
Semua staf sudah banyak yang berkumpul di aula kantor. Aula megah yang luas di lantai tiga ini, bisa menampung sebagian besar staf perusahaan. Di bagian sebelah kanan aula, ada meja besar dan panjang yang menampung banyak makanan dan cemilan ringan, serta minuman soft drink yang sudah di persiapkan pihak pengelola kantor. Banyak yang bergerombol membicarakan Presdir baru. Berkasak kusuk riuh dan saling terkikik.
Sri memperhatikan mereka walau tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Mereka berempat duduk bergabung agak di sudut aula. Sri bisa melihat Noah yang sedang berbicara dengan kepala meneger personalia.
"Sri, ngapain liatin pujaan aku terus? kamu mau nikung aku?" bisik Agnes.
"Eh.." Sri terperanjat kaget. Menoleh pada Agnes yang menatapnya judes. "Opo toh mbak. Ngaco sampean"
"Hehe.. lagian kamu.. Pak Noah itu milik ku. Kamu cukup lah yang lebih ganteng. Masa mau di embat semua" Agnes terkekeh.
Sri tertawa mendengar itu. Niar dan Dila sedang sibuk memperhatikan Susan. Gadis centil dan judes itu memakai blazer pink dengan rok mini super ketat. Rambutnya yang panjang berwarna cola sangat kontras dengan kulit putih mulusnya.
"Lihat tuh gayanya mbak. Kecentilan banget kan?" Niar mencebik. Berbisik penuh benci melihat Susan.
"Ya biarin aja lah. Yang penting pacar mu kan gak melirik dia lagi" ujar Dila menepis tangannya di udara.
"Hhh.. kayaknya dia mau nyambut Presdir deluan deh"
"Mana Presdir doyan sama dia. Udah banyak yang mampir" Dila terkikik geli. Niar pun tertawa mengejek.
Suasana mulai semakin ramai. Sebagian besar staf sudah berkumpul. Dan dari arah pintu masuk, ibu Clara masuk dan mengumumkan bahwa Presdir sudah tiba. Masih ada di lobi. Tampak Noah langsung bergegas keluar aula. Mungkin ingin menyambut persdir baru mereka.
Tak berapa lama, tampak rombongan petinggi perusahaan mulai memasuki aula pertemuan. Sri mencari-cari seseorang di antara mereka dengan antusias. Penasaran siapa Presdir yang akan menggantikan kakek Fredi.
Dan benar saja. Itu Lucky. Suami tercinta dengan sejuta pesona berjalan beriringan dengan Noah. Tapi... Apa benar Lucky memutuskan menjabat sebagai Presdir? atau hanya ikut andil mengantar Presdir yang sebenarnya?
Terlihat paman Fardo juga hadir. Tapi Levi tidak terlihat diantara petinggi Bronze group. Banyak staf yang bergumam membicarakan ketampanan dan gaya elegan Presdir baru mereka.
"Sri, itu suamimu" Agnes berbisik.
"He'em" hanya itu jawaban Sri dan mengangguk kecil.
"Apa tuan Lucky yang akan naik memegang jabatan, Sri?" tanya Agnes lagi.
Sri hanya mengedikkan bahu. Dia juga tidak tahu. Lucky tidak bilang padanya. Kalau benar, mampus lah dia. Tidak akan bebas seperti biasanya.
Protokol acara memulai membuka acara pagi ini. Pertama memanggil Barry selaku CEO untuk memberi kata sambutan yang pertama. CEO Barry maju kedepan panggung. Menyampaikan kata sambutan di awali tepuk tangan meriah dari semua staf yang hadir.
"Assalamualikum warahmatullahi wa barokatu"
"Walaikumsalam warahmatullaahi wa barokatu" serempak semua orang menjawab.
"Selamat pagi semua"
__ADS_1
Seluruhnya menjawab Barry serempak. Semua orang diam dan mendengarkan.
