OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Menusuk Hati


__ADS_3

Lucky langsung mendorong kepala Amira dengan kasar. Gadis itu terjengkang jatuh di lantai kamar mandi. Tak bisa percaya Amira berani masuk tanpa permisi. Lucky segera menutup intinya dengan kedua telapak tangannya. Merasa menyesal tadi tidak membawa handuk kedalam kamar mandi.


"Amira!! ngapain kamu di sini?!" Lucky melotot lebar menatap Amira di lantai kamar mandi.


Gadis itu polos. Hanya tinggal ce**na dalam saja yang tersisa. Itu juga tidak menutup semua bongkahan pant*tnya. Dadanya terpampang polos. Dia bersimpuh di lantai dan menatap Lucky dengan marah. Mengusap bibirnya bekas batang Lucky yang baru saja tertancap disana. Bergerak bangkit berdiri dengan berani.


"Kenapa kaget? Kamu masih belum mengganti kodenya. Dan aku juga masih punya card-nya" Melangkah mendekati Lucky yang bersandar di dinding kaca kamar mandi dengan napas tersengal.


"Amira, jangan begini. Apa-apaan kamu?!" Lucky sedikit menggertak agar gadis itu takut.


Tapi Amira tidak peduli. Aksinya kali ini harus berjalan dengan semestinya. Semakin bergerak maju dan berdiri sangat dekat di depan Lucky. Menundukkan kepalanya melihat tangan Lucky yang masih menutupi intinya. Lalu mendongak perlahan menatap mata Lucky.


"Eemmpphh.."


Lucky mengerang ketika tiba-tiba tangan Amira meremas tangannya di bawah. Berusaha membuka tangan Lucky agar dia bisa mengelus tongkat Lucky lagi. Tapi Lucky bertahan.


"Hh.. kenapa? kau takut? tadi kau mende**h sangat nikmat, Luck" menjil*t bibir Lucky dengan gerakan erotis.


"Aku juga bisa memberikan rasa yang lebih luar biasa untuk mu. Bagaimana?" bisik Amira mende**ah untuk membangkitkan percikan di hati Lucky.


Tapi begitu mendengar kata 'juga' yang di sebutkan Amira, otak Lucky langsung bekerja mengingat Sri istrinya. Sontak mendorong tubuh Amira kasar. Lalu membuka pintu kamar mandi dan berlari keluar. Mencari sesuatu untuk segera menutupi tubuhnya yang polos.


Tak putus asa, Amira mengikutinya keluar. Berjalan dengan lenggok menggoda. Tidak peduli tubuh basahnya. Berdiri di depan Lucky dengan senyum sinis.


"Haha.. kenapa sekarang kau seperti melihat hantu, Luck? Bukannya dulu kau sangat memuja tubuhku ini?"


Amarah Lucky bangkit. Amira sudah keterlaluan. Gadis ini sudah sangat murahan. Entah kemana sikap anggun yang selalu gadis ini tonjolkan. Sekarang sudah seperti jal*ng murahan.


"Berhenti berbuat konyol, Mira!" hardik Lucky dengan wajah menggelap. Memungut baju Amira di lantai dan melemparkan ketubuh polos Amira yang terpampang nyata di depannya.


"Hhh... pergi?" Amira tersenyum sinis. "Aku tidak akan pergi. Kau mencampakkan ku dengan begitu mudah Luck!" Amira juga ikut menggeram marah.


"Apa mau mu Mir?"


"Kau!"


πŸ‚πŸŒΎ


πŸŒΎπŸ‚


πŸ‚πŸŒΎ


Sri duduk dengan gelisah. Dia tadi lupa membawa berkas data yang ada di flashdisk yang di letakkan di atas lemari kecil di dekat tv. Padahal dia sudah menyiapkannya sejak pagi sekali. Tapi karena terburu-buru, jadi lupa membawanya. setengah jam lagi rapat akan di mulai. Semua data ada di situ. Sri semakin gelisah saja.


"Jadi gimana Sri?" Agnes bertanya. "Ntar pak Noah marah Loh?"


"Aduh Sri juga bingung ini mbak" keluh Sri.


"Hubungi Pak Karim aja, Sri"


"Pak Karim Ndak bisa masuk mbak. Lagian Mase tadi pasti lagi tidur. Ndak enak kalau ganggu"


Sebenarnya bisa saja menyuruh pak Karim untuk mengambilnya. Tapi Sri tidak mau pak Karim akan kena marah karena menyuruh Lucky mencari flashdisk itu. Kalau langsung bilang pada Lucky, pasti tidak sempat lagi karena mungkin Lucky sedang tidur. Sebab tadi Sri sudah mencoba mengirim pesan pada Lucky, tapi tidak ada jawaban. Dan aplikasi Lucky masih offline.


"Ini kan masih ada waktu tiga puluh menit lagi. Ayo aku antar. Biar cepat. Gak usah nunggu pak Karim datang" usul Agnes.


