OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Penculikan


__ADS_3

Noah mengemasi barang-barangnya di dalam ruang kerjanya. Banyak fail dan dokumen yang harus dia serahkan pada Dila dan nanti Dila akan menyerahkan pada Lucky.


Di luar ruangannya, semua staf divisi pemasaran sudah berkumpul. Wajah mereka tak sanggup untuk menyembunyikan kesedihan mengingat kepala divisi mereka akan pergi karena dipecat.


Setelah selesai dengan urusan rapat, Dila segera bergabung bersama rekan divisinya. Niar menghambur memeluk Dila dengan isak tangis yang menyedihkan.


"Mbak Dil, kenapa jadi begini?"


Dila diam. Tak sanggup menjawab apa yang ditanyakan Niar. Menatap rekan kerjanya satu persatu. Semua bersedih berselimutkan awan mendung. Menunduk menunggu Noah keluar. Dila melihat kubikel Agnes. Tidak seperti Niar, gadis itu malah tertunduk duduk di kursinya dengan linangan air mata yang membanjir deras.


"Sabar, Nes. Jangan begini" Dila menepuk punggung Agnes.


"Kekasih hatiku mau pergi mbak. Hikkss.. Hiks.. Untuk apa aku disini kalau pak Noah pergi?" Isak Agnes meratap.


Dila tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga masih sangat shock mendengar keputusan Presdir mereka. Tapi rasanya bukan salah Lucky juga jika memecat Noah tanpa pertimbangan. Semua bukti korupsi sudah mengarah pada Noah.


Pintu ruangan Noah terbuka. Pria itu menatap semua bawahannya satu persatu. Mereka semua serempak bersikap siap dan tampak canggung sekaligus sedih.


"Kalian kenapa?" tanya Noah.


Tak ada yang menjawab. Bisa-bisanya kepala divisi mereka masih mempertanyakan kenapa mereka semua bersedih. Tentu alasannya karena Noah akan meninggalkan mereka semua.


"Pak!"


Tiba-tiba Niar menghambur ke arah Noah. Memegang lengan Noah erat. Niar menangis. Selama mereka berkerja di perusahaan ini, belum pernah ada seorang pun yang berani menyentuh Noah. Tapi Niar dengan segenap perasaan sedihnya, telah menerjang aturan itu. Dia tak sanggup melepas pria paling diminati setelah Lucky di kantor ini.


"Pak, jangan pergi" rengek Niar.


Noah tersenyum kecil. Dia mengerti mengapa Niar sampai berani memegangi lengannya. Noah merasakan suasana haru yang menyelimuti semua staf bawahannya.


"Tidak apa-apa"


"Tapi pak, kami yakin bapak tidak bersalah. Kami semua yang tau bekerja di bawah pimpinan bapak. Kami akan mencari bukti dan akan menyerahkan pada tuan lucky" Niar berusaha meyakinkan Noah.


"Iya, pak. Kami percaya bapak tidak bersalah" Tomy menyahut lantang dari kubikelnya. Berharap Noah masih punya secercah harapan untuk tinggal.


"Sudah, kalian semua jangan khawatir. Saya tidak masalah jika di pecat" jawab Noah tenang. "Dila"


Sigap Dila mendekat. Berdiri dihadapan Noah.


"Untuk sementara, kamu yang memimpin divisi ini sampai tuan Lucky mendapatkan pengganti saya. Ini semua file dan berkas. Saya percaya kamu mampu. Pelajari lagi dengan teliti"


Noah menyerahkan berkas pada Dila. Dila menunduk menatapi berkas di tangan Noah. Hatinya perih. Matanya berkaca-kaca. Pelan sekali dia menerima berkas itu di tangannya. Lalu mendongak menatap Noah.


"Pak, apa tidak ada jalan lain agar bapak tetap di sini? Kenapa bapak hanya menerima tuduhan itu?"


"Sudah, tidak apa-apa. Yakinlah kebenaran pasti akan terungkap. Kalian tetap semangat ya. Bekerjalah dengan baik"


Noah menepuk-nepuk pundak Dila. Seakan memberi semangat pada dirinya sendiri. Menguatkan hati meninggalkan pekerjaan yang ia cintai. Noah melihat semua staf bawahannya lagi satu persatu dengan senyum simpul. Menguatkan mereka di akhir perpisahan.


"Buat kalian semua, maafkan jika ada kekhilafan saya selama ini. Mudah-mudahan, kita akan bertemu lagi. Secepatnya" ujar Noah mantap. Semua orang menatap Noah dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


"Huaaaaaa...."


