
Terpaksa Agnes harus menerima hujatan dari Dila dan Niar. Dila Sempat menjambak rambut kriwilnya geram. Sri harus menengahi ketiga temannya yang beradu cerocosan memarahi Agnes yang telah menutupi siapa Sri sebenarnya.
"Mbak Dil.. sudah mbak.. sudah. Mbak Agnes ndak salah lho mbak!" Sri sibuk menarik tangan Dila yang mencengkram rambut Agnes sampai kepala gadis itu miring ke kiri.
"Gemes aku, Sri. Dia nih dalangnya" Dila melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Agnes. "Pantesan aja dia gak pernah mau lagi komentar tentang tuan Lucky. Rupanya dia udah tau siapa kamu" Dila nyerocos panjang lebar dengan wajah cemberut.
Agnes meringis kesakitan memegangi kepalanya. Membenahi rambut kriwilnya yang sudah acak-acakan akibat Dila menjambaknya.
"Mbak Agnes Ndak salah mbak" Sri memegangi tangan Dila.
"Iiisshh.. kalian ini! dengerin dulu dong penjelasan ku!" Agnes kesal sekali.
"Penjelasan apa? kamu inget gak sih, waktu aku tanya tentang suami Sri yang kang ojek itu? kamu bilangnya gak tau" Niar menimpali.
"Eh.. eh.. dengernya.. bukan cuma kalian yang kaget. Aku juga gitu. Pertama kali aku tau, bukan cuma kaget. Tapi aku pingsan!"
"Hah?!" Dila dan Niar terkejut.
"Masak sih?" Niar mendorong bahu Agnes.
"Di kompor!" Agnes mendengus kesal. "Nih tanya orangnya langsung" menunjuk Sri di depannya. Sri tertawa melihat tingkah ketiganya.
"Beneran Sri?" tanya Dila.
""Iya, mbak" Sri tersenyum. "Maaf ya mbak Dil, mbak Niar. Bukan maksudnya Sri ndak mau kasi tau tentang ini. Sri cuma ndak mau kalo ndak punya temen"
"Tapi kenapa sama Agnes kamu kasih tau?" Dila merengut.
"Itu gak sengaja mbak Dil. Kalian masih enak cuma denger gosip. Lah aku? langsung lihat sendiri gimana mesranya tuan Lucky sama Sri. Langsung di rumahnya lagi! coba bayangin? gimana aku gak pingsan coba?" Agnes membela diri.
Mereka jadi tertawa membayangkan gimana shocknya Agnes ketika menyaksikan sendiri kalau Sri ternyata istri dari Presdir mereka.
"Eh.. jadi segan nih aku sama Sri. Gak bisa ngebuly kamu lagi sri. Takut di pecat aku!" Niar tersipu malu. Selama ini dia suka menjahili Sri. Tapi sekarang, aura Sri sebagai istri Presdir langsung terasa.
"Jangan gitu mbak Niar. Kalo kalian jauhi Sri, nanti Sri jadi Ndak punya temen mbak"
"ah... iya. Ngemeng-ngemeng.. Nih si istri Presdir, gimana rasanya paha tuan Lucky, Sri? kuat tidak?" Dila menggoda Sri.
"Kenapa paha sih? ya itunya dong!" ujar Niar frontal. Ketiganya terkikik geli.
Wajah Sri merah padam. Teman-teman gesrek semua ini. Langsung bertanya tentang paha. Membuat Sri malu setengah mati.
"Iya Sri. Gimana? hot dong ya? tuan Lucky itu panas gak sih?" Dila semakin penasaran saja.
"Aduh.. apaan toh mbak Dil?" Sri melengos malu.
"Hahaha.."
Mereka berempat tertawa senang mengerjai Sri. Ngobrol sampai jam istirahat habis. Di jalan menuju kantor pun, masih saja ketiganya meledek Sri habis-habisan. Menanyakan tentang Lucky yang notabene seorang pemimpin perusahaan yang selalu bersikap kaku. Sri hanya menanggapi dengan candaan yang membuat ketiganya terpingkal-pingkal.