Usul Agnes sih bagus. Tapi apa masih boleh keluar kantor pada saat jam kerja? atau dia permisi langsung sama Noah? Sri segan saja. Merasa tidak propesional dalam bekerja, sampai data yang paling penting bisa ketinggalan.

__ADS_1


"Apa pak Noah gak marah ya mbak, kalau kita permisi sebentar?" Sri meragu.


"Ya udah gih.. permisi aja sana. Mumpung mbak Dila belum tau. Langsung aja ke pak Noah"


Sri bergegas keruangan Noah. Mengetuk pintunya dan menunggu sejenak. Setelah terdengar suara Noah mempersilakan masuk, Sri membuka pintu. Menatap Noah takut-takut. Pria itu menaikkan sebelah alisnya.


"Ada apa Sri, rapat masih setengah jam lagi kan?"


"Anu pak.. Emm.. itu.. Data Sri..."


"Belum selesai?" potong Noah cepat.


"Ndak pak. Tapi.. ketinggalan"


Noah diam. Menatap Sri tajam. Sri sampai bergidik ngeri melihat tatapan Noah menghujamnya.


"Jangan terlalu sibuk dengan suami sombong mu itu" ujar Noah sarkas.


Sri mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Noah membawa masalah pribadi ke kantor. Noah tidak pernah menyinggung Lucky di depannya. Tapi kini Noah seakan cemburu.


"Kau terlalu sibuk dengan Lucky?" Sri menunduk. "Kenapa bisa tertinggal? setengah jam lagi rapat di mulai. Dan yang harus kau persentasekan tidak ada. Lalu bagaimana?"


Entah kenapa lelaki yang satu ini. Mungkin dia sedang haid makanya terlalu sentimen.


"Maksudnya pak.. Sri mau pulang. Ambil flashdisk nya" jawab Sri lirih. Takut membuat Noah semakin marah.


"Suruh pak Karim saja"


"Tapi pak.."


"Kenapa?"


"Hmm?"


"Masiihh.."


Sri sungguh ketakutan menyinggung perasaan Noah. Padahal urusan rumah, tidak ada sangkut pautnya dengan Noah. Tapi entah kenapa Sri takut Noah semakin tersinggung. Dan Noah tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu di matanya. Sri dapat melihat itu.


Noah menghela napas berat. Lalu menggerakkan tangannya mengusir Sri sambil berkata.


"Ya ya ya.. sana sana. Cepat ambil"


"Sri di antar mbak Agnes Yo, pak? boleh?"


Lagi-lagi pertanyaaan Sri sangat mengganggu Noah. Mendongakkan wajahnya lagi menatap Sri dengan jengkel. Hatinya tidak dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Dia tidak mau berdekatan dengan Sri. Dia selalu berjuang keras mengusir rasa rindu pada istri kakak sepupunya ini.


"Iya. Cepatlah" ujar Noah akhirnya. Mengalah tak ingin meluapkan emosinya pada Sri yang tidak bersalah.


Sri tersenyum ceria mengucapkan terima kasih. Segera keluar dari ruangan Noah dan mengajak Agnes untuk segera meluncur pulang.


Dengan bersemangat Agnes memacu motornya membelah jalan di keramaian kota dengan geliat perputaran hidup yang keras. Bergerak gesit menyalip kendaraan yang merayap lambat di tengah terik mentari.


Sri bersyukur bisa pulang dengan motor Agnes. Kalau saja dengan pak Karim, pastilah akan terjebak kemacetan jalan.


Mereka berhenti tepat di depan pos keamanan di depan gedung.


"Mbak Agnes mau ikut naik?"

__ADS_1


"Tidak Sri. Biar aku tunggu di sini aja. Biar cepat"


Sri mengangguk lalu melangkah masuk. Menaiki lift menuju apartemen Lucky di lantai atas. Berdiri di depan pintu, dan mengambil kartu dari dalam dompetnya dan menggeseknya.


Membuka pintu dan tersenyum. Keadaan sunyi. Berpikir Lucky sudah pergi. Untung saja dia tidak menelepon Lucky dan membuat suaminya jadi sibuk mengambil flashdisk miliknya.


Berjalan ke arah meja kecil di dekat televisi. Tersenyum begitu melihat barang yang di carinya masih tergeletak disana. Segera mengambilnya dan menyimpan dengan baik di tas tangannya.


Tapi begitu matanya melihat kearah meja makan, Sri mengernyitkan dahi. Roti isi yang dia buat untuk sarapan Lucky masih disana. Segera Sri melangkah mendekati. Lucky belum menyentuhnya. Apa dia tidak selera? Atau tidak enak?


"Kau!"


Sri terperanjat. Mendengar pekikan dari dalam kamar. Itu suara perempuan. Siapa itu? jantung Sri berdebar tidak karuan. Melangkahkan kakinya dengan hati-hati sekali mendekati kamar tidurnya bersama Lucky.


Hatinya bertanya-tanya suara siapa itu? Bu Nuri tidak datang hari ini. Dan yang ada di apartemen ini hanya dia yang wanita. Selain itu, tidak ada.


