OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Memilih Sri


__ADS_3

Ketika Lucky sampai di rumah Amira, Billy terlihat di sana bersama Dita pacarnya. Menyambut Lucky dengan tatapan tak suka. Tapi Lucky mencoba untuk tetap tenang.


"Dimana Amira?" tanya Lucky pada Billy.


Billy tidak menjawab pertanyaan Lucky. Duduk diam meneguk bir di tangannya. Dira merasa tak enak hati melihat sikap Billy sangat dingin.


"Ada di kamar Luck. Dia tidak mau keluar sudah dua hari ini. Tidak makan dan minum juga dari tadi siang" Dita menjawab pertanyaan Lucky dengan panjang lebar.


"Kemarin, dia masih membolehkanku masuk. Tapi siang tadi, dia tidak menjawab panggilanku Luck. Aku khawatir sekali" sambung Dita lagi.


Lucky hanya diam mendengarkan. Menatap pintu kamar Amira yang tertutup rapat.


"Luck, dia sangat berantakan. Tolong dia" Dita menatap Lucky memohon.


"Hhh.. Mana mau dia menolong" Billy tersenyum sinis "Aku sudah bilang kan? dia sudah gila dengan gadis yang baru ia kenal" Menyesap lagi bir kalengnya, bicara tanpa melihat ke arah Lucky.


"Jaga bicaramu Bil. Dia istriku" Geram Lucky.


"Ha.. hahahaa.." Billy terbahak tak jelas. Dia mengejek ucapan Lucky barusan. "Lihatlah dia.. Sudah mengakui permpuan kampung itu istrinya. Lihat!"


Billy berdiri dengan tatapan sinis dan penuh amarah pada Lucky. Seakan dia ingin menghajar Lucky saat ini juga.


"Bung! Kau kemari hanya untuk memberitakan bahwa kau sudah punya pengganti Amira? begitu?"


Dada Lucky bergemuruh mendengar ocehan Billy. Ingin bergerak menghajar mulut kotor Billy. Tapi Dita cepat mencegahnya.


"Hey... hey! sudah lah! kenapa kalian jadi bertengkar?" Dita menengahi. Takut jika kedua lelaki ini tidak dapat mengontrol diri. "Luck, jangan dengarkan Billy. Kita sekarang di sini bukan untuk bertengkar. Amira butuh kita"


Lucky berhenti. Menatap geram pada Billy. Tapi omongan Dita ada benarnya. Dia datang bukan untuk bertengkar dengan Billy.


"Katakan pada pacar mu itu. Jangan pernah menghina istriku" desis Lucky pada Dita dan melirik Billy dengan kesal.


Dita tidak menjawab. Membiarkan Lucky pergi ke depan kamar Amira. Dita melotot melihat kearah Billy. Mengisyaratkan agar pria itu menutup mulutnya. Billy membuang pandangannya dengan kesal.


Tok..tok..tok..


Lucky mengetuk pintu kamar Amira. Tapi tidak ada jawaban. Lucky menoleh sejenak kearah Dita. Dan gadis itu mengangguk. Lucky mengetuk lagi beberapa kali.


"Amira, buka pintunya. Ini aku. Lucky" seru Lucky agak kencang. Tapi Amira belum merespon.


"Amira, kalau kamu tidak buka, aku dobrak pintunya!"


Tapi tetap tidak ada sahutan dari dalam. Lucky mulai merasa cemas. Takut Amira melakukan tindakan bodoh di dalam sana. Menatap pada Dita dan Billy lagi. Dan mereka berdua tahu apa maksud tatapan Lucky.


Cukup lama Amira tidak menjawab. Lucky sudah kehilangan kesabaran untuk tetap menunggu. Bersiap mendobrak pintu. Lalu terdengar kunci pintu di putar, dan pintu terbuka.


Lucky tertegun melihat keadaan amira. Sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan. Lingkar hitam sangat jelas terlihat di matanya. Gadis ini sangat kurang istirahat. Menatap mata Lucky dengan linangan air mata. Wajahnya tampak murung dengan mata bengkak akibat terlalu banyak menangis.


"Amira" tercekat suara Lucky menyebut nama itu.


"Lucky"


Amira langsung menubruk Lucky. Memeluk kekasih hatinya dengan deraian air mata yang tak bisa di bendung lagi. Menempelkan wajahnya di dada bidang itu. Ia rindu pria ini. Tak sanggup berpisah. Dampak dari keputusan Lucky memutuskan hubungan mereka.

