OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Pulang Dengan Ku


__ADS_3

Hari ini bekerja tanpa semangat. Tapi Sri harus berusaha seprofesional mungkin. Walaupun ada kesalahan yang ia lakukan. Tapi Noah masih bisa memakluminya.


"Perbaiki lagi Sri" Noah menyerahkan lagi berkas dalam map biru itu kepada Sri. Gadis itu hanya mengangguk lemah.


"Iya pak. Maaf. Permisi pak"


Sri berbalik dan melangkah ke pintu. Tapi Noah memanggilnya lagi.


"Ada lagi pak?" tanya Sri tertegun.


"Sini sebentar"


Noah menatap kursi di depannya. Mengisyaratkan Sri untuk duduk di sana. Sri menurut. Duduk lagi di depan Noah. Menunduk dengan lemah. Tapi sepersekian detik Noah tetap diam. Sri mendongak menatap Noah dengan tanda tanya di matanya.


"Ada apa pak Noah? Ada lagi yang harus saya perbaiki?" tanya Sri menatap Noah. Tatapan Noah menyelidik kemata Sri. Seakan ingin mencari jawaban akurat di matanya.


"Kamu kenapa?"


Deg!


Pertanyaan itu sukses membuat mata Sri memanas. Tiada tempat mengadu membuat Sri langsung lumer mendapat pertanyaan itu. Seakan menunggu seseorang bertanya keadaan hatinya sekarang. Dan Noah lah orang pertama yang tahu kondisi hatinya.


"Ndak ada pak. Saya baik-baik aja" Sri mengerjab memaksa air matanya kembali masuk. Jangan sampai tumpah di depan Noah.


"Apa ada yang menyusahkan mu hari ini?"


Sri hanya menggeleng. Dia juga tidak bisa bicara dengan Noah tentang Lucky dan Amira bukan? Itu tidak pantas.


"Tapi kau tidak menampilkan semangat mu. Pasti ada yang mengganggu mu" Noah masih menatapnya tajam. Seakan tahu sebaik apapun Sri menyembunyikan, itu sangat jelas terlihat kepermukaan.


"Tidak mau cerita?" Noah masih mencoba. Sri menggeleng lagi.


"Ya sudah tidak apa-apa. Nanti pulang kantor, sama aku" ujar Noah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


Ah... angin segar itu muncul. Noah menawarkan pulang bareng. Pasti menyenangkan. Tapi Sri teringat pak Karim. Bagaimana caranya dia bisa tidak pulang dengan pak Karim? dan wajah Lucky dengan tatapan tajam dan marah melintas di pikirannya.


"Nanti saya pikirkan lagi pak. Permisi"


Hanya itu yang bisa Sri katakan. Beranjak pergi keluar dari ruangan Noah. Duduk di kubikelnya lagi, dan membuka berkas yang harus di perbaiki. Malas sekali harus memulai dari awal. Sri memutuskan memulai di tempat yang tadi di tunjukkan Noah saja. Agar lebih cepat selesai. Mengetik balik di komputernya. Dia harus kerja ekstra hari ini.


Jam makan siang terlewat. Sri memutuskan makan siang di kubikelnya saja. Tidak ikut dengan rekan sedivisinya ke kantin kantor. Meminta OB untuk membelikannya nasi bungkus. Itu sudah cukup.


Sampai jam istirahat usai, Sri masih berkutat di komputernya. Niar, Dila, dan Agnes sudah masuk kembali dengan wajah tertekuk cemberut. Sri melihat mereka dengan rasa heran.


"Mbak Agnes, kenapa?" tanya Sri.


"Untung kamu gak ikut ke kantin Sri" Agnes menepuk pundak Sri lalu melipat tangannya di dada.


"Kenapa mbak?"

__ADS_1


"Hh.. iya Sri. Kalau kamu ikut kamu bakalan muntah! huek!" Niar menimpali dengan mulut memperagakan orang muntah.


"Ada apa sih?" Sri sangat penasaran.


"Tadi si Susan tuh. Masak ya bicara aja pake ngelendot segala. Di dada lagi. Gini nih.. heeem.. nempel terus!" Niar bicara dengan semangat.


"Hah? Sama siapa?" Sri melongo.


"Sama pak Noah lah! siapa lagi?"


Glek!


semakin terbengong Sri mendengar itu. Noah? Apa iya dengan Susan seperti itu?


"Untung aja pak Noah langsung pergi. Susan tu ya.. iihh.. kalau kamu lihat wajahnya tadi, bangganya setengah mati!" Agnes menyambung dengan berapi-api.


Ah.. apalagi ini? Noah memang selalu di gosipkan. Wajah ganteng dan posisi mapan, membuat dia jadi primadona. Banyak wanita di perusahaan ini menggilainya. Bahkan banyak yang mencoba menjebaknya dengan segala cara. Hahhhh.. Noah.. untung saja tidak ada yang tahu kalau Sri pernah jalan sama Noah di pulau waktu itu.


"Menjijikkan sekali si Susan itu" Niar mengedik sinis.


"Tapi kalau kamu yang ngelendot begitu, gimana Niar?" tanya Dila.


"Eehh.. ya enak dong! kalian jangan iri" Niar berkacang pinggang.


"huuuu... sama aja lu.. ganjen!" Agnes menoyor bahu Niar gemas.


Mereka semua tertawa. Dan langsung terdiam begitu melihat Noah masuk ke ruangan. Mereka buru-buru kembali ke kubikel masing-masing. Sri geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-temannya ini.


