
Sri terbangun dari tidurnya. Mengerjapkan matanya sambil bergeser miring. Meraih bantal di sebelahnya dan dipeluk erat. Keningnya mengernyit merasakan ada aroma aneh di bantal itu. Seperti harum aroma rambut Lucky.
Sri mengendusnya berulang kali. Tetap saja aroma yang sama tercuim indranya. Sri hapal betul. Melirik ke sekeliling kamar. Mencari keberadaan Lucky. Tapi tidak ada. Bangkit terduduk di tempat tidur. Memikirkan bagaimana harum rambut Lucky bisa sampai di bantal itu.
"Opo Mase ke sini ya?"
Sri melihat ke arah pintu. Segera dia turun dari ranjang dan mengecek pintu masih terkunci atau tidak. Memutar handel pintu. Masih terkunci. Sri mengernyitkan keningnya dalam.
"Ah.. mungkin perasaan ku ae"
Sri menepis pikiran itu. Segera pergi ke kamar mandi. Tapi segera tersentak melihat pakaiannya. Kenapa bisa baju tidur? seingatnya dia tidur masih pake baju tadi malam. Apa dia lupa?
Sri tertegun. Bagaimana bisa? harum rambut di bantal, baju yang sudah berganti.. pasti Mase masuk. Dia ingat betul tadi malam tidur tanpa ganti baju lebih dulu. Kelelahan menunggu dan memikirkan langkah apa yang seharusnya ia ambil. Sudah menguatkan hatinya untuk tidak terlalu baper. Biarlah berjalan seiring waktu. Terserah keputusan Lucky saja. Melangkah maju menapaki hidup seperti biasa.
Sri memutuskan untuk membiarkan saja jika benar Lucky masuk ke kamarnya. Toh Lucky tidak berbuat macam-macam. Sri geli sendiri membayangkan perkataannya. Tidak berbuat apa-apa? bukannya Lucky itu suaminya? hehe..
Sri nyengir sendiri. Geli dengan pemikirannya. Beranjak ke lemari mengambil handuk. Tapi melihat lemari yang kosong, Sri mengurungkan niatnya. Pakaiannya masih di kamar Lucky. Lupa memberitahu pelayan untuk menyediakan pakaiannya di kamar ini.
Sri memutuskan ke kamar Lucky saja. Kebiasaan Lucky sepagi ini pasti masih sibuk di ruang gym nya. Ada kesempatan baginya untuk mandi dan berganti baju. Segera Sri keluar kamar. Berdiri di depan pintu kamar Lucky.
Mengetuknya perlahan dan tidak ada jawaban. Hati-hati Sri membuka pintu. Melongokkan kepalanya ke dalam. Melihat situasi. Benar saja Lucky tidak ada. Pasti masih di ruang gym.
Segera masuk dan langsung menuju kamar mandi. Tidak membuang waktu lagi agar tidak kepergok Lucky. Masuk ke kamar mandi dan membuka semua pakaiannya. Bersenandung kecil sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Deg!
jantungnya berhenti berdetak ketika. merasakan ada tangan kokoh melingkari pinggang dan perutnya. Terperanjat kaget dan segera membalik badannya.
"Mase!" Sri melebarkan matanya sempurna.
Bagaimana dia tidak mendengar Lucky masuk? Dan sekarang sudah ada di depannya dengan senyum manis yang menggoda.
"Kenapa, sayang? aku mau mandiin kamu" Lucky mendekap tubuh polos Sri yang basah. Menempel pada tubuhnya yang kekar dan tampak mengkilap karena basah.
Sri tergagap bingung. Sri salah perhitungan. Ternyata Lucky sudah selesai di ruang gym. Dan kini kepergok lagi mandi. Tubuh liat suaminya kini ada di depannya. Hanya tinggal menyisakan dalaman saja. Hadeehh..
"Hmm.. aku bantu ya?"
