
"Hahaha.." Amira tertawa puas.
Levi tak lepas menempel di sampingnya. Duduk bersebelahan dengan lekat. Amira menggerakkan ponselnya di tangan. Pancaran wajahnya sangat terlihat puas.
"Kau sudah mendapatkannya? hmm?" tanya Levi sambil mengendus rambut Amira.
"Tentu saja. Lucky tidak pernah bisa menolakku" ujarnya bangga.
"Apa kau yakin istrinya akan terpengaruh?"
Amira menoleh dan mengelus pipi Levi. "Tenang saja. Aku yakin perempuan kampung itu sekarang sedang menangis" tersenyum licik.
"Haha.. kau memang wanita ular, Mira" Levi mengecup bibir Amira sekilas.
"Hhh.. sama seperti mu" Amira membenarkan duduknya lagi. "Lev, kenapa kau lakukan ini? kau siap menghancurkan keluarga mu sendiri?"
"Itu bukan keluarga. Kakek ku selalu menomor satukan Lucky. Aku benci itu" Levi bergeser menjauh dari Amira.
"Tapi itu kenyataannya. Ayah mu memang yang ke dua. Dan kau juga menjadi yang ke dua"
"Hmmm.." Levi menegak menimannya. "Makanya aku ingin jadi yang pertama. Haha.."
"Kau tetap tidak bisa"
"Aku akan menyingkirkan mereka. Kau tetaplah fokus pada istrinya saja. Sesuai dengan rencana kita"
"Tenang saja. Aku akan membuat gadis kampung itu pergi meninggalkan Lucky. Aku sudah tidak bisa menyentuh Lucky. Jadi, jangkauan ku pada istrinya"
"Hh.. aku tidak salah memilih mu. Kita akan membagi kemenangan"
Levi mendekat lagi. Melu**t bibir indah Amira. Gadis itu tersenyum puas. Sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Obsesi yang tak bisa di hilangkan lagi. Tak dapat rotan, akar pun jadi. Jika Levi bisa menjadi orang nomor satu, dia juga bisa mendapat imbasnya.
"Kenapa kau sangat terobsesi dengan ini, Mira?" Levi membelai pipi gadis itu. Mengecupinya sesekali.
"Aku sama seperti mu bukan? jadi jangan bertanya lagi. Aku akui ibu mu sangat licik, Lev. Dia bisa mendapatkan kedekatan kita tanpa bisa aku cegah"
"Haha.. jangan ragukan dia" Levi tertawa senang mendengar Amira memuji ibunya. "Tapi kenapa tidak sekalian saja kau jebak Lucky? tanggung sekali kau hanya mengirim foto tadi. Kirim lah yang lebih menantang. Kalian tidur bersama mungkin?"
"Lucky itu sangat memegang prinsip. Kamu pikir dia mau menyentuhku lebih? tidak Lev. Tidak pernah. Aku sudah memancingnya dari dulu. Tapi pria sok suci itu tetap saja menolakku.. hhh.. Aku muak"
"Karena itu kau mendekati ku? aku memberi mu kenikmatan itu. Hmm?"
Levi mengecupi leher Amira. Menji**tnya basah. Amira mende**h tertahan. Menggeliat manja.
__ADS_1
"Hmm.. Kau ganas. Aku suka" tersenyum manja dengan sensual.
"Kau yakin Lucky akan meninggalkan istrinya?"
"Jangan menganggap enteng, Lev. Aku harus berusaha maksimal. Lucky penuh perhitungan. Kau pikir dia tidak akan tau apa yang ku lakukan? kau salah. Aku harus banyak berakting di depannya"
"Aahh.. aku percaya pada mu. Buat saja seperti yang kau inginkan"
Levi mengangkat Amira ke pangkuannya. Menyesap bibir basah milik Amira. Memadu kasih seperti yang Amira suka.
š¹
š¹
Sudah hampir tengah malam Lucky sampai di mansion. Pak Sam menyambutnya di depan pintu. Membungkuk hormat dan menemani tuan mudanya menuju ruang kerjanya.
Lucky duduk di ruang kerjanya. Membuka laptopnya dan fokus menatap di sana. Pak Sam masih setia berdiri menunggu di depannya.
"Ceritakan yang terjadi, pak Sam" titah Lucky masih fokus di layar laptop.
"Nona Sri menunggu anda tuan muda. Tapi anda lama sekali. Nona Sri berlari ke kamar tamu setelah melihat sesuatu di ponselnya, tuan"
Lucky melirik pak Sam sejenak. Lalu berkutat lagi di laptopnya. Pak Sam diam menunggu.
Lucky memutar layar laptop menghadap pak Sam. Lelaki tua itu memperhatikan dengan seksama apa yang di tunjukkan Lucky di layar laptop.
"Saya tidak yakin, tuan muda. Saya tidak melihat apa yang di lihat nona Sri di ponselnya tadi. Tapi, saya kita itu sesuatu tentang tuan muda"
"Hmm.."
Lucky kembali memutar laptop kearahnya. Lalu menutupnya. Menatap pak Sam lekat-lekat.
