
Lucky lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Sri sudah lelah hanya diam menunggu di kamar. Akhir-akhir ini Lucky susah diajak bicara. Tapi Sri memaklumi. Keadaan bisnis Lucky sedang tidak baik-baik saja.
Tok..tok..tok..
"Mase" Sri mengetuk pintu ruang kerja Lucky dan memanggilnya. Membawakan cemilan kecil dan teh.
"Masuk" jawab Lucky dari dalam.
Sri membuka pintu. Melongokkan kepalanya. Tersenyum ketika melihat Lucky duduk di kursi meja kerjanya. Menatapnya di pintu.
"Masuk, sayang" ulangnya lagi.
Sri melangkah masuk. Meletakkan nampan di atas meja. Lalu melihat ke laptop. Lucky bergeser sedikit memberi ruang untuk istrinya. Sri memperhatikan diagram penjualan yang menurun drastis. Ikut bersedih dan prihatin melihat itu. Sri menoleh lagi pada Lucky. Guratan wajah lelah Lucky sangat tampak tergambar jelas. Sri menyentuh pipi suaminya.
"Mase, minum dulu. Jangan kerja terus" ujarnya pelan.
Lucky mendongak menatap Sri yang berdiri di depannya dengan senyum lelah. Lalu menarik Sri merapat padanya. Memeluk istrinya dan menyandarkan kepalanya di dada sri. Memejamkan mata seakan meresapi nyamannya bersandar di sana.
Sri tercekat. Hatinya teriris sembilu melihat kesedihan Lucky. Belum pernah Sri melihat Lucky menjadi lemah begini.
"Sayang, aku lelah" lirih suara Lucky. Menyatakan perasaan lelah menghadapi ujian yang keras.
Terenyuh hati Sri mendengar itu. Memeluk kepala Lucky dan mengecup puncak kepala suaminya. Membelai rambut hitam itu lembut.
"Sabar Mase. Pasti ada jalan keluarnya"
Lucky merenggangkan pelukannya. Mendongat menatap mata Sri lekat.
"Sayang, maaf ya? aku jadi tidak punya banyak waktu sama kamu"
Ahhh.. mas Lucky. Manis banget sih kalau lagi begini.. uugghh.. gemeshh aku tuh mas!
"Ndak apa-apa mas. Mase kan lagi sibuk"
Mereka berdua saling tatap dan mengulas senyum. Saling mengerti dengan tatapan mesra. Sri mengambil kursi lain dan duduk di samping Lucky. Mengambil cemilan dan menyodorkannya ke mulut Lucky.
"Ayo, makan ini dulu biar semangat"
Lucky membuka mulutnya dan Sri menyuapkan. Mengunyahnya pelan sambil menatap Sri tak lepas. Berkata-kata dalam hatinya sendiri. Betapa ia mencintai istri medoknya ini.
"Kok ngeliatin gitu toh mas?" Sri kikuk di perhatikan Lucky.
"Kamu manis sekali, sayang"
"Lah.. Mase baru ngeh tah?" Sri melebarkan matanya menggoda.
"Hehehe.. Iya, sayang" Lucky mencolek kecil hidung Sri.
Sri juga terkikik geli. Senang melihat Lucky bisa mencair dan tidak kaku lagi hanya memandangi layar laptopnya. Menyodorkan cemilan lagi ke mulut Lucky.
"Sekarang kamu sayang" gantian Lucky menyodorkan cake ke mulut Sri.
"Ndak usah mas. Mase aja" Sri menolak.
"Lho? ya enggak dong. Apa mau dari mulut aku nih?"
"Iishh.. apaan toh mas? jorok!" Sri mengelak.
"Kok jorok?" Lucky mengernyit. "Bukan yang ini sayang. Tapi ini"
__ADS_1
Lucky cepat menelan makanan di mulutnya. Lalu menaruh cake di bibirnya. Menyuruh Sri makan dari bibirnya. Mendekatkan bibirnya maju ke depan Sri. Wajah Sri bersemu. Ada-ada saja kelakuan suaminya ini.
"Ndak mau mas" Sri memalingkan wajahnya malu.
"Emm.." Lucky sedikit melotot. Menyuruh Sri untuk segera mendekat.
Dengan tersipu, Sri mendekatkan wajahnya. Lucky terkekeh tertahan karena bibirnya terkatup mengapit cake. Sri membuka bibirnya. Menempel pada bibir Lucky. Tapi Lucky sedikit menahan agar tidak mudah Sri mengambil cake itu dari bibirnya.
Sri menjauhkan wajahnya lagi. Merengut kesal karena Lucky sengaja menahan cake lebih erat.
"Gimana toh mas? kok malah di tahan?" Memukul paha Lucky gemas.
Lucky terkekeh lagi. Geli melihat Sri cemberut manja. Mengambil cake dari bibirnya.
"Berusaha dong, baby.. pakai lidahnya biar gampang" Meletakkan lagi cake itu di bibirnya. Lalu menyodorkannya lagi pada Sri.
Sri semakin cemberut. Dia tahu akal-akalan Lucky. Tapi tak urung dia laksanakan juga. Mendekat dan menempelkan bibirnya pada bibir Lucky. Menjulurkan lidahnya mengorek ke bibir Lucky yang menjepit cake.
"Eemmhh.."
Lucky mengerang rendah ketika merasakan lidah hangat Sri menjilati bibirnya. Remahan cake berjatuhan di dagunya. Tapi Sri masih berusaha. Menekan bibir Lucky untuk terbuka. Lebih bersemangat ketika Lucky kalah dan membuka bibirnya menyerahkan cake itu ke mulut Sri.