Tanpa menunggu persetujuan Sri, Lucky meraih spons dari tangan Sri. Menuangkan lagi sabun cair lebih banyak. Meremasnya sesaat sambil matanya menatap Sri yang tampak gugup dan ingin protes.
Sebelum itu terjadi, Lucky sudah membalikkan tubuh Sri membelakanginya. Menggosok punggung Sri dengan lembut. Sri diam seribu bahasa. Kata protes pun urung terucap.
Tangan Lucky terus menggosok lembut punggung Sri sampai kepinggang. Berlama-lama di bagian pinggul dan bokongnya. Telaten menyabuni tubuh Sri dengan sedikit menggeram. Untung gemericik air dari shower meredam suara geraman Lucky.
Sri bagaikan manekin kaku dan tak dapat bergerak sedikitpun. Takut akan menimbulkan gerakan yang membuat Lucky berpikir Sri sedang menggodanya. Kini usapan spons sudah sampai ke paha Sri. Sri menggigit bibirnya sendiri. Lucky tidak menggosok, tapi lebih tepatnya mengelus lembut.
Berjongkok tepat di depan bokong Sri yang bulat dan menantang. Tangannya tetap mengelus paha dan kini sudah sampai ke betis. Ingin rasanya Sri menendang tangan Lucky saking gelinya. Tapi Sri berusaha menahan.
"M-massse.. Su-dah.."
Sri berusaha menepis tangan Lucky di belakangnya. Tapi tidak sampai. Lucky hanya diam dan telaten menyabuni. Tanpa Sri duga, Lucky menarik pinggul Sri dan membalikkannya ke depan. Tepat di depan wajah Lucky, Sri berdiri mematung sambil menahan napasnya berat.
Lucky mendongak melirik Sri. Istrinya memejamkan mata karena malu. Lucky tersenyum smirk. Mengusap lebut perut Sri dengan spons penuh busa sabun. Turun keperut bagian bawah. Sri sedikit menggeliat geli.
"Mas.. udah mas" Wajahnya merah padam.
Wajah Lucky tepat di depan intinya. Sri bisa merasakan hembusan napas Lucky menyapu bagian depan intinya. Membuat Sri merinding sekujur tubuhnya.
"Kenapa sayang? ini sebentar lagi"
Astaga! dia bicara tepat di depan. Napasnya menghangat di kulit bagian atas inti sri. Sri bergidik geli. Wajahnya sudah sangat panas karena malu.
Kini Lucky mengusap paha Sri bergantian. Dan akhirnya ke pokok inti bagian tubuh Sri.
"Hhmmpph"
Sri mengerang. Lucky santai saja seolah-olah itu tidak menimbulkan apapun pada dirinya. Sri menggigit jarinya. Merasakan spons yang bergerak lembut di bawah sana. Lucky merenggangkan paha Sri untuk dapat akses lebih. Sri menahan sejenak. Meragu untuk membuka pahanya.
__ADS_1
"Biar bersih sayang" bisik Lucky menatap Sri lembut.
Tak bisa menolak. Sri membuka sedikit pahanya. Dan dengan sabar, Lucky menarik kaki Sri untuk membuka lebih lebar. Kini bunga mawar itu benar-benar terkspos indah. Menggoda untuk di sentuh.
Lucky mengusapkan spons ke paha sri bagian dalam. Mengelusnya lembut. Memenuhi paha jenjang itu dengan busa sabun. Dan sesekali melumasi inti Sri dengan busa. Sri melenguh seperti kehabisan napas. Wajahnya semakin merona. Memejamkan matanya erat.
Tiba-tiba Sri merasakan gerakan Lucky berhenti. Sri membuka matanya. Wajah Lucky sudah ada di depannya. Tersenyum lembut lalu memagut bibirnya. Menyesap bibir Sri dan menggelitik di sana. Sri terbuai. Tapi kembali Sri kehilangan bibir hangat suaminya.
