OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Film Horor


__ADS_3

Tidak banyak yang bisa Sri lakukan di kampung. Selain ingin menjaga kehamilannya, Sri juga tidak ada kegiatan lain. Nunik sahabatnya sudah akan menikah sebentar lagi. Jadi Nunik sibuk dengan persiapan pesta pernikahannya. Lagi pula, sebentar lagi Nunik akan di pingit.


Hanya Agnes temannya yang bisa di ajak curhat. Agnes lah orang pertama yang ia beritahukan perihal kehamilannya. Dan Agnes sudah berjanji masih akan tutup mulut tentang itu.


Sri sangat penasaran dengan apa yang terjadi di mansion. Suaminya bersikap aneh, dan banyak kejanggalan yang ia lihat. Tapi jika ingin bertanya pada seseorang, Sri masih tidak berani. Takut mengganggu Lucky. Sri pikir Lucky masih marah padanya.


Hanya satu orang yang bisa ia mintai keterangan. Tapi juga sekarang sudah Lucky lenyapkan. Noah. Pria itu sudah lenyap akibat kemurkaan Lucky.


Sudah dua jam Sri memainkan ponselnya. Semua sudah ia lihat. Termasuk mencoba stalking akun sosial media Lucky. Siapa tahu suaminya ada main gila sejak ia pulang kampung.


Sedikit cemburu melihat banyak komentar di Instagram Lucky. Tapi tidak ada tanda-tanda Lucky membalas semua komentar genit yang ingin mengenalnya lebih jauh.


"Ahh.. Bosen!"


Sri menghempaskan ponselnya di kasur. Merasa bosan menstalking akun Lucky. Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi matanya belum bisa di pejamkan. Mungkin akibat terlalu banyak tidur tadi siang.


"Maseee.. Sri kangeenn.." keluh Sri lirih.


Hatinya di penuhi rasa nelangsa. Rindu tak Terperi pada suaminya. Sri bingung kenapa jadi manja sekali akhir-akhir ini. Dia jadi lebih perasa. Padahal perasaannya, dia tidak berkarakter manja. Lebih terkesan tomboy. Tapi sejak hamil, perasaannya jadi sering berubah-ubah begitu cepat.


Sri sedih memikirkan hanya dia yang menanggung rasa sedih ini. Padahal dia tidak tahu, bahwa suaminya di sana juga merasakan sindrom kehamilan simpatik yang cukup membuat Noah kelabakan. Lucky jadi sangat cengeng. Jadi sering merengek meminta sesuatu pada Noah.


Seperti malam ini. Sudah hampir tengah malam tapi Lucky malah sibuk makan rujak. Koki dengan sigap membuatkan apa yang di pinta Lucky. Dan Lucky makan dengan lahap. Sampai Noah merasa ngilu. Tapi yang lebih membuat Noah stres, karena melihat Lucky makan rujak sambil terisak pilu.


Sungguh Noah tak habis pikir. Bagaimana Lucky bisa jadi secengeng ini? Padahal Lucky adalah pria yang sangat kaku. Tapi sekarang, Lucky seakan pria rapuh yang tak sanggup menahan rindu.


"Hiks.. Hikss.. No, rujaknya enak.. Tapi.. Ssshhh aaahhh.. Lebih enak kalau istriku ikut makan. Hiikkss.."


"Hah?"


Noah terbengong melihat Lucky makan, kepedasan, dan nangis sekaligus. Noah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Speechless. Kehabisan kata untuk menggambarkan keadaan Lucky saat ini.


"Nooo.. Kamu dengar.. Ssshhh haaaahh.. Aku tidak sih?" Lucky jengkel karena Noah tidak menyahut. Hanya menatapnya bengong.


"Iya.. iya aku dengar. Lalu aku harus bagaimana?" Noah balik bertanya.


"Hiikss.. Ini pedas. Tapi enak.. Ah.. Istriku sedang apa di sana?" Lucky mengibas bibirnya yang merah karena kepedasan. Dan mengelap air mata yang tak berhenti mengalir. Ia tampak sangat kacau.


Sumpah! Noah tak bisa mendeskripsikan bagaimana keadaan Lucky saat ini. Ternyata sindrom kehamilan simpatik itu telah merubahnya seratus delapan puluh derajat. Yang tadinya berkarakter perfeksionis, sekarang jadi selalu berantakan.


