
"Brengsek!!"
Braaakk!!!
Levi menendang meja dengan kencang. Wajahnya merah karena marah. Neni dan Amira menatapnya dan kaget bukan main. Sedangkan Fardo hanya diam sambil menggerakkan jarinya mengetuk meja di depannya.
Mereka berempat berkumpul setelah mendapat kabar, bahwa Lucky dan Noah tidak menjadi tersangka. Kemarahan menjadi semakin membara.
"Aku sudah membuat rencana ini dengan sangat matang. Tapi kenapa??!! kenapa Noah dan Lucky selalu gagal aku jebloskan?! Sial!! benar-benar brengsek!" Tak henti Levi memaki dengan geram.
"Donasimu kurang memuaskan" gumam Fardo.
Levi menoleh menatap papanya dengan tajam. Kilatan amarah semakin membara di matanya. Merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan Fardo, papanya.
"Kurang apa lagi, pa? aku sudah menyuap beberapa anggota polisi itu!" sentak Levi. "Bahkan aku sudah menyusupkan mata-mata di kantor pusat. Banyak yang bergabung dengan kita. Apalagi yang kurang? Tetap saja mereka lolos"
"Tapi menurut informanku, Noah belum bisa lolos sepenuhnya. Dia yang bertanggung jawab di divisi pemasaran. Tanpa persetujuannya, distribusi tidak jalan. Pasti dia masih di tahan" Fardo masih bergumam seakan bicara pada dirinya sendiri.
"Seharusnya semua bukti mengarah padanya. Kalau pun dia mengelak, tapi bukti kuat ada padanya" levi sangat merasa kesal. Menghempaskan tubuhnya di sofa dengan keras. Sangat kesal sekali.
"Mama kan sudah bilang, Lev. rusak dari dalam" Neni menyahut.
"Akkhh.. mereka selalu bisa mengelak, ma"
"Lalu bagaimana tim audit? apa sudah selesai?" Fardo menatap putranya penasaran.
"Seharusnya papa yang lebih tau bukan? papa masih tergabung dalam dewan direksi. Papa kan bisa menghasut yang lain?"
"Mereka sudah curiga, Lev. Kantor cabang jadi sasaran. Bidikannya sudah sangat mengerucut tajam pada kita" Fardo menjelaskan.
"Kalau begitu, kita harus menjalankan rencana B. Bagaimana?" wajah Neni tampak berbinar menyampaikan rencana selanjutnya.
"Mungkin kita harus segera keluar. Sesuai rencana. Kita buat perusahaan tandingan itu di buka"
"Tunggu, pa. Aku masih ingin lihat tim audit memojokkan Noah. Si penghalang itu harus tersingkir dari Lucky. Baru aku puas" Levi memicingkan matanya dengan benci. Membayangkan Noah ada di depannya dan dia menghajarnya habis-habisan.
"Maaf" tiba-tiba Amira menyela. Semua orang menatap padanya. "Lalu bagaimana dengan rencanaku?" tanya Amira meminta bukti Levi akan membalas sakit hatinya.
"Apa itu?" Neni mengerutkan keningnya dalam. Menatap Amira seakan meminta penjelasan.
"Istri Lucky, Tante. Aku mau Lucky membencinya. Bahkan kalau bisa membuangnya di jalan bagaikan sampah!" desis Amira penuh dendam.
Neni menyeringai keji. Menatap Amira penuh pujian. "Hahaha.. ternyata kau sungguh tak punya hati Amira." tergelak menyadari Amira tidak bisa di sepelakan.
"Iya, Tante. Aku ingin membalas sakit hatiku. Karena perempuan kampung itu Lucky menjauh dariku"
"Baiklah. Kita atur semuanya. Kita pasti menang! dan akan menguasai semua milik Albronze. Tunggu saja" Fardo menyeringai licik. Merasa bisa menumbangkan Lucky dan Noah dengan mudah dalam rencana selanjutnya.
__ADS_1
š
š
š
Lucky menepati janjinya. Pulang ketika sore menjelang. Sri sangat senang melihat suaminya sudah bisa pulang ke mansion lagi. Tapi terlihat Lucky tidak begitu bersemangat. Wajahnya murung. Seperti sangat banyak yang dia pikirkan.
Sri melayani suaminya dengan sepenuh hati. Tidak ingin menyia-nyiakan momen bersama Lucky. Rasanya tidak enak berjauhan dari suaminya. Dari menyediakan air mandi, menemaninya makan malam, sampai ketika Lucky meminta Sri meninggalakannya di ruang kerja, barulah Sri lepas dari suaminya.
Sri tidak berani mengganggu Lucky. Tampak Lucky sedang memikirkan sesuatu yang berat. Dan wajar saja Lucky bersikap murung. Sahamnya anjlok drastis. Berita tentang penyeludupan narkoba di perusahaannya santer dikabarkan di media mana saja.
Nama perusahaan di pertaruhkan. Investor tidak mau ambil resiko dengan tumbangnya nama baik Lucky di kancah bisnis. Produksi di hentikan untuk sementara waktu guna penyelidikan lebih lanjut. Gudang di kantor di segel. Tidak ada yang boleh beroperasi untuk waktu yang telah di tentukan.
Semua bisnis Lucky mengalami penurunan. Dua hari ini, namanya santer di perbincangkan. perusahaan miliknya dan juga Bronze, hampir mengalami kolaps dalam waktu singkat.
