OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Lucky marah, Rian Edan


__ADS_3

"Jadi mas Iyan kerjo ojol?"


tanya Sri pada Rian yang kini sudah bisa tersenyum. Tidak semurung tadi. Rian hanya mengangguk. Pemuda ini sudah bisa memaklumi bahwa Sri telah menikah dan menjadi milik orang lain.


"Trus piye bapak dan bune mu, mas?"


"Yo Ndak piye-piye Sri" Rian terkekeh melihat kekhawatiran di nada bicara Sri.


"Ndak lho mas... opo pakne mu ora ngamok, awak mu lungo ora pamit?"


"Lah aku cah lanang, Sri. Bioso lah iku" Rian mengibaskan tangannya di udara. Mengatakan semua baik-baik saja.


"Heh kalian berdua! kalian pikir aku setan, apa? kalian cuma bicara sendiri tanpa aku ngerti" sungut Agnes jengkel. Merasa di abaikan.


"Eehh.. cantik. Maaf aku lupa" Rian cengengesan. Dan Sri juga tersipu malu.


"Huh! jengkel nggak sih?" Agnes melengos sebal.


Dari tadi Agnes hanya bisa bengong dengan kepala menoleh ke kiri dan kanan memperhatikan setiap kali Sri dan Rian ngobrol. Tanpa mengerti apa yang mereka berdua bicarakan.


"Maaf mbak Nes. Maklum lho mbak.. ketemu temen sekampung. Jadinya ya gitu.. ngobrol bahasa sendiri" Sri nyengir melihat Agnes cemberut.


"Oh ya, aku lupa. Tadi aku bawa gorengan. Ntar ya cantik. Tak ambil sek"


Rian berjalan keluar rumah menuju motornya. Sri langsung menggeser duduknya ke sebelah Agnes.


"Mbak Nes. Udah lama kenal Rian toh?"


"Belum juga sih. Beberapa bulan ini lah Sri. Aku sering order go food sama dia"


"Oh.. gitu" Sri manggut-manggut.


Rian datang lagi dengan membawa sebungkus plastik gorengan. Tapi Sri menolak duduk di dalam rumah. Dia meminta mereka duduk di teras saja.


Agnes membawa piring dan menuang gorengan yang di bawa Rian. Duduk bertiga di lantai beralaskan tikar. Mereka ngobrol sambil sesekali bercanda. Rian pemuda yang supel. Pandai membawa suasana agar tidak menjadi kaku. Cerita masa di kampung. Mengejar cinta Sri dari semenjak sekolah dasar.


Menjalin cinta dengan Sri hanya satu hari saja. Itu karena Rian sudah keburu nyosor mengecup bibir Sri tanpa permisi. Sri marah lalu memutuskan Rian sepihak sampai Rian menangis meraung-raung mengadu pada bapaknya yang menjabat sebagai lurah di kampungnya.


"Iyo mbak Nes. Mas Iyan nangis sampe bapaknya dateng ke rumah ku lho mbak" Ujar Sri sambil melirik Rian yang tersipu.


"Hahaha.. jadi bapaknya Rian bilang apa Sri?" Agnes terbahak mendengar itu.


"Paknenya mas Iyan bilang, mau langsung ngelamar Sri" Agnes semakin terbahak. Dan Rian hanya cengengesan. "Yo pakne ku mencak-mencak, mbak. Lha wong masih cilik kok rek rabi. edan iku!"


Mereka bertiga tertawa bersama.


"Eh, Rian. Kamu kenapa sih cinta banget sama Sri? sampe berapa tahun itu kamu ngejar-ngejar Sri?" Agnes menepuk lengan Rian.


Rian masih diam. Menatap Sri sambil makan gorengan. Pandangannya seolah menilai karakter Sri. Sambil tersenyum dan mengunyah pelan-pelan.


"Ngopo toh ndelok-ndelok ngono Mase! itu jawab lho. Mbake takon" Sri mendorong bahu Rian. Rian tersenyum simpul.


"Sri itu beda, Nes. Gadis kuat. Pemberani. Ndak cengeng kayak gadis lain. Itu yang aku suka. Jatuh cinta sejak pandandangan pertama, Nes. Mungkin juga sejak masih bune ku hamil"


"Idiihh.. lebay!" Agnes mencebik. Rian terkekeh senang. "Masak iya sejak ibumu hamil? emang kamu tau Sri dari mana waktu masih dalam kandungan?"


"Anugrah, Nes. Aku tuh sering mimpi wajahnya Sri waktu ibuku hamilnya aku"


"Hahaha.. ngaco kamu yan!"

__ADS_1


Mereka tertawa lagi. Rian memang pemuda yang menyenangkan. Tapi sayang, Sri tidak pernah menerima aliran listrik cinta yang di setrumkan Rian padanya. Ck.. kasian kamu Rian.


