
Tubuh Sri menegang. Lidah Lucky menyeruak masuk mengapsen mulutnya. Dorongan untuk menolak berdesakkan di dadanya. Tapi rengkuhan Lucky membuatnya tak berdaya. Menuntutnya untuk membalas.
Tangan Sri menggapai-gapai saking sesak napas. Lu matan Lucky tak memberinya ruang untuk melepaskan. Menuntut dalam, memporak-porandakan hati dan perasaan Sri.
Meremas kemeja Lucky di bagian dadanya. Mendorong sekuat tenaga. Dada kokoh itu bergeming. Tetap gagah tak merasakan sedikitpun dorongan tangan mungil Sri.
Sri memukuli dada Lucky dengan tenaga yang tersisa. Merasa terganggu, Lucky melepas pagutannya. Tersengal napas Sri begitu pagutan Lucky melepas bibirnya.
"Hhhaahh.. hhaahh.. Ojo ngono Mase.. hhahh"
Mengerjap-ngerjapkan matanya menatap netra Lucky yang sudah berkabut. Kelembutan dan rasa manis di bibir Sri mengalahkan akal sehat Lucky.
"Hhahh.. kenapa?" tanya Lucky berbisik, sambil tangannya mengusap bibir Sri dengan jarinya.
"Ndak boleh. Kita 'kan sudah ada kesepakatan.."
"Aku merubah kesepakatan itu"
Lucky langsung memotong kata-kata Sri. Berhasil membuat mata Sri terbuka lebar. Menatap mata Lucky seakan tak percaya pria kaku ini mengatakan itu.
"Kau istri ku. Tidak boleh lelaki lain melirik mu" suara Lucky terasa berat. Mencucup kecil bibir Sri lagi.
Sri mendorong wajah Lucky. Menghindari bibir Lucky yang nyosor terus.
"Tapi Mase, Kita 'kan sudah sepakat toh? Ndak boleh begini. Ini Mase sudah melanggar kesepakatan kita loh" protes Sri.
Rahang Lucky mengetat. Sri memaksanya mengingat tentang kesepakatan mereka di awal pernikahan. Tapi hatinya meradang melihat Sri dengan pria lain. Terbakar hangus ketika merasa Sri lebih bersikap lepas dengan orang lain.
hup!
Tiba-tiba Lucky mengangkat tubuh Sri. Membopong di pelukannya ala bridal style. Sri mendelik kaget. Menghentak-hentakan kakinya menggelinjang di gendongan Lucky, berusaha untuk turun. Tapi dengan kokohnya, Lucky membawa Sri ke tempat tidur. Merebahkan tubuh istrinya di ranjang. Menindih tubuh mungil itu di sampingnya.
Sri kalang kabut. Ingin bergerak menghindar. Tapi lagi-lagi Lucky mengunci tubuhnya. Gadis itu gemetaran Dan bergidik ngeri ketika Lucky mengecupi telinga dan lehernya. Memejamkan matanya rapat saat Lucky menji Lat rahangnya dan langsung menyergap bibirnya lagi.
Memagutnya lembut. Menciptakan rasa yang belum pernah Sri rasakan sebelumnya. Bulu-bulu di tubuhnya meremang berdiri. memberi gejolak rasa melambung saat lidah hangat Lucky menyusup masuk.
Tangan Sri meremas pundak Lucky. Bingung antara menolak dan menikmati. Baru pertama kali dia merasakan sentuhan dan ciuman seintens ini. Memercikkan rasa aneh yang menjalari setiap sendi-sendi di tubuhnya.
Lucky masih saja belum puas merasakan madu manis di bibir basah istrinya. Dia ingin mereguk semua kemanisan yang tersimpan di bibir Sri. Melayang.. Hatinya melambung tinggi merasakan kesyahduan yang ia ciptakan sendiri.
Lupa kesepakatan. Malah ingin merubahnya. Lupa Amira yang masih menunggu akhir pernikahannya. Lupa ia harus pegang janji. Yang ada sekarang hanya melampiaskan rasa panas yang menyelubungi hati.
