
Mereka memasuki gedung hotel dari bagian yang sudah di amankan untuk menghindari para awak media. Menejer hotel menyambut mereka dengan ramah. Membawa mereka ke sebuah tempat seperti ruangan rapat.
"Silahkan beristirahat di sini dulu, tuan Lucky. Masih ada waktu lima belas menit lagi untuk konfrensi" ujar manejer hotel yang bernama Rudi itu.
"Baiklah. Terima kasih"
Mereka duduk di kursi dengan meja panjang. Sri menarik lengan Lucky dengan gusar. Bingung harus berbuat apa. Dan lagi pula Sri tidak tahu jika Lucky telah mengatur mengadakan konferensi pers.
"Mase, kenapa harus konfrensi?"
Lucky hanya tersenyum mengusap pipi Sri dengan sayang.
"Untuk istriku"
Hanya itu jawabannya. Sri terdiam lagi. Untung saja dia berpenampilan lumayan bagus. Bisa di bilang tidak malu-maluin.
Setelah semuanya siap, Richard, Lucky dan Sri beranjak menuju tempat konfrensi. Noah dan Beni mengikuti. Tapi tidak akan ikut bersama Lucky. Hanya menunggu tak jauh dari sana.
Begitu para awak media melihat kedatangan Lucky, segera saja lampu Blitz menghujani. Sri sampai gelagepan melihat begitu banyak wartawan meliput. Tiba-tiba saja rasa mual menyerang dan tangannya berkeringat di dalam genggaman tangan Lucky.
Keamanan langsung saja mengondisikan para wartawan yang menyerbu. Dan Lucky tetap berjalan gagah sambil menggenggam tangan Sri dan menariknya untuk mengikuti langkahnya.
Richard lebih dulu duduk di depan para awak media di atas panggung yang tidak terlalu tinggi. Meja panjang telah di penuhi microphon dari para wartawan. Lucky menarik satu kursi dan menyilahkan Sri duduk. Lalu dia duduk di samping Sri.
Jantung Sri berdegup kencang. Seumur hidup, baru kali ini menghadapai begitu banyak wartawan yang sudah sangat ingin meliput dan bertanya tentang kehidupan pribadi pernikahannya.
Kamera membidik wajahnya dan Lucky. Lampu Blitz masih saja berkelip menyilaukan mata. Lucky menoleh melihat Sri. Dia menyadari istrinya begitu gugup menghadapi wartawan. Lucky menggenggam tangan Sri dan tersenyum teduh.
"Santai saja, sayang. Panggung ini milik mu" Lucky mengedipkan sebelah matanya.
Dengan canggung, Sri tersenyum kecut. Mengangguk pada Lucky dan berusaha menetralkan debaran jantungnya. Menarik napas, lalu tersenyum kecil dan segera merubah mimik wajahnya agar terlihat lebih santai. Richard segera saja membuka acara itu.
"Oke, selamat siang semuanya. Terima kasih untuk teman-teman media dan wartawan yang telah menyempatkan waktu kalian untuk hadir di acara press conference kali ini" Richard diam sejenak. Memeriksa berkas hadir media dan wartwan. Lalu melanjutkan lagi.
"Perkenalkan, saya adalah Richard Alexar sebagai pengacara dari tuan Lucky Albronze" Richard menunjuk Lucky di sampingnya. "Disini kami akan menyampaikan dan meluruskan mengenai gosip yang beredar di media massa"
__ADS_1
"Baiklah, kami harus menegaskan, bahwa gosip itu adalah tidak benar. Tuan Lucky tidak berselingkuh. Tapi tuan Lucky sudah menikah secara resmi dan sah. Bukan berselingkuh seperti berita yang beredar"
Terdengar suara riuh dari wartawan. Kembali lampu Blitz menghujani Sri dan Lucky.
"Oke.. oke.. saya harap teman-teman semua bisa tenang!" Richard menenangkan suara riuh wartawan bergumam. "Baiklah. Sekarang kita dengarkan penjelasan dari tuan Lucky sendiri."
Richard mempersilahkan Lucky untuk bicara. Dengan mantap dan menatap tajam para awak media, Lucky memulai bicara.
"Terima kasih, tuan Richard" Lucky membenarkan duduknya, dan menumpukan siku tangannya pada meja. "Oke.. selamat siang. Saya ingin menegaskan pada teman-teman media, bahwa berita yang tersebar selama ini adalah tidak benar. Saya tidak selingkuh. Tapi saya sudah menikah"
Para wartawan sudah gatal ingin bertanya. Tapi ini belum waktunya. Mereka menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan.
