
"Dengar dulu sayang. Akan aku jelaskan."
Bujuk Lucky. Sri bergeming. Tetap memalingkan wajahnya tak mau menatap Lucky di depannya. Tapi Lucky tetap menjelaskan sekalipun Sri tidak mau dengar.
"Waktu itu, kamu tau sendiri kan? Keadaan sangat kacau. Semua Bisnisku di sabotase oleh Levi. Dan mereka menempatkan mata-mata disetiap sudut. Jadi aku, papi, Noah dan semua orang-orang ku terpaksa berpura-pura bodoh. Kami memberi mereka peluang untuk menjalankan aksinya."
Sri masih diam. Membiarkan Lucky bicara.
"Mengenai kejadian di kamar hotel, aku belum tau kalau kamu sudah hamil, sayang. Kamu tau kan kalau aku juga ingin kamu segera hamil? Jadi itu tidak sengaja. Aku tau setelah dokter Anwar memeriksa keadaanmu di rumah sakit."
"Tapi Mase tetep aja diam. Mase ndak jelasin apa-apa sama aku, mas! Mase ndak tau gimana Sri takut dan panik. Mase jahat! Mase ndak mikir apa, gimana kalo kandungan Sri bermasalah? Gimana kalo baby-nya ikut stres? Mase ndak mikir toh?" Sri marah.
Lucky tersenyum pahit. Dia juga memikirkan itu. Dia juga khawatir sampai terkena sindrom kehamilan simpatik. Itu akibat terlalu banyak berpikir tentang istrinya.
"Sayang, aku juga ikut memikirkan itu. Itu kenapa mami ikut kamu pulang. Aku sudah bilang pada mami semuanya tentang masalah kita. Makanya aku meminta mami ikut kamu pulang. Aku juga meminta Agnes untuk menjaga kamu. Dan dokter Anwar sudah menyuntikan obat agar kehamilanmu tidak bermasalah."
Sri terdiam. Ini adalah jawaban dari semua tanda tanyanya kenapa Lucky berubah aneh waktu itu.
"Maaf, sayang. Aku terpaksa berubah sikap di depanmu. Mereka sangat ketat memata-matai kita. Bahkan di dalam mansion kita. Jika mereka tau tidak terjadi apa-apa di antara kita, maka mereka tidak akan berhenti untuk mengganggu mu, Sri."
Lucky menggenggam tangan Sri lagi. Lalu mengecupnya hangat. Menatap Sri memohon pengertian istrinya. Sri masih diam terpaku. Mencerna semua penjelasan suaminya. Lucky memeluk pinggang Sri. Menempelkan kepalanya di perut Sri. Mengecupinya dengan sayang. Lalu mendongak lagi menatap wajah Sri.
"Sayang.. Baby kuuu.. Kamu mengerti kan, aku sudah menjelaskan semuanya." Lucky masih berusaha membujuk Sri.
"Apa Mase ndak kedinginan?" tanya Sri tiba-tiba.
"Hah?"
"Itu. Mase..." Sri menunjuk bokong Lucky yang terpampang nyata. Polos dan nampak montok.
Lucky melihat keadaan dirinya. Lalu menatap Sri lagi sambil tersenyum nakal. Tongkat bisbolnya kembali bereaksi. Berdenyut hangat.
"Aku sudah polos begini, apa kau tega membiarkan aku kedinginan, sayang? Hm?"
"Ndak mau! Hmmp.." Sri melengos lagi. "Mase harus di hukum." Sri bangkit berdiri.
"Astaga" Lucky mengeluh kesal. Menunduk memandang tongkat bisbol yang tak tahu diri minta di elus. Sri masih belum mempan di bujuk. Lucky juga ikut berdiri. mengurut pelan bagian bawahnya yang sudah mengacung tegak.
"Sayang.. Lihatlah.. Ini berdenyut, sayang. Iisshh... Hangat ini.." rengek Lucky dengan wajah memerah menahan hasrat. Tapi Sri tidak menggubris. Dia masih ingin menghukum Lucky.
Lucky menunduk lesu. Menatap tongkatnya dengan sedih. Berhenti mengurut dan hanya mengelus pelan.
"Alvonzo.. Sabar ya. Ini belum waktunya kau makan daging mentah. Tapi nanti sebentar lagi kita bujuk kekasih kita itu, ya? cup cup cup.. Tidur dulu.." Gumam Lucky untuk dirinya sendiri dan juga tongkat bisbol yang di beri nama Alvonzo.