Semakin mendekati kamar, Sri dapat mendengar pembicaraan orang di dalam. Ternyata pintunya tidak menutup dengan benar. Pantas saja Sri bisa mendengar suara pekikan itu. Karena sebenarnya kamar tidur itu kedap suara.


Tubuhnya menegang mendengarkan lagi dengan seksama. Sri mematung di tempatnya. Tidak begitu dekat dengan kamar. Tapi dia bisa mendengar dengan jelas.


Suara wanita yang ia kenal dengan baik. Amira. Jantung Sri semakin bertalu-talu. Bagaimana bisa Amira masuk ke kamar tidur Lucky? Apa Lucky mengundangnya? Dan apa yang mereka lakukan di sana?


"Amira! kita sudah membicarakan ini bukan? Apalagi sekarang? jangan membuatku marah, Mir!" suara Lucky terdengar kesal.


"Luck! tanya hatimu. Aku tahu kau tidak benar-benar mencintainya. Aku bisa merasakan itu"


Lucky diam menggeram rendah. Terdengar frustasi dari dengus napasnya.


"Ayolah sayang. Jangan membuat otakmu beku. Kau dengan mudah mencampakkan aku. Jika kau mengambil keputusan secepat itu, apa kau tidak berpikir bahwa nanti kau juga akan mencampakkan Sri?"


"Itu tidak akan terjadi" dengus Lucky.


Hati Sri sedikit terjalari kehangatan mendengar pengakuan Lucky. Tapi tubuhnya masih diam mematung mendengarkan saja.


"Hhh.. jangan sekejam itu Luck. Aku tau kau hanya terbutakan oleh nafsu. Dia menyuguhkan mu tubuhnya. Tapi kau tau? Aku juga bisa memberikan semua itu padamu. Bahkan lebih"


Sekarang, Sri sangat ingin melihat apa yang terjadi di dalam sana. Tapi dia kesulitan karena pintu kamar hanya memberi sedikit celah. Tidak bisa memberi akses untuk matanya melihat ke dalam.


"Sayang.. ayolah.. " suara Amira merengek manja.


Sri tidak mendengar jawaban Lucky. Yang tadinya hati sudah menjalar hangat, kini sakit menusuk karena tidak ada jawaban dari Lucky. Amira merendahkannya habis-habisan. Mengatakan Sri menjerat Lucky dengan tubuhnya. Tapi tidak ada pembelaan dari Lucky.


Jantungnya berdegup kencang sampai tangannya gemetaran. Lututnya lemas membayangkan apa yang terjadi di dalam. Mendengar rengekan manja Amira yang sangat memabukkan.


Sri menegarkan hati. Masih ingin mendengarkan apa yang Lucky ucapkan tanpa dia tahu sebenarnya Sri ikut mendengarkan juga. Sri menoleh ke lemari besar di depan kamar. Lemari kaca itu dapat memantulkan visual pintu kamar yang terbuka sedikit.


Dan tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Tubuh Sri menegang. Menahan napasnya dengan mata terbuka lebar. Dari kaca, Sri bisa melihat keadaan di dalam kamar yang pintunya sudah terbuka. Dan tampak Amira berdiri di ambang pintu juga menatapnya dari pantulan kaca lemari.


Napas Sri sesak melihat keadaan Amira yang berantakan dengan rambut basah. Tubuhnya hanya tertutup pakaian yang teronggok menutupi dadanya. Di Gelung asal-asalan seperti terburu-buru ingin pergi. Dan yang membuat otak Sri berhenti bekerja, Amira tampak polos tanda pakaian. Bawahnya hanya tertutup kain mungil yang tak mampu menutupi bongkahan pant*tnya yang montok.


Pandangan mereka bertemu. Saling menatap. Sri bisa melihat kilatan licik di mata itu. Amira tersenyum melihat kehadiran Sri. Itu memberi keuntungan telak padanya. Ini kesempatan terakhir untuknya bisa memporak-porandakan hubungan Lucky dan Sri.


Amira membuang gulungan baju di dadanya kelantai tepat di depan Sri. Sri melotot lebar melihat itu dengan debaran jantung yang sudah sampai terasa sampai kepipinya. Amira tersenyum licik. Seakan mengatan pada Sri.. "Kau ingin lihat? tunggu dan dengarkan"


Dan sialnya, Sri tak bisa berkutik. Separuh hatinya ingin memaki dan menghajar Amira karena sudah berani menggoda suaminya. Tapi sebelah hatinya juga melarang. Ia ingin mendengarkan dan mengetahui apa yang di katakan Lucky dan bagaimana suaminya menolak Amira tanpa tahu jika Sri juga menyaksikan semua itu.


Amira membuka pintu semakin lebar. Sri dapat melihat ke dalam kamar lewat pantulan kaca lemari. Amira berbalik lagi menatap Lucky dengan senyum nakal. Sri bisa melihat bentuk Bongkahan ****** Amira yang sangat menggiurkan.

__ADS_1


Pemandangan yang sangat menusuk hati!!


__ADS_2