"Dia." Lucky merengkuh bahu Sri. "Dia adalah Dewi Sri, istri saya" Sri gugup dan tersenyum canggung. "Kamu sudah menikah beberapa waktu yang lalu. Tepatnya tanggal dua belas bulan Juni yang lalu"
Richard menyerahkan buku nikah pada Lucky. Lucky membukanya dan menunjukkan pada wartawan buku nikah yang ada fotonya dan Sri di sana. Terpampang jelas di depan wartwan. Segera saja semua kamera tertuju pada tangan Lucky.
"Ini buku nikah saya dan istri saya. Silahkan teman-teman wartawan memeriksa" Lucky lebih memajukan tangannya ke depan. Menunjukkan bukti buku nikahnya. "Apakah sudah jelas?"
"Jadi, saya mohon teman-teman media harus memilih berita yang benar. Jangan asal menampilkan berita yang belum jelas kebenarannya." ujar Lucky tegas. "Terima kasih"
Lucky menutup bicaranya. Richard mengambil alih lagi.
Banyak wartawan yang mengacungkan tangannya. Berharap bisa yang jadi nomor satu di beri kesempatan untuk bertanya. Richard menunjuk salah seorang di antara mereka.
"Tapi, kenapa tuan Lucky merahasiakan pernikahan ini?"
"Saya bukan merahasiakannya. Kamu mengadakan pesta di kampung halaman istri saya"
Lucky menatap Richard. Pengacaranya mengangguk mengerti. Menyetel layar di belakang mereka, lalu memencet remote menyalakannya. Muncullah video pernikahan Lucky dan Sri. Dan beberapa slide foto pernikahan dan prosesi ijab Kabul.
"Kenapa tidak di sini, tuan?"
"Akan segera menyusul" jawab Lucky.
Sri menoleh melihat suaminya. Tak percaya Lucky akan mengatakan itu. Tapi Lucky tidak melihatnya. Masih fokus pada wartawan. Kembali banyak tangan mengacung. Richard menunjuk lagi salah seorang diantara mereka.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan nona Amira, tuan?"
Lucky diam sejenak. Menarik napas lalu kembali menjawab. "Kami sudah putus sejak lama"
"Tapi nona Amira tidak mengatakan itu tuan. Seperti yang kita ketahui, nona Amira tampak terpukul dan sedih"
"Saya tidak tau. Mungkin saja hanya.. sandiwara"
Dengung gumaman santer terdengar. Tapi Lucky tidak terpengaruh.
"Apakah benar tuan, kalau pernikahan anda karena perjodohan?"
"Ya. Tapi saya sangat mencintai istri saya"
Sri seakan mengambang di awan empuk begitu Lucky mempubliskan cintanya. Wajah Sri semarak memerah. Lucky benar-benar membelanya kali ini.
"Saya kira sudah cukup. Yang perlu anda semua ketahui, tidak peduli pernikahan saya awalnya karena perjodohan atau apapun. Yang jelas, saya mencintai Sri. Saya jatuh cinta padanya. Dan mengenai Amira, saya sudah tidak punya hubungan apapun dengannya"
"Saya harap, teman-teman media juga harus memilih berita. Jangan asal berita yang tidak jelas. Saya disini hanya ingin membersihkan nama baik istri saya dan juga keluarga mertua saya. Selebihnya, saya mohon maaf. Terima kasih"
Lucky menyudahi acara. Menyerahkan sepenuhnya pada Richard. Lucky bergerak berdiri dan mengajak Sri untuk meninggalkan panggung. Sri menurut. Meraih tangan suaminya dan berjalan mengikuti langkah Lucky.
Para wartawan masih saja sibuk membidik kamera kearah mereka. Masih memanggil-manggil nama Lucky dan bertanya dengan heboh. Lucky tidak menggubris lagi. Membawa istrinya untuk segera menghindari awak media. Sehingga wartawan kembali pada Richard. Dan pengacara tampan itu mengambil alih semua pertanyaan dan dia menjawabnya.
Noah dan Beni mengikuti. Mengamankan Lucky dan Sri sampai masuk ke dalam mobil. Beni segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Lucky memeluk Sri sepanjang perjalanan pulang. Sementara Noah hanya bisa melirik mereka diam-diam.
"Mase" Panggil Sri.
"Hmm?"
"Masih mas"
Lucky tersenyum. Meraih dagu istrinya dan menjepit dengan jarinya kuat. Mengecup kecil bibir manis istrinya. Menatap mata jernih yang mengerjap menggemaskan itu.
"Itu sudah seharusnya. Hem?" Sri mengangguk. "Kamu senang?"
__ADS_1
Sri segera memeluk Lucky erat. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Rasa terimakasihnya pada Lucky hanya bisa di ungkapkan lewat pelukannya. Matanya memanas. Air mata mendesak ingin tumpah. Betapa ia beruntung. Tak hanya cinta, tapi suaminya ternyata sangat perhatian dan pengertian.
"Makasih Mase. Sri juga cinta Mase" lirih suara Sri di dada suaminya.