Lucky tidak mau jika Sri mempraktekkan pelajaran cara berciuman yang ia ajarkan kemarin. Tidak mau ada lelaki yang membuat pandangan Sri berpaling darinya. Tidak mau gadis ini tertawa bukan bersamanya.
Tangan Lucky kini sudah mampir di gundukan membusung di dada Sri. Meremasnya lembut. Ingin memberikan sensasi lain pada gadis polos yang masih kaku ini. Walaupun tanpa balasan setimpal yang Sri berikan, tapi itu tak membuat Semangat Lucky mengendur sedikit pun.
Sri memegangi tangan Lucky meremas dadanya. Menariknya seakan menolak perbuatan Lucky. Tapi tetap Lucky tak menggubris itu. Kini malah bergerak kebawah baju sri. Menyusup lebih kedalam. Ingin merasakan sentuhan kulit dengan kulit.
"Eemmmpphh..maass.."
Sri menggumam di dalam belitan lidah Lucky. Berusaha bicara dan menolak lewat tarikan tangannya pada tangan Lucky. Tapi gerakan lidah Sri berbicara, semakin membuat gesekan yang menciptakan sensasi membakar pada Lucky.
Lucky berhasil menemukan gunung tinggi dengan puncak mungilnya yang masih terbungkus penutupnya. Meremas benda kenyal itu dengan tangan gemetar. Melepas pagutannya dengan napas memburu. Menatap netra Sri yang sudah kalang kabut merasakan tangan kokoh Lucky di dadanya.
Lucky menyingkap penutup gunung kenyal itu hati-hati. Mata Sri melebar. Menatap mata Lucky seakan protes keras dengan tindakan yang di lakukan Lucky.
"Mase.. Mase Ndak boleh be... uugghhh"
Sri tidak sempat melanjutkan kata-katanya ketika tangan Lucky sudah sampai di dadanya. Meremas lembut dan memelintir ujungnya lembut. Menghantarkan percikan aneh yang mendera tubuhnya. Memejamkan matanya seakan tak kuasa berkata-kata lagi.
Lucky mengernyitkan keningnya melihat respon yang di tunjukkan Sri. Berhasl meraih puncak mungil itu dan memi Lin kecil. Sri meremat kemeja Lucky dengan kuat. Tak kuasa menerima rasa yang menghujamnya keras. Membuka matanya lagi menatap mata Lucky tepat di depannya.
"Maassee.. "
Kata-kata Sri menggantung. Mulutnya megap-megap kehabisan napas. Lucky mengigit bibirnya seakan dapat merasakan apa yang di rasakan Sri saat ini.
"Nikmatilah" bisiknya.
Tak mau membuang waktu, Lucky menaikkan baju atasan Sri sampai ke leher. Menampilkan pemandangan yang membuat jantungnya semakin berpaju kencang. Dada itu menyembul keluar dengan ujung puncak mungil berwarna pinky. Lucky menyentuh puncak itu dan memi linnya lagi.
"Aahh.. masss.."
Sri berteriak kecil. Meremas tangan Lucky yang memberinya kenakalan hakiki. Lucky tersenyum melihat Sri kelojotan. Mendekatkan wajahnya lebih kebawah. Mencucup dan mengu Lum puncak hangat Sri. Memainkan lidahnya di sana. Sri sampai menggelinjang dan meremas rambut Lucky keras.
Puas dengan bukit itu, ciuman lucky menjalas sampai kebawah. Mengecupi perut Sri, sampai gadis itu meronta karena rasa aneh yang menjalari seluruh tubuhnya. Karang ia meresas punggung liat Lucky, dan kadang juga menggebuk pelan dengan tenaga yang sudah hilang entah kemana.
Tubuhnya lemas bagai tak bertulang. Otaknya hanya di penuhi perasaan aneh yang menggetarkan sanubari. Ingin menolak dan berteriak, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah ******* lirih yang mampu membuat Lucky menggeram gemas.