"Selalu awasi bawahan mu. Pelayang yang tidak berkompeten, langsung singkirkan. Jangan memberi peluang. Aku tidak mau istri ku terluka. Mengerti?"
"Baik, tuan"
"Sekarang istirahat lah"
Pak Sam mengangguk. Lalu pergi keluar. Lucky berdiri beranjak ke kamarnya. Tidak ada Sri di sana. Lucky tersenyum miris. Sri sudah mulai masuk kedalam permainan licik ini. Dan sekarang, pasti istrinya itu sedang menangis.
Lucky beranjak membersihkan diri. Setelah selesai, ia mengambil kunci pintu kamar tamu yang di tempati sri. Keluar kamar, dan berjalan di koridor mansion seorang diri. Berdiri di depan pintu kamar tamu. Memasukkan kunci, dan membuka pintunya perlahan.
Terlihat istrinya tidur tertelungkup dengan lelap. Masih berpakaian lengkap gaun malam yang indah. Lucky tersenyum melihat itu. Mendekati ranjang dan duduk di tepinya.
__ADS_1
Memperhatikan Sri tertidur lelap. Tampak sisa air mata masih menggenang di bulu mata lentik yang sedang terpejam itu. Lucky tersenyum miris. Ada geleyar sakit menusuk jantungnya. Mengelus pipi Sri perlahan.
"Sri, maaf melibatkan mu dalam permainan busuk ini. Tapi aku harus membuka tabir itu. Bersabarlah sayang"
Pelan sekali Lucky mengecup pipi istrinya. Agar tidak mengganggu tidur lelapnya. Bergerak ke samping Sri. Membenarkan letak tidur tubuh mungil itu. Menelentangkan Sri dengan benar. Tersenyum melihat lelap yang tak terusik sedikit pun.
"Dasar. Kau selalu begini, sayang. Putri tidur"
Lucky mencolek pelan hidung Bangir Sri. Terkekeh melihat Sri tidak terusik sedikitpun. Sri memang begitu. Kebiasaan dari kecil. Tidak terusik dengan apapun jika sudah lelap dalam mimpinya. Kadang Lucky menjahilinya saat tidur. Menggerayangi tubuh Sri dan memberi kissmark di setiap inci tubuhnya. Sri tetap bergeming. Lelap di buai mimpi indah.
Lucky membuka gaun malam yang dikenakan Sri. Menggantikannya dengan baju tidur. Sri menggeliat terganggu. Tapi tetap lelap. Hanya sedikit menepis tangan Lucky layaknya nyamuk pengganggu.
"Hehee.. Kau sungguh menggemaskan, baby" Lucky mengecup bibir Sri gemas.
Naik ke tempat tidur dan merangsek masuk kebawah selimut. Merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Memeluk tubuh mungil itu dengan penuh perasaan.
"Maaf ya, kamu nunggu aku lama"
Berbicara sendiri pada Sri yang masih memejamkan mata. Tersenyum menatapi wajah ayu di sampingnya.
"Hhh.. kenapa masih tidak percaya kalau aku mencintai mu, sayang?" mengelus lagi pipi dan bibir Sri dengan senyum mengembang.
"Kau milikku Sri. Aku mencintai mu"
Mendekap tubuh Sri ke dalam pelukannya. Mengecupi puncak pelipis Sri. Mengendus dan menghirup aroma tubuh istrinya yang memabukkan setiap saraf sensitif di otaknya.
Tubuh mungil ini candunya. Tidak bisa rileks ketika dekat dengannya. Urat-urat di tubuhnya selalu mengembang ketika Indra penciumannya mengendus aroma tubuh istrinya. Menggeliat menunjukkan kokohnya. Lucky kadang kewalahan dengan hasratnya ketika dekat dengan Sri.
Gadis Jawa dengan logat medok ini sudah memberinya keindahan surgawi yang baru di rasakan Lucky setelah menikah. Membuka semua pori-pori cinta yang siap menerima cinta Sri.
Tapi sayang, Amira selalu mencoba menghalangi. Dia harus dengan sabar melepas Amira tanpa harus menyakiti. Sabar menyakinkan Sri akan cintanya. Kerena memang mereka bertemu dan bersatu bukan atas dasar cinta. Tapi kesepakatan yang siap menjadi jurang pemisah.
"Aku mencintai mu sayang. Sangat cinta"
Melu**t bibir manis itu sejenak. Memberikan sisa basah di bibir mungil itu. Tubuh Lucky bereaksi. Bangkit tegak berdenyut nyeri.
"Alvonzo.. tolong bersabarlah. Jangan bangun dulu. Kita harus mendapatkan hatinya. Dia akan marah kalau kau memaksanya. Mengerti?"
Lucky mengelus alvonzo gemuk yang sudah berdenyut di bawahnya. Menenangkan agar bisa tidur kembali.
"Sabar bos.. sabar" erangnya menarik napas panjang.
Bergelung di bawah selimut dengan tubuh mungil di dekapannya. Berusaha memejamkan mata menyambut mimpi bertemu dengan Sri dan bermesraan di sana. Walau dalam mimpi, itu sudah cukup dan memuaskan.
__ADS_1