OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Meninggalkan Oma


__ADS_3

Benar seperti dugaan Lucky. Oma marah sesampainya mereka di rumah. Melihat keadaan mereka berdua pulang dalam keadaan basah-basahan dan jalan kaki pula. Perjalanan cukup jauh. Lucky juga sudah kelelahan menggendong istrinya menempuh satu setengah kilo meter.


Setiap Sri minta turun dari gendongannya, Lucky tetap menolak. Jadilah dia mengangkat beban lima puluh empat kilo di sepanjang jalan. Lucky bilang, hitung-hitung latihan militer.


"Dasar kau anak nakal. Keras kepala" sungut Oma.


"Oma, aku lelaki tangguh. Lagi pula istriku kecil Oma. Aku masih sanggup menggendongnya sampai pagi" Lucky bicara sombong tapi wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa lelah.


"Maaf Oma. Mase Ndak mau nurunin Sri tadi" Sri tertunduk takut.


Oma melihat kearah Sri. Tidak marah tapi malah tersenyum.


"Tidak apa-apa. Suamimu memang perlu diberi latihan beban. Biar dia tau caranya memperlakukan istri dengan benar"


Mereka berdua segera pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Lucky bilang nanti malam mereka pulang. Tapi Oma melarang. Tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan. Dan mereka berdua hanya bisa menuruti keinginan Oma. Malam ini menginap di rumah Oma.


Setelah makan malam, Lucky segera pergi tidur. Tubuhnya terasa lelah sekali. Sri juga pamitan pada Oma untuk beristirahat. Menghabiskan malam dengan tidur pulas. Walaupun Lucky meminta jatah di bagi buta, tapi Sri tetap melayani dengan sepenuh hati.


❤️


❤️


❤️


Pagi menjelang menebarkan hawa hangat mentari pagi. Kicau burung menemani syahdunya alam. Sri sangat menikmati suasana pagi ini. Kembali rindu kampung halaman. Ingin rasanya sekarang juga berangkat ke kampungnya dan memeluk bunenya tercinta.


"Mase, Sri kangen bune" rengek Sri pada Lucky setelah mereka selesai sarapan.


"Telepon ibu, sayang"


"eenghh.. bosen telpon terus. Pingin meluk bune kayak gini mas" Sri memeluk Lucky erat.


"Hmm.. anggap aku ibu. Peluk lagi yang erat" Lucky makin senang di peluk.


Tapi Sri segera sadar kalau Lucky hanya mengambil kesempatan saja. Segera ia lepaskan pelukannya.


"Itu cuma contoh mas. Sri pingin beneran" Sri cemberut.


"Pingin lagi? hmm?" Lucky sengaja mengerling nakal. Meraih dagu istrinya dan mengecup mesra.


Sri menepis tangan Lucky. Laki-laki ini kalau tidak di cegah, bisa-bisa keterusan melanjutkan satu ronde lagi.


"Mase Iki.. Ojo ngono mas. Sri serius iki lho mas"


Lucky terkekeh geli. Suka melihat Sri cemberut.


"Nanti kalau sudah bisa libur panjang, sayang. Besok masih banyak pekerjaan"


Wajah Sri berbinar. Memeluk Lucky lagi. Mengukir dada Lucky dengan jarinya.


"Janji lho mas"

__ADS_1


"Hem"


Lucky mengangguk mengiyakan. Mengelus punggung Sri dan mengecup puncak kepalanya.


"Mas"


"Hmm?"


"Mase sayang Sri Ndak toh?"


Lucky diam. Menaikkan sebelah alisnya. Mengurai pelukan Sri dan menatap mata istrinya lekat.


"Menurut kamu, gimana?"


"Kok malah balik nanya sih? ya Mase yang jawab"


Lucky menatap wajah Sri lekat. Jantung Sri berdebar tak karuan. Baru kali ini dia berani bertanya tentang perasaan Lucky padanya.


"Kalau sudah begini.." Lucky mengecup bibir Sri sejenak. "Begini.." mengecup kedua mata Sri yang terpajang. "Begini" mengecup keningnya cukup lama. Lalu menatap wajah Sri lagi dengan senyum di kulum.


"Itu namanya apa, sayang?"


Sri membuka matanya. Membalas tatapan netra pekat di depannya.


"Itu cium mas"


Lucky mengerutkan keningnya. Kenapa gadis ini tidak merasakan arti kecupannya? hanya tau kalau itu hanya ciuman kosong. Lucky gemas. Segera memagut bibir mungil istrinya. Menyesapnya lembut. Melepasnya ketika Sri masih meresapi kelembutan itu.


Sri masih memejamkan matanya. Mencoba mengartikan arti ciuman suaminya. Hatinya bermekaran berbagi macam bunga. Menguarkan rasa harum sampai menembus hati sanubarinya.


"Cinta" lirih suara Sri hampir berbisik.


Lucky tersenyum senang. Kini Sri bisa mengartikan arti ciumannya yang sarat makna. Mengelus pipi Sri dan mendekatkan keningnya menyentuh kening Sri saling menempel.