Semua orang kaget. Menoleh melihat asal suara tangisan pecah. Agnes tak mampu menahan diri untuk tidak meraung. Hatinya sakit. Mungkin setelah ini, dia tidak akan pernah berselera lagi untuk hidup. Pria pujaannya akan pergi.


"Pak noaaahhh... Huuuaaaaaa..."


Noah kaget sampai melebarkan matanya dan kedua alisnya naik melihat Agnes meraung. Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Tak mampu lagi memendam rasa sedih dalam diam. Dan yang lain bukannya menenangkan Agnes, malah ikut semakin terharu. Terisak makin pilu. Segera saja Noah mendekati Agnes.


"Hey.. Agnes. Sudah-sudah.. kenapa menangis?" Noah bingung harus bagaimana. Yang ada dia hanya menepuk-nepuk pundak Agnes.


"Huuaaaa... Paaaakk Noo..." tangis Agnes malah semakin kencang. "Kami kehilangan bapak. Pak Noah itu orang baik. Nanti kami gak bisa ketemu bapak lagiiii.. Huaaaa..." Agnes bicara sambil meraung dan terbata.


"Astaga. Saya belum mati, Nes. Kan masih bisa ketemu" hampir saja Noah terkekeh mendengar ucapan Agnes.


"Tapi, dimana? Pak Noah gak bisa di temuin lagi" Agnes menatap mata Noah.


Noah tersenyum. Betapa semua staf bawahannya sangat menyayanginya. Tak sanggup berpisah setelah sekian lama sama-sama berjibaku dalam bekerja. Noah membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke arah telinga Agnes. Lalu berbisik.


"Sabar. Hanya sebentar. Khusus untuk kamu, kita akan bertemu lagi"


Jleb!


Tangis Agnes langsung terhenti. Wajah bengongnya terpampang jelas. Tak percaya Noah membisikkan kata itu ditelinga ya barusan. Melihat wajah Agnes, Noah tersenyum geli. Lalu pamitan pergi. Semua staf mengantar Noah sampai di depan lift. Kecuali Agnes. Gadis berambut keriwil itu masih terbengong mencerna bisikan Noah di telinganya.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Sambil memeluk tas kecilnya dengan erat, karena di dalamnya ada kotak kecil beludru merah berisikan hasil tes kehamilannya, Sri kembali terbayang bagaimana Lucky sangat suka mengelus perut ratanya dan mengatakan bahwa bayinya akan bersemayam di sana. Mengecupi perutnya seakan sudah ada bayi dii dalam rahimnya.


Ahh.. Bahagianyaaa..


Sri mendekap tas kecil kewajahnya. Menyembunyikan wajah bersemu merah dengan senyum malu-malu. Pak Karim meliriknya dari kaca spion depan. Bingung kenapa nona mudanya bersikap aneh. Senyum-senyum sendiri dan sesekali terkikik geli.


"Anda baik-baik saja, nona?" tanya pak Karim penasaran.


Sri melihat ke spion depan. Mata pak Karim memperhatikannya tajam sambil sesekali fokus ke jalan di depannya. Sri tersenyum lebar dan mengangguk mantap.


"Pakne, nanti berhenti di toko roti di depan situ, ya. Saya mau beli untuk Mase"


"Baik, nona"


Ting!


Sri mengecek ponselnya. Ada pesan masuk dari Agnes di group chat mereka. Mobil sudah masuk ke halaman parkir sebuah toko roti. Pak Karim masih menunggu perintah Sri. Tapi Sri sibuk mengecek ponselnya.


"Nona, kita sudah sampai"


"Oh, maaf. Pakne aja yang masuk ya? Saya tunggu di sini"

__ADS_1


Sri menyerahkan sejumlah uang pada pak Karim. Pak Karim keluar dari mobil dan masuk ke toko roti. Sementara Sri mengernyit membaca setiap pesan Agnes di group chat.


"Apa?! Kenapa Mase mecat pak Noah gitu aja sih?" gumam Sri tak percaya.


Pesan yang Agnes kirim sangat panjang. Di tambah bumbu Niar yang sangat menyedihkan. Dila juga menyambut dengan racikan memilukan. Banyak emotikon sedih di grup chat mereka.


Sri terhenyak. Sangat terkejut dengan berita ini. Mana mungkin Lucky memecat Noah tanpa menyelidiki lebih lanjut? Separah itukah kesalahan Noah? Tapi jika melihat dari apa yang di beritakan Dila, nominal yang masuk ke rekening Noah bukan main besar kisaran angkanya. Dan semua bukti menyudutkan Noah.


