OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Syarat dan Ketentuan Berlaku


__ADS_3

Sri memijit keningnya pelan. Kepalanya terasa pusing. Mulai dari Bagun tidur pagi tadi sampai sekarang. Lucky sudah melarangnya berangkat ke kantor. Tapi Sri tidak mau membebani rekan kerjanya dengan tugas yang menumpuk.


Untung saja hari ini Lucky tidak masuk ke kantor pusat. Jadi Lucky tidak selalu mengawasi Sri. Ia akan pergi ke perusahaannya sendiri. Mengurus pekerjaaan di sana dan meninjau beberapa pusat perbelanjaan miliknya.


"Nona baik-baik saja?" tanya pak Karim melihat Sri dari kaca spion depan.


Sri melirik kaca spion. Mata pak Karim masih menatapnya khawatir dan sesekali melihat ke depan jalan.


"Ndak apa-apa kok, pakne. Cuma pusing sedikit"


Sri mencoba tersenyum walaupun tak berhasil membuat pak Karim tenang. Sesekali lelaki itu melirik Sri dari kaca spion. Pak Karim menurunkan Sri di tempat biasa. Sri memesankan padanya untuk tidak mengadu pusing kepala yang ia derita pada Lucky. Sri tidak mau Lucky akan mengurungnya di kamar sepanjang hari.


Sesampainya di kantor, Agnes langsung menggamit lengan Sri dan mendudukkan di kubikelnya. Memberondong pertanyaan tentang kemarin. Sri memastikan semua baik-baik saja.


"Aahh.. syukurlah, Sri. Aku ngeri banget lihat tuan Lucky marah" bisik Agnes.


"Sudah Ndak mbak" jawab Sri tersenyum. "Mas Iyan, gimana mbak? dia marah juga ya?"


"Teman mu itu memang gila. Kamu tau gak Sri? Lagi sedih begitu, Rian masih bisa pantun segala" Agnes mencebik. Dan Sri tertawa mendengar itu.


"Mas Iyan memang begitu mbak Nes. Jarang ada sedihnya"


"Iya, Sri. Semenjak aku kenal dia, Rian itu selalu riang terus. Banyak becandanya"


"Tampan juga toh, mbak?"


"Iya sih, Tampan. Banyak juga tuh gadis ABG yang sering godain dia"


"Nah! ya udah mbak Nes. Apalagi?" seru Sri mengagetkan Agnes yang lagi membayangkan wajah Rian.


"Kamu ini! aku kaget tau!" Agnes merengut kesal.


"Hihihi.. gitu aja kaget mbak" Sri terkikik geli.


"Maksud kamu, apalagi apanya?" Agnes mengulangi pertanyaan Sri.


"Ya apalagi coba? mas Iyan itu tampan. Anak pak kades. Orang tuanya kaya, mbak"


"Maksudnya?" Agnes berpikir keras mengartikan apa yang di maksud Sri.


"Pacaran mbak Nes"


"Hah? sama siapa?"


"Rian sama mbak Nes"


Sontak Agnes menoleh menatap Sri dengan mata mendelik ngeri. Sri juga Menatap Agnes dan menunggu reaksi gadis itu selanjutnya. Sama-sama terdiam sesaat. Tapi Agnes langsung berseru dan mencubit paha Sri.


"Gila kamu!"


"Hahaaha.."


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Makan siang di kantin kantor, empat sekawan yang selalu berkumpul dan ngerumpi sambil makan itu, kini sedang merencanakan sesuatu ketika pulang nanti. Yang paling heboh adalah Niar. Karena ide ini datang darinya.


Niar berniat membawa ketiga sahabatnya ini mampir di mall nanti ketika pulang kantor. Dia bingung harus beli hadiah untuk pacarnya yang berulang tahun.


"Ayo Sri. Temani aku" rengek Niar.


"Emm.. anu mbak. Kayaknya Sri Ndak bisa" Sri menolak dengan halus.


"Kenapa Sri? cuma ke mall doang. Masak iya suami mu marah?" Dila menimpali.

__ADS_1


Sri melirik Agnes. Gadis itu hanya mengedikkan bahunya.


"Ayolah Sri. Lagian cuma sebentar aja kok"


Sri menimbang sesaat. Lalu menganggukkan kepalanya menyetujui. Niar lega ketiga sahabatnya mau menemaninya ke mall. Dengan semangat mereka membereskan pekerjaan hari ini.


Untuk pergi menemani Niar, tugas Sri belum selesai. Harus minta ijin dulu pada Lucky. Dan untungnya Lucky segera menyetujui. Dengan catatan, Syarat dan ketentuan berlaku. Cepat pulang dan tidak ada laki-laki yang bergabung bersama mereka. Sri setuju saja. Toh memang tidak ada laki-laki diantara mereka.


