
Menjalani masa pacaran dalam halal itu sangat menyenangkan. Bisa melakukan segala hal bersama tanpa harus ada ketakutan yang merajai hati.
Seperti halnya Sri dan Lucky. Kini bisa merajut kasih walaupun masih sama-sama belum menyatakan cinta. Bukankah orang dewasa begitu? saling mengerti walau tidak mengungkapkan kata cinta itu sendiri?
Lucky masih memeluk Sri setelah pertempuran dahsyat yang telah terjadi pagi ini. Berpeluh ria menguras tenaga. Sekarang Lucky bisa berolahraga pagi tanpa harus berlari di tempat di atas treadmill. Cukup berlari di atas tubuh Sri, itu sudah cukup menguras keringat dan tenaganya membakar kalori.
Haha š (author ngguyu Dewe)
"Sayang" panggil Lucky sambil mengecupi pundak polos Sri. Mereka berdua bergelung di bawah selimut saling berpelukan.
"Hem?" Sri menjawab dengan gumam sambil memejamkan matanya lelah.
"Pindah ke kantor ku saja" pinta Lucky.
Sri diam. Dalam hening, berpikir jawaban apa yang pas untuk permintaan itu. Takut Lucky tersinggung.
"Sri Ndak enak sama pak Noah Lo mas"
"Ah.. kenapa harus panggil pak sih? sama si brengsek itu? eghmm.." Lucky mengigit bahu Sri gemas.
"Aduh! sakit Mase!" teriak Sri menjauhkan pundaknya dari bibir Lucky. Lucky terkekeh melihat Sri kaget.
"Habisnya.. kamu ngegemesin!" Lucky mengecup bekas gigitannya.
"Trus, Sri harus panggil apa sama pak Noah? Kan dia atasannya Sri, mas"
"Hmm.." Lucky menggumam. Mengusap bekas gigitannya di pundak Sri. "Dia adik mu"
Sri membuka matanya. Mengerutkan dahinya bingung. Adik? gila apa? Noah itu lebih tua darinya. Mungkin saja hampir seumuran Lucky. Tapi kenapa Lucky bilang Noah itu adiknya?
Sri membalikkan tubuhnya menghadap Lucky. Menatap netra tajam itu lekat-lekat. Banyak tanya di benaknya.
"Mase kenal sama pak Noah, sudah lama toh?"
"Hem" Lucky mengangguk kecil. Mengecup bibir Sri sekilas.
"Hubungannya mase Karo pak Noah opo toh?"
"Karo? Apa itu?" Lucky agak menjauhkan wajahnya dari Sri. Lagi-lagi Sri lupa kalau Lucky tidak mengerti bahasanya.
"Sama mas. Hubungannya mase sama pak Noah apa?" Sri mengulangi.
Lucky diam. Hanya menatap wajah Sri penuh makna. Berkata-kata dalam hatinya sendiri.
"Ah.. tidak ada. Nanti kamu tahu sendiri. Aku cuma takut kalau si brengsek itu merebut mu"
Lucky Kembali merengkuh Sri kedalam pelukannya. Menyusupkan lengannya di bawah kepala Sri. Menjadikan lengan kokohnya sebagai bantal.
"Iihh.. ngerebut opo toh maaass.. Pak Noah itu cuma atasan Sri mas. Ndak lebih"
"Hmm.. ya ya.. terserah kamu. Tapi aku tidak suka kamu dekat-dekat dia"
"Ndak kok"
"Ndak apa lagi? waktu itu Kamu di bawa dia saja, kamu mau" Lucky mencebik.
__ADS_1
Sri nyengir. Siapa juga yang bisa menolak kebaikan dan pesona Noah? Apalagi orangnya baik dan selalu menemani Sri ketika sedang sedih karena Lucky.
"Iyoo.. Ndak lagi" Sri mencubit dada polos Lucky. Membuat suaminya mendesah pelan.
"Idih.. suaranya kok gitu mas?"
"Cubitan kamu membuat ku bangkit"
"Elehh.. Maunya" Sri memukul pelan dada Lucky. Lucky terkekeh geli. "Sudah mas. Yuk siap-siap. Ntar telat mas"
Bergerak bangkit dan pergi ke kamar mandi. Dengan seringai usil, Lucky ikut membuntuti Sri ke kamar mandi. Hingga ada jeritan kesal dari Sri dari dalam sana.
šŗ
š
šŗ
Kedekatannya dengan Sri akhir-akhir ini mengalami kemajuan. Jauh dari nama Amira dan segala kemanjaannya beberapa hari ini, membuat Lucky bisa lebih membuka diri dengan Sri.