"Mbak, jangan lewat lobi ya? kita lewat basement aja" Sri menarik ketiganya untuk memutar arah.
"Lho? kenapa Sri?" Dila berhenti.
"Sri Ndak mau nanti banyak orang di lobi"
"Alahh.. udah gak apa-apa. Kan ada kita bertiga. Udah ayok.." ujar Niar.
Niar kembali menarik Sri untuk berjalan menuju pintu masuk kantor. Dan benar saja. Banyak pasang mata yang langsung menatap si mengintimidasi. Tapi mereka tetap melanjutkan langkah menuju lift.
Di saat menunggu lift, tidak di sangka Susan the gank sudah menghadang mereka. Menatap Sri sinis sambil melipat tangannya di dada.
"Heh.. pelakor!" Susan menghadang tepat di depan Sri. Berdiri dengan sikap tengilnya. Menaikkan dagunya pongah. Sri mundur.
"Belum kapok juga kamu ya? kemarin pak Noah, terus jadi simpanan om-om. Eehh.. sekarang kau terlalu maju merebut kekasih orang lain. Malu gak sih kamu itu?" Susan langsung mengeluarkan kata-kata menghina.
"Iya nih.. gak tau malu banget sih. Nyampah aja dia di sini" Sofi ikut menyerang Sri.
__ADS_1
"Hahaahaa.." tawa mereka membahana. Menertawakan Sri dengan penghinaan kejam.
Sri malu setengah mati. Terlalu banyak orang yang mendengar itu. Semua orang menyaksikan penghinaan Susan dan Sofi barusan.
"Susan! jaga mulut kalian. Kamu belum kapok juga ya rupanya. Kamu sudah dapat peringatan dari pak Noah. Tapi kamu ulangi lagi" Dila maju membela Sri.
"Iya kamu Susan. Ntar kamu nyesel lho" Niar menimpali.
"Hey ular sendok! kamu juga sama. Pe-la-kor!" Susan mendorong bahu Niar keras. Membuat Niar terdorong kebelakang.
"Siapa yang pelakor?!" Niar tersulut emosi.
"Ya kamu! kamu kira aku tidak tau apa? kamu pacaran sama Fadil kan? hah? mau ngelak kamu?" Susan makin beringas saja.
Niar terdiam. Bukannya tidak berani, tapi dia melihat suasana sudah semakin panas. Daru seorang sekuriti datang menghampiri.
"Nona-nona! ini kantor. Bukan pasar!" Daru melerai perkelahian itu. Memegangi tangan Susan yang sudah naik ingin menghajar Niar.
"Ah.. lepas! jangan ikut campur kamu, Daru!" Sentak Susan. Daru melepaskan tangan Susan.
"Tapi jangan ribut begini, mbak Susan. Kita punya peraturan" Daru masih berusaha mengingatkan.
Dengan benci, Susan menatap Sri. Entah kenapa dia sangat membenci Sri. Sejak ada gosip tentang hubungan Sri dengan Noah sang pujaan hati yang kalem tak terjamah, Susan selalu mencari kesempatan untuk memaki Sri. Kalau bisa menenggelamkan Sri saja kesasar laut terdalam.
"Ini semua gara-gara kamu!" sentak Susan ke depan Sri.
"Jaga bicara mu, Susan. Apa salah Sri?" Agnes geram melotot pada Susan. "Jangan sampai kamu menyesal Susan"
"Heh! jangan membela dia! dia ini pelakor!" Susan semakin merah padam melihat banyak yang membela Sri.
"Mbak Susan, mbak ini kenapa toh? kenapa benci Sri sampai segitunya?" Sri berani menatap mata Susan.
"Ee.. ee..e... Berani kamu ya!"
Tak disangka, secepat kilat Susan mendorong Sri dengan kencang. Sri Terdorong kebelakang dengan keras. Terhuyung kebekang menabrak pintu lift eksekutif.
"Auuwwhh!!" Sri meringis kesakitan punggungnya membentur pintu lift dengan keras.