__ADS_1


Lucky tercekat. Hatinya teriris sembilu melihat keadaan amira saat ini. Meragu membalas pelukan Amira yang mendekap tubuhnya erat. Menangis sesenggukan di dadanya.


Gadis yang selama ini selalu terlihat cantik dan tidak pernah semerawut seperti sekarang, kini dalam keadaan kacau.


"Uussshh.. sudah. Jangan menangis lagi"


Lucky mengelus rambut kusut Amira dengan sayang. Membalas pelukan gadis itu. Terenyuh melihatnya sekacau sekarang. Membawanya kedalam kamar yang berpenerangan remang. Hanya lampu tidur yang menyala.


Lucky mendudukkan Amira di tepi ranjang. Lalu menyalakan lampu agar terang. Dan terlihatlah keadaan kamar Amira yang berantakan begitu kamar sudah dalam keadaan terang. Entah apa yang sudah di lakukan Amira di dalam sini. Yang jelas, kamarnya sangat berantakan. Banyak barang tercecer di mana-mana. Sepertinya Amira membanting semua barang yang ada di kamarnya.


Lucky menghela napas berat. Menatap Amira yang masih menunduk terisak sedih. Lucky mendekatinya dan duduk di samping Amira.


"Amira, kenapa jadi begini?" tanya Lucky pelan. Tak dapat ia percaya Amira begitu terpukul dengan keputusannya.


"Hikss.. hikks.. Aku tidak bisa berpisah dari mu Luck" Isak Amira terbata-bata.


Lucky ingin menangis mendengar itu. Jantungnya terasa di remas. Dia juga sebenarnya tidak tega. Tapi harus mengambil keputusan pahit bagi mereka berdua.


Melihat kamar yang berantakan, Lucky membawa Amira keluar dari kamar. Keadaan yang kacau tidak bisa membuat pikiran menjadi jernih. Dita dan Billy menatap tegang pada mereka berdua. Lucky mendudukkan Amira di sofa. Lalu menatap Dita yang tegak berdiri di dekat Billy.


"Dit, tolong ambilkan makanan untuknya" ujar Lucky memohon.


Dita segera bergerak ingin mengambilkan makanan untuk Amira. Tapi gadis itu menolak.


"Aku tidak mau makan!" sentaknya marah.


Lucky diam saja. Masih menatap Dita yang berhenti karena larangan Amira. Dita melirik Lucky. Lucky mengangguk meminta Dita untuk tetap mengambil makanan. Menyerahkannya pada Lucky.


Lucky duduk di samping Amira. Memintanya makan. Tapi Amira menolak. Menangis terisak. Lucky menghela napas berat berkali-kali. Tak sabar melihat keadaan amira. Meraup rambut panjang Amira, lalu mengikatnya. Menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Menghadapkan wajah sembab itu di depannya.


"Aku tidak suka melihat mu begini. Jangan membantah. Sekarang kamu butuh asupan" Ujar Lucky tegas.


Menghapus air mata di pipi Amira dengan tisu. Lalu mengambil makanan dan menyendokkan, menyuapi Amira.


"Ayo makan. Jangan membantah lagi sekarang"


Amira menatap mata hitam itu dengan nanar. Air mata masih saja menetes di pipinya. Tapi tak urung membuka mulutnya menerima suapan dari Lucky.


"Good girl"


Lucky tersenyum melihat Amira menurut padanya. Menyuapi dengan telaten. Melihat Amira sudah mulai menurut, Dita dan billy beranjak meninggalkan mereka berdua. Lucky dan Amira butuh sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka.


Setelah beberapa suapan, Amira menepis tangan Lucky yang menyodorkan makanan ke depannya. Menolak untuk kembali membuka mulut. Lucky mengalah. Meletakkan piring di meja, dan memberi Amira gelas berisi air putih. Amira menurut. Meminum sedikit.


Lucky membiarkan mereka dalam keadaan hening. Menanti Amira siap untuk di ajak bicara. Dari ekor matanya, dia bisa melihat Amira menarik napas panjang berkali-kali. Mungkin ingin menentramkan hatinya yang masih saja terasa sakit.


Amira sudah tampak lebih tenang. Tidak menangis lagi seperti tadi. Tapi wajahnya masih terlihat murung. Lucky menggenggam tangan gadis itu dan menatap netra Amira. Menampilkan senyum teduh agar Amira bisa lebih tenang dan bisa di ajak bicara.


"Sudah lebih baik?" tanya Lucky lembut.