Entah kapan lucky berhasil melepas semua kain yang melekat di tubuh Sri. Kini di tubuhnya hanya menyisakan da laman dan bra yang sudah tersingkap naik sampai kelehernya. Sri merapatkan pahanya menahan malu yang sudah membuat wajahnya tebal dan merah merona.
Lucky merebahkan kepanya di perut Sri. Meraba kulit halus dan bermain di pusar Sri. Menggelitik dan sesekali meraba dengan ujung jarinya yang mengambang antar menyentuh dan tidak. Tangan Sri berpegangan erat di rambut Lucky. Ingin rasanya menarik rambut itu sampai lepas dari kepala lelaki kaku ini. Tapi yang terjadi hanyalah remasan lembut dan sesekali mengusap denga. gemetar.
Lucky bangkit. Membuka kemejanya dengan mata menatap Sri di bawahnya. Melihat itu, rasanya Sri ingin lari terbirit-birit. Tapi tulangnya seakan lumpuh. Bergerak hanya sedikit dan bergeser kesamping. Itu malah kesalahan besar baginya. Lucky malah merasa Sri lebih memberi ruang untuknya berbaring dengan leluasa.
Sri memiringkan tubuhnya dan berusaha menggapai apa saja yang bisa untuk membuatnya berpegangan. Meremas sprei yang sudah kusut akibat gerakannya menggelinjang tak tentu arah tadi. Menggeser tubuhnya menjauh dari Lucky. Tapi dengan cepat Lucky sudah sampai di belakang punggungnya. Mengecup liar di sana.
"Mase... Ojo ngene.. aduuhh.."
Kata-kata Sri terputus. Merasakan benda lembut dan basah menjalari punggungnya dari atas sampai kebatas pinggul. Gadis itu mendongak dan melengkungkan punggungnya ke depan. Memejamkan matanya rapat-rapat merasakan geli di bagian belakang badannya. Menggigit bibirnya dan mengernyitkan keningnya resah.
Lucky terus memandikan Sri dengan lidah hangat sampai gadis itu kelojotan tak karuan. Lucky menang. Sri tak berkutik di bawah Kungkungan rasa nikmat yang ia berikan. Semakin gemas melihat ekspresi Sri yang selalu menggigit bibir menahan gejolak hati.
Pelan sekali Lucky membuka kain yang tersisa di tubuh Sri tanpa gadis itu menyadarinya. Lucky mengalihkan perhatian Sri dengan terus memberi kecupan dan jila Tan di sekujur badan bagian belakang gadis itu.
Begitu berhasil melorotkan kain kecil penutup terakhir, Lucky menatap dua bongkahan mulus yang menggembung indah di depannya. Gemas ia mengecup dan menggigit kecil di sana. Membuat Sri menjerit tertahan dan langsung memaksa berbalik.
Salah! Sri salah sudah memaksa tubuhnya untuk berbalik. Kini yang terpampang di depan Lucky malah bagian depan tubuhnya lagi. Lucky terpaku menatap keindahan yang kini nyata di depan mata. Sungguh!! setua ini dia baru melihat tubuh polos yang menggoda hanya dalam satu jangkauan.
__ADS_1
Glek!
Lucky menelan ludahnya susah payah. Matanya lurus kebawah menatap daging segar menggembung kecil dan polos tanpa halangan apapun. Sontak saja Sri merapatkan pahanya. Malunya setengah mati. Dalam keadaan kamar yang terang benderang, dan seorang lelaki dengan tubuh berotot liat sedang menatapnya terkagum-kagum.
Gustiiii... Matilah aku!! Habislah! Kurang ajar kok Mase Iki!! iihh.. gatel sampeyan!
Sri memaki dalam hati. Merutuki sikap nakal Lucky. Entah setan apa yang merasuki lucky hingga lelaki ini berubah seratus depan puluh derajat. Sri menutupi tubuhnya dengan menyilangkan sebelah tangannya di dada, dan menutup bagian bawahnya. Walaupun itu tak membantu sama sekali.