Lucky menarikknya ke bawah shower. Mengguyur tubuh mereka berdua. Mengelus seluruh tubuh Sri agar busa sabun menghilang. Sri hanya bisa diam tanpa bisa menolak. Mengikuti saja apa yang di lakukan Lucky.
Berdiri berdua di bawah guyuran air shower. Saling menatap satu sama lain. Lucky menatapnya lembut. Mengusap bibir Sri dengan jarinya.
Hati Sri berdebar tak karuan. Tadi malam Lucky membuatnya menunggu lama. Dan Sri mendapat foto yang membuat jantungnya terkoyak-koyak. Tapi sekarang, Lucky berubah seratus delapan puluh derajat. Manis dan lembut.
Sri.. tenang Sriii.. Ojo lemah. Bojo mu suka mblenjani! tegar Sri tegar!
Mata mereka saling menatap. Hati juga berkata-kata sendiri. Tidak ada yang bergerak. Hanya gemericik suara air shower yang menguyur kedua memenuhi kamar mandi.
"Sri" panggil Lucky.
Sri tak menjawab. Hanya matanya masih menatap lekat mata Lucky.
"Maaf ya. Kamu menunggu aku tadi malam"
Sri melengos. Jengah dengan seribu kata maaf yang terlontar dari bibir Lucky. Mau berapa kata maaf lagi yang akan terucap setelah membuatnya sakit?
Lucky mengerti melihat sikap Sri. Tidak masalah. Sri masih marah padanya. Tadi malam juga dia telah melakukan kesalahan lagi. Tapi biarlah. Lucky bersabar.
Lucky melepas pelukannya. Mengambil handuk dan menarik Sri menjauhi shower. Dengan telaten ia menyeka tubuh Sri. Mengeringkan tubuh basah itu dengan handuk. Sri hanya menatapi apa yang di lakukan Lucky padanya. Apa ini penebusan kesalahan?
Setelah selesai, Lucky membopong tubuh Sri. Mendudukkannya di pinggiran bathup.
"Kamu di sini dulu. Aku mandi. Jangan pergi"
Sri diam saja. Hanya melihat semua yang di lakukan Lucky. Pria itu beranjak ke bawah shower lagi. Sri duduk memperhatikan. Sesekali Lucky meliriknya.
Sri menelan salivanya dengan susah payah. Tubuh kekar itu berkilau dengan perangkat besar yang mengacung tegak. Sri membuang pandangannya ke arah lain dengan gugup. Wajahnya terasa panas. Lucky cuek saja. Tersenyum melihat Sri melengos jengah.
Secepatnya Lucky menyelesaikan ritual mandinya. Mengambil handuk dan membebatkan di pinggangnya. Mendekati Sri lagi. Sri mendongak menatap Lucky yang menjulang tinggi di depannya.
"Ayo. Aku sudah selesai"
Sri berdiri dan ingin melangkah. Tapi tiba-tiba saja tubuhnya terangkat. Sontak Sri mencari pegangan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Berganyut di leher suaminya. Dia sudah ada di dalam gendongan Lucky. Pria itu tersenyum menatap Sri sejenak. Lalu melangkah keluar kamar mandi.
Mendudukkan Sri di tempat tidur. Lalu berdiri tegak di depan istrinya. Hanya diam dan menatap lekat pada sri dengan melipat tangannya di dada. Sri sampai risih di tatap begitu. Menggerakkan matanya saking gugupnya.
"Opo toh mas? kok ngeliatin begitu?"
Lucky tersenyum. Lalu berlutut di depan Sri. Menggenggam tangan mungil istrinya. Menatapnya lembut.
"Masih marah?" tanya Lucky mengulum senyum.
Sri membuang pandangannya. Jengah sekali melihat sikap Lucky yang sok mesra.
"Maaf. Aku banyak menyakiti mu"
"Sudah tau masih nanya lagi" gumam Sri melengos.
