
Besok adalah hari pesta pernikahan Nunik. Dan hari ini Sri dan Lucky pergi ke kota untuk fitting baju. Sri mau mereka berdua tampil dengan apik esok hari. Karena Nunik meminta Lucky untuk jadi saksi ijab qobul.
Rian, Agnes dan Noah juga ikut. Sri juga sudah menyiapkan baju untuk Agnes. Untuk Noah dan Rian mudah saja. Hanya akan memilih setelan jas resmi. Jadi tidak terlalu sulit memilihkanya.
Mereka tiba di. Salah satu butik ternama. Sri turun dengan bersemangat sekali. Bergayut manja di lengan suaminya. Mereka masuk dan di sambut seorang pelayan.
"Selamat sore mbak. Ada yang bisa di bantu?" sapa pelayan butik dengan hormat dan ramah.
"Ya mbak, saya sudah pesan kemarin atas nama Sri" jawab Sri tersenyum.
"Oh, ya. Mari silahkan duduk dulu, mbak. Di sini"
Pelayan itu mempersilahkan mereka duduk di deretan sofa. Lalu pergi sebentar memeriksa peasanan Sri. Sri mengajak Lucky duduk. Agnes duduk di depan meja kasir. Sementara Noah dan Rian hanya berdiri saja.
"Kamu sudah pesan lebih dulu, sayang?" tanya Lucky seraya membetulkan anak rambut Sri yang kusut.
"Iya Mase. Nanti Mase harus mau pakai itu ya? Sri udah pesan lama lho."
"Hem.. pasti sayang."
Lucky tersenyum dan mengecup pipi sri. Noah melirik lalu membuang pandangannya k arah lain. Rian mencebik dan menyenggol lengan Noah.
"Apa?" tanya Noah pada rian.
"Pak, padahal kita berdua juga cinta kan, sama Sri. Tapi kenapa cuma tuan Lucky yang boleh nyium?"
PLETAK!!
"Aduh!" Rian menjerit kesakitan. Noah menjitak kepalanya. "Kok di jitak sih pak?"
"Jaga bicaramu. Dia itu kakak ipar ku" Noah melotot. Bicara dengan suara geram tertahan agar Lucky tidak mendengar.
"Ahh.. pak Noah payah. Kakak ipar tapi hati juga bilang sayang" cebik Rian.
"Rian!" Noah semakin melotot jengkel.
Pelayan yang tadi datang lagi. Mengatakan pada Sri untuk melihat pesanannya yang sudah siap. Sri mengajak Lucky untuk masuk ke dalam. Agnes, Noah dan Rian mengikuti.
"Silahkan di lihat dulu, mbak"
Pelayan lain membawa hanger baju Sri. Melihat itu Sri terlonjak kegirangan. Bajunya sangat indah. Gaun long dres warna pink dan kombinasi warna grey pada layer di lengan dan bawahannya.
__ADS_1
"Mase.. bagus Ndak mas?" Sri menunjukkan gaunnya pada Lucky.
"Bagus sayang. Coba dulu."
Dengan girang, Sri mencoba gaunnya di kamar pas. Agnes ikut dengannya. Setelah di pakai, Sri keluar dari kamar pas. Berpose di depan suaminya.
"Mase, gimana? Bagus ndak?"
"Hmm.. Kamu manis sekali sayang." Lucky tersenyum senang melihat istrinya sangat cantik memakai gaun itu.
"Uhh... Makasih mas" Sri mengecup pipi Lucky untuk tanda terima kasihnya. "Nah.. Sekarang giliran Mase, ya?" Lucky mengangguk.
Pelayan mengeluarkan lagi setelan jas yang sudah di pesan Sri. Menunjukkannya di depan Sri.
"Waahh.. Bagus bangeeett.." Sri kegirangan melihat jas pesanannya untuk Lucky sangat sesuai dengan keinginannya.
Tapi lain lagi dengan Lucky. Kini matanya mendelik gusar melihat jas pesanan istrinya. Bukan soal bentuknya. Tapi warnanya juga sama dengan gaun Sri. Pink!
"Mase.. Ayo. Coba dulu"
Lucky bingung. Antara menuruti atau menolak. Dia tidak suka warna itu. Melirik Rian dan Noah yang sudah terkikik geli melihat warna jas yang terlihat imut itu. Lucky sampai melotot kesal pada keduanya.
"Kenapa mas? Mase ndak suka toh?" kening Sri mengernyit.
"Emm.. Bukan sayang. Sepertinya lebih baik di tukar saja warnanya, ya? Itu terlalu terang"
"Yaahh... Mase!" Sri merengut kecewa. "Ini ndak terlalu terang kok. Ini kan pink nya ndak norak mas. Ini pink peach. Ayolah maaaass.." rengek Sri.