Lucky mengalah. Memakai lagi celananya. Lalu mengambil nampan sarapan pagi. Mendekati Sri dan duduk di sampingnya. Sri hanya meliriknya sedikit dengan ekor matanya.
"Ya sudah kalau tidak mau. Tapi kamu sarapan dulu ya?"
Lucky menyodorkan bubur ayam ke depan Sri. Membujuknya untuk makan. Sri meragu. Menatap netra Lucky lamat.
"Mase ndak nakal lagi kan?"
Lucky tersenyum dan menggeleng. Lalu menyuapkan bubur ayam ke mulut Sri.
"Mase juga belum sarapan kan?" tanya Sri dengan mulut penuh. Lucky menggeleng lagi. Sri menarik sendok dari tangan Lucky, lalu menyendok bubur dan menyuapkan juga pada suaminya. Suap-menyuap di pagi hari sangat romantis. Walau Sri menghukum, tapi tetap mencintai suaminya.
__ADS_1
"Ini boleh.." Lucky menunjuk mulutnya. "Kenapa yang ini tidak boleh, sayang?" rengeknya masih mencoba merayu. Menunjuk ke bawah.
"Ndak boleh. Mase kan masih di hukum, ya patuh dong"
"Sampai kapan hukumannya, sayang. Jangan lama-lama. Aku tidak kuat"
"Hemmp.. Rasain" Sri mencibirkan bibirnya.
"Aduuhh.. Bibir mu menggemaskan."
"Iihh.. Modus!"
š
š
š
Lucky menebus yang di anggap Sri sebagai kesalahannya itu, dengan merawat Sri dengan telaten. Setelah sarapan pagi tadi, Lucky memandikan Sri di kamar mandi yang rasanya jadi sangat panas karena sempit. Bukan saja sempit, tapi juga karena harus seringkali bergesekan dengan Sri. Tapi dengan patuh, Lucky tetap memegang janjinya. Tidak akan nakal karena masih menjalankan hukuman.
Mereka keluar dari kamar ketika matahari sudah hampir berada di tengah langit. Rian menatap mereka berdua dengan mesem-mesem geli. Pengantin baru yang melepas rindu sampai keluar dari kamar sesiang ini. Dia tidak tahu kalau Lucky masih belum belah duren.
Sri sangat antusias bertemu dengan Noah. sampai memeriksa Noah dengan memutari tubuh tinggi itu dengan seksama.
"Hey.. Ada apa Sri?" Noah mengernyit heran.
"Hmm.. Ndak ada yang luka." gumam Sri.
"Sayang, kenapa begitu?" Lucky juga merasa tidak terima jika Sri dekat-dekat dengan Noah.
Noah diam. Melirik Lucky sejenak. Dia tahu apa maksud Sri bertanya begitu. Wanita hamil ini hanya menyentilnya dan Lucky.
"Dia tidak apa-apa, sayang. Kau tau itu" Lucky menarik Sri menjauh dari Noah. "Sini. Jangan dekat-dekat"
Sri menatap Noah dengan tatapan marah. Sungguh lelaki yang dua ini minta di kotak olehnya. Berani sekali sudah membohonginya dalam banyak hal.
"Sri. Itu ide suamimu. Aku hanya mengikuti apa maunya" ujar Noah.
"Huh.. Kalian berdua sama saja" ketus Sri kesal.
"Hey.. Sudahlah No. Jangan menyalahkanku lagi. Aku sudah di hukum. Jangan menambahnya lagi" kesal Lucky melotot menatap Noah.
"Di hukum? hukuman apa?" Rian bingung.
Sri hanya mencebikkan bibirnya. Kesal. Rian juga ikut dalam komplotan ini.
"Ah.. Anak kecil. Tau apa hukuman suami istri" desis Lucky kesal.
"Anak kecil? Siapa?" Rian mengerutkan kening.
"Hmm" Lucky mendengus. Tak menggubris Rian yang masih kebingungan.
Noah hanya tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala melihat kepolosan Rian yang sebenarnya tidak terlalu polos. Hanya sedikit miring otaknya.
Dari depan rumah, Agnes muncul. Gadis itu tampak terengah karena tergesa masuk. Tampak sangat antusias menatap Noah. Membawa bungkusan di tangannya.
__ADS_1
"Hai cantik.. Dari mana? ayo duduk sini" Rian meraih tangan Agnes untuk duduk di sampingnya. Tapi Agnes menepis. Langsung mendekati Noah dengan mata berbinar.
"Pak Noah. Bapak sudah makan? Ini saya bawa nasi gudek dari warung bude. Pak Noah mau, ya?