Lucky menatap mata Sri intens. Seakan merayu dan berbicara dengan tatapan matanya. Bergerak maju dan menempatkan dirinya di bawah kaki Sri. Sri menekuk lututnya berusaha mengelak. Menyembunyikan bagian bawah yang ia jaga semaksimal mungkin.
Tapi dasar gila, Lucky yang sudah di kuasai keinginan menuntuskan, tersenyum mengejek Sri. Lalu memegang lutut Sri. Meraba sampai ke betisnya. Dan tiba-tiba mengangkat betis itu lurus ke atas.
"Aaaaaa... Mase!! Ojo ngono mas.. Ampun!"
Teriak Sri saking malunya. Rasanya ingin bunuh diri saja. Atau lari saat ini juga. Menggali lobang dan bersembunyi di sana. Tapi itu tak terkabulkan. Lucky malah memperhatikan dengan seksama bagian bawahnya. Menyeringai buas melihat betis dan paha Sri bagian dalam. Menatap gundukan kecil yang menantang.
Merebahkan tubuhnya di samping Sri. Merabai paha gadis itu. Membuat Sri bergidik ngeri.
"Sayang, kau indah sekali" bisiknya di telinga Sri.
Sri bergidik membayangkan apa selanjutnya yang akan terjadi nanti. Tatapannya menerawang kosong. Memikirkan kesepakatan yang sudah di kangkangi Lucky, berputar-putar di otaknya. Bagaimana nanti setelah semua ini terjadi? apa mereka bisa melewati rumah tangga yang hanya bermodalkan kesepakatan? atau Sri malah hanya akan mendapatkan kesia-siaan saja?
Tapi pikiran itu buyar ketika ia merasakan ada yang merayap di perut bagian bawahnya. Mengelus dengan lembut dan menarik tangannya. Entah bagaimana Sri tidak sadar tangannya dengan enteng membuka bagian yang ia tutupi tadi.
"Heegghhh"
Napasnya sesak. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Meremang seluruh pori-pori kulitnya. Merespon apa yang di lakukan Lucky sekarang. Otaknya buntu tidak dapat berpikir jernih lagi. Seakan semua berhenti mendadak secara tiba-tiba.
Elu san di bagian bawah tubuhnya terlalu lembut. Tubuh Sri bergetar. Memejamkan mata erat. Menautkan kedua alisnya dan mengegigit bibirnya. Lucky menge lus dan mencubit kecil dengan gemas.
Sri memaksa otaknya untuk berpikir jernih, bahwa ini tidak boleh terjadi. Sri membuka matanya pelan. Menoleh kesampingnya dan terlihatlah wajah Lucky tersenyum menatapnya sedari tadi. Memperhatikan setiap ekspresi yang Sri tunjukkan di wajahnya.
Sri menatap mata Lucky seakan mengajukan protes atas tidakannya. Tapi Lucky hanya tersenyum dan tak menghentikan aksinya. Mata mereka saling menatap. Berbicara lewat pandangan berkabut.
"Maseeehh.. uughhh.. Jangan be-be-giniiihh"
Protes yang terlontar dari bibir Sri bukan nada tegas yang patut di takuti. Itu lebih tepatnya lengu han manja yang semakin membuat Lucky membara.
"Nikmati saja. Kau milik ku" desis Lucky.
Meng elus lebih kebawah. Menjejali celah bukit kecil itu dengan jarinya. Yang mengakibatkan Sri ternganga kehabisan napas. Lucky bergerak dengan lembut. Menatap wajah resah di bawahnya. Sangat menikmati ekspresi yang di suguhkan wanitanya.
"Aduuhh maaass..." jerit Sri tersendat-sendat.
Lucky bergerak bangkit. Turun kebawah, membukanya dengan tak sabar. Sri memegangi tangan Lucky. menaikkan kepalanya melihat Lucky dibawahnya. Sejenak mata mereka terpaku satu sama lain. Sri menggelengkan kepalanya lemah. Memohon Lucky agar tidak melanjutkan aksinya. Tapi Lucky hanya Melengkungkan sedikit bibirnya.