Sepulang kantor, mereka berempat di antar suaminya Dila. Menyusuri setiap outlet di mall dengan canda dan tawa. Sri menyarankan Niar membeli jam tangan. Tapi Dila menyarankan Niar untuk membeli kemeja saja. Agnes malah lain lagi. Menyarankan membeli dalaman. Hal itu membuat mereka berempat tertawa riuh mendengar saran koplak Agnes.


Masuk ke outlet baju pria, bergerombol memilih beberapa kemeja kantor dan celana bahan.


"Niar, kamu tau gak ukuran bajunya Fadil?" tanya Dila.


"Tau, mbak. L deh kayaknya" Niar tampak bimbang.


"Kamu ini gimana sih? katanya tau, tapi kok masih kayaknya lagi?"


"Gimana nih? ntar gak pas ukurannya lho" Agnes berhenti memilih.


"Ya udah yang L aja. Kan Fadil gede. Ya kan, Niar?"


"Eh.. apanya yang gede mbak Dil?"


Mereka bertiga langsung menatap Niar. Otak mereka bertraveling mendengar pertanyaan Niar barusan.


"Emang apanya yang menurut kamu gede?" Dila menaikkan dagunya.


Niar tersenyum malu. Tatapan ketiganya seperti mengulitinya.


"Bajunya, mbak" jawab Niar cengengesan.


"Serius, lu? emang dalemannya gede juga ya?" celetuk Agnes.


""Eh!"


Ketiganya mendelik menatap Agnes. Gadis kriwil ini emang paling mesum diantara mereka berempat. Agnes bertingkah bodoh melihat mereka.


"Mesum lu!" Dila menonyor lengan Agnes.


"Ih.. mbak Dila. Agnes cuma nanya mbak. Siapa tau kan Niar udah lihat dalemannya Fadil"


"Yeee.. mana ada" Niar tersipu malu.


Mereka tertawa berbarengan. Melanjutkan memilih-milih lagi. Niar memutuskan membeli satu stelan baju kantor untuk Fadil. Sri memilihkan dasi.


Setelah selesai, mereka mengunjungi beberapa outlet lagi. Sore ini Sri sangat terhibur bersama teman-temannya. Lelah berbelanja, mereka duduk di salah satu coffee shop.


Dan tak di sangka, mereka bertemu dengan beberapa teman kantor yang juga sedang shoping. Kebetulan awal bulan. Gaji sudah masuk ke rekening masing-masing. Sekarang waktunya bersantai menikmati hasil jerih payah selama satu bulan ini.


"Boleh gabung nih?" tanya Lukman.


Mereka berempat saling tatap. Sri menggelengkan kepalanya sedikit. Memberi kode pada Agnes untuk tidak memberi ijin Lukman untuk bergabung. Tapi sudah keburu Dila mengangguk menyetujui.


"Ya udah. Ayo gabung sekalian. Lumayan kan kalian bisa teraktir kita berempat" canda Dila.


Dengan senang hati Lukman dan dua orang lagi ikut bergabung bersama. Lukman bekerja di divisi personalia. Boby dan Syahril bekerja di divisi yang sama. Ketiga pemuda itu sama-sama tampan. Tapi Lukman yang paling menonjol.


Pemuda itu langsung menarik kursi lain dan duduk di samping Sri. Sementara Boby dan Syahril duduk di samping Dila dan Agnes. Sri agak kikuk menggeser kursinya lebih mepet ke arah Niar. Ingat janjinya pada Lucky, tidak akan ada laki-laki di antara mereka.


Tapi kini, malah ada tiga lelaki sekaligus. Bisa gawat kalau Lucky sampai tahu. Bisa ngambek tuh si suami posesif.


"Hai sri" sapa Lukman.


"Hai" jawab Sri tersenyum kikuk.


Agnes hanya terkikik geli. Agnes tahu kalau Lukman sering menyapa Sri di kantor ketika berpapasan. Tapi Sri selalu tidak menanggapinya. Hanya sekedar membalas mengangguk pada Lukman.

__ADS_1


Lukman tersenyum cerah ceria. Dalam hati bersorak girang bisa bertemu dengan gadis yang selama ini di sapa dan mencuri perhatiannya. Duduk berdampingan lagi. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Mak nyooss..!!


"Baru shoping ya kalian?" Tanya Syahril melihat pada banyak paper bag di samping Niar.


"Iya dong. Kan baru gajian. Kalian juga ya?" jawab Niar.