"Kamu sudah mengerti kan?" Menggesek hidung mancungnya ke hidung sri.


Gadis itu tersenyum lebar. Membuka matanya lagi dan ikut juga menggesek hidungnya. Lalu mereka tertawa bersama.


Ah indahnya dunia dirasa ketika cinta hadir di antara keduanya. Menikmati masa-masa pengantin baru yang bergelora. Mencoba memperbaiki awal pernikahan yang penuh dengan ketegangan dan pertengkaran.


Kini Sri bisa lega ketika Lucky menampilkan sosok suami penyayang yang tak pernah ia bayangkan. Dulu Lucky begitu dingin padanya. Tapi sekarang, kehangatan demi kehangatan suaminya suguhkan untuknya seorang. Saling memahami dan memberi ruang gerak yang bebas tanpa membuang kewajiban suami istri.


Sri cukup bahagia untuk saat ini. Urusan esok hari, biarlah Tuhan yang mengatur segalanya. Bukankah ini semua rencana Tuhan? Dari pernikahan yang hanya diisi kesepakatan, lalu beralih pada masa pacaran dalam halal, dan kini saling menumpahkan kasih sayang dalam cinta.


❤️


❤️


❤️


Lucky menelepon pak Karim untuk datang menjemput mereka. Lelaki paruh baya itu segera meluncur di antar supir lain dari mansion.

__ADS_1


Setelah membiarkan pak Karim istirahat untuk beberapa waktu, kini tiba saatnya mereka berdua pamit pada Oma untuk kembali pulang.


Oma tak bosannya memeluk Lucky sambil merengek meminta Lucky untuk tinggal lebih lama.


"Jangan Lucky, Oma.. Oma saja yang ikut pulang. Mami pasti senang kalau Oma tinggal di sana" bujuk Lucky.


"Terus, bagaimana Beti ku? Dia tidak bisa tinggal di rumah mu" keluh Oma.


"Nanti aku suruh pelayan untuk buat kandang Beti"


"Tapi beti suka main ke sungai, Luck. Mana ada sungai di mansion mu"


"Kita buat sungai"


"Hah? Apa bisa?" Oma tercengang dengan mulut melongo menampilkan rongga mulut tanpa giginya.


"Bisa Oma. Aku buat laut di situ juga bisa. Oma mau kan, ikut pulang?"


Oma diam. Menatap Sri meminta bantuan untuk menyatakan kalau Lucky hanya bercanda dengannya. Tapi Sri hanya tersenyum geli melihat mimik wajah Oma penuh dengan kebimbangan.


"Kau tidak bercanda kan, Luck? tanyanya menatap wajah Lucky penuh selidik.


"Tidak Oma. Aku tidak bercanda. Apa Oma mau, sekalian aku juga buat bandara di mansion?


"Mansion mu terdengar seperti sebuah negara, Luck" gumam Oma penasaran.


"Haha.." Lucky dan Sri tergelak lucu melihat Oma.


"Ah.. kau hanya membohongi Oma. Kau anak nakal" Oma memukuli lengan Lucky gemas. Menyadari cucunya hanya mengerjainya saja.


"Lucky harus pulang Oma. Oma baik-baik ya. Nanti aku akan datang lagi melihat Oma" Lucky mengecupi pipi keriput itu dengan sayang.


"Tapi kau datang pasti lama. Sampai Oma mu ini lumutan" Oma cemberut.


"Tidak. Aku akan usahakan tidak lama-lama. Atau... Oma sudah memutuskan untuk ikut? istri ku kesepian di rumah. Mami masih pergi dengan papi. Oma lah harapan ku satu-satunya"


"Oohh.. tidak tidak. Kau pasti menipuku soal itu. Istrimu tidak akan pernah sepi. Kau pasti selalu menempel padanya. Dan nanti Oma hanya kau buat sebagai penonton Budiman. Oma tidak mau!" tegas Oma menolak.


"Hahaahaa..."


Lucky tergelak mendengar itu. Sri tersipu malu membenarkan apa kata Oma.


"Ya sudah. Aku dan istri ku pulang dulu Oma. Jaga diri baik-baik. Jangan terlalu agresif mengejar cinta beti. Oma akan kelelahan"


Lucky memeluk Omanya erat. Mengecupi pipinya lagi. Dan berganti dengan sri. Gadis itu sungguh berat hati meninggalkan nenek tua ini. Terlanjur merasa nyaman dan sayang.


"Pukul dia ketika jahat pada mu" bisik Oma di telinga Sri.


"Aku mendengarnya Omaaa.."


Lucky melirik Oma dengan sadis. Membuat Oma tertawa geli ketahuan memprovokasi menantunya. Mereka berdua berangkat setelahnya. Meninggalkan kenangan manis yang di rajut singkat di desa Oma.

__ADS_1


Sri merebahkan kepalanya di dada Lucky. Meresapi setiap detik kebersamaannya dengan Lucky. Rasanya tak ingin pergi dari desa Oma untuk tetap merasakan kemesraan Lucky dengan sikap lembutnya.


__ADS_2