira malah membuntutinya.
__ADS_1