OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Curhat Dan Tragedi Kodok


__ADS_3

Noah duduk dengan Agnes di bangku tempat Sri duduk tadi. Kini Sri ikut bergabung bersama Lucky dan Rian. Yang membuat Lucky kewalahan menyuruh Sri menyingkir. Tapi Sri malah semakin mendekat dan mengganggu Lucky memancing belut.


Noah dan Agnes duduk dengan canggung. Noah menunggu Agnes bicara sambil menatap Sri dan Lucky yang bersenda gurau sambil memancing.


"Senang melihat mereka seperti itu ya, pak." ujar Agnes sambil melihat kearah yang sama.


"Hm" Noah mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku senang mereka bahagia. Semoga selalu begitu."


"Lalu, bagaimana dengan bapak sendiri?" Noah menoleh pada Agnes. Gadis itu juga menoleh pelan dan menatap mata Noah. "Apa bapak tidak mau bahagia juga seperti tuan Lucky dan Sri?"


Noah memalingkan lagi pandangannya. Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Kadang, kita juga ingin merasakan bahagia seperti orang lain. Tapi akan lebih bahagia jika melihat orang lain bisa menemukan kebahagiaannya." ujar Noah.


"Pak Noah sangat baik. Bisa melepaskan Sri tanpa meminta balasan yang setimpal. Tapi, rasanya saya tidak bisa seperti bapak."


"Setiap orang itu berbeda, Agnes. Tidak semua orang bisa melakukan seperti yang kita lakukan, bukan?"


"Iya. Bapak benar. Saya merasa iri pada Sri. Dia sangat beruntung. Banyak cinta yang datang padanya. Dan dia menemukan tambatan hati yang memang sangat cocok dengannya, dan juga sangat mencintainya." Agnes diam sejenak. Menatap Sri yang tertawa karena mengoleskan lumpur ke pipi Lucky. "Saya juga ingin merasakan itu."


Noah menoleh lagi pada Agnes. Lalu tersenyum lembut. Menatap gadis itu dengan seksama.


"Kamu punya Rian. Dia siap menjagamu, dan siap mencintai kamu. Lalu kenapa menyia-nyiakan itu, Agnes?"


Hati Agnes terasa di remas. Ingin ia menjerit di depan Noah kalau dia ingin Noah menyambut cintanya. Matanya memanas menahan buliran bening yang sudah mendesak ingin keluar. Kali ini dia harus berani bertanya. harus berani mengungkapkan isi hatinya pada Noah agar pria ini tahu betapa besar ia mencintainya.


"Tapi.." Agnes memberanikan diri balas menatap Noah dengan mata berkaca-kaca hampir menangis. Noah melihat itu dengan Jelas. "Apa tidak ada cinta sedikit saja buat saya di hati bapak?"


Noah diam seribu bahasa. Tidak menyangka Agnes seberani ini. Menatap mata Agnes dan menggali lebih dalam. Bertanya dalam hatinya sendiri jawaban untuk pertanyaan Agnes.


"Saya.. S-s-saya.. suka bapak. Saya cinta bapak. Saya meminta cinta bapak. Apa boleh?" tanya Agnes lagi terbata-bata.


Jantung Noah seakan di remas mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan dalam waktu yang sama. Agnes. Dia cantik. Pintar. Dan mencintainya. Tapi apa dia juga mencintai Agnes? Selama ini Noah hanya menganggap Agnes hanyalah sebatas atasan dan bawahan. Tidak lebih.


Noah tidak tega melihat mata yang penuh cinta dan pengharapan itu. Tapi dia juga tidak bisa memaksakan hatinya untuk berpura-pura sekalipun. Noah tersenyum teduh. Lalu menatap lurus ke depan lagi.


"Kamu tau Agnes, Lihatlah Sri dan Lucky. Kamu pasti sudah tau kisah mereka bukan? Hmm?"


Agnes mengangguk. Air matanya menetes begitu saja ketika menganggukkan kepalanya. Tapi tetap diam dan mendengarkan Noah.