Dan tepat pada saat itu juga, pintu lift terbuka. Membuat tubuh Sri limbung kebelakang akan terjatuh masuk ke lift yang terbuka.
"Aaaakhh!!"
Sri berteriak kaget karena merasakan tubuhnya akan jatuh. Tapi begitu merasakan ada tangan kekar yang menyanggah tubuhnya, Sri membuka matanya pelan-pelan. Itu wajah Lucky. Suaminya datang di saat yang tepat. Menahan tubuh Sri agar tidak terjatuh ke lantai lift.
Dengan sigap, Lucky menerima tubuh Sri dalam pelukannya.
"Hah!!"
Semua orang tercekat mundur. Susan juga jadi panik melihat siapa yang ada di dalam lift. Tampak beberapa orang yang sangat mereka kenal ada di sana. Lucky, Noah, Beni, dan juga Richard sang pengacara handal.
"M-mase.." Lirih Sri menatap wajah Lucky yang sudah menunjukkan kemarahan.
"Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Lucky pelan. Sri hanya mampu menggeleng.
Lucky membantu Sri untuk berdiri dengan benar. Sri masih tercekat kaget melihat Lucky tiba-tiba muncul. Itu adalah kebetulan yang sangat tak terduga. Mereka semua keluar dari lift.
Wajah Noah menunjukkan kemarahan menatap Susan. Tapi ini sudah tidak bisa di tolerir lagi. Susan sudah keterlaluan. Dan Noah menyerahkan seluruh keputusan ada di tangan Lucky kali ini.
Susan pias. Darahnya seakan berhenti mengalir. Mendengar Lucky memanggil Sri dengan sebutan sayang, membuat jantung Susan seakan berhenti berdetak. Pasti semua orang bisa mendengar apa yang di katakan Lucky tadi.
Semua staf yang menyaksikan itu tampak tegang. berdiri tertunduk takut melihat aura sang pemimpin yang terlihat murka. Semua orang menunduk ngeri. Tidak berani mendongak menegakkan kepala. Seakan tak berani membuat suara berisik walaupun hanya hembusan napas yang bisa membuat mereka celaka di tangan Presdir.
Lucky melepaskan rengkuhan tangannya dari Sri. Maju selangkah dengan tangan yang di masukkan ke saku celananya. Menatap semua staf yang ada di situ satu persatu dengan dingin. Tajam menusuk dengan kemarahan dalam sikap wibawa.
"Siapa yang telah berani mendorong istriku?" tanya Lucky dingin menusuk.
Brrr...
__ADS_1
Banyak suara bergumam terkaget-kaget Presdir mereka mengakui Sri sebagai istrinya. Tapi mereka tidak berani membuka mulut menjawab pertanyaan Lucky.
Susan bagai tersambar petir mendengar itu. Istrinya? Sri istri Presdir? tuan Lucky yang dingin dan di kenal tak punya hati dengan sebuah kesalahan fatal? mampus!
"Kalian punya mulut atau tidak?" suara Lucky semakin dingin saja.
"Maaf tuan. Tadi Nona Susan yang mendorong nona sri" Daru si sekuriti kantor, memberanikan diri menjawab pertanyaan Lucky.
Sssiiing!!
Begitu dingin mata Lucky tertuju pada Susan. Gadis itu sampai gemetaran saking takutnya. Tertunduk dalam dengan bulir keringat dingin sebesar jagung yang sudah mulai memenuhi keningnya. Susan shock. Tidak saja karena perbuatannya, tapi juga karena yang ia tindas ternyata istri seorang yang berpengaruh kuat.
Lucky maju ke depan Susan. Berdiri tegak di depan gadis yang sudah gemetaran dengan lutut mulai goyah.
"Apa motif anda sampai ingin mencelakai istri saya?" tanya Lucky dingin pada Susan.
Sungguh Susan sudah ingin pipis mendengar suara tajam Lucky. Lututnya goyah dengan tangan berkeringat. Peluhnya membanjir karena takut.
"M-m-maaf, tuan"
Hanya suara lirih dan bergetar itulah yang bisa keluar dari mulut Susan. Semua mata menuju kearahnya. Susan merasa di adili sosok malaikat pencabut nyawa. Dingin dan kejam.