"Segala puji bagi Tuhan yang telah memberikan nikmat dan juga kesehatan sehingga kita dapat berkumpul bersama pada kesempatan kali ini. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada semua staf dan para petinggi perusahaan yang telah hadir di aula ini"
"Saya selaku orang yang menjabat sebagai CEO di perusahan kita, yaitu Bronze group, ingin menyampaikan kabar gembira bagi kita semua. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Presdir kita tuan Fredi Albronze sudah pensiun dari jabatannya. Jadi, kali ini kita menyambut kedatangan Presdir kita yang baru, yang akan menggantikan jabatan penting di perusahaan ini"
Barry menoleh menatap Lucky sejenak.
"Mari kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah.. Tuan Lucky Albronze"
Semua orang bertepuk tangan riuh. Pandangan takjub dan memuji banyak terdengar dari semua orang yang hadir. Sri menatap Lucky yang berdiri di tengah panggung dengan gagahnya. Hatinya berdesir hangat ketika mata tajam itu bersirobok dengan matanya.
"Waahh.. beneran Sri! suami mu!" seru Agnes dengan tepuk tangan antusias. Sampai Niar dan Dila menoleh pada Agnes.
"Weeess Angel weess..." keluh Sri begitu melihat Agnes bertepuk tangan heboh seperti mendapat hadiah paling besar yang di nanti seumur hidup.
"Lebay banget lu, Nes" Dila mencebik.
"Iya mbak.. itu kan tuan Lucky yang akan menjabat sebagai Presdir di sini" Agnes melihat pada Dila dengan mata berbinar senang.
"Emang kenapa? sampai heboh begitu? kamu rindu paha kokohnya?"
"Eehh.." Agnes berhenti tersenyum lebar. Mendengar kata-kata Dila, Agnes langsung melirik Sri. Merasa tak enak hati kenapa jadi dia yang seheboh itu. "Hehe.. enggak kok, mbak Dil. Ada-ada aja mbak Dila ini. Hehe.."
"Sri, jangan di dengerin omongan mbak Dila, ya?" bisik Agnes menendang bahu Sri.
"Ndak apa-apa mbak Nes. Malah Sri takut mbak Agnes pingsan lagi" sarkas Sri.
Glek!
Agnes langsung bungkam. Tak berani lagi membuka mulut membantah. Kembali mereka menatap ke depan panggung. Lucky mulai akan membuka pidatonya. Mengedarkan pandangannya sejenak ke seluruh ruangan aula. Kembali matanya bersirobok dengan Sri. Ada senyum kecil tersungging di sana. Sri jadi blingsatan.
Ada rasa hangat menyusup di hati Sri. Wajahnya bersemu dan tesenyum malu-malu. Agnes menyenggol lengannya menggoda. Sri tersipu. Sementara Dila dan Niar berkicau heboh mengatakan Lucky adalah pria idaman setiap wanita. Mengelu-elukan Presdir yang tampan rupawan.
""Assalamualikum warahmatullahi wa barokatu"
"Walaikumsalam warahmatullaahi wa barokatu" serempak semua orang menjawab.
"Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanauwataala, karena hanya atas perkenan dan ridhoNya lah kita dapat berkumpul ditempat ini.
Para Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan Yang Kami Hormati, Dan seluruh staf karyawan di perusahaan Bronze group yang kami sayangi. Terima kasih telah hadir dan berkumpul di tempat ini.
Saya, Lucky Albronze. Cucu dari presiden direktur yang lama. Di bebani tanggung jawab atas kelangsungan perusahaan ini. Jadi, saya berharap, kita semua bisa bekerja sama dengan baik, untuk lebih meningkatkan kinerja dan kemajuan bagi perusahaan kita ini.