"Tidak juga. Cuci mata aja" jawab Lukman.


"Pake sabun bang cuci mata" Agnes menimpali.


Mereka tertawa mendengar candaan Agnes. Mereka memesan makanan dan minuman. Lukman bersikap seperti donatur yang tajir melintir. Mempersilahkan mereka pesan apa saja. Ingin menunjukkan sikap dermawan di depan Sri. Mengambil simpati lewat uluran dana traktiran awal bulan.


Sesekali mencuri pandang pada Sri. Bersikap sesupel mungkin untuk membuat Sri melirik padanya. Tapi Sri seperti tak menghiraukan. Dan Lukman tak putus asa. Bersikap paling dominan. Membuat kelakar yang mengundang tawa ceria.


"Sri" panggil Lukman. Sri menoleh. "Kamu tinggal di mana sih? boleh tau dong kita"


"Eh.. anu kak. Sri tinggal sama mbak Agnes" jawab Sri sekenanya.


"Lho? beneran ya Nes? kok kamu gak pernah bilang Nes, kalau Sri tinggal sama kamu?" Boby menyahut.


Agnes mengerti maksud Sri. Dia hanya mengangguk. Tapi Niar dan Dila malah menatap Agnes dan Sri curiga.


"Masak sih?" Niar menatap tak percaya.


Agnes langsung mengedipkan mata pada Niar. Membuat gadis itu menutup mulutnya.


"Boleh dong aku main ke rumah kamu Nes?" Lukman tak ambil pusing tentang yang lain. Incarannya hanya Sri.


"Mau ngapain lu?"


"Ya main lah"


"Gak boleh" Agnes cepat menolak.


"Kenapa sih Nes? cuma main doang" Syahril tersenyum genit.


Agnes hanya mencebik. Mereka semua tertawa renyah melihat penolakan Agnes.


Ting Ting!


ponsel Agnes berbunyi. Agnes memeriksanya. Pesan masuk dari Beni. Mendadak kepala Agnes berdenyut nyeri. Harus laporan. Tidak boleh bohong. Kemarin dengan Rian saja sudah menimbulkan tragedi yang cukup mengerikan baginya. Lalu sekarang apalagi?


"Pacar mu Nes?" tanya Boby.


"Hus.. kepo banget sih?" Agnes menutup ponselnya. Boby nyengir.


Cepat-cepat Agnes membalas pesan Beni. Mengatakan lokasi mereka sekarang. Hanya shoping dan makan di kafe. Tapi seperti yang Agnes duga. Beni meminta foto lagi.


Keringat dingin langsung saja mengucur. Agnes takut. Sidikit kecurangan saja akan berpotensi menimbulkan pemecatan bagi dirinya.


"Kenapa mbak Nes? kok gugup gitu?" Sri melihat perubahan pada Agnes. Gadis itu tampak gelisah.


"Gak apa-apa, Sri. Aku mules"


Agnes segera permisi ke toilet. Meninggalkan yang lain yang masih asik mengobrol dengan disisipi canda tawa. Agnes berdiri mematung sambil memandangi ponselnya. Sebenarnya dia merasa menghianati Sri. Sri tidak tau kalau Agnes jadi mata-mata untuk suaminya. Tapi apalah daya Agnes. Ini perintah dari tuan Presdir. Tak dapat menolak dengan ancaman pemecatan baginya.


Membalas pesan Beni dengan mengirimkan foto teman-temannya. Sri tampak tertawa ceria di sana. Tak berapa lama, pesan Agnes terbalas.


"Siapa lagi itu?"


😄 hadeehh.. perang lagi nih..


Agnes lemas. Lututnya goyah membaca pesan terakhir Beni yang sepertinya itu adalah Lucky yang bertanya.


NB: Maaf readers... otor up nya telat banget ya šŸ¤­šŸ™ hp otor kepancal pitek. Jatuh dan Layarnya remuk. Da di benerin, eeehh.. baru satu hari dan da siap-siap ngetik, malah musibah lagi.


Lowbat.. jadi otor charge. Di bawah kursi. Gak nyadar kalau ada remote tv di atas kursi. 🄓 gak sengaja ketarik waktu ngambil kertas di bawah remot. Eehh.. remotnya ikut ketarik terus jatuh tepat di atas hp otor!!

__ADS_1


Pecah lagi layarnya 😭😭 otor nangis guling-guling. Ngesot-ngesot. Gelosotan. Dengan hati yang mendongkooolll.. otor benerin lagi. Ngabisin duit nih benerin layar hp sampe dua kali.


Maaf ya readers.. otor curcol nih. Gemes soalnya. 🤭🤭🤭


__ADS_2