Tak mengindahkan permintaan Sri. kepala Lucky bergerak semakin turun. Menyapu lembut.
"Aaahghh..."
Sri menjerit. Meremas bantal di sisi kanan dan kirinya. Merasakan rasa geli yang belum pernah ia alami sebelumnya. Lucky mengobrak-abrik tembok tebal yang selama ini dia bangun dengan kokoh.
Meracau tak jelas dan mendesis hebat. Meremas rambut Lucky dengan gerakan kepala yang dominan. Basah! Dari pori-pori rambut sampai ke telapak kaki, semua mengembang mengalirkan buliran keringat yang memburu berdesakkan ingin ikut andil akibat rasa yang di timbulkan.
Baru kali ini merasakan rasa yang tiada duanya membuat Sri berkeringat dingin. Kamar ber-AC di rasakan menghangat dan mengakibatkan tubuhnya penuh dengan peluh. Lucky semakin bersemangat melahap habis lahan itu. Menggelitik menciptakan sejuta rasa buat Sri yang sudah kelimpungan dengan wajah memerah.
Sri merasakan desakan rasa yang berkumpul di satu titik bagian dalam tubuhnya. Perutnya menge jang. Menahan sesuatu yang akan meledak. Seperti rasa ingin pi pis akibat ges ekan di sana. Sri Mengangkat kepanya melihat kebawah. Bergidik ngeri melihat aksi Lucky melahap bagian in tinya. mendorong kepala Lucky dari bawahnya.
"Maseee.. S-sudaaahh.. Sriii... aduuhh.. Mau p-p..aahh.. pipissss.."
Sri mendesis dan menjerit. Mendorong kepala Lucky kuat. Tak ingin wajah Lucky terkena pi pis yang mendesak akan meluncur keras.
Lucky menghentikan aksinya sejenak. Mendongak menatap Sri yang berwajah merah padam sambil mengernyit manja. Lucky tersenyum menatap istrinya.
" Keluarkan saja. Aku akan bersihkan" ujarnya pelan dengan senyum lembut.
Lalu kembali melanjutkan aktifitasnya yang tertunda sejenak. Mengobrak-abrik inti Sri yang sudah basah kuyup perpaduan cinta dan saliva Lucky. Bermain makin giat pada kacang kecil yang mencuat mengetat. Tak bosan lid ahnya menari. Bahkan sekarang dengan gerakan intens yang berulang kencang.
"Maasee.. awaaasss.. Aauuhhh.."
Tubuh Sri menggelinjang. Tidak dapat menahan pi pis yang mendesaknya. Tak kuasa lagi mendorong kepala Lucky agar menjauh. Malah kini dia menekan kepala Lucky untuk semakin tenggelam di antara pahanya. Seakan tak mendengarkan teriakan Sri, Lucky tetap aktif. Hingga akhirnya merasakan sesuatu menyembur keluar dari dalam in ti Sri.
Hangat. Mengalir keluar menyentuh dagu Lucky. Sejenak Lucky berhenti dan menatap dengan senyum mengembang di bibirnya. Pelepas itu mengalir deras. Membuat tubuh Sri kelo jotan mengejang beberapa kali dengan otot pa ha yang mengencang.
"Hhggmm.. ini indah sekali" gumam Lucky. Matanya melirik Sri yang sudah terhempas lemah dengan napas terengah-engah dan mata yang terpejam erat.
Kembali Lucky mengecup dan membersikan pelepasan Sri sepenuh hati, sampai bersih. Lalu beranjak ke samping Sri dan memeluk gadis itu sayang. Mengusap rambut Sri lembut. Menenangkan wanitanya yang baru di hantam gelombang pelepasan yang pertama.
"Kamu suka?" bisik Lucky.
Sontak mata Sri terbuka. Menoleh kesampingnya dengan wajah merah padam. Maluuuu!! malu sekali. Sri pipis di wajah Lucky tadi. Tapi pria ini malah membersihkan dengan telaten.
"Mase jahat!"
