
Beni membukakan pintu ruang kerja Lucky. Sri masuk dengan senyum semanis mungkin. Lucky juga menyambutnya tak kalah hangat. Langsung menarik Sri ke pangkuannya. Beni cukup tahu diri. Segera menyingkir keluar ruangan.
"Kenapa lama sekali, sayang? aku sudah lapar" rengek Lucky mendusalkan wajahnya di dada Sri.
Sri terkikik karena geli. Mendorong wajah Lucky menjauh dari dadanya. Menangkup wajah tampan suaminya dengan kedua telapak tangannya.
"Kalo Mase laper, ya makan. Kok malah ngusel kayak kucing"
Lucky tersenyum. Menatap wajah ayu istrinya. "Kamu bawa apa?"
"Ini" Sri meraih tempat bekal makan siang. Menunjukkannya pada Lucky.
"Kamu yang masak, Sri?"
"Ndak, mas" Sri nyengir. "Mami Ndak bolehin Sri ke dapur. Jadinya tetep pak koki yang masak"
"Tidak apa-apa. Yang penting makan sama kamu"
Lucky membopong Sri ke sofa. Mendudukkannya di sana. Lucky beranjak ke kulkas kecil di sudut ruangan. Mengambil botol air mineral dingin. Sri segera membuka bekal makan siang untuk Lucky. Menyiapkan Makan siang untuk mereka berdua.
Lucky duduk di samping Sri. Menanti suapan pertamanya dari tangan istrinya. Dengan telaten, Sri menyuapi Lucky seperti sedang menyuapi adik kecilnya. Tersenyum melihat Lucky begitu bersemangat makan dari tangan Sri langsung.
"Semua baik-baik saja, sayang? ada yang usil pada mu?" tanya Lucky seraya mengambil sendok dari tangan Sri, dan bergantian menyuapkan makanan ke mulut Sri.
Sri hanya mengangguk mengiyakan. Tidak mau berterus terang bahwa banyak gunjungan tentang dirinya di lobi tadi.
"Mau lihat berita hari ini?" tanya Lucky lagi.
"Berita apa, mas?"
"Hmm.. Tentang ratuku" Lucky mengedipkan sebelah matanya genit. Sri tersipu malu.
Lucky mengambil remot di sebelah kiri meja kecil di dekatnya. Memencetnya dan menyalalah televisi di depan mereka. Mencari Chanel berita infotainment.
Sri terbelalak melihat begitu ramai orang membicarakan tentang akun Instagram Lucky hari ini. Postingan sarapan pagi mereka. Banyak asumsi liar yang terjadi. Banyak dari mereka menduga, bahwa Lucky telah menikah siri.
Dan pada akhirnya, Amira kembali berwajah sedih menyampaikan kebohongan Lucky di belakangnya.
"Mase, kenapa mbak Amira bilang begitu?"
"Hmm.. biarkan saja dia" Lucky membuka mulutnya lagi. Minta suapan berikutnya.
Sri menatap layar televisi lagi. Banyak berita yang mengatakan hari ini Lucky akan mengadakan konferensi pers. Mengklarifikasi tentang gosip panas yang beredar luas.
"Apa harus Konferensi pers, ya mas?"
"Hem. Agar istriku tidak di hujat lagi"
Lucky tersenyum mesra menatap sri. Sri diam saja. Pikirannya berkecamuk memikirkan kata-kata Amira. Dan setelah Lucky buka suara, akankah semuanya berubah?
"Kenapa, sayang?" Lucky melihat kegelisahan di mata Sri. Sri menggeleng lemah. "Kamu sudah siap menjadi istri Lucky yang sesungguhnya kan?"
Sri menatap netra hitam suaminya. Mencari-cari di kedalam hati lewat mata Lucky. Hanya ada kesungguhan di sana. Lalu mengangguk lagi. Lucky tersenyum lembut.
__ADS_1
"Setelah ini, bersiaplah menerima banyak perubahan. Hmm?"
"Apa Sri nanti jadi Ndak punya temen ya mas?"
"Hahahaa.." Lucky tergelak mendengar keluguan istrinya. "Tidak, sayang. Malah lebih banyak orang yang jadi penjilat di depanmu. Lihat saja"
"Hhhh.. " Sri menghela napas. "Itu yang selama ini Sri hindari Mase"
Merangkul pundak Sri, dan mengecup puncak kepalanya. "Kau akan bisa memilah mereka. Jangan takut"
Mereka berdua melanjutkan makan siang. Saling suap-suapan. Kalau ada yang melihat, pastilah merasa iri setengah mati. Beni masuk dengan membawa berkas dan meletakkannya di meja kerja Lucky.
Lucky beranjak kemeja kerjanya. Berbincang dengan Beni. Sri memeriksa ponselnya yang sedari tadi banyak pesan masuk. Dari Agnes dan kedua kakaknya di kampung.
Sudah sari kemarin Agnes banyak mengirimi Sri pesan. Tapi Sri belum bisa membalasnya. Begitu banyak yang harus ia jawab pertanyaan dari keluarganya. Bukan hanya ibunya, tapi kedua kakaknya juga ikut terseret. Menjadi incaran para netizen dan pemburu berita.
Apalagi Nunik, gadis itu panik. Akun media sosialnya di berondong habis. Mereka mengetahui Nunik karena melihat postingan di akun Facebook Sri. Sri berencana akan menemui Agnes jika masih ada waktu dan Lucky mengijinkan. Sri melihat Lucky masih serius berbincang dengan Beni.
