
Lucky dan papi Frans melangkah tergesa di lorong rumah sakit. Mereka mendapat kabar dari Noah bahwa kakek Fredi sudah di bawa kerunah sakit. Langsung menuju ruang operasi rumah sakit, dimana kakek Fredi sedang di tangani.
Di depan ruang tunggu, mereka berdua di sambut om Baris. Tampak paman Fardo dan juga Levi ada di sana. Lucky menatap mereka tajam.
"Bagaimana ayah ku?" tanya Frans pada Baris.
"Masih di tangani dokter, tuan" Baris membungkuk hormat menyambut tuannya.
"Mana Noah?" tanya Lucky menatap sekeliling dan tidak menemukan Noah.
"Sepertinya peluru menyasar pada tuan besar, tuan muda. Target utama adalah tuan Noah"
Lucky sangat muak mendengar itu. Masalah datang bertubi-tubi. Melirik Levi yang hanya diam melipat tangannya di dada.
"Siapa pelakunya?" Frans tampak marah.
"Aku sudah menghubungi pihak kepolisian, kak." celetuk Fardo. "Mereka masih menyelidiki"
Frans menatap Fardo tajam. Melangkah ke arahnya pelan. Seakan ingin menghancur leburkan adik tirinya ini.
"Bagaimana ini bisa terjadi dalam pengawasan ketat di dalam mansion? kau sedang bercanda Fardo?" suara Frans sangat dingin menusuk.
"Bagaimana aku tau, kak? Kejadiannya sangat tidak terduga" Fardo merasa tersinggung dengan pertanyaan Frans.
"Hhh.. yang benar saja!" sarkas Frans.
"Apa maksud paman mengatakan itu?" Levi membela ayahnya.
Lucky sangat geram dengan tingkah sok pura-pura bodoh dari kedua ayah dan anak ini. Segara Lucky maju ke depan dan menarik kerah kemeja Levi dan mencengkeramnya kasar.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada kakek dan Noah.. kau yang harus aku lenyapkan!!" Desis Lucky dengan geram. Menatap mata Levi sangat dekat dan napas memburu menahan amarah.
"Heh!! apa maksud mu? kau menuduhku?!" Levi juga marah menerima perlakuan kasar dari Lucky. Memberontak minta dilepaskan.
Frans dan Baris segera melerai mereka berdua. Frans menarik kencang tangan Lucky. Melepas cengkraman tangan putranya dari leher Levi.
"Sudah, Luck. Sabar dulu"
Lucky menatap sinis pada Levi dan Fardo. Seakan tak rela jika matanya beralih ke tempat lain. Berharap tatapan penuh amarah di matanya bisa meleburkan tubuh Levi hingga hangus terbakar.
Pintu ruang oprasi terbuka. Seorang dokter keluar dan membuka maskernya. Mereka langsung mengejar dengan memberondong banyak pertanyaan.
"Dokter, bagaimana ayah saya? apa dia baik-baik saja?" Frans lebih dulu bertanya.
Dokter yang bernama Lian itu menatap Frans Lamat. Menghela napas panjang dan membuka suara.
__ADS_1
"Lebih baik, kita bicara di ruangan saya saja, tuan"
Dokter Lian berjalan lebih dulu. Di ikuti Frans dan Lucky. Sementara Baris tidak ikut. Hanya menunggu bersama Fardo dan Levi. Mengawasi gerak-gerik ayah dan anak itu.
Dokter Lian mempersilahkan Frans dan Lucky duduk. Memulai memberikan kabar tentang kakek Fredi.
"Tuan Frans, syukurlah peluru tidak sampai mengenai bagian organ penting. Tuan Fredi baik-baik saja. Tapi kekurangan banyak darah. Apalagi sudah dalam usia lanjut. Harus mendapatkan penanganan intensif"
Mereka berdua menghela napas lega. Kakek Fredi sudah selamat. Lucky segera maju mencondongkan badannya kedepan.
"Bagaimana dengan Noah, dokter?"
Dokter Lian menatap Lucky lalu tersenyum. "Tuan Noah tidak mengalami luka serius. Hanya luka gores di bawah telinganya"
Kembali mereka berdua menghela napas lega.
"Sepertinya peluru menyasar pada tuan Fredi. Saya tidak tau kronologis kejadiannya. Tapi sepertinya tuan Noah dalam bahaya"
"Seberapa parah luka ayah saya, dokter?" Frans antusias.