Sri memukul dada Lucky dengan gemas. Merasakan hawa panas di wajahnya. Menutup wajah itu dengan kedua tangannya. Membuat Lucky tersenyum geli. Menarik tangan Sri untuk melihat wajah merona merah menahan malu itu. Menarik menghadapkan padanya.
"Jangan lakukan dengan yang lain. Aku yang akan memberinya pada mu" ujar lucky berbisik.
Sri malu setengah mati. Ini pertama kali dia melakukan hal panas di dalam hidupnya. Merasakan pelepasan yang dia mengira itu pi pis yang terasa nik mat tiada tara.
Lucky meraba in tinya lagi. Membuat Sri tersentak dan melotot menatap Lucky.
"Mase.. Sudah" ujarnya pelan.
Lucky hanya tersenyum lalu mem agut bibir Sri. Menyesapnya sambil tangannya tak henti menyerang bagian bawah. Sri mengalah. Merasa percuma untuk melarang Lucky. Sudah terlanjur semua bagian tubuhnya terekspos di depan Lucky.
Jari lucky mengguncang dunia Sri. Seakan menuntut Sri untuk membalas apa yang di lakukan Lucky. Lidah Lucky menari memberikan sejuta lembut di mulut Sri. Jarinya sesekali menekan dan memi Lin membuat Sri tak sadar menyesap li dah Lucky dengan gemas.
__ADS_1
Sri mulai bisa membalas beli tan lid ah panas itu. Menari bersama dan sesekali menggigit kecil. Membuat Lucky semakin terbakar. Yang tadinya kaku, kini Sri bisa mengimbangi Lucky. Tidak tahan juga hanya diam membisu. Sri membalas walau masih tidak mengerti apa yang harus di lakukan selanjutnya.
Lucky membimbingnya dengan lembut. Menjadi guru yang nakal untuk menjadikan wanitanya semakin bin al bersamanya. Lucky tersenyum menyadari kemajuan yang di tunjukkan Sri semakin berani.
Lucky bangkit dan turun dari ranjang. Membuka celananya perlahan di depan mata Sri.
"Ojo ngono Mase!!"
Pekik Sri menutup wajahnya. Gadis itu malu dan memalingkan wajahnya menghindari adegan buka-bukaan itu. Tubuh polos Lucky telah siap sedia melanjutkan permainan dengan istrinya.
Beranjak naik lagi keranjang dan langsung menempatkan diri di bawah kaki Sri. Membuka kaki Sri lembut, sambil menatap wajah Sri dengan senyum simpul. Sri tetap memalingkan wajahnya. Tak mau menatap tubuh Lucky yang sekarang sudah polos sepolos-polosnya.
Juniornya sudah siap bagaikan tombak besar siap di arahkan pada Medan pertempuran. Sri mendesis ketika benda bulat yang keras itu mengg esek area in tinya. Perasaannya berkecamuk antara menolak dan meneruskan. Tapi ini adalah tuntutan. Dia istri Lucky. Tidak bisa menolak apa yang sudah seharusnya di dapatkan Lucky darinya.
Tapi.. pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan. Haruskah semua ini terjadi? Bagaimana dengan Amira? apa yang akan terjadi setelah ini?
"Aaaa... "
Sri menjerit kaget ketika merasakan sesuatu yang keras mendesak bagian in tinya. sontak saja wajahnya menatap Lucky yang tampak kesusahan di bawahnya. Lucky berhenti sejenak. Mendongak menatap wajah Sri yang mengernyit menahan nyeri dengan dahi berkerut di penuhi buliran keringat.
"Sakit sayang?" tanya Lucky lembut.
Sri mengangguk pelan. Menggigit bibirnya menahan perih yang tiada terkira akibat desakan Lucky.
"Sakkkhhit mas" keluh Sri.
"Tahan sedikit ya?" pinta Lucky memohon.