Tok tok tok..


Jendela mobil di sebelahnya di ketuk. Sambil masih dengan keterkejutannya memikirkan pemecatan Noah, Sri menoleh. Terlihat dua orang lelaki berdiri di samping mobilnya. Sepertinya petugas parkir. Sri bisa mengetahui dari rompi yang mereka kenakan, dan lelaki itu memakai topi dan masker. Sri menurunkan kaca jendela mobil.


"Ya? Ada apa ya pak?"


"Maaf nona, bisa turun sebentar?" Sambil membungkuk sedikit agar bisa melihat Sri di dalam mobil.


"Tapi kenapa?"


"Mobilnya menghalangi jalan"


Tukang parkir itu menunjuk mobil di belakang mobil Sri. Sri melongokkan kepalanya melihat ke belakang. Tapi sepertinya itu bukan masalah besar. Mobil itu masih bisa melewati mobilnya dengan aman. Sri menatap tukang parkir lagi.


"Tapi kan masih bisa masuk pak. Lewat saja. Saya cuma sebentar kok"


"Maaf, nona. Itu tidak bisa. Kami harus memindahkan mobil anda." si petugas parkir masih ngotot.


Alis Sri bertaut. Heran saja rasanya dengan sikap si petugas parkir ini. Melihat jarak mobil di belakang, rasanya tidak mungkin tidak bisa melewati mobilnya. Padahal halaman parkir masih luas. Tidak mungkin harus memindahkan mobilnya dulu jika mobil di belakang ingin masuk parkiran.


Sri melirik pintu masuk toko. Pak Karim masih mengantri di dalam toko tanpa melihat ke arahnya. Rasa cemas mulai hadir. Sri melihat gelagat kurang baik pada petugas parkir.


"Maaf, nona. Sebaiknya anda segera keluar dulu" petugas parkir mendesak.


Sri semakin cemas. Melihat mata tajam itu sepertinya mereka bukan tukang parkir sungguhan. Sri ingin segera menutup kaca pintu mobil. Tapi sayang tangan tukang parkir itu dengan cepat menahan gerakannya. Memegangi kaca pintu mobil yang terus naik.


Sri tersentak. Petugas parkir ini sudah keterlaluan berani menahan kaca mobilnya menutup. Sri berusaha memencet tombol di samping pintu dengan kencang agar segera menutup.


Tapi sayang, Sri kurang cepat. Pertugas parkir yang satunya lagi sudah mengulurkan tangannya masuk ke dalam. Merogoh kepala Sri dan membekapnya dengan saputangan.


Sri meronta. Berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Tapi bekapan itu sungguh kuat. Jantung Sri berdebar kencang. Matanya mendelik takut. Tapi dia tak bisa teriak karena mulutnya di bekap.


Sri kehabisan napas. Dadanya naik turun. Paru-parunya bekerja cukup keras untuk mencari pasokan oksigen agar tetap bisa berpacu memompa darah. Sri menghirup aroma aneh di saputangan itu. Kepalanya berdenyut sakit. Tapi aroma itu memaksanya melemah.


Pintu mobil di buka paksa. Terbuka lebar tak mampu melindungi Sri lagi. Kedua lelaki itu menarik Sri keluar. Sri masih berusaha meronta dengan lemah. Melirik ke arah toko roti tempat pak Karim mengantri. Tapi harapannya sia-sia. Pak Karim seakan enggan melihat ke arahnya.


"Eemmmpphh... eemmmpphh..."


Berusaha menjerit sekuat tenaga. Tapi suaranya tak mampu keluar dengan benar. Bekapan itu semakin kuat dan Sri menghirup banyak aroma aneh dari saputangan di mulut dan hidungnya.


Pandangannya mengabur. Suara berisik kendaraan semakin memudar seakan jauh sekali, sayup-sayup terdengar di telinganya. Kepala dan tubuhnya seakan melayang dan ringan. Semakin lama semakin terdengar jauh.


Seakan semua gerakan menjadi slow motion. Bergerak sangat lamban dan seperti bergerak berputar. Hanya sebuah kalimat yang Sri dengar terakhir kali sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya. Kalimat dari salah seorang pria yang menculiknya.

__ADS_1


"Cepat masukkan ke mobil sebelum orang lain menyadari!"


Gelap. Sri terkulai lemah. Kesadarannya hilang.


__ADS_2