Tapi tawa ceria itu tak bertahan lama. Sri dan Agnes seketika berubah menjadi tegang melihat kedepan jalan, sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Agnes. Dan Sri hapal betul mobil itu. Lucky suaminya.


Keluar dari mobil dengan aura wajah gelap dan membiaskan aroma perang. Dingin dan tajam. Tidak ada senyum tersengging di bibirnya. Malah lebih tepatnya mengatup rapat dengan rahang mengetat. Melangkah lebar memasuki halaman rumah Agnes dengan tatapan membunuh pada Rian.


Sontak saja Sri dan Agnes berdiri tegak dengan cemas dan tegang. Sri menatap tegang dan penuh kekhawatiran melihat wajah dingin yang di tunjukkan Lucky. Melirik Agnes yang menunduk takut. Ingin bertanya bagaimana Lucky tau kalau dia sekarang ada di rumahnya. Tapi gadis berambut keriwil itu seakan tak memberinya kesempatan itu.


"M-masssee.." lirih suara Sri tergagap.


Lucky berdiri tepat di depan mereka. Di ikuti Beni Berdiri di halaman rumah. Sementara Rian juga ikut berdiri terakhir kali. Menatap wajah Lucky dan melirik Sri yang tampak gugup.


"Ngapain kamu di sini, sayang?" tanya Lucky pada Sri. Tapi matanya masih tertuju pada Rian.


Rian menaikkan kedua alisnya. Merasa asing dengan panggilan sayang yang di tujukan pada Sri, tapi mata Lucky menatapnya.


"Maaf?" Rian balik bertanya.


Memang sungguh bagaikan langit dan bumi antara dirinya dan Lucky. Kalau di kampung wajah Rian tergolong tampan, tapi wajah suami sri masih jauh di atasnya. Wajar saja jika Sri memilih dan mencintai suaminya. Apalagi dari segi materi, tentu saja Rian hanya ada di level paling bawah dari deretan jumlah kekayaan Lucky. Rian tahu diri begitu bertemu Lucky.


Lucky tidak menggubris pertanyaan Rian. Mengalihkan pandangannya pada Sri. Sorot tajam itu membuat Sri bergetar takut.


"Jadi beli motornya, Sayang?" suara tajam itu tepat menancap di jantung Sri. Lucky lebih menekankan intonasinya pada kata 'Sayang' begitu melihat pada Sri. Melirik sejenak motor Rian yang parkir di halaman rumah Agnes.


Alarm bahaya langsung berdenging di otak Sri. Memutar otak untuk melunakkan Lucky. Sri cepat mengubah mimik wajahnya tersenyum pada suaminya. Mendekat dan memegang lengan Lucky.


"Mase.. Sudah selesai kerjanya?" Sri mencoba mengalihkan perhatian Lucky. Tersenyum penuh kasih sayang agar Lucky tidak meledakkan amarahnya.


"Hmm"


Deg!


Sri seakan ingin menangis mendengar jawaban itu. Berarti cara manisnya sudah tidak mempan. Sri segera bergeser ke depan Lucky. Menghalangi tatapan suaminya langsung pada Rian. Merangkul leher Lucky. Sebisa mungkin tersenyum manis di depannya.


Perlahan Lucky menunduk menatap wajah Sri di depannya. Dengan keberanian penuh, dan menghilangkan rasa malu, Sri mengecup pipi Lucky. Menjauhkan wajahnya sedikit menatap lucky. Tapi jangan harap bisa menjauh. Lucky malah minta lebih.


"Lagi" menyodorkan bibirnya pada Sri.


Wajah Sri bersemu merah. Gila! masak iya mengecup bibir seksi itu di depan Rian dan Agnes? ada Beni lagi! Tapi Lucky mengetatkan pelukannya pada pinggang Sri. Mengisyaratkan untuk Sri melakukan apa yang dia minta.


Cup!


Sri menuruti. Mengecup bibir Lucky di saksikan Rian. Pemuda itu membuang pandangannya ke arah lain begitu Sri melakukan permintaan suaminya. Ada rasa nyeri menggedor jantungnya. Kekasih hati sungguh mesra bersama suaminya tepat di depan matanya.


"Mase ojo marah" rengek Sri sambil menarik-narik dasi Lucky.


Beni melihat itu hanya tersenyum tertahan. Baru kali ini dia menyaksikan bagaimana Sri membujuk tuannya yang kaku itu. Sungguh di luar dugaan Beni jika Sri bersikap berani di depan orang lain.


Lucky tidak menjawab apapun yang di katakan istrinya. Hanya merengkuh pinggang Sri dan menariknya lebih erat dalam pelukannya. Sri terkesiap kaget. Tubuhnya seratus persen melekat pada Lucky. Mata Lucky menatap lurus ke netra Rian. Seakan mengatakan pada pemuda itu, bahwa Sri miliknya.