Lucky tidak pernah suka ada keringat yang luruh di wajahnya. Saat sedang gym pun dia selalu menyekanya memakai handuk. Tapi sekarang, bukan hanya keringat yang meleleh di wajah tampan itu. Tapi ingus juga air mata. Dan kali ini Lucky sampai kewalahan mengelap bagian yang mana lebih dulu.


"Luck, menurutku.. lebih baik kamu telpon istrimu. Daripada kau selalu menangis begini.." ujar Noah menahan tawa melihat kondisi Lucky.


"Hiikss.. Aku tidak bisa, Nooohh.. Kalau aku lihat dia, pasti aku tidak tahan. malam ini juga aku pasti terbang ke sana.. Astaga!! Mungkin aku sudah gila!"


Rian melirik Noah. Lalu menatap Lucky lagi. Hanya diam memperhatikan mereka berdua. Sedari tadi diam saja duduk di depan televisi. Tadi Rian sudah tidur, tapi Noah membangunkannya untuk menemani Lucky makan rujak.


Tiliitt.. Tilliiliiit..


Ponsel Lucky berdering. Ia lirik sejenak. Tapi seketika wajahnya menjadi tegang. Ada nama kekasih hatinya di sana. Sri. Sontak Lucky terjengkit kaget. Mendelik melihat ke arah ponsel di atas meja. Noah dan Rian menjadi ikut tegang melihat Lucky bergerak takut.


"Ada apa Luck?!" Noah mendekat. Panik melihat Lucky ketakutan.


"No.. Dia telpon! Dia meneleponku!!" Jerit Lucky.

__ADS_1


"Heeyy.. Tenanglah! Siapa yang telpon?"


"Istriku!" Lucky meringkuk di atas sofa. Memeluk lututnya dengan mata melotot seperti melihat hantu.


Mendengar itu, Noah dan Rian sating pandang. Noah menaikkan alisnya bermaksud bertanya pada Rian kenapa Lucky jadi seperti itu. Tapi Rian malah mengedikkan bahu. Dia juga bingung.


"Luck, Itu Sri yang telpon. Kenapa kau seperti melihat hantu?" Noah mencoba menenangkan Lucky.


"Tidak.. Tidak.. Nanti aku tidak kuat. Aku pasti menangis jika melihatnya atau dengar suaranya. Aku tidak tahan No.. Huuu.. Huuu.."


"Astaga!" Noah bergumam geram. Jengkel melihat tingkah Lucky seperti anak kecil saja.


Sampai ponsel berhenti berdering, Lucky tidak mau mengangkatnya. Di serang sana Sri sudah menangis karena mengira suaminya masih marah. Tapi Sri tak mau kalah. Dia mencoba menghubungi lagi ponsel Lucky.


Tiliitt.. tilliiliiit..


Lucky mendelik lagi melihat nama Sri di layar ponselnya. Ketakutan dan meringkuk lagi. Noah sampai kewalahan menenangkan Lucky. Sungguh gila! Lucky hanya tidak mau melihat Sri merengek sedih. Dia bakalan tidak tahan. Tapi reaksinya sungguh membuat orang bingung. kenapa malah jadi ketakutan?


"No.. Tolak saja. Matikan saja.." rengek Lucky memegangi tangan Noah. Memohon untuk mematikan ponselnya.


"Tapi nanti istrimu jadi salah paham, Luck" Noah menolak.


"Tapi.. Hikss.. Tapi aku.. Tidak.." Lucky terbata-bata. Dan tiba-tiba..


Klik!


Ponsel di angkat Rian dan menggeser tombol terhubung. Lucky melotot marah. Tapi Rian hanya menatapnya datar. Menghadapkan layar ponsel tepat di wajah Lucky. Tampak Sri dilayar ponsel sedang menangis melihat wajah Lucky.


"Maseeee...!!" pekik Sri di seberang sana.


Dan aneh! Wajah Lucky yang tadinya tegang melotot pias, langsung berganti wajah sendu dan menatap Sri dengan berlinangan air mata.


"Mase kenapa lama banget angkat telpon Sri? Mase marah?" Sri merengek dan matanya sudah berkaca-kaca.


Secepat kilat Lucky merampas ponselnya dari tangan Rian. Lalu mendekatkan padanya dan tampak sangat takut Sri menangis di seberang sana.


"Tidak, tidak sayang. Bukan begitu.. Aku hanya kaget tadi. Jangan marah, ya?" Ujarnya dengan tangan bergerak gerak di depan layar ponsel.


"Mase.."