Amira tidak menghubunginya lagi setelah malam itu. Lucky lebih memilih Sri di banding Amira. Tapi masih menyetujui permohonan Amira untuk tidak menunjukkan kepublik tentang hubungannya dengan Sri, sampai usai acaranya di Paris.
Sri juga terlihat masih enggan untuk membuka siapa dia sebenarnya. Menolak untuk di antar ke kantor. Lebih memilih pergi dengan pak Karim. Lucky mengikuti saja apa kemauan Sri dan Amira. Menghormati permintaan mereka. Merasa hubungan di antara mereka bertiga harus di ubah sedikit demi sedikit, agar tidak ada masalah serius kedepannya.
Pintu ruang kerjanya terbuka. Tampak wajah Beni muncul melongok ke dalam. Lucky menaikkan alisnya melihat sikap Beni yang tidak biasa.
"Ada apa Ben?"
Beni masuk ke dalam. Berdiri di depan Lucky sambil membungkuk hormat.
"Tuan Presdir memanggil anda ke ruangannya tuan" ujar Beni.
"Baiklah. Nanti aku ke sana" jawab Lucky kembali sibuk dengan berkas di depannya.
"Sepertinya harus sekarang tuan"
Lucky mendongak menatap Beni. Ada yang penting dari papinya kalau sudah begini.
"Ada tuan Noah"
Nah! itu masalahnya. Mau apa lagi lelaki itu datang ke kantor mereka? Dan langsung menemui papinya? Segera Lucky bangkit dari duduknya. Berjalan bersama Beni keluar.
Begitu masuk ke ruangan kerja Presdir, tampak Noah duduk di depan Frans dengan tenang. Lucky tak menyapanya. Masih ada rasa kesal pada Noah yang belum hilang. Dan yang membuat Lucky mengerutkan dahi, sudah ada Melani ibunya juga di sini.
"Duduk lah Luck" Frans menyuruh lucky duduk.
Lucky lebih memilih duduk dengan Melani. Mencium pipi ibunya dengan sayang. Sudah beberapa hari belakangan Lucky tidak bertemu. Lebih memilih pulang ke apartemen dengan sri.
"Ada yang penting, pap?" tanya Lucky dingin. Seolah-olah pertanyaan itu di tujukan untuk Noah.
"Noah bilang, kita harus pulang" Frans berhenti sejenak. Ingin melihat reaksi Lucky. "Kakek mu sakit"
Lucky menatap tajam ke netra Noah. Bisa-bisanya pria itu setenang air tak beriak. Lucky sangat membenci semua orang yang ada di keluarga inti Albronze. Rasa benci itu belum bisa hilang sejak ia mendengar ibunya di hina.
"Lalu kenapa jika lelaki tua itu sakit? kita bukan tuhan yang bisa menyembuhkannya pap"
__ADS_1
Sedingin es kata-kata itu. Terdengar sangat kejam. Tapi Noah masih diam saja tak bereaksi. Melani meraih tangan Lucky dan menggenggamnya. Meminta anaknya untuk tidak berkata lebih menyakitkan.
"Kakek sakit kak. Mungkin saja ini yang terakhir kalinya kalian bisa melihatnya. Ini permintaan terakhirnya" ujar Noah tenang.
" Cih.. Untuk apa? toh aku bukan cucunya. Kami ini tidak berguna baginya bukan? apa dia sudah menyadari kalau ibuku adalah istri anaknya?" Lucky berdecih jijik.
"Luck.. jangan begitu nak" Melani meremas lengan Lucky. Ucapannya sangat tidak enak didengar.
Frans diam saja. Dia tahu kalau Lucky masih tidak menerima perlakuan keluarga Albronze yang tidak menerima Melani masuk di dalam keluarga mereka.
"Kak.. ini permintaan kakek yang terakhir. Mungkin saja dia ingin minta maaf pada bibi" Noah bereaksi. Kesal mendengar ucapan Lucky.
"Hhh.. setelah napas di ujung tenggorokan? kenapa tidak dari dulu sewaktu dia masih bisa menghina ibuku?" Lucky menggeram marah.
"Sudah.. sudah.. jangan bertengkar" Frans menengahi. "Luck, papi tau kamu masih marah. Tapi dia ayahnya papi"
Lucky mengalihkan tatapannya pada Frans. Menatap tajam. Seaolah tidak terima dengan apa yang di ucapkan papinya.
"Iya sayang. Kakek itu ayahnya papi kamu bukan? Bagaimana jika posisi papi kamu ada di posisinya? Kamu juga akan menolak?" Melani mengelus pipi Lucky dengan lembut. Menenangkan Lucky yang sedang marah.