"Siapa anda?" tanya Lucky dingin pada Rian.


Sri seakan ingin lari dan menarik Lucky menjauh. Suaminya ini ternyata sangat posesif. Melihat sikap yang di tunjukkan Lucky, Sri merasa tak enak hati pada Rian. Sri menatap Rian dengan tatapan memohon maaf. Tapi Rian hanya tersenyum.


Rian menggosok tangannya pada celananya. Merasa tangannya kotor tak pantas menjabat tangan Lucky. Setelah itu dia mengulurkan tangannya ke depan Lucky.


"Perkenalkan, saya Rian" ujar Rian mantap.


"Hem" Lucky hanya mengangguk kecil. Tidak menyambut uluran tangan Rian. Membuat Rian dengan kikuk menarik kembali tangannya yang menganggur.

__ADS_1


Sri mulai tidak enak hati. Sikap Lucky terkesan keterlaluan. Sri merenggangkan pelukan Lucky. Bersikap tegas di depan Lucky.


"Mase, ini mas Rian teman sekampungnya Sri" ujar Sri memperkenalkan Rian pada Lucky.


Bukannya ramah, Lucky malah mengetatkan rahangnya menatap Sri dengan pandangan tidak suka. Kilatan sadis berseliweran di matanya menatap Sri.


"Siapa? coba ulangi?" tanyanya dengan dingin.


"Mas Rian, Mase"


Mendengar itu, wajah Lucky menggelap. Marah itu semakin nyata dia tunjukkan. Sri sangat bingung melihat perubahan sikap Lucky menjadi semakin terbakar kemarahan. Tidak mengerti mengapa Lucky malah semakin marah.


"Mase kenapa toh?" Sri mengernyitkan dahi menatap Lucky.


Lucky geram. Ternyata Sri lupa peraturan yang sudah dia berikan. Tidak ada Mase lain selain dirinya. Dan ternyata dengan gamblang Sri menyebut Rian dengan sebutan "Mas" juga.


"Ayo pulang!"


Lucky menarik tangan Sri kuat. Sampai Sri meringis kesakitan. Mengikuti langkah Lucky menyeretnya paksa.


"Mase! aduh.. lepas!" Sri agak memberontak. Tapi Lucky tidak mengindahkan. Masih tetap menariknya dengan kuat.


Agnes gemetar takut melihat itu. Dan Rian mulai marah melihat sikap kasar Lucky pada Sri. Sementara Beni, hanya diam tak berani berbuat banyak. Ini masalah suami istri. Beni tak bisa ikut campur.


Rian bergerak mengejar. Dengan berani dia menepuk pundak Lucky.


"Hey, tuan. Jangan kasar"


Lucky langsung berhenti. Menoleh kebelakang dengan marah. Menatap wajah Rian dengan marah yang sudah menghasilkan jilatan api yang berkobar. Melepaskan cengkraman tangan Sri. Mendorong bahu Rian dengan keras. Membuat pemuda itu terhuyung ke belakang.


"Apa urusan mu? dia istri ku! kau tidak berhak ikut campur!"


Lucky benar-benar bagai singa yang terluka. Meradang dengan darah yang mendidih. Merasa ada saingan yang akan merebut istrinya. Mencengkram kerah baju Rian dengan kencang.


"Dengar. Jangan pernah berharap kau bisa merebutnya dari ku. Jauhi dia. Sri istri ku. Atau aku akan melenyapkan mu dengan mudah!" Ancam lucky pada Rian.


Melihat itu, Sri menjerit takut. Menarik-narik tangan Lucky agar terlepas dari Rian.


"Mase! sudah! hentikan!"


Mendengar jeritan Sri, Lucky melepaskan cengkeramannya. Rian terhuyung kebelakang. Lucky tidak mau ambil pusing lagi. Segera menarik tangan Sri menuju mobil di ikuti Beni.


Agnes berlari mendekati Rian. Memegang tangan Rian dan menatap prihatin pemuda itu.


"Maaf ya Rian"


Rian hanya diam menatapi keprgian mobil Lucky. Setelah menghilang dari pandangannya, pemuda itu menunduk lesu.


"Nelangsa rasane, sing tak tresno ono sing nduwe." ujar Rian lirih.


"Hah? apa Rian?" Agnes tidak mengerti.


Rian menoleh menatap Agnes. Lalu menyeringai nyeri.


"Tuku bawang kleru mrico, tiwas wis sayang mung dianggep konco."


Agnes memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya pemuda ini malah pantun segala di saat keadaan genting yang membuat jantung Agnes mau lompat keluar dari dadanya.


"Rian. Kamu edan!"

__ADS_1


__ADS_2