Amira menatapnya dalam diam. Lalu mengangguk kecil menyatakan dirinya sudah lebih baik. Lucky lebih mengembangkan senyumnya menatap mata sembab yang sendu itu.


"Amira, sayang" ujar Lucky perlahan. "Jangan bertindak bodoh lagi. Hem?"

__ADS_1


Amira menunduk. Lucky bisa mengerti perasaan Amira saat ini. Bisa merasakan pedih dihati gadis ini.


"Amira, masa depanmu cemerlang. Kamu bisa raih segalanya. Jangan begini. Aku yakin kamu kuat"


Amira mendongak menatap marah. Menarik tangannya dari genggaman tangan Lucky.


"Mudah sekali kau bicara Luck. Kau tidak bisa merasakan hati ku!" desis Amira penuh rasa benci.


"Mira.. dengarkan aku dulu" Lucky menarik lagi tangan Amira dalam genggamannya. Tapi Amira kembali menarik dengan cepat. Tidak mau di sentuh Lucky.


"Dengar. Aku juga tidak tega mengakhiri hubungan kita Mira. Tapi.. Aku harus melakukan itu"


"Kau pengecut Luck. Kau melupakan janji mu! Kau membuang aku!" jerit Amira.


"Aku tidak bisa meneruskan dosa itu, Mira. Kita berdosa menghianati istriku"


"Hh.. istri" Amira tersenyum sinis. "Dulu kau sangat jijik menyebutnya sebagai istrimu. tapi sekarang, lihatlah! Kau bahkan takut berdosa"


Lucky mengusap wajahnya kasar. Bagaimana caranya untuk menyakinkan Amira? gadis ini masih tidak menerima.


"Aku tidak bisa terus menerus mengabaikannya. Dia terlalu polos untuk di bodohi. Aku tidak tega, Mir. Aku berjanji pada ibunya untuk menjaganya. Aku berjanji pada papi untuk menganggapnya sebagai istri"


"Tapi kau menumbalkan aku Luck! Kau tega! hikss.. hikkss" Amira terisak lagi.


"Mir.. Mira.. Lihat aku" Lucky menarik Amira untuk menatapnya. Gadis itu sudah tersengguk kembali.


"Maafkan aku. Benar aku mengkhianati cinta kita. Aku sudah mengabaikan janji ku. Tapi aku akan selalu bersama mu mencapai puncak karir. Aku akan selalu mendukung mu"


"Jika aku harus kehilangan mu, aku tak sanggup. Biarlah aku tidak jadi ke Paris. Aku mau kamu Luck" Amira menatap Lucky memohon.


Jantung Lucky berdegup kencang. Mata itu.. Mata yang selalu di pujannya dulu. Mata yang selalu ia kagumi. Tatapannya masih belum berubah. Penuh cinta.


"Ayo kita lari saja. Menikah dengan ku Luck" rengek Amira. "Dulu aku bodoh tidak mau memilih mu. Aku masih ingin karir ku. Tapi sekarang, aku sungguh tidak sanggup jika kau meninggalkan aku. Ayo lari Luck. Aku mohon"


Lucky diam. Menatap mata Amira yang berlinangan air mata. Hatinya terbelah menjadi dua. Harus di akui, masih ada cinta. Belum bisa terhapus jejaknya.


"Luck" suara Amira berbisik memanggilnya.


Lucky kembali dalam kesadarannya. Kebimbangan menyentak dadanya. Kepalanya berdenyut nyeri. Apa yang harus ia pilih?


"Maaf sayang. Aku tidak bisa" keluhnya.


Amira mendelik marah mendengar itu. Dia menghempaskan tangan Lucky. Berdiri dan menjauh dari Lucky.


"Amira. Kamu harus jadi wanita tegar. Langkah mu menuju puncak tinggal sedikit lagi. Minggu depan adalah hari terbesar mu. Aku harap kamu bisa menggapai itu"


Rahang Amira mengetat. Tidak percaya Lucky bisa setegar itu memutuskan dirinya dan tidak mau kembali lagi.


"Maaf Mira. Aku tidak bisa meninggalkan istriku. Kita harus berpisah. Ini keputusan berat bagiku. Tapi aku harus memilih mana yang terbaik"


"Dan menurut mu dia yang terbaik?"


"Kamu juga baik. Kalian berdua sama. Tapi aku sudah terikat janji pernikahan dengannya. Aku.. Aku memilih Sri"

__ADS_1


__ADS_2