"Ya, sayang?"


"Sri kangen.." rengek Sri yang sudah menangis.


"Hiks.. Hikss.. Aku juga kangen kamu Sri.. Aku rindu.." Lucky terisak.


Noah dan Rian kembali saling tatap. Yang tadinya tegang, kini mereka berdua memutar bola mata dengan jengah. Apanya yang takut? sekarang Lucky malah mewek dan bilang rindu.


"Apaan.. Tadi soknya takut, ngeri, tidak bisa.. Eehh.. Sekarang malah mewek sayang sayangan.. Huh!" Rian bergumam kesal.


"Hehehe.. Sabar, Yan. Kita hanya bisa memandang saja"


Noah menepuk-nepuk pundak Rian sambil terkekeh geli melihat wajah jengkel Rian. Mengajak Rian duduk agak menjauh dari Lucky.


"Kamu lagi apa, baby?" tanya Lucky pada Sri. Sudah bisa menetralisir kegamangan hatinya sebelum Sri menelepon.

__ADS_1


"Lagi mikirin Mase"


"Ah.. Yang bener sayang?"


"Iya.. Sri kangen mas.. Mase kapan datangnya?"


"Oowwhh.. Baby ku.. Pasti secepatnya"


Mendengar percakapan itu, Rian melirik Noah yang memainkan ponselnya. Rian tahu, pastilah Noah pura-pura tidak mendengar. Rian mencebik. Telinganya terasa panas mendengarkan percakapan video call mesra suami istri itu. Yang lebih parah lagi, mereka berdua juga sama-sama menyukai Sri. 😓 nasib mu mas Rian!!


Rian mencoba menulikan telinganya ketika mendengar Lucky mengecup mesra istrinya di layar ponsel. Menaikkan bola matanya keatas dan menggelengkan kepalanya cepat. Berharap dia tidak mendengar kemesraan hakiki dari ponsel terkutuk itu.


"Kamu sendirian sayang?" Lucky menatap mesra istrinya.


"Iya mas. Sri sendirian. Semua udah pada tidur. Jadi Sri Ndak ada temennya"


"Mau aku temani?" Lucky menatap genit istrinya.


"Hihihii.. Ini kan udah di temenin Mase toh?"


"Buka dikit sayang.." rengek Lucky menatap bagian dada Sri.


"Iishh.. Mase genit"


"Iya tidak apa-apa. Aku kangen baby.." menatap Sri gemas.


"Ehemm kheeemm!!"


Rian berdehen kencang. Membuat Noah mendongak menatapnya. Dan Lucky meliriknya tak senang.


"Aku takut nooohhh.. Takuuttt... Nanti aku tidak tahaaaannn... Huh! Tidak tahan mau mesra-mesraan ternyata!" dengus Rian sarkas. menirukan apa yang di katakan Lucky sebelum Sri menelepon, sekaligus mengejek.


"Mase!! Ada siapa di sana??!" pekik Sri melotot kaget mendengar suara deheman Rian.


"Sebentar sayang. Aku kasih pelajaran mantan pacarmu dulu" geram Lucky. "Ada masalah?" tanyanya pongah menatap Rian.


"Eh.. Siapa mas?!"


Sri hampir saja melompat mendengar kata mantan pacar. Pastilah itu Rian. Lucky tidak menjawab pertanyaan Sri. Dia hanya menatap Rian dengan marah.


"Ayo pak Noah. Drama tangis-tangisan udah selesai. Sekarang giliran drama romantis. Kita nonton di tempat lain aja pak" Rian menarik Noah bangkit dari sofa.


"mau kemana kalian?" tanya Lucky masih jengkel karena akan di tinggalkan.


"Ke bioskop!" Rian menarik Noah ke arah pintu. Noah hanya tertawa geli. Dia tahu Rian hanya cemburu.


"Ngapain ke bioskop malam-malam gini?" tanya Lucky penasaran.


Rian menoleh kearah Lucky. Mendengus kesal melihat pria yang moodnya sering berubah-ubah itu.


"Mau nonton film horor!!" sentak Rian sambil membuang muka dan menarik tangan Noah keluar ruangan. Menghempaskan pintu dengan keras.


Blam!!


Lucky sampai terjengkit kaget. Melihat jengkel kearah pintu. Lalu berteriak.

__ADS_1


"Kau cemburu Riaaann.. dia istriku..."


🥶Sri menepuk jidatnya melihat tingkah para lelaki ini.


__ADS_2