Sri pura-pura tak melihat. Menunduk menatap berkas dan membolak-baliknya. Agnes mendelik menatap Sri ketika Noah sudah masuk ke ruangannya. Segera Agnes mendatangi Sri dan bertanya garang.


"Iihh.. Sri! kamu ada hubungan apa sama pak Noah?" suara Agnes di tekan agar tidak terlalu keluar di dengar yang lain.


"Hah? hubungan apa mbak Agnes? Ndak ada kok" Sri kebingungan menjawab pertanyaan Agnes. Memang nyatanya dia tidak ada hubungan sepesial dengan Noah.


"Tadi itu, pak Noah senyum sama kamu! Itu bahaya Sri!"


"Aduh.. senyum? bahaya? apaan sih mbake? Sri Ndak ngerti"


"Pak Noah gak pernah kasi senyum sama kita kita. Tapi kok sama kamu senyum?" Agnes menatap curiga.


"Ah.. mbak Agnes ini. Mana Sri tau. Lagian Sri Ndak lihat tuh pak Noah senyum"


Agnes diam dengan tatapan menyelidik. Dia heran kalau sampai Noah melemper senyum kepada Sri, itu artinya ada yang tidak beres. Noah selalu bersikap dingin dengan semua bawahannya.


"Sudah mbak. kerja lagi. Sri masih banyak kerja ini" Sri mengusir Agnes dengan halus.


"Hmmm.. aneh ya"


Agnes balik lagi ke kubikelnya. Sri mendiamkan saja. Sibuk lagi dengan pekerjaannya. Begitu tergila-gila kah semua wanita di sini dengan Noah? sampai-sampai hanya senyum pun bisa menjadi gosip panas di antara mereka. Nyali Sri menciut. Kalau sampai ada yang tahu dia pernah pergi dengan Noah, bisa-bisa Sri jadi banyak musuh dan di gosipkan seantero kantor.

__ADS_1


🌺


🌺


🌺


Jam kerja usai. Kini Sri kembali di buat bimbang. Noah sudah mengirim pesan padanya untuk menunggu di baseman, untuk pulang bersamanya. Tapi Sri bingung bagaimana caranya. Pak Karim pasti sudah menunggu di tempat biasa dia menunggu. Dan bagaimana nanti sampai ketahuan karyawan lain?


Sri mengecek ponselnya lagi. Lucky sungguh keterlaluan. Sampai sekarang tidak ada kabar sedikit pun. Apa terlalu sibuk dengan kerja? atau dengan Amira?


Argghh!!! sial amat jika harus memikirkan Lucky lagi. Dia saja tidak memikirkannya sama sekali! Darah amarah naik ke ubun-ubun kepala Sri seketika. Persetan dengan Lucky dan mata karyawan lain! Sri mengetik pesan untuk pak Karim. Menyuruh sopirnya itu untuk pulang tanpanya.


"Saya ke rumah teman pak. Bapak pulang sendiri saja. Bilang sama mami ya"


Setelah itu Sri menunggu karyawan lain agak sepi. Agnes dan yang lainnya sudah lebih dulu keluar. Sri masih duduk di kubikelnya. Melirik pintu ruang kerja Noah yang sudah tertutup rapat. Setelah di rasa aman, Sri melangkah keluar dan menuju ke baseman.


Mencari mobil Noah di baseman. Area parkir baseman sudah agak sepi. Karena sudah banyak karyawan yang pulang. Tapi masalahnya, Sri tidak tahu mobil mana yang di kendarai Noah.


Ting!


pesan masuk ke ponselnya. Sri mengecek. Ternyata Noah.


"Bingung amat. Aku di samping mu"


Hah? disamping? Sri menoleh ke sampingnya. Ada sebuah mobil yang kacanya langsung terbuka begitu Sri menoleh. Noah tersenyum. Sri agak berdebar untuk Naim ke mobil Noah. Memeriksa sekelilingnya dulu, kalau-kalau ada orang yang melihatnya. Dirasa aman, Sri masuk.


"Haha.. kamu tegang sekali Sri"


Noah tergelak melihat wajah tegang Sri setelah masuk ke mobil Noah. Untung saja kaca mobil Noah gelap. Sehingga orang luar tidak bisa melihat ke dalam mobil.


"Sri takut pak. Fans bapak banyak. Bisa bonyok saya di hajar mereka" jawab Sri meringis.


"Haha.. cara kamu memeriksa itu loh. Biarpun tidak ada orang di sini, tapi ada cctv Sri" Noah masih saja tergelak.


"Hah? mampus! Sri lupa kalau ada cctv pak. Aduh! Sri turun aja ya?"


Sri berniat membuka pintu mobil lagi. Tapi Noah mencegah. Menarik tangan Sri agar duduk kembali.


"Sri.. duduk tenang. Tarik napas... "


Sri menurut. Memang ketegangan selalu menderanya ketika di dekat Noah. Takut fans Noah memusuhinya. Duduk dan menarik napas panjang.


"Bagus.. tarik napas... tarik napas"


Merasa di jahili, Sri menoleh menatap Noah denga. kesal.


"Mase! kok tarik napas terus? kapan buangnya?"


"Hahahaa.. astaga.. kau lucu sekali Sri"

__ADS_1


Noah malah terbahak melihat Sri menyadari kalau dia menjahilinya. Menjalankan mobil meninggalkan area kantor.


Ini sudah seperti selingkuh Ndak sih? aku punya suami, tapi pergi jalan dengan Lanang liyo? dosa ora toh Yo? biyuung.. maapin Sri ya?


__ADS_2