"Mereka berdua juga dulu tidak saling mencintai. Selalu bertengkar dan ada banyak halangan dari Amira. Tapi setelah berjalannya waktu, mereka saling membuka hati. Mereka jatuh cinta. Dan sekarang mereka bahagia."


Noah berhenti. Menoleh lagi menatap Agnes yang sudah berderai air mata. Noah bisa merasakan sakit hati Agnes saat ini. Begitu yang ia rasakan ketika tahu kalau Sri adalah istri dari kakak sepupunya sendiri. Tapi Noah membiarkan gadis itu menangis sampai puas.

__ADS_1


"Begitu juga kamu, Nes. Kau punya Rian. Dia pemuda yang baik. Dia bisa menjagamu dan siap mencintaimu."


"Jangan bicara tentang Rian, pak. Saya tanya bapak. Apa bapak tidak bisa memberi cinta bapak untuk saya?"


"Maaf Agnes. Aku tidak mau berpura-pura untuk membuka hati. Aku tidak bisa menjerumuskan dirimu pada jurang yang lebih dalam. Bukankah lebih baik di cintai dari pada mencintai? Rian mencintaimu. Tapi aku tidak. Sekalipun aku berpura-pura, tapi nanti akibatnya akan semakin parah. Kita akan lebih hancur." ujar Noah panjang lebar.


Agnes tidak bisa bicara. Hanya tersengguk sedih. Hancur sudah harapan itu. Noah tidak pernah mencintainya. Noah tetap kekeh tidak bisa membuka hati untuk Agnes. Noah tidak tahan melihat Agnes terisak sedih setelah ia tahu apa isi hati Noah. Noah menggenggam tangan Agnes.


"Agnes, kita sama-sama tau kalau kenyataan itu memang sangat menyakitkan. Kejujuran itu kadang tidak enak untuk di dengar. Tapi, bukankah lebih baik jujur dari pada kepura-puraan?"


"Tapi.. S-saya su-suka bapak" Agnes terbata-bata menahan tangis agar tidak pecah menjadi raungan.


"Saya tau."


Agnes mendongak. Menatap netra Noah yang masih menatapnya lekat. Noah tahu dia menyukainya? benarkah?


"B-bapak tau?"


Noah mengangguk lagi dan tersenyum manis membuat hati Agnes makin lumer.


"Tapi, sekali lagi saya katakan. Cinta tidak bisa di paksa. Rasa itu hadir dengan sendirinya. Aku tidak bisa berpura-pura." Rian menggenggam tangan Agnes dengan kedua tangannya. Menepuknya pelan. Memberi keyakinan pada gadis ini.


"Ada Rian. Lihatlah dia. Dia tau kamu suka saya. Tapi dengan sabar dan menunjukkan bahwa dia jantan, dengan membawamu dan langsung meminangmu dengan orang tuanya. Dia ingin menjadikanmu sebagai ratu hatinya."


Agnes melihat kearah Rian. Terlihat pria itu dengan telaten memancing belut di lubang-lubang kecil. Sri masih menganggu mereka.


"Lalu, kenapa bapak juga tidak bangkit? Kenapa masih terpuruk?"


"Aku akan bangkit, Nes." Noah tertawa. "Tapi tidak di sini. Tidak dengan mu. Rian lebih butuhkanmu. Ayolah... Jangan jadi cengeng begini. Kamu itu punya potensi jadi ibu kepala desa. Siapa tau setelah kalian menikah, Rian menyalonkan diri."


Agnes tertawa dalam tangis. Noah juga ikut terkekeh membayangkan Rian jadi kepala desa yang koplak.


"Jangan terpuruk pada apa yang tidak bisa kita gapai, Nes. Tapi fokuslah pada apa yang pasti menanti di depanmu"


"Pak, terima kasih sudah mau menjawab pertanyaan saya. Sekarang saya lega. Saya bisa mengambil keputusan yang benar."


"Jangan ragu untuk melangkah bersama Rian. saya mendukungmu."