__ADS_1
Merupakan kehormatan bagi saya Sebagai pimpinan baru dari Bronze group yang akan memimpin jalannya perusahaan kita kedepannya, bisa berdiri di depan semua hadirin sekalian. perkenankan saya menyampaikan terima kasih atas dukungan penuh dari Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan lainnya, karena telah memberi tempat dan peluang bagi saya. Saya berharap, Bronze group berhasil merealisasikan kinerja yang positif untuk mewujudkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan"
Lucky berhenti sejenak.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih atas sambutan hangat seluruh staf dan para pemangku tinggi perusahaan. Lebih dan kurangnya, saya mohon maaf. Wabillahitaufik walhidayah, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatu"
Riuh gemuruh tepuk tangan dari semua hadirin. Dilanjutkan dengan pidato dari beberapa petinggi perusahaan, lalu di tutup doa dan acara santai.
Hari ini Semua staf di bebas tugaskan sampai pukul dua. Semua orang tersenyum bahagia dengan hadirnya Presdir baru pemimpin mereka. Tampak Lucky bergabung dengan pemangku petinggi perusahaan. Berbincang dengan hangat.
Mencicipi hidangan yang telah di sediakan. Semua staf bergerombol dengan masing-masing kelompoknya. Sri lebih senang menyembunyikan diri. Tidak mau terlalu terlihat menonjol.
Memikirkan apa yang terjadi setelah ini. Lucky sudah memutuskan menerima jabatan itu. Dan pastinya Sri akan di pantau setiap hari. Itu tidak mengenakkan.
Dan ini adalah kejutan buatnya. Lucky tidak memberitahunya tentang ini. Padahal tadi pagi mengobrol dengannya panjang lebar. Tapi Lucky tidak menyinggung masalah ini.
"Waahh.. bakalan heboh nih fans club kita" ujar Dila.
"Kenapa?"
"Lihat deh di group. Semua orang lagi heboh membahas Presdir baru. Sekarang udah ada yang pindah haluan. Malah sebagian besar"
"Bagus dong. Saingan ku tinggal sedikit" celetuk Agnes.
Sri mendelik mendengar itu. Menatap Agnes tajam. Agnes mendukung banyak anggota fans club Noah yang beralih pada Lucky. Merasa senang karena saingannya merebut hati Noah, jadi berkurang. Tapi begitu melihat kearah Sri, Agnes tersadar. Langsung saja cengengesan.
Ada sedikit cemburu merasuki hati Sri. Semua orang tidak tahu kalau Lucky sudah menikah. Dan lebih parahnya lagi, mereka tidak tahu kalau istrinya Lucky ternyata adalah Sri. Mana mereka peduli jika Sri cemburu atau tidak. Yang pasti, setelah hari ini, pasti Sri akan banyak cemberut.
Dengan kesal Sri menghela napas kasar. Hatinya jadi gundah mengingat begitu banyak staf perempuan yang beralih mengidolakan Lucky.
"Wes laahh.. Makin angel ae Iki dadine. Mase idolane wong sak kantor. Hadeehh.." Gumam Sri menunduk lemas.
Hatinya bergemuruh cemburu. Melihat teman-temannya sibuk chating di group. Terkikik membicarakan ketampanan lucky, sampai kegagahan tubuhnya. Sri berkali-kali Menarik napas dalam dan menghempaskan barat.
Dia tidak menyadari Lucky sedang menatapnya serius. Begitu Sri menoleh melihat ke arah Lucky, sontak Sri tertegun. Ada senyum manis tersungging di bibir Lucky untuknya. Lalu kedipan sebelah mata yang menurut Sri sengaja di buat menggoda.
Sri menegang. Menegakkan punggungnya. Melirik ke kanan dan kiri. Takut jika ada yang menyadari apa yang di lakukan Lucky barusan.
Melihat Sri gelagapan, Lucky tertawa senang. Tidak peduli beberapa rekannya menatapnya heran.
"Wah.. tuan Lucky sedang bahagia sekali rupanya" pak Seno tersenyum melihat Lucky.
"Ah, ya. Saya senang berada di sini, Tuan Seno. Semuanya indah dan nyaman untuk di nikmati" jawab Lucky tersenyum lebar. Melirik Sri lagi yang gugup dengan wajah bersemu merah.
__ADS_1