Sri juga memendam keinginannya untuk selalu menempel di dada liat Lucky. Hanya bisa menanti suaminya di kamar. Berbaring gelisah. Dan terkadang mami Melani dengan setia menemaninya. Tapi tetap saja mereka semua tegang dengan keadaan yang tidak kondusif seperti sekarang.
Hampir setiap hari Lucky jadi pulang terlambat. Kadang juga harus mengadakan rapat di mansion bersama beberapa orang penting. Beberapa orang kepercayaan papi Frans harus sibuk mondar-mandir kantor dan mansion. Keadaan makin kacau saja rasanya.
Hari ini, mami Melani pamit pergi ke rumah Oma. Sri menolak ikut. Rasa tidak enak badan sejak pagi. Tapi Sri masih bungkam dan tidak ingin memberitahu siapapun. Dalam keadaan kacau begini, Sri tidak mau membuat semua orang jadi lebih memperhatikannya.
Sri memutuskan mengundang ketiga temannya untuk datang ke mansion. Meminta pak Karim menjemput mereka. Selain rindu, Sri juga ada keperluan dengan Agnes. Dan sebelumnya, Sri meminta tolong pada Agnes, untuk membelikannya testpack di apotik. Dan tentu saja meminta gadis itu untuk merahasiakannya lebih dulu.
Mereka berkumpul di halaman belakang dekat kolam renang. Sambil ngemil buah-buahan yang dia antarkan Nita barusan.
"Tapi.. ada gosip terbaru nih" celetuk Dila.
"Opo mbak?" Sri tampak antusias mendengarkan.
"Denger-denger nih ya.. ini cerita mereka lho.. bukan aku" sebelumnya Dila sudah menekankan dia hanya mendengar dari orang lain.
"Iihh.. cepetan mbak Dil. Apaan sih?" Agnes mencubit lengan Dila gemas. Tak sabar mendengar gosip terbaru.
"Katanya nih ya.. Kalian tau Indah kan?"
"Iya tau. Kenapa Indah?" Niar tak sabar.
"Indah itu siapa mbake?" Sri menelengkan kepalanya. Merasa asing dengan nama Indah.
"Itu lho Sri, Indah.. anak devisi keuangan. Dia tangan kanannya pak Bayu. Menejer keuangan" Agnes menjelaskan.
Mulut Sri membentuk huruf o tanpa suara. Menandakan dia mengerti.
"Katany nih.. Indah dan pak Bayu ada hubungan."
"Hah?!" mereka bertiga menjerit kaget. Menatap Dila melotot.
__ADS_1
"Iya. Mereka selingkuh!"
"Apaa??!!"
"Ah.. biasa aja keles.. sampe melotot gitu" Dila memundurkan wajahnya karena wajah ketiganya tepat di depannya dengan mata mendelik mau lompat dari kelopaknya.
"Kok bisa?" Niar mundur dan menegakkan tubuhnya.
"Ya bisa aja lah. Namanya juga udah kerayu bisikan setan. Ya gitu deh"
"Padahal si Indah kan cantik, ya? kok mau sama pak Bayu yang udah bangkotan gitu? ckckck.. heran aku" Agnes menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Iishh.. ya mau lah.. duit neng.. duit..!!" Dila menggesek-gesekkan jempol dan telunjuknya.
"Hiihh.. serem ya. Cuma gara-gara duit" Agnes bergidik jijik.
Mereka berempat ngobrol banyak. Sampai menjelang sore. Agnes sengaja meminta Sri menemaninya ke kamar mandi. Dia tidak mau Dila dan Niar tahu apa yang akan Agnes berikan pada Sri. Sesuai pesanan Sri.
"Sri, nih pesenan mu" Agnes menyerahkan bungkusan di dalam pelastik ke tangan Sri.
"Makasih ya mbak Nes. Tapi janji mbak, Ojo ngomong ke yang lain lho, yo?"
"Iya, aku janji. Tapi.."
"Apa mbak Nes?"
"Kamu yakin kalau kamu hamil?"
"Ya belum tau mbak. Kan belum di tes"
"Iihhh.. aku seneng banget kalau kamu beneran hamil Sri!" Agnes mengguncang bahu Sri dengan seringai bahagia.
"Sssttt.. jangan keras-keras mbak. Ntar ada yang denger lho. Sri kan belum pasti"
"Ah.. biarin lah ada yang denger. Gemesh aku lho Sri.." Mencubit pipi Sri gemas.
"Eh.. jangan mbak. Ntar kalo Ndak, piye? malu Sri ne mbak Nes"
"Hihihi.. aku ngebayangin ntar tuan Lucky gimana ya kalau tau kamu buntiing!"
"Eeh.. ee..e..." Sri membekap mulut Agnes kencang. Membuat gadis itu mendelik kaget. "Jangan kencang-kencang mbak Nes"
"Hihihi.. aku tunggu kabarnya lho Sri"
"Iya.. di tes dulu lah"
Mereka berdua cekikikan. Lalu bergabung kembali bersama Niar dan Dila. Sri sangat merasa terhibur dengan kehadiran ketiga sahabatnya ini. Serasa beban dan kebosanan sedikit longgar. Bercengkrama dengan temannya menghadirkan rasa bahagia di hatinya.
__ADS_1