Agnes bisa tersenyum lega. benar kata Noah. Jangan terpuruk karena hal yang tidak bisa kita gapai. Fokus saja pada apa yang pasti di depanmu.


"Huwaaaa... Dapat Sri! Aku dapat belutnyaaa..." teriak Rian senang. Mengakat belut yang berhasil di pancing keluar. Noah dan Agnes tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah mereka.


Tapi beda dengan Lucky. Ia terjengkit kaget melihat bentuk belut yang seperti ular itu menggeliat kencang.

__ADS_1


"Tuaaann.. Ini belutnya!" Rian mengacungkan belutnya tinggi di depan Lucky.


"Hey!! Jauhkan dari ku!" pekik Lucky merasa geli dan jijik sekaligus.


"Mase takut?" tanya Sri.


"Eh.. Tidak. Cuma geli saja, sayang" Lucky mengelak. Berusaha mengubah mimik wajahnya menjadi cool lagi.


"Waahh.. Yang ini juga kena!"


Rian berseru lagi untuk pancing keduanya. Tampak benang kail di tarik masuk lebih dalam. Berusaha menariknya keluar. Sri bersorak kegirangan. Menarik-narik lengan kemeja Lucky saking senangnya.


Tapi sayang, begitu berhasil di tarik, bukan belut yang tersangkut di kail Rian. Tapi kodok. Melihat itu, Lucky langsung panik. Wajahnya pucat pasi. Mundur perlahan karena Rian mengacungkan tinggi-tinggi kosong di mata kailnya.


"Aduuhh.. Sayang bener. Cuma kodok, Sri" Rian tampak kecewa. "Nih.. Tua. Lucky. Cuma kodok." Lucky semakin menegang. Melangkah mundur lagi.


"Rian! Jauhkan itu dariku!" sentak Lucky agak kencang.


"Kenapa, tuan? Ini cuma kodok kok" Rian iseng mengguncang kodok itu ke dekat Lucky. Lucky semakin panik.


"Rian! Jauhkan kata ku!" bentak Lucky semakin pucat.


"Mase kenapa toh? Takut sama kodok?" Sri bingung kenapa wajah Lucky jadi sepucat itu.


"Eh.. tidak.. Siapa yang takut, sayang? Aku cuma tidak suka" Lucky cepat menegakkan kepala dan membusungkan dada. Jangan sampai jatuh gengsinya hanya karena takut dengan kodok.


Rian menyadari gelagat ketakutan Lucky. Dasar cowok sableng, timbul jiwa usilnya melompat kepermukaan. Sementara Noah sudah hampir terbahak melihat itu. Dia tahu apa yang Lucky benci sedari kecil. Kodok dan cicak.


"Beneran tidak takut, tuan?" Rian mengguncang lagi kodok di benang kailnya.


"Rian! jangan macam-macam! Jauhkan itu!" geram Lucky mendelik pada Rian sambil melangkah mundur. "


Buang itu! Atau aku .. A-aku akan meme... Aaaaaaaaaakkhhh...."


Belum selesai bicaranya, Rian sudah melemparkan kodok ke arah Lucky. Sontak saja Lucky berteriak ketakutan sambil berlari di dalam sawah.


"Hahaha... Katanya tidak takut.."


Rian tergelak melihat Lucky tidak peduli lagi gengsinya. Lucky berlari menuju ke tengah sawah. Mengibas-ngibaskan bagian belakang punggungan. Takut kodok itu lengket karena di lempar Rian.


"Masih di punggung itu paaakk"


Teriak Rian pada Lucky yang masih susah payah berlari di dalam lumpur sawah. Agnes, Noah, dan Sri sudah terbahak melihat itu. Hancur sudah harga dirinya. Wajahnya tercoreng di depan sri. Suami gagah dengan tubuh tegap berotot, sudah tidak berpengaruh lagi jika rekan-rekan bisnisnya melihatnya ketakutan dan berlari di tengah sawah hanya karena kodok.

__ADS_1


.


"Riiiaaann.. Aku akan membunuhmu!" teriak Lucky geram ketika kodok sudah terlepas dari punggungnya.


__ADS_2