"Sudah, jangan marah lagi. Aku janji, akan merubah sikap ku"
"Janji terus. Males ah" Sri menepis tangan Lucky yang menggenggam tangannya.
Dengan sabar, Lucky meraih tangan Sri lagi. Mengecupnya hangat.
"Iya, aku salah. Tapi jangan ngambek lagi"
"Gimana gak ngambek coba? Mase itu dari mana tadi malem? wong aku nunggu sampe capek gitu" Sri ngomel saking geramnya.
__ADS_1
"Hehe.. aku di club sama Deva"
Sri menoleh menatap Lucky. Langsung ke matanya. Tak percaya Lucky berkata jujur. Ingin tahu apa benar foto yang terkirim ke ponselnya tadi malam.
"Minum?"
Lucky mengangguk.
"Mabuk?"
Lucky menggeleng. "Cuma minum sedikit"
"Sama siapa lagi?"
"Beni, Jacko, Richard"
"Tapi..." Sri tak melanjutkan bicaranya.
Lucky hanya tersenyum. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan Sri.
"Amira?" tanyanya.
Sri mengangguk cepat. Lucky melebarkan senyumnya.
"Foto Mase.."
"Hmm.. aku tau. Sri.. sayang. dengarkan aku"
Lucky mengecup tangan Sri lagi. Lalu mantap istrinya lembut.
"Amira. Kita selalu terganggu dengannya. Kamu tau, dia sedang dalam keadaan kacau. Ingin memisahkan kita. Jadi aku harap, kamu bisa menegarkan hati. Apapun yang dia lakukan, jangan pernah melemahkan hati mu"
"Ngaco Mase!" Sri melepaskan tangannya yang di genggam Lucky. Kesal sekali dengan apa yang di ucapkan Lucky barusan.
"Opo maksute Mase? Mase ngelos ke wae mbak Amira buat kayak gitu? trus Mase gak mikir apa, Sri ini sakit hati mas!" Mata Sri berkaca-kaca.
Lucky menghela napas panjang. Dia tahu jika Sri tersakiti. Tak tega melihat Sri menangis. Cukup sudah istrinya ini mengeluarkan air mata.
"Sri, aku tau. Tapi, aku mohon kamu mengerti. Aku harus mengumpulkan bukti atas perbuatannya. Aku tidak bisa langsung menuduhnya tanpa bukti"
Lucky memeluk istrinya. Mengecupi puncak kepalanya. Menghapus air mata Sri. Gadis itu hanya tersengguk sedih.
"Sayang. Lihat aku"
Sri menolak. Tidak mau melihat wajah Lucky. Dengan sabar, Lucky menangkup wajah istrinya. Menghadapkan ke wajahnya. Terenyuh menatap mata basah itu.
"Lihat cinta di mata ku. Di hati ku, sekarang hanya kamu. Jangan pernah ragukan itu"
Sri menatap netra hitam itu lekat. Mencari kebohongan di sana. Tapi mata itu terlihat tulus.
"Mase Ndak bohong lagi kan?"
"Bohong? kapan aku pernah bohong, sayang? hmm?"
Sri diam. Berpikir sejenak kapan Lucky berbohong padanya? Sepertinya.. tidak pernah. Tapi... sikapnya sering berubah.
"Aku tidak pernah bohong sama kamu, sayang. Sungguh. Aku hanya melanggar kesepakatan kita. Tapi itu harus kita buang jauh-jauh. Aku cinta kamu" Lucky meyakinkan Sri.
"Tapi Mase sering berubah. Sri Ndak suka" Sri merengut.
"Bukan berubah Sri. Aku hanya menjaga sikap. Mengertilah sayang"
"Menjaga sikap dari apa?"
"Aku.." Lucky bingung harus menjelaskan bagaimana pada Sri. "sini.. ayo duduk sini"
Lucky menarik Sri duduk di sofa. Keadaan mereka masih tanpa baju. Hanya handuk yang melilit tubuh.
__ADS_1