Dokter Lian menyalakan lampu scan. Terlihat gambar scan bagian dada.
"Luka serius ada di sini" dokter Lian menunjuk bagian jantung. "Tapi tidak mengenai organ vitalnya"
"Saya kira, ini hari keberuntungan tuan Noah. Jika saja tembakan itu tidak meleset, dapat saya pastikan saat ini tuan Noah sudah ada di kamar mayat."
Lucky mengepalkan tangannya geram. Sungguh keterlaluan apa yang telah di lakukan Levi dan Fardo. Tapi Lucky juga tidak bisa menuduh sembarangan tanpa ada bukti otentik yang akan membongkar kebusukan mereka berdua.
Menemui Noah di ruang UGD. Noah baru saja selesai di rawat. Duduk di tepi brankar dengan perban menempel di bawah telinganya. Baju di bagian lehernya penuh darah yang sudah mengering. Menatap Lucky dan Frans dengan sedikit menyunggingkan senyum miris.
"Bagaimana keadaanmu, nak?" Frans memeluk Noah. Menepuk punggungnya pelan.
"Seperti yang paman lihat" jawab Noah.
Lucky hanya berdiri dan memasukkan kedua tangannya di saku celana. Menatap Noah Lamat.
"Kau tidak memelukku, kak?" goda Noah.
"Ck.. sudah sakit begini, kau masih saja suka bercanda" Lucky memutar bola matanya malas dan berdecak kesal. Noah terkekeh geli.
"Ceritakan apa yang terjadi, No" pinta Frans.
"Ketika kakek datang ke kamarku, aku baru saja bersiap mau tidur, paman" Noah mulai memasang wajah serius. Mengingat kejadian yang hampir membuat nyawanya melayang.
"Kakek datang menyapaku. Mungkin karena kau jarang pulang. Jadi, aku mendekat padanya. Berjongkok di depannya. Dan sapu tangan kakek jatuh, aku membungkuk mengambilnya. Ketika itulah penembakan itu terjadi. Kakek tertembak di bagian dada"
__ADS_1
"Kakek datang dengan siapa?"
"Perawat. Tapi perawat segera pergi karena kakek menyuruhnya pergi"
"Dari arah mana datangnya tembakan?" tanya Lucky.
"Balkon"
"Apa balkonmu masih terbuka?" Frans mengernyitkan dahi.
"Aku sudah menutupnya. Tapi tidak dengan tirainya"
"Hmm.. kau cerdas!" gumam Lucky sarkas. Noah diam saja. Tidak mau membantah apa yang dikatakan Lucky barusan.
"Levi dan Fardo ada di rumah?" tanya Frans lagi.
"Iya, paman. Kami baru saja bertengkar ketika aku baru sampai di mansion. Tapi aku langsung meninggalakan mereka"
Frans manggut-manggut. Tapi Lucky menatap Noah kesal.
"Kau beruntung kakek datang. Kalau tidak, kau sudah mati sekarang. Kenapa kau terlalu ceroboh, No?" Lucky gemas mengusap wajahnya kasar.
"Kejadiannya sangat cepat kak. Aku juga tidak tau kalau begini" Noah membela diri. "Bagaimana keadaan kakek?"
"Kakek baik-baik saja. Hanya kekurangan darah"
Dua orang anggota polisi datang. Meminta Noah menjelaskan kronologi kejadiannya. Dan Noah mencerikan ulang kepada dua anggota kepolisian itu. Lucky dan Frans mendengarkan dengan seksama.
"Apakah kalian sudah dapat pelakunya?" tanya Frans pada seorang anggota reserse kriminal.
"Kami sedang menyelidiki, pak."
"Saya harap, pihak kepolisian akan mengusut tuntas kasus ini. Ini sudah pembunuhan berencana"
"Ya pak. Kami sedang melakukan penyelidikan"
"Tapi setelah kami melakukan penyelidikan , jika di lihat dari lokasi penembakan, itu adalah perbuatan penembak jitu, pak"
Lucky menatap polisi Lamat. Seakan tak percaya apa yang dikatakan polisi ini. Sampai segitunya Levi dan Fardo menjalankan rencana busuk mereka.
"Penembak jitu?" gumam Lucky.
"Iya pak. Sekarang tugas kita, menyelidiki siapa yang menyewa sniper itu"
"Hhh.. miris sekali. Menyewa seorang penembak jitu yang bisa meleset mengenai sasaran" sarkas Lucky.
__ADS_1