OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Bertemu Wanita Paling Cantik


__ADS_3

Sri dan Lucky mengantar Frans dan Melani sampai ke bandara. Melani tampak berat meninggalkan Sri. Tapi dengan terpaksa dia harus ikut dengan suaminya ke Singapura. Tidak mungkin membiarkan Frans sendiri di negeri orang dengan waktu yang lama.


"Sri, kamu ingatkan pesan mami? kalau ada apa-apa, langsung saja menghubungi mami ya?" kembali Melani mengingatkan menantunya.


"Iya, mami" Sri tersenyum melihat kekhawatiran ibu mertuanya. "Sri pasti telepon mamine. Tapi kan... mami jauh. Lebih baik Sri telepon Mase aja mam" Menggoda mertuanya dengan cekikikan.


"Loh.. ya justru kamu telepon mami dong. Kan kamu yang di nakalin Lucky. Kalau kamu telpon dia, ya sama aja" Melani mencubit lengan Sri pelan.


Sri tergelak melihat Melani gemas dengan omongannya tadi. Tampak Melani menatapnya penuh sayang. Mereka masih menunggu jam keberangkatan. Itu sebentar lagi. Masih ada waktu untuk melepas rindu karena akan lama tidak bertemu.


"Gimana? mami bener kan Sri?" Melani berbisik di telinga Sri.


Gadis itu mengerutkan dahinya. Matanya bergerak seakan mengingat apa yang di maksudkan ibu mertuanya. Tapi dia merasa tak mengingat apapun.


"Opo mam?"


"Mami kan pernah bilang, taklukkan hatinya. Maka dia akan bersimpuh mencium kaki mu"


Sri menoleh menatap Melani yang mengedipkan sebelah matanya dan menggigit bibirnya. Tatapan itu menggoda Sri. Langsung saja pipi Sri bersemu merah. Malu mengetahui apa yang di maksud Melani.


Gantian Melani yang sekarang tertawa kencang melihat pipi Sri memerah karena malu. Membuat Lucky dan Frans menatap mereka berdua dengan pandangan heran.


"Apa sih kalian ini? membicarakan aku ya?" Lucky menatap menyelidik.


"Iihh... apaan.. mami cerita lain kok. Iya kan sayang?" menyenggol lengan menantunya meminta dukungan.


Sri hanya tertunduk malu dan mengangguk mengiyakan saja. Melani tersenyum lebar melihat kepatuhan Sri. Frans hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri dan putranya.


"Ck.. wanita. Seenaknya saja" Lucky berdecak kesal.


Om Baris datang menghampiri. Mengatakan bahwa Frans dan Melani sudah waktunya berangkat. Segera Melani memeluk Sri dan berpesan lagi.


"Jangan lupa hubungi mami ya, sayang"


Mereka berpelukan dengan erat. Frans menanti Melani untuk segara berangkat. Melani memeluk Lucky sejenak. Mengurai pelukannya dan menyentuh pipi Lucky dengan sayang.


"Jaga istri mu. Mami tidak mau dengar apapun yang membuat dia bersedih" Lucky mengangguk dan tersenyum hangat menatap ibunya. "Nenek pesan, bawa Sri padanya. Kau belum membawa istri mu menghadap ibuku, Luck"


"Iya mam. Setelah ini kami akan kesana" Lucky mengecup dahi Melani. Dia tahu jika Melani berat meninggalkan mereka berdua.


"Ayolah, sayang. Putramu sudah dewasa. Dia sudah punya istri. Jangan memandangnya seperti anak ingusan terus" Frans memperingatkan istrinya.

__ADS_1


Melani menatapnya cemberut. Lalu dengan berat hati beranjak ke dekat suaminya. Mencubit pinggang Frans dan bergumam judes.


"Mereka itu putra dan menantu ku. Jangan terlalu cemburu jika aku menyayangi mereka" Mereka berdua berjalan meninggalkan Lucky dan Sri di belakang.


"Akhh.. Lalu aku apa? Apa kau tidak menganggap ku lagi?" Terdengar suara Frans cemburu.


"Isshh.. kau selalu begitu, sayang. Hilangkan cemburu mu itu. Kau masih tetap suami ku tercinta"


Sri tersenyum mendengar obrolan keduanya. Kedua mertuanya itu selalu mesra dan penuh cinta. Lucky merengkuh pinggang Sri. Memeluknya erat dan tersenyum mengecup puncak kepala Sri.


"Mereka selalu begitu, sayang. Papi akan selalu cemburu ketika mami memperhatikan orang lain selain papi"


Lucky bicara sambil mereka berdua menatap punggung kedua orang tua itu semakin menjauh.


"Mesra yo mas?"


"Hem. Seperti aku dan kamu"


Sri mendongak menatap mata Lucky. Pria itu tersenyum lembut padanya. Mereka berdua pergi meninggalkan bandara.


"Mau lihat lagi seorang wanita tercantik di dunia?" tanya Lucky ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.


Lucky mengulum senyumnya. Menatap Sri lalu mengecup sekilas bibir istrinya.


"Selain kamu dan mami, masih ada lagi wanita yang paling cantik di dunia ini. Kita kesana ya? kamu belum bertemu dengannya" Sri hanya mengangguk setuju.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Memakan waktu tiga jam perjalanan menuju tempat yang di maksud Lucky. Mereka memasuki kawasan pedesaan yang sangat asri. Banyak kebun membentang luas dan petak-petak sawah yang mulai menguning.


Sri takjub melihatnya. Ia teringat kampung halamannya yang menyuguhkan pemandangan yang sama. Langsung merasa rindu pada bunenya di kampung. Keponakan yang selalu berisik kerena bertengkar merebutkan mainan.


Untung saja dia setiap hari menghubungi ibunya di kampung melalui telepon dan video call. Dan terkadang ibunya sendiri yang menghubungi ketika dia sedang sibuk dan tak ada waktu. Sri rindu Nunik. Sedang apa dia sekarang? gadis itu sudah jarang menghubunginya lagi. Mungkin dia sedang sibuk kerja.


Mobil memasuki sebuah halaman luas yang membentang rumput hijau di segala penjuru. Banyak bunga di seliling halamannya. Lucky menghentikan mobil di depan sebuah rumah kayu yang lumayan besar. Bercat warna kuning dengan teras di depannya. Rumah itu mencerminkan rumah khas pedesaan. Sangat mirip dengan rumah di kampung Sri. Sri serasa pulang ke rumahnya sendiri.


Sri turun mengikuti Lucky yang sudah turun lebih dulu. Menggandeng Sri berjalan ke depan teras. Sepi. Tidak terlihat ada orang di dalam rumah.

__ADS_1


"Omaaa.." teriak Lucky kencang.


Tapi tidak ada sahutan. Mereka mendengar ada suara berisik dari arah belakang rumah. Seperti suara angsa yang lagi mengejar mangsanya.


"Tunggu di sini, sayang. Aku akan lihat ke belakang"


Lucky meninggalkan Sri di teras. Memutar arah kebagian belakang rumah. Sri masih berdiri menatapi sekeliling halaman depan yang sangat membuatnya betah.


Rumput hijau yang membentang, dan di seberang jalan aspal terbentang petakan sawah yang mengingatkannya dengan sawahnya di kampung. Menghirup udara pedesaan yang bebas polusi, Itu sangat menyegarkan hati.


Ngookk... hoosss.. hooossshh..


"Aawwhh.. Omaaa.. Jangan begitu. Awwhh.. singkirkan angsa ini Omaaa.."


Sri kaget mendengar suara berisik teriakan Lucky dari arah belakang. Segera ia melangkah keluar dari teras rumah. Memutar ke arah belakang. Bangunan rumah yang cukup luas membuat ia setengah berlari kecil agar segera sampai.


Begitu sampai di belakang rumah, Sri tertegun melihat Lucky di kejar angsa-angsa besar yang ingin menyosor kakinya. Lucky berlari dan menjengkit-jengkitkan kakinya naik agar tidak di hajar paruh angsa besar itu.


Tampak seorang nenek tua dengan gemas mengacungkan tongkatnya memberi semangat pada angsa-angsa itu untuk terus mengejar Lucky.


"Terus.. Hajar dia.. bocah itu sudah melupakanku! Ayoo Beti... sosor yang kencang!" Teriak nenek tua itu dengan suara bergetar khas orang tua.


"Awwhh.. Omaaa.. hentikan mereka! aku mengaku salah! Aaawwhhh..!!" Lucky berteriak histeris.


Sri menutup mulutnya melihat itu. Tak sanggup menahan tawa ketika melihat wajah ketakutan Lucky berlari menghindari angsa-angsa yang berjumlah enam ekor itu, terus mengembangkan sayap berlari tertatih dengan suara berisik menandakan pernyataan perang mengejar Lucky.


Mendengar tawa Sri, nenek itu menoleh. Menatap Sri yang masih tertawa terpingkal melihat Lucky.


"Husshh.. huss.. Betii.. sudah-sudah.. berhenti"


Nenek yang di panggil Oma oleh Lucky itu mengibaskan tongkatnya mengusir angsa-angsa putih itu. Anehnya, angsa-angsa itu langsung berhenti mengejar Lucky. Lalu menyebar menjauh dari Lucky yang sudah kelelahan menghindari sosoran moncong angsa.


Oma menatap Sri lekat. Membuat Sri langsung menghentikan tawanya. Oma terlihat sudah sangat tua. Memakai baju terusan berwana ungu, dengan renda di bagian bawahnya. Rambutnya sudah memutih seluruhnya. Pipi kempot menandakan giginya sudah habis. Sebuah tongkat rotan di tangannya.


Lucky masih ngos-ngosan membungkukkan badannya bertumpu pada pahanya.


"Oma kejam sekali.. hh... hhhh.."


Oma tidak menjawab. Masih saja menatap Sri dengan seksama. Sri sampai kikuk di pandangi begitu. Tapi Sri segera kaget ketika Oma berseru kencang.


"Oohh.. cucu menantuku... Ayo.. ayo sini... Peluk aku. Aku Oma mu!"

__ADS_1


__ADS_2