Sri kasihan menatap Susan yang sudah pucat pasi ketakutan. Prihatin melihat gadis itu seperti sudah ingin pingsan. Sri mendekati Lucky dan menyentuh lengannya. Menatap teduh suaminya yang masih dalam keadaan marah. Lucky menoleh ke samping kanannya melihat istrinya.
"Mase, sudah. Sri Ndak apa-apa kok mas"
Sri mencoba menenangkan Lucky. Tapi sepertinya itu sia-sia. Lucky tidak bisa menerima apa yang di lakukan Susan pada istrinya. Menatap Susan lagi dengan geram. Rahangnya mengetat keras. Sangat ingin meremukkan tubuh Susan saat ini juga.
"Sayang, katakan. Hukuman apa yang cocok untuknya?" tanya Lucky pada Sri dengan mata tertuju pada Susan.
"Mase.. sudah mas. Mbak Susan Ndak sengaja tadi. Itu kecelakaan" ujar Sri seraya meremas lembut lengan Lucky.
Lucky menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Kamu" Susan mendongak takut. "Saya pecat dengan tidak hormat"
Semua orang terdiam membisu. Lucky sudah menjatuhkan hukuman pada Susan. Susan langsung terjatuh kelantai. Luruh bersimpuh dan mulai menangis sedih.
Sri tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Itu sudah keputusan Lucky. Dia harus menghormati apa keputusan leader perusahaan. Agnes, Niar dan Dila tersenyum puas. Susan pantas mendapatkan itu.
"Dengar! Sri adalah istri saya. Tidak ada yang bisa menghinanya. Siapa saja yang ikut dalam aksi tadi, saya putuskan mereka di pecat" ujar Lucky sambil mengedarkan pandangannya pada semua staf.
"Rich" panggil Lucky pada Richard. Pengacara tampan itu maju kedepan. "Buat ajuan tuntutan pada mereka. Aku mau mereka di hukum secara sah" Richard hanya mengangguk mantap.
DUAARR!!!
Petir menyambar kepala susan dengan keras. Langsung saja dia bersipuh di kaki Lucky dengan tangis pilu.
"Tuan, maafkan saya. Saya mohon, jangan tuntut saya, tuan"
Lucky diam saja. Sri menatap Susan prihatin. Semua orang riuh berkasak kusuk. Sofi dan ketiga temannya yang bersama Susan tadi juga menangis terisak. Nasi sudah menjadi bubur ayam dengan taburan bawang goreng dan daun bawang. Penyesalan tiada guna.
Lucky mundur dari depan Susan. Tidak menghiraukan ratapan Susan meminta pengampunan. Menarik Sri yang masih berat meninggalkan Susan dalam keadaan memprihatinkan. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan mutlak ada di tangan suaminya sebagai seorang pemimpin.
Beni, Noah, dan Richard, mengikuti langkah Lucky dan Sri. Mereka menuju hotel tempat pertemuan dengan awak media untuk mengadakan konferensi pers.
Setelah pemimpin perusahaan pergi, semua staf riuh membicarakan kejadian barusan. Mereka tidak menyangka ternyata Sri adalah istri dari presdir mereka sendiri. Kembali berita panas memenuhi linemassa kantor Bronze.
Niar, Agnes, dan Dila Mendekati Susan yang masih bersimpuh menangis pilu. Mereka menatap Susan dan ketiga temannya yang lain. Mereka gemetaran mengingat tuntutan yang menjerat mereka karena kesalahan fatal mereka sendiri.
"Nes, tau tidak kenapa penyesalan datangnya belakangan?" tanya Dila sambil menatap Susan. Susan berlinang air mata.
"Kenapa mbak?" Agnes balik bertanya.
"Karena kalau datang deluan itu namanya pendaftaran"
"Hh.. miris ya. Kasian kamu Susan" Celetuk Niar geleng-geleng kepala. Menatap sinis pada Susan. "Udah di bilangin nanti kamu nyesal. Eehh.. tetep aja sombong!"
__ADS_1