"Yyeeyy... Sri dapat!" Sri bersorak ketika berhasil mengambil cake dari bibir Lucky. "Mase kalah yo.. emmpp"
Sri menjulurkan lidahnya mengejek Lucky. Lucky tertawa renyah melihat tingkah Sri. Istrinya seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan permen kesukaannya. Selalu bisa menjadi penghibur di kala resah.
Lucky bangkit berdiri lalu menarik tangan Sri. Membopongnya ala bridal style. Membawa Sri ke sofa empuk yang ada di ruang kerjanya. Memangku Sri dan mengecupi pipinya. Sri terkikik geli menahan wajah Lucky agar berhenti.
Ketika berhenti dan saling menatap lagi. Mata mereka bicara banyak. Tanpa kata yang terucap. Lucky mendekatkan wajahnya danengecup bibir sri. Mengu**mnya lembut. Menyesap rasa manis bibir merah dan basah milik istrinya. Bibir yang selalu membuatnya candu. Manis.
"Baby.. aku mencintai kamu" bisik Lucky begitu ciuman itu terlepas.
"Banyak. Sebanyak bintang di langit"
Senyum Sri makin mengembang. Mengelus rahang suaminya mesra. Wajah tampan rupawan milik suaminya.
"Sri juga cinta Mase"
"Benarkah?"
Sri mengangguk-anggukkan kepalanya cepat.
"Berapa banyak?"
"Sebanyak rambut di tubuh Mase"
"Hah?"
"Hihhihii.. Banyak kan mas?"
"Nakal kamu"
Lucky gemas mendengar jawaban Sri. Mengecupi pipi dan leher jenjang nan mulus itu. Sri menggelinjang kegelian. Merambat kecupan Lucky menjadi jila**n. Membuat Sri mende**h geli.
Tapi Sri teringat testpack yang di belikan Agnes tadi. Ia ingin mengatakan itu pada Lucky. Rasa takut suaminya akan kecewa bila ia tidak benar hamil, segera ia tepiskan. Sri ingin Lucky tahu kalau dia sudah terlambat menstruasi.
"Mase"
"Hmm?" Lucky bergumam tak menghentikan kegiatan panasnya.
__ADS_1
"Mase.. Sri mau ngomong"
"Mm.. bicara saja sayang"
Lucky menaikkan baju Sri ke atas. menampilkan dada Sri yang membusung masih tertutup bra. Melirik Sri sejenak, lalu melepas bra itu naik keatas.
"Mas.. aahhh.."
Sri tak kuasa menahan serangan Lucky. Mencucup ujung pinkynya lembut. Menimbulkan gelenyar yang mendebarkan. Mengatupkan bibirnya dan memejamkan mata. Menjambak rambut belakang Lucky meresapi rasa nikmat yang mendera.
"Maseehh.. uuhh.."
"Ya baby.. Hmm? mende**hlah"
"Sri.. udah.."
Tiliitt.. tilliiliiit..
Ponsel Lucky berdering di atas meja kerja. Memecah konsentrasi Lucky mencecap ujung pinky istrinya. Mencoba mengabaikan dering ponsel menjerit di atas meja.
"M-maass.. ponsel" Sri menahan gerakan Lucky yang semakin liar. Merasa terganggu dengan suara ponsel yang tak berhanti.
Lucky melepaskan mulutnya. Menatap meja kerjanya dengan geram. Seakan mengerti, deringan yang memekakkan telinga itu berhenti.
"Sudah berhenti sayang" Lucky tersenyum menatap Sri. Tak mau terganggu dengan hal lain, Lucky melanjutkan. Sri ingin protes, tapi Lucky cepat menyumpal mulutnya dengan bibir panasnya. Membungkam Sri dengan pagutan hangat yang melenakan.
Tiliitt.. tiliitt..
Sri melepaskan lagi pagutan suaminya. Benar-benar merasa risih dengan dering ponsel.
"Mas, mungkin ada yang penting"
"Ah.. mengganggu saja!"
Dengan jengkel Lucky bergerak bangkit. Menggeser Sri mendudukkannya di sofa. Berjalan ke meja kerjanya dan meraih ponsel. Melihat di layar nama Noah.
"astaga! dia ini selalu menggangguku!"
Geram Lucky menggeser lingkaran hijau di layar. Mendekatkan ponsel ke telinganya. Sri hanya diam memperhatikan. Begitu mendengarkan suara Noah di seberang sana, wajah Lucky tampak menegang. Lalu cepat mendekati Sri tergesa.
"Sayang, terjadi sesuatu. Ayo"
Lucky menarik tangan Sri untuk berdiri. Keluar dari ruang kerja menuju kamar papi Frans. Sri kebingungan dengan tingkah Lucky.
"Mas, ada apa?"
"Nanti saja sayang"
Tergesa mengetuk pintu kamar papinya. Pintu terbuka. Muncul papi Frans dengan mata tampak masih mengantuk.
"Ada apa Luck?" Frans mengernyit.
"Pap, kakek tertembak"
"Apa?"
Mereka panik. Sri tercekat ngeri. Mami Melani apalagi. Lucky dan papi Frans langsung bersiap untuk pergi ke mansion Albronze. Sebelum pergi mengarahkan keamanan untuk lebih ketat berjaga.
"Sayang, aku pergi dulu. Tetaplah bersama mami. Oke?"
__ADS_1
"Hati-hati mas"