OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Tengku-Rab


__ADS_3

Seperti biasa, kantor juga adalah tempatnya biang gosip. Setiap berita aktual, sangat cepat menyebar luas. Selain cakupan yang tidak terlalu besar, dan biang gosipnya hanya itu itu saja. Menjadikan gosip semakin hot dengan gesekan pol.


Pagi ini, itulah yang terjadi pada Sri. Namanya menjadi tranding topik di semua divisi kantor. Semua staf membicarakan dia. Semua mulut berkasak kusuk tentang Sri yang punya suami tampan mirip tuan Presdir Bronze group.


Hingga banyak staf wanita yang bergerombol mengerubunginya dengan banyak pertanyaan. Karena yang mereka tahu selama ini, tuan Presdir mereka adalah kekasih dari seorang bintang papan atas. Tapi hari ini berita menyebar di segala penjuru kantor, kalau Sri punya suami yang sangat mirip dengan Lucky.


Sri sebisa mungkin menghindari dengan sopan. Tidak menjawab begitu banyak pertanyaan. Hanya tersenyum dan pamit pergi ke ruangannya.


Tak berbeda jauh setelah sampai di divisinya. Ketiga temannya sudah menunggunya untuk segera mengklarifikasi tentang berita panas itu.


"Ini gosip siapa yang nyebarin, mbak Dil?" Sri cemberut melihat ketiga temannya.


"Aduuhh.. kamu kayak gak tau aja, srii.. siapa lagi kalau bukan Lukman?" jawab Dila.


"Dasar Lanang ember!" Sri menghentakkan kakinya kesal.


"Sekarang itu, laki-laki udah lebih parah ngerumpinya ketimbang kita" Niar menimpali.


"Eh, tapi bener ya Sri, kalau suamimu itu beneran tuan Lucky?" Dila ikut penasaran.


Sri terdiam. Kali ini jadi dia yang kebingungan harus menjawab apa. Melirik Agnes meminta bantuan. Tapi Agnes tampak menggeleng pelan. Mengatakan tidak punya jawaban.


"Bener gak, Sri? aku penasaran banget deh. Wajahnya mirip banget sama Presdir kita. Ya gak, Nes?" Dila menyenggol Agnes.


"Eh.. apa?" Agnes tergagap.


"Kamu kan yang lebih tau tentang Presdir kita, Nes. Masak sih kamu gak nyadar kalau suaminya Sri mirip banget sama tuan Lucky?" Niar menatap Agnes penuh selidik.


"Lho? kok jadi aku? ya tanya sama yang punya lah.." Agnes menunjuk Sri.


"Hah?!"


Niar dan Dila tercengang menatap Sri. Membuat Sri mendelik ngeri dan mencubit Agnes gemas.


"Opo toh mbak Nes?!"


"Emm.. maksud ku, kan Sri yang punya suami. Kenapa jadi aku yang di tanya tentang itu?" Agnes meralat bicaranya.


"Oohh..." Dila dan Niar ber oh ria.


"Udah lah mbak Dil. Mungkin cuma mirip aja. Suami Sri ya suami sri. Presdir ya Presdir. Ndak begitu mirip kok mbak" Sri menengahi.


Dila dan Niar masih belum puas. Menatap Sri sarkas. Masih menuntut penjelasan yang lebih meyakinkan.


"Tapi, kok kamu bisa sih, punya suami tampan banget gitu Sri? Gak nyangka aku lho sri, Suami mu setampan itu. Kamu pelet ya?" frontal Dila.


"Iya mbak.. eeemm..." Sri memeletkan lidahnya. "Gitu toh mbak?"


"Iishh.. kamu ini! pelet Sriii.. pelet! buka melet!" Dila kesal.


"Pelet itu nama guna-guna toh mbak?"


"Iya"


"Lah, kalo ngelakuin guna-guna namanya apa mbak Dil?"


"Melet"

__ADS_1


"Laahh.. Yo wes! sama toh?"


Dila menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sri bermain kata yang berbeda maknanya untuk mengganti topik pembicaraan dan menghindari pertanyaan Dila. Dila jadi pusing sendiri.


"Hadeehh.. terserah lu Sri!"


"🤭"


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Sesuai yang di janjikan Lucky, pagi ini Rian datang ke kantor untuk menghadap Lucky. Tampak tampan dan rapi. Memakai kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak, celana bahan slim fit, dan lengkap dengan sepatu pantofel mengkilap seperti yang di inginkan Lucky.


Jika Sri dan Agnes melihat penampilan Rian pagi ini, mereka pasti tidak menyangka itu Rian. Pemuda ini tampak tampan dan rapi. Tapi ketika Rian datang, Sri dan Agnes sudah mulai sibuk bekerja.


Rian langsung di sambut Beni. Membawanya langsung menghadap pada Lucky. Kebetulan Noah sedang ada di ruangan Lucky pagi ini. Membicarakan sesuatu yang penting tentang pekerjaan. Begitu Beni masuk menyampaikan kedatangan Rian, Noah mengernyitkan dahi. Merasa asing mendengar nama tamu itu.


"Siapa dia, Luck?" Noah menatap Lucky meminta penjelasan. "Jangan sembarangan memasukkan orang. Kau tau sekarang kita di intai bukan?"


"Tenang saja. Ini lain dari yang lain. Aku terhibur bersamanya" Lucky tersenyum senang.


"Hanya karena terhibur kau memintanya datang? kenapa tidak panggil komedian saja?" Noah masih merasa keberatan.


"Haha.. Pemuda ini unik. Aku suka padanya. Dan yang jelas, kau punya saingan" Lucky tergelak.


"Apa maksudmu?"


"Sama seperti mu. Dia juga menyukai istriku"


"Hahaaa.. bedanya, dia mengejar istriku dari semenjak bayi. Hahaha.." Lucky semakin tergelak mengingat cerita laporan Agnes melelui chating dengan Beni.


"Gila kau!" Noah bergumam kesal.


Beni masuk bersama Rian di belakangnya. Rian dan Beni berdiri agak jauh di arah kiri samping meja kerja Lucky. Noah menatapnya tak berkedip. Seakan menilai penampilan Rian dari kepala sampai ujung kaki.


Noah bingung apa yang di inginkan Lucky dari pemuda ini. Penilaian Noah, Rian cukup tampan dengan tubuh tinggi walau tidak begitu kekar. Tapi Rian masih terlihat sangat muda. Dan tampak belum berpengalaman. Stylenya masih sangat jauh di bawah mereka. Tapi Noah hanya bisa menunggu apa yang akan di katakan Lucky selanjutnya.


"No" bisik Lucky mencondongkan tubuhnya kedepan Noah. Noah ikut mendekat agar bisa lebih mendengar bisikan Lucky.


"Kau lihat saja nanti. Dia sedikit gila. Tapi pasti kau akan sangat menyukainya. Lihat saja"


Lucky kembali mundur dan menegakkan tubuhnya menatap Rian dengan senyum.


"Silahkan duduk, Rian" ujar Lucky menunjuk kursi di sebelah Noah di depannya.


Rian mengangguk. Mendekat ke meja kerja Lucky, dan duduk di kursi di samping Noah. Noah hanya memperhatikan. Ikut penasaran dengan apa yang dikatakan Lucky tadi.


"Selamat datang bro" Sapa Lucky ramah. Menunjukkan kedekatan dengan memanggil Rian dengan sebutan bro.


"Terima kasih" jawab Rian tersenyum kikuk.


"Perkenalkan, dia Noah kepala menejer divisi pemasaran" Lucky melirik Noah. Meminta Rian berkenalan dengannya.


"Halo pak Noah" Rian mengulurkan tangan. Noah menyambut. "Saya Rian. Temannya Sri"

__ADS_1


"Oh, ya. Saya Noah"


Satu info buat Noah. Ternyata Rian adalah temannya Sri. Hmm.. Noah semakin penasaran.


"Rian, seperti yang kamu tau, saya memintamu datang pagi ini, untuk memberi mu pekerjaan"


"Terima kasih tuan Lucky" Rian mengangguk.


"Jadi, apa kamu siap berkerja sama?"


"Saya siap"


"Hmm bagus" Lucky menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Noah masih diam memperhatikan. Sejauh ini dia masih belum mendapatkan apa-apa. Rian terlihat biasa saja. Entah apa yang membuat Lucky memilihnya.


"Tapi, maaf tuan Lucky. Sebenarnya, pekerjaan apa yang harus saya kerjakan?"


"Cukup menjadi asisten kedua ku. Kau mendampingi Beni. Bantu dia dalam segala hal"


Rian mengangguk mantap. Noah memotong bicara Lucky. Merasa tak sabar apa yang di harapkan Lucky dari Rian.


"Maaf, Anda lulusan apa?"


"Teknik informatika"


"Hmm.. bagus" Noah puas. Kini dia tahu apa yang di inginkan Lucky.


"Tapi ada syaratnya, Rian" ujar Lucky.


"Apa itu, tuan?"


"Jangan dekat-dekat istriku"


Rian tersenyum geli. Tapi Noah malah berdecih jengah. Dan Lucky tergelak melihat itu.


"Tapi, jika aku melihat wajahmu.. kau bukan orang Jawa ya?" Lucky mencondongkan tubuhnya kedepan. Menatap wajah Rian lamat. Noah juga jadi ikut menatap Rian serius.


"Ya, anda benar tuan Lucky"


"Ohh.. begitu.." Lucky mundur dan manggut-manggut. "Lalu?"


"Bapak saya sebenarnya orang Melayu, tuan. Dan di sebut Tengku"


"Wow.. keren" Noah berseru takjub. Tersenyum senang menatap Rian.


"Iya pak Noah. Dan ibu saya keturunan Arab"


"Waahh.. makin keren!" mata Lucky berbinar senang.


"Jadi.. bapak kamu Tengku dan ibu mu Arab, begitu?" tanya Noah lagi.


"Iya, pak Noah. Jadi lebih gampangnya.. bisa di sebut Tengku-Rab, pak"


"Hah?" Noah bengong. inikah yang di sebut Lucky bahwa Rian itu unik?


"Hahahahhaaa..." Lucky justru tergelak bahagia. Sangat terhibur mendengar jawaban Rian. "Aku suka pada mu Rian. Kau adalah Tengku-Rab yang kucari! hahahaa.."

__ADS_1


Noah : "Untung saja Sri tidak menjadi kekasih mu, Rian. Kalau tidak, aku yang bisa gila" (🤦)


Tengku + Arab \= Tengkurab!


__ADS_2