"Hhh.. kau lihat? bagaiman dia bisa membenci ibuku yang selembut ini? masih bisa selalu memaafkan kekejaman kalian" Lucky menatap Noah skeptis.
"Kak.. kenapa kau juga membenci ku? Aku bukan bagian dari mereka. Kau lupa itu" ujar Noah.
Lucky hanya berdecih mendengar itu. Bukan bagian? Tapi dia mengurus segala keperluan keluarga Albronze. Apa itu yang di sebut bukan bagian? munafik!
"Paman, Aku hanya menyampaikan permintaan kakek. Dan tolong mengertilah. Kakek hanya ingin meletakkan apa yang seharusnya di miliki Lucky. Dan hanya ingin meminta maaf pada kalian"
Frans menghela napas berat. Dia tahu Lucky sangat membenci keluarga Albronze. Walau namanya sendiri masih melekat dengan embel-embel nama itu. Tapi mereka tidak pernah jadi pengemis. Berusaha sendiri mulai dari nol. Lucky pekerja keras yang bisa mewujudkan mimpi Frans tanpa harus melibatkan kekuasan Fredi Albronze, ayahnya.
"Paman, mengertilah. Kakek tidak ingin semua kekuasan jatuh ke tangan paman Fraco. Bisa hancur segalanya. Aku tidak bisa berbuat banyak. Kalian tau bukan, aku juga tidak punya banyak hak di sana. Lucky lah satu-satunya yang bisa mengambil alih itu" ujar Noah melanjutkan.
Lucky memutar bola matanya malas. Sangat jijik mendengar nama-nama yang di sebutkan Noah barusan. Hatinya menolak keras untuk masuk ke dalam keluarga Albronze lagi.
"Semua tergantung pada Lucky. Dia yang harus mengambil keputusan. Walaupun dia ayah ku, tapi aku harus menghargai pilihan Lucky" jawab Frans akhirnya.
"Lucky, sayang. Mami tau kamu masih marah. Tapi, cobalah mengerti. Kakek mu sedang sekarat. Dia ingin bertemu anak dan cucunya. Jika itu terjadi pada papi, apa kamu masih tega untuk mengacuhkannya nak?" Melani mencoba menyentuh hati putra semata wayangnya.
Lucky menatap wajah cantik ibunya. Wanita yang tersakiti dari keluarga Albronze ini masih saja punya hati lembut yang selalu memaafkan. Lucky masih ingat bagaimana kakek dan neneknya mengusir mereka dan memaki ibunya ketika papinya memutuskan menjenguk ke sana sewaktu Lucky masih kecil.
Peristiwa itu membekas dalam ingatan Lucky sampai sekarang. Itulah yang memicunya untuk bekerja keras membangun hidup yang lebih maju untuk membuktikan pada keluarga itu bahwa ia dan ayahnya mampu.
Tapi tetap saja darah Albronze itu tidak bisa hilang dari denyut nadi papinya bukan? Frans tetap putra tertua keluarga Albronze. Orang yang paling berhak atas segala apa yang di miliki keluarga itu. Dan kini, kakeknya meminta mereka kembali setelah apa yang terjadi.
Lucky hanya membela ibunya. Wanita yang tidak bersalah karena dicintai seorang Frans Albronze. Wanita yang selalu mengalah dan bertahan dalam kejamnya hidup menderita. Wanita lembut yang selalu memaafkan.
"Baiklah. Kita pulang pap" ujar Lucky akhirnya.
Jawaban itu mampu membuat Noah tersenyum. Tidak sia-sia kedatangannya kali ini setelah sekian lama mencoba dan selalu di tolak.Akhirnya keluarga Albronze yang sebenarnya akan berkumpul kembali.
"Tapi dengan syarat" Lucky menatap tajam netra Noah " Jangan pernah memaksa. Kami datang hanya ingin melihat dia"
Noah mengangguk menyetujui. Apalah arti persyaratan Lucky itu. Endingnya hanya di tentukan nanti setelah bertemu kakeknya.
NB : Readers... maafin otor yang selalu telat update ya š¤š otornya agak melemah.. karya ini dikit yang favorit. Hehe.. mungkin karyanya kurang bagus ya? Atau gak dapet feel nya? Otor minder.. jadi agak gimana gitcuuh... hihihi..
__ADS_1
Mohon dukungannya ya readers setia. Karena kalian yang masih setia otor masih berusaha up. Tadinya dah pingin stop š¤š
ššš„°šš¹š¹ always a lot of love to all of you.