"Mase"
Lucky menoleh. Menaikkan sebelah alisnya. Mengedikkan dagunya pengganti kata tanya.
"Sri boleh ketemu mbak Agnes?"
Lucky diam. Menoleh pada Beni dan bertanya.
"Kapan jadwal Konferensi pers, Ben?"
"Kita masih ada waktu satu jam lagi, tuan" jawab Beni.
"Kamu rasa tidak ada masalah, sayang?" Lucky balik bertanya.
"Cuma sebentar mas. Ndak lama kok"
"Pergilah"
Sri bersorak senang. Beranjak berdiri dan mendekati suaminya. Memeluk manja dan mengecup pipinya tanda terima kasih. Beni menunduk tak kuasa melihat betapa mesranya pasangan yang sedang di mabuk cinta ini.
š
š
š
Sri menghindari bertemu dengan banyak orang di lobi. Menggunakan lift eksekutif langsung menuju Basement. Ia terpaksa mengambil jalan memutar untuk menuju kantin. Masih ada setengah jam lagi waktu istirahat berakhir.
Begitu ketiga temannya melihat Sri dari pojok kantin kantor, langsung saja Dila mendekat dan menarik Sri untuk bergabung. Apalagi kalau bukan untuk mendengarkan gosip itu dari sumbernya langsung.
"Sri!! jangan bohong lagi kamu! itu gosip bener apa gak sih?" Dila sampai melotot berbisik menekan suaranya. Menatap Sri antusias.
"Iya Sri. Ayo bilang yang bener? yang di mall waktu itu beneran tuan Presdir ya? bukan ojol kan?" Niar menarik-narik tangan Sri.
"Iihh.. ayo Sri.. ngomong dong. Jangan buat kita penasaran. Gosipnya udah makin panas. Apalagi berita postingan tuan Lucky pagi ini!" Dila tampak tak sabar.
__ADS_1
"Sssttt.. tenang dulu lah kalian berdua. Sri belum tarik napas tuh. Udah main hajar aja" Agnes menengahi. Memberi kesempatan Sri untuk mengambil napas.
"Ahh.. Gara-gara kamu ini Nes!" Dila melotot menatap Agnes.
"Lho? kok aku sih mbak?" Agnes tampak tidak terima.
"Kamu sebenernya tau. Tapi kamu ikut nutupin"
"Eehh.. sudah-sudah mbak Dila. Kok malah berantem toh?" Sri menengahi Dila dan Agnes.
"Nah. makanya kamu cerita" Dila mencondongkan tubuhnya lebih dekat di depan Sri.
Sri nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebegitu anstusisnya Dila dan Niar ingin meminta penjelasan Sri. Melirik Agnes sejenak. Rasa penasaran kedua temannya ini menunjukkan kalau Agnes belum membongkar hubungan Sri denga. Lucky.
"Sebenarnya gosip itu.. "
Sri menghentikan bicaranya. Membuat Dila dan Agnes mendelik menantikan kelanjutan bicara Sri.
"Ayo Sri! di terusin!" Niar tak sabar.
"Itu bener mbak"
"Hah?! bener?! beneran kamu selingkuh sama Presdir kita?!" jerit Dila dan Niar bersamaan.
"Aaiisshh.. jangan teriak-teriak kenapa sih!" Agnes membekap mulut keduanya.
Tapi Dila segera menepis tangan Agnes dari mulutnya. Masih belum puas dengan jawaban Sri.
"Bener Sri?" ulang Dila lagi.
"Ndak mbak Dil. Sebenernya, Sri itu istrinya Mase"
"Mase? Mase itu siapa lagi Sri?" Niar semakin kebingungan.
"Aduh!" Sri menepuk jidatnya sendiri. Lupa kalau kedua temannya ini belum tahu siapa Mase yang Sri maksud. "Maksudnya Sri, istrinya Presdir. Mas Lucky"
"Hah??!!"
Dila dan Niar pucat pasi. Benar saja dugaan mereka. Kang ojol itu ternyata benar adalah tuan Presdir mereka. Uky yang tampan rupawan. Agnes sampai terkikik geli melihat keduanya shock bukan main. Selama ini mereka berteman dengan istri seorang pejabat tinggi perusahaan mereka. Orang nomor satu.
"Kok bisa Sri?" tanya Dila lemas.
"Ya bisa toh mbak Dil" Sri tersenyum geli.
"Sejak kapan Sri?" Niar juga tampak kebingungan.
"Sebelum kerja di sini mbak"
Keduanya terhenyak mendengar itu. Mereka pikir Sri itu hanya gadis kampung yang tidak punya kuasa apapun. Mau bergabung bersama mereka tanpa membuka identitasnya. Malah mengatakan suaminya hanya sebagai tukan ojol. Ternyata suami Sri bukan orang sembarangan. Dan yang paling mereka persalahkan adalah Agnes.
Pelan-pelan Dila dan Niar menoleh menatap Agnes dengan tajam. Yang di tatap mendelik ngeri. Menggeleng dan menguncang tangannya menolak untuk di jatuhi hukuman.
"Ee.. ehh.. bukan aku mbak Dil. S-sri yang gak m-mau ketahuan!"
__ADS_1
"Kau.. harus di hukum Agnes!!" jerit keduanya.
Agnes pucat pasi. Tidak ada toleransi dari keduanya. Agnes harus di hukum!!