Tak kuasa menolak, Sri hanya mengangguk lemah. Lucky kembali fokus ke bawahnya. Berkali-kali terpeleset tak tepat sasaran. Keringat membanjiri tubuhnya. Keningnya berkonsentrasi pada tujuan. Sri merasa ngeri mengingat rasa sakit yang akan mendera di bawah sana.
Lucky kesusahan. Berinisiatif membasahi lagi inti Sri dengan menji Lat dan mengg esek kacang kecil itu. Dirasa cukup, kembali Lucky mengarahkan juniornya. Mendesak sedikit keras.
"Aduuhh.. Mase! hikkss.. sakit mas"
Jerit Sri meronta. Matanya mulai mengeluarkan buliran air bening. Menahan rasa nyeri dan sakit yang menghantam bagian in tinya. Kepala besar itu sudah masuk sedikit. Susah memang. Dengan junior yang berukuran lumayan besar, menerobos benda mungil yang masih tersegel rapi, itu bukan pekerjaan mudah. Tapi rasa yang sudah menggebu tak bisa menghentikan apa yang sudah seharusnya terjadi.
Lucky mencondongkan tubuhnya. Meng ecup bi bir Sri dengan lembut. Napasnya memburu menanggung has rat yang menuntut minta penyelesaian secepatnya.
"Sabar sayang, sedikit lagi" bujuk Lucky sambil meng ecupi seluruh wajah Sri. Meng ecup air mata yang mengalir di sudut mata Sri.
Menekan sedikit lagi. Masuk sedikit lagi. Sri meremas lengan kokoh Lucky yang ada di sisi tubuhnya. Kedua tangan yang menahan bobot tubuh Lucky untuk memberi penekanan di bagian bawahnya.
Lucky gemetaran. Gawang rapat itu sangat susah di tembus. Entah juniornya yang kebesaran, atau in ti Sri yang terlalu mungil dan sempit. Entahlah. Tapi ini juga pengalaman pertamanya menjebol gerbang yang bersegel rapi. Dan ini adalah istrinya. Lucky harus memberi kelembutan sempurna untuk tidak terlalu menyakiti istrinya.
Berusaha menekan pelan dan selembut mungkin. Rontaan Sri berkurang. Bukannya rileks, Sri kini semakin tegang dengan wajah pias. Tak berani banyak bergerak karena junior Lucky sudah lebih masuk mendesak memberi rasa perih yang tak terhingga.
Rasa kasihan langsung memenuhi dada Lucky melihat Sri kesakitan. Wajah gadis itu pucat pasi, dengan bibir bergetar takut. Lucky berhenti. Membiarkan juniornya terbenam sedikit. Dia merebahkan tubuhnya diatas Sri dan memeluk gadis itu dengan sayang.
"Aahh.. sayang.. sabar sedikit. Aku menginginkan mu"
bisik lucky dengan suara bergetar menahan has rat yang sebentar lagi akan meledak. Merasakan betapa seretnya in ti Sri di bawah sana. Mengecupi pipi Sri dan Melu mat bibir manis Sri dengan lembut.
"Tahan sedikit ya?"
Lucky menatap mata Sri. Gadis itu mengangguk pasrah. Lucky mendorong lagi. Dan jeritan Sri berulang lagi. Begitu terus sampai Lucky merasakan mentok seperti ada yang menghalanginya untuk masuk.
"Sri, kamu rela?"
Tanya Lucky menatap mata Sri. Meminta ijin untuk menjebol lebih dalam. Dengan berlinang air mata, Sri mengangguk. Ia harus merelakan harta yang paling berharga yang ia punya. Dan ini memang untuk suaminya bukan? Dan itu tidaklah salah. Memang sudah seharusnya Sri memberikannya pada Lucky. Si suami kaku!
Melihat anggukan Sri, Lucky semakin mendekap tubuh mungil Sri di bawahnya. Wajahnya mendusal di ceruk leher Sri. Menarik mundur dan memajukan beberapa kali. Hingga pada hitungan yang telah di perhitungkan, Lucky menekan keras di iringi jeritan Sri merintih pilu.
"Hheegghhkk.. Aaaahh.. Sakit mas!!"