Lucky gugup. Melirik noah dan Rian lagi. Berdehem untuk menghilangkan rasa canggung. Lucky pakai pink? Wow.. Fenomena! Lucky tidak suka warna cerah. Tapi sekarang istrinya malah memberinya warna yang paling dia tidak suka.
"Ehemm.. Mmm sayang.. Lebih baik di ganti saja warnanya ya? Grey saja oke. Jangan ada pink nya" bujuk Lucky.
Sri mendekati Lucky. Menarik kemejanya di bagian dada. Lucky merunduk melihat wajah istrinya yang tampak kecewa.
"Kenapa sih mas? Itu udah Sri pesan dari jauh hari lho. Yang minta baby-nya. Mau ya maaaass.. Baby-nya mau Mase pake warna pink." rengek Sri dengan puppy eyes yang hampir berkaca-kaca.
"Tapi.." Lucky meragu. Masih tidak rela jika dia harus pakai jas warna pink.
"Ayolah Luck. Pink-nya bagus. Kamu pasti cocok pakai itu" Noah menyahut.
"Iya tuan Lucky. Lagian permintaan jabang bayi. Tidak boleh nolak. Ntar ngeces, tuan" Rian menimpali.
__ADS_1
Sing!!!
Lirikan maut pisau bermata dua Lucky tepat mengarah pada Rian dan Noah yang menyembunyikan tawa. Bukanya membantu untuk merubah warna jasnya, malah mereka berdua mendukung Sri. Itu mah sengaja! Kapan lagi bisa mengerjai tuan Lucky yang kaku?
"Ya udah mas. Ndak apa-apa kalo ndak mau." Sri bergeser menjauh dari Lucky. Tergambar jelas raut kecewa di wajahnya. Dia memesan jas itu begitu sampai di kampung. Sri juga tidak tahu kenapa memilih warna pink. Hatinya hanya menginginkan itu.
"Mbak, ini ndak jadi aja. Ganti yang lain" ujar Sri menyuruh pelayan membawa jas itu.
"Sayang, tidak usah." cegah lucky. Sri menatapnya penuh harap. "Aku pakai yang itu. Tapi tidak usah di coba, ya?" lanjut Lucky.
"Wahh.. Beneran mas?" Sri hampir bersorak girang.
Lucky mengangguk mantap dan tersenyum. Membuat Sri tersenyum lebar dan bertepuk tangan riang. Mendekati Lucky dan memeluknya erat.
"Makasih Mase.. Nanti malem dapat jatah lagi. Ummaahh" Sri mengecup pipi Lucky gemas. Lucky tertawa senang melihat istrinya bahagia.
"Mbak, bungkus yang itu" Sri menunjuk yang dia pesan. Pelayan mengangguk dan siap membungkus.
Sri melirik Noah dan Rian yang tadi sudah mentertawakan suaminya. Hmmm waktunya pembalasan. Sri mendekati pelayan dan berbisik mengatakan sesuatu. Pelayan toko mengangguk patuh. Pergi ke deretan jas di sebelah kiri, lalu kembali lagi. Membawa dua setelan jas lagi.
"Pak No, kak Rian. Coba tuh jasnya" ujar Sri pada kedua pria itu.
"Wah.. Dapat juga kita pak No" Rian sumringah sambil menggosok-gosok telapak tangannya. Merasa beruntung dapat rejeki nomplok.
"Rian. Perasaanku tidak enak" gumam Noah.
"Ah, kenapa pak? Kita di belanjain Sri, pak. Ayolah.. Kapan lagi dapat barang mahal yang gratis?"
Sri menyuruh pelayan untuk membuka plastik hanger. Dan berapa Rian terpaku. Yang dilihat ternyata sama. Jas pink lagi. Rian lemas. Kedua bahunya langsung turun dengan kepala tertunduk. Noah hanya bisa menahan napas sesak. Sementara Lucky, Sri, dan Agnes giliran terkekeh geli.
"Benarkan, Rian? Apa kataku.." Noah berbisik.
"Pak No, ternyata ibu hamil itu mau membuat kita jadi pasukan pink!" keluh Rian.
"Aku harap, kalian tidak menolak. Itu permintaan jabang bayi ku. Jangan sampai nanti dia ileran. Camkan itu!" ancam Lucky.
Rian dan Noah saling pandang.
"Pak No, malang sekali nasib kita ini. Hanya jadi tumbal jabang bayi"
Noah terkekeh geli melihat wajah Rian dengan tak berdaya menentang bos yang bayinya sedang banyak maunya.
__ADS_1