OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Club DEVDA'S


__ADS_3

Suasana club DEVDA'S malam ini terlihat ramai. Live musik berdentum keras. DJ memainkan musik yang menghentak. Banyak pengunjung melantai mengikuti irama musik yang berdentum memekakkan telinga.


Banyaknya pengunjung membuat orang tak banyak yang mengenali satu sama lain. Tapi tetap larut dalam suasana yang menghipnotis. Berbaur dalam keharmonisan rasa saling menikmati malam panjang yang belum berakhir.


Enam orang pria berkumpul dalam satu meja bundar yang besar. Saling bercengkrama dan sesekali tertawa lepas. Deva, Jacko, Richard, Lucky, dan Beni. Pria-pria matang dengan ketampanan masing-masing yang membuat banyak mata wanita menatap mereka penuh minat. Kadang sengaja lewat hanya ingin melihat lebih dekat.


Tapi mereka lebih asik ngobrol sendiri. Tanpa menghiraukan banyak mata yang tertuju pada mereka. Hanya Richard sesekali sengaja memukul bokong wanita-wanita yang sengaja lewat di meja mereka.


Plasshh!!!


"Hai cantikk.." Richard menampar bokong seorang wanita yang berdiri di sampingnya.


Bukannya marah, wanita itu semakin merapatkan tubuhnya pada Richard.


"Hai tampan. Tidak melantai?" sapanya dengan manja. Wajahnya semakin dekat pada Richard.


"Haha.. aku belum berminat. Tapi, alangkah nikmat bila aku melantai di tubuh mu sayang" Senyum mesum Richard mengembang sambil tangannya bergerak meremas bagian belakang.


"Aawwhh.." jerit wanita itu dan melebarkan matanya karena kenakalan Richard. "Kau nakal sekali" menowel hidung Richard dengan manja.


"Hanya untuk mu kenakalan tangan ini" Richard semakin meremat erat. Si wanita tertawa senang.


Melihat itu, Deva dan Lucky geleng-geleng kepala. Beni hanya tersenyum simpul. Tapi Jacko, melirik jijik.


"Aku sudah bilang, bukan? kita jangan duduk di sini. Beginilah tontonan gratis yang menyebalkan" Jacko memutar bola matanya malas.


"Haha.. biarkan dia bersenang-senang, Jack" ujar Lucky tertawa.


"Dia bersenang-senang setiap waktu, Luck. Mana aku percaya jika dia tidak bersenang-senang sekarang" Jacko menatap sinis pada Richard yang kini sudah bermain di dada si wanita.


Tak sabar Jacko melihat itu, langsung berdiri dan melerai pelukan Richard dan wanitanya.


"Hey.. hey.. sudah sudah. Jangan lanjutkan lagi Rich. Atau aku akan memanggil Dira untuk menghajarmu sekarang!" Ancam Jacko.


Pelukan mesra itu harus berhenti seketika. Jacko mendorong si wanita dengan pandangan tajam yang menusuk. Takut melihat Jacko marah, wanita itu langsung melangkah pergi. Richard menatap Jacko dengan protes penuh.


"Hey.. kau selalu mengganggu ku, black!"


"Gila kau!"


Jacko tak mau kalah. Melotot marah. Membiarkan Richard mengomel karena buruannya terlepas begitu saja.


"Haha.. kau lihat, Luck? Mereka berdua ini adalah kartun kesayangan ku. Tom and Jerry" Deva tergelak melihat kedua pria itu saling ngotot.


Lucky dan Beni ikut tertawa. Richard menegak minumannya lagi dengan wajah kesal. Sementara Jacko kembali duduk dengan menunjukkan wajah kerasnya.


"Luck, bagaimana kabarnya paman? kapan dia kembali?" tanya Deva.


"Belum pasti. Banyak yang harus di urus di sana. Aku juga sudah bilang padanya untuk kembali secepatnya. Tapi kau tau dia kan? gila kerja"


"Ah.. tidak masalah. Lagi pula kau jadi punya banyak waktu untuk bersenang-senang dengan istri mu" Deva mengedipkan sebelah matanya menggoda Lucky.


Bukannya senang, Lucky malah terbungkam. Melihat itu, Richard langsung menunjukkan wajah antusias menatap Lucky.


"Sepertinya kau tidak bahagia kawan. Aku tahu. Pernikahan itu menyebalkan. Banyak aturan. Aku lebih suka begini. Banyak gadis yang menempel seperti lintah" celoteh Richard yang terlihat sudah sedikit mabuk.


"Jaga mulut mu, brengsek. Aku merekam semua bicara mu" tegur Jacko mengingatkan.


"Oohh.. ayolah Jack. Jangan begitu. Kau suka kalau Dira menendang ku lagi?" Richard menatap Jacko memelas.


Mereka semua tertawa melihat Richard ketakutan Jacko akan menyampaikan bicaranya pada Dira.

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Kau berengsek, Rich" Jacko tampak kesal.


"Hehe.. kalian berdua sama saja" Deva meninju pelan lengan Jacko.


Jacko tak mendengarkan lagi obrolan teman-temannya. Ia melihat ke sebuah sudut. Menatap seorang wanita yang tertawa dengan melendetkan tubuhnya pada seorang pria. Jacko kenal mereka berdua. Melirik Lucky sesaat. Lalu menatap wanita itu lagi. Itu Amira. Dan yang bersamanya adalah Levi. Tampaknya reuni keluarga dan mantan Lucky telah terjalin.


Jacko melihat ke arah Lucky yang sedang menyesap minumannya sedikit sambil berbincang dengan Deva. Tak sabar, Jacko memotong.


"Luck, bagaimana hubungan mu dengan amira?"


Lucky tampak heran kenapa Jacko menanyakan itu tiba-tiba.


"Ada apa, Jack?"


"Aku hanya bertanya"


"Kami sudah putus. Aku tidak mau menyakiti istriku"


"Hmm bagus, Luck. Itu sudah benar" Deva menimpali.


"Tapi, istri ku lagi marah. Dia tidak percaya aku mencintainya, Dev" lucky langsung curcol.


"What? bagaimana bisa?" Deva menatap Lucky heran.


Lucky menceritakan kejadian di apartemen. Dan Sri melihatnya. Sampai kejadian di kantor ketika Sri menolaknya. Deva tersenyum simpul.


"Wajar saja istrimu marah. Tapi aku beri satu tips buat mu"


Lucky mencondongkan tubuhnya ke dekat Deva dengan antusias. "Beri tau aku, Dev"


"Hmmm.. kau jangan kaku sekali Luck. Wanita itu maunya di puja dan di manja. Luluhkan hatinya dulu. Baru kau akan dapat segalanya"


Lucky mengerjakan matanya. Mencerna kata-kata Deva. Apa dia terlalu kaku bersikap pada Sri, sampai gadis itu tidak percaya?


Lucky menegakkan tubuhnya lagi. Tampak berpikir keras. Apa iya dia kaku? Tapi menurutnya, dia sudah cukup mesra dengan Sri.


"Jangan tegang begitu, Luck" Richard menyambung. " Lihat aku juga. Aku selalu memuja wanita. Kau lihat kan? banyak gadis yang menempel pada ku" Richard membusungkan dadanya.


Bhuukk!


"Awwhh" Richard mengaduh kesakitan. Dada bidangnya yang kokoh di pukul Jacko lumayan keras.


"Mereka mendekat pada mu, itu karena kau bajingan" Jacko mencebik.


"Awh... kau dan Dira sama saja, Jack. Kalian algojo pembunuh berdarah beku!" Richard kesal sekali.


"Hmm.. Luck. Sepertinya madu istri mu akan mendekat" Jacko memperingatkan Lucky sambil matanya menatap tajam kearah Amira yang melangkah mendekat ke meja mereka.


Sontak saja mereka semua menoleh ke arah di mana mata Jacko mengarah. Tampak Amira berjalan anggun dan menyibakkan rambut panjangnya. Tersenyum menatap Lucky. Beni langsung bergerak berdiri, membentengi tuannya.


"Hai.. semua.. Apa kabar" sapa Amira tersenyum ceria.


Tapi tidak ada yang menyahut. Deva hanya menatapnya dengan sedikit senyum dan mengangguk. Jacko hanya diam bak tiang beton. Sementara Richard, mengerjakan matanya dengan liur menetes melihat Amira.


"Amira, kau di sini?" Lucky berdiri.


"Iya, Luck. Aku lihat kamu di sini juga. Jadi aku mampir" Amira tersenyum senang. Ingin menyentuh Lucky. Tapi Beni sigap menghalangi.


"Hey.. tenanglah Ben. Aku hanya mampir. Kau sangat berlebihan sekali" Amira merasa tersinggung.


Lucky menepuk pundak Beni. Dan Beni mengerti maksud tuannya. Mundur lagi membiarkan Amira di dekat Lucky.

__ADS_1


"Kau dengan siapa, Mir?" Lucky mengedarkan pandangannya ke arah pengunjung lain.


"Teman. Aku hanya mampir sebentar" jawab Amira.


Lucky mencari-cari teman Amira. Tapi tidak ada yang terlihat.


"Baiklah, Luck. Aku pergi dulu" Amira pamit.


Lucky diam saja. Masih menatap Amira merasa tidak percaya jika gadis ini dengan temannya.


"Tapi Luck, kita ambil foto dulu ya?"


"Maaf, nona Amira. Sebaiknya jangan" Beni maju mencegah.


"Kau ini kenapa sih Ben? ini hanya foto biasa. Aku akan memasukkan ke akun sosmed ku. Apa itu salah?" Amira tampak tersinggung.


"Sudah sudah.. Kau boleh mengambil foto Mir" Lucky memberi ijin.


"Ah.. terima kasih, Luck" Amira menggamit lengan Lucky. menggelendot manja."Maaf tuan Deva, boleh kan?" sambil menatap Deva memohon.


"Tidak!" Jacko mencegah.


"Sudah, Jack. Biarkan nona Amira mengambil gambar sekali" Deva menarik mundur Jacko.


"waahh.. terima kasih tuan Dev" Amira sangat senang sambil membungkuk pada Deva.


Amira langsung melepas tangannya dari lengan Lucky. Lucky duduk lagi. Amira bergerak sedikit menjauh lalu mengambil background pada pria tampan itu.


"Terima kasih Luck. Terima kasih tuan Deva. Kalau begitu, saya permisi dulu. Aku pergi Luck"


Lucky hanya mengangguk. Amira pergi dan menghilang di kerumunan pengunjung yang melantai.


"Kau akan dalam masalah besar, Luck" ujar Jacko menatap Lucky tajam.


"Tidak apa-apa. Biarkan saja dia"


"Aku yakin dia akan membuat istri mu menangis"


Lucky terdiam. Deva dan Richard menatapnya juga.


"Aku akan senang jika istri ku cemburu. Aku suka membuat cintanya lebih menggebu pada ku" ujar Lucky mantap.


"Ciee.. ciee.. Sudah mulai tertular Deva kau Luck"


Richard menunjuk-nunjuk Lucky dan Deva dengan mimik menggoda. Mereka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Richard yang sudah mulai mabuk.


"Baiklah. Aku harus pulang. Ini sudah terlalu larut. Istri ku akan marah" Lucky dan Beni berdiri dan bersiap pulang.


"Ya, jangan buat istri mu marah. Pulang lah" ujar Deva.


Lucky pamit dan beranjak pergi dengan Beni. Meninggalkan Jacko dan Deva yang menatap punggung Lucky menjauh.


"Kau yakin, Dev? nona Amira akan membuat keonaran dengan istrinya Lucky" Jacko berbisik pada Deva.


"Aku yakin Lucky sudah tau itu. Dan bisa mengantisipasinya. Dia sudah mencintai istrinya, Jack"


"Ya semoga saja"


"Dan kau? bagaimana dengan Neneng? apa kau sudah menjebolnya dengan kasih sayang?" Deva menatap Jacko serius.


Jacko langsung terdiam. Tidak ingin menjawab pertanyaan Deva. Tapi mereka berdua segera terbengong karena Richard langsung menyambung.

__ADS_1


"Hah?! Apa?! Neneng jebol??"


😳πŸ₯ΆπŸ˜±


__ADS_2