Sri menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Rasanya terhempas ke jurang dengan luka parah mengalirkan darah yang terasa hangat. Matanya mengalirkan bening menahan sakit yang menghujam sampai ke ulu hatinya. Seperti daging segar di gores pisau tumpul. Menimbulkan rasa perih dan panas di bagian in tinya.
Hangat.
Itu yang lucky rasakan. Lucky memejamkan matanya meresapi rasa yang tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata. berhenti sejenak. Membiarkan dirinya di dalam tubuh Sri. Berhasil menyatukan diri dengan istrinya. Merasakan denyutan dan remasan yang menjepit ketat. Berdenyut-denyut mengalirkan rasa nik mat dan perih pada ujung juniornya.
"Sudah masuk sayang" bisik lucky di telinga Sri yang terisak kecil.
Merenggangkan pelukannya dan menatap wanitanya yang pucat akibat rasa sakit yang menerjang tiba-tiba. Melihat Sri, hati Lucky di hantam suatu perasaan yang membuncah deras, memenuhi rongga dadanya. Gadis ini masih suci. Sri memberikan padanya. Dialah yang pertama. Rasa sayang menyelimuti hati lucky. Mengecupi air mata Sri yang berderai.
"Maaf sayang. Aku menginginkan mu.. " bisik Lucky lagi.
Pelan-pelan ia mulai mengayuh bahtera cintanya bersama wanitanya. Istri yang selama ini tak di inginkannya. Tapi gadis ini lah yang dengan rela memberinya harta berharga untuk di kayuh bersama.
Kini perih itu sedikit demi sedikit berganti rasa syahdu. Walau perih, tapi rasa yang lebih melambungkannya lebih dominan. Menghantar Sri pada rasa melambung di iringi rin tihan dan meracau sesuka hati. Mengekspresikan segala rasa yang tercipta.
Lucky mulai bisa tersenyum dengan ga irah meningkat melihat gadisnya mulai bisa menikmati alunan ritme yang ia suguhkan. Mengayuh dayung dengan resapan gelora memikat.
Tak henti Lucky Melu mat bibir manis yang megap-megap kehabisan napas itu. Mengerang dan sesekali menggigit lengannya. Meracau dengan napas tersendat-sendat akibat Hujaman dirinya mendesak sampai di batas kedalaman tubuh Sri.
Menggeliat dan melenting indah di bawah tubuhnya yang berpeluh membanjir. Ni kmat ini tiada duanya. Tak bosan untuk meraih hangatnya.
"Sayang.. kau nik mat sekali.. shhh"
Lucky menaikkan tempo hentakan di tubuh Sri. Membuat gadis itu berguncang keras. Mengalungkan tangannya ke leher Lucky. Saling menatap sayu menyalurkan kata-kata indah lewat mata masing-masing.
"Aku akan memberi mu setiap waktu. Jangan melirik yang lain" geram Lucky tak henti menghentak.
Sri tak kuasa menjawab semua itu. Lucky memberinya rasa yang baru pertama kali ia rasakan. Sesak dan keras di bagian in tinya. Licin yang menimbulkan darahnya berdesir ke satu titik tertentu di bagian dalam tubuhnya.
"Maseee.. Aahh.. Srii. mauuhh.. aaaduuhh.. pi pis lagi" rintih Sri.
"Ya.. Sebentar.. bersama ku"
__ADS_1
Terengah-engah napas mereka. Jantung berdebar kencang di penuhi rasa indah. Dan hingga akhirnya, keduanya meng ejang dengan mata terpejam. Sri memeluk Lucky erat. Menggigit bahu Lucky saking tak kuasa menerima rasa indah yang membuat seluruh otot-otot tubuhnya mengencang hebat. Lucky juga membalas pelukan Sri erat. Saling menyemburkan cinta yang baru pertama kali Di rasakan keduanya.
Berkedut-kedut beberapa kali di dalam tubuh Sri. Memberi ruang pada Sri menerima pijaran cinta itu membasahi dirinya. Menghempaskan napas lega bersamaan.