OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Mansion Albronze


__ADS_3

Menyelinap ketika pulang kantor saja sudah susah. Apalagi sekarang harus pulang lebih awal, yang ada pertanyaan terus bejibun dari ketiga wanita super heboh.


"Serius kamu Sri? beneran pak Noah yang nyuruh kamu pulang?"


"Ada hubungan apa sih kamu sama pak Noah?"


"Curiga aku sama kamu Sri. Jangan-jangan.. kamu tuh pacar pak Noah ya?"


Dan masih banyak lagi pertanyaan yang hanya di jawab dengan senyum. Tak dapat memberi jawaban yang memuaskan ketiga temannya. Sri juga tidak tahu untuk apa dia pulang lebih awal. Ini permintaan Lucky yang lebih tepatnya adalah perintah. Dan Sri hanya bisa menuruti.


Pak Karim sudah standby menunggu di tempat biasanya. Sri sedikit lega tidak harus mengendap-endap masuk kedalam mobil, karena sekarang masih jam kantor.


"Pak Karim, ada apa sih? kenapa saya mesti pulang lebih cepet pak?" tanya Sri penasaran.


"Tidak tau nona. Tuan hanya menyuruh saya menjemput nona Sri"


Itulah jawaban mujarab pak Karim yang mampu membungkam mulut Sri untuk tidak bertanya lebih banyak lagi. Sri melirik supirnya itu dengan kesal dari kaca spion depan.


"Ya iya lah suruh jemput. Masak di suruh ngajar?" Sri bergumam kesal dan pak Karim hanya diam tak menyahut lagi.


Ternyata pak Karim membawanya ke mansion. Sri semakin penasaran saja ada apa sebenarnya. Sampai di dalam, Ibu mertuanya sudah siap menyambut dengan senyum menawan. Menggeret sri masuk ke ruangan yang waktu itu menumpuk pakaian baru untuk di pilih Sri. Dan kali ini terjadi lagi.


Banyak gaun indah berjejer menunggu untuk kontes pemilihan. Dian sudah siap menunggu gaun mana yang akan di pilih Sri. Sri hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mami, sebenernya kita mau ngapain sih mi? Sri bingung"


Melani tersenyum dan menangkup wajah Sri dengan kedua tangannya.


"Bertemu kakek mertuamu sayang"


Sri melebarkan matanya sempurna. Bertemu kakek mertuanya? Kakek Lucky. Itu artinya, dia akan mengenal lebih jauh keluarga Lucky yang sebenarnya. Ada binar senang terpancar di mata Sri. Semangat itu muncul.


"Ayahnya papi ya, mi?" Melani mengangguk. "Trus ketemu ayahnya mami kapan?"


"Tinggal ibu, sayang. Ayahnya mami sudah tidak ada"


"Oh.. maaf mami"


Melani hanya tersenyum saja. Wanita paruh baya ini selalu meneduhkan perasaan Sri. Kelembutannya mampu membuat Sri bertahan dengan kekakuan dan sikap cuek Lucky padanya.


Melani memilihkan beberapa gaun untuk di coba Sri. Setelah memilih dan mencoba, Sri akhirnya memilih gaun blacklakegirls gaya Korea elegan V-neck puff dengan renda tipis pensil midi. Gaun putih selutut sangat elegan di tubuhnya. Melani pun tersenyum puas.


Sri mengerutkan dahi lagi ketika masih harus di dandani seorang MUA. Apa harus berhias seekstrim ini hanya untuk bertemu kakeknya Lucky? Seperti apa keluarga papi Frans sebenarnya?


"Mami.. apa perlu pake MUA segala ya? Sri bisa dandan sendiri mi" bisik Sri.


Melani tersenyum lebar. Geli melihat Sri risih. Dia menyadari dan mengerti itu. Tapi ini keluarga Albronze yang masih ketat menjujung tinggi peraturan di keluarga mereka. Melani jadi ingat bagaimana dia pertama kali masuk di keluarga Albronze. Sangat gugup dan itu sangat tidak mengenakkan.

__ADS_1


"Mami juga sebenarnya tidak suka, sayang. Tapi kita harus begini. Mau bagaimana lagi?" Melani menepuk-nepuk punggung tangan Sri di genggamannya.


"Kayak mau datang ke kerajaan aja mi" Sri terkikik menutup mulutnya.


"Haha.. yah begitulah Sri. Sebenarnya tidak begitu penting kita harus dandan maksimal. Tapi.. Kamu belum kenal mereka, sayang. Mami tidak mau ada yang mencela mu di sana"


"Hah? mencela?" Sri mendelik. Mendengar kata mencela saja Sri sudah merinding.


"Tidak apa-apa. Kan ada mami" Melani tersenyum lembut. "Nanti, kamu harus bersikap elegan. Busungkan dadamu di samping suamimu. Jangan terlihat lemah"


"K-kenapa mi?" Sri semakin gentar saja.


"Kakekmu suka gadis tegar dan kuat"


Sri menelan ludahnya kasar. Ngeri juga mendengar penjelasan mami Melani tentang keluarga Albronze. Sebab itulah Frans menjauhkan Melani dari keluarganya.


Melani meninggalkan Sri untuk bersiap. Lucky datang setelah beberapa jam berselang. Mengusir MUA dari kamarnya. Meraih pinggang istrinya merapat padanya.


"Kamu cantik sekali" puji Lucky terus terang. Sri tersipu malu. Lucky gemas sekali melihat rona merah di pipi istrinya.


"Kamu terlihat seperti princes. Dan... hhhmmm.. harum lagi"


Sri terkikik geli ketika Lucky mengusapkan wajahnya di leher Sri.


"Jangan Mase" Sri mendorong Lucky.


"Sri kan udah dandan. Capek Lo mas, dandannya lama"


"Hmmm" Lucky melirik gemas. "Beri aku asupan dulu. Madu ini"


Lucky mengusap bibir mungil Sri. Tak dapat menolak, Sri hanya pasrah ketika Lucky memagutnya lembut. Mengisi asupan cinta sebelum berangkat. Memastikan bahwa Sri hanya miliknya. Dan tak bisa di rebut Noah.


🌹


🌹


🌹


Sri terkesima melihat bangunan megah di depan matanya. Kalau mansion Frans mewah, ini terlihat lebih megah dan mengagumkan. Sangat besar di kelilingi halaman berumput yang luas. Mereka memasuki gerbang tinggi menjulang yang dijaga keamanan ketat dan melewati setidaknya setengah kilo meter untuk mencapai mansion keluarga Albronze.


Mereka turun dari mobil. Di sambut seorang pelayan tua yang membungkuk dengan hormat.


"Selamat datang kembali tuan Frans" sapanya hormat.


"Terima kasih pak Gani. Bagaimana kabar mu?" Frans tersenyum.


"Saya baik, tuan" pelayan bernama Gani itu mengangguk hormat. Lalu beralih pada Melani. "Selamat datang nyonya dan tuan muda"

__ADS_1


"Terima kasih pak Gani" jawab Melani. Lucky hanya diam tak menjawab.


"Mari tuan, silahkan masuk"


Pak Gani membungkuk dan agak menyingkir kesamping. Mempersilahkan tuan dan nyonyanya masuk. Lucky menyodorkan tangannya pada Sri. Sri menatapnya ragu.


"Ayo, gandeng tanganku" bisik Lucky.


Sri tersenyum kecil. Merasa bodoh karena tidak mengerti apa yang diinginkan Lucky. Menggandeng tangan kokoh Lucky, dan mengikuti masuk kedalam mansion.


Megahnya mansion ini tak terbilang. Seperti masuk kedalam bangunan kastil kerajaan kuno yang mewah dan megah. Kerlip lampu kristal yang sangat besar, membiaskan cahaya terang di atas lantai keramik yang berkilau.


Seorang wanita paruh baya datang menghampiri. Wajah cantiknya tampak jelas di usianya yang matang. Tersenyum manis menatap Melani dan langsung memeluknya.


"Kakak... aku sangat merindukan mu" ujarnya sambil memeluk erat tubuh Melani.


"Vira.. aku juga rindu padamu" jawab Melani.


Mereka mengurai pelukan hangat itu. Terlihat matanya berkaca-kaca menatap Melani. Dan melanipun sama. Sangat terharu atas pertemuan mereka kembali.


"Lucky.. kau sangat gagah" Vira beralih pada Lucky. Memeluknya sesaat, lalu menyentuh pipi Lucky dengan sayang.


"Bibi.." hanya itu yang terucap dari bibir Lucky. Menatap canggung bibinya.


Vira menatap Sri di sebelah Lucky. Tersenyum hangat.


"Dia istri mu?" tanyanya. Lucky hanya mengangguk kecil. "Waahh.. cantik sekali.." Vira meraih tangan Sri di genggamannya.


"Bibi.." Sri menggantung ucapannya.


"Bibi Vira. Panggil saja begitu. Kau cantik sekali.. siapa namamu?"


"Sri"


"Ahh.. Kau manis sekali" Vira tersenyum hangat dan ceria. "Ah.. ya aku lupa.. ayo.. mari silahkan"


Vira membawa mereka ke sebuah ruangan besar. Banyak sofa berjejer di sana. Mereka duduk dan Vira duduk bersama Melani.


Tapi tak berapa lama, wajah Sri berubah menegang. Seorang pria masuk kedalam ruangan itu dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Melangkah menatap mereka semua dengan tenang. Berdiri di depan Frans dan memeluknya.


"Pak Noah!"


šŸ’–


NB : Terima kasih atas dukungan readers semua. Otor terharu baca semua komen readers. Ternyata masih banyak yang cinta karya otor. 🄰🄰😘😘


Untuk kalian, otor akan tetap berkarya. Gak penting seberapa banyak yang favorit lah. Otor fokus sama yang ada di sini aja.

__ADS_1


Love u full Kaka Kaka semuaaaa... muuaahhh... peluk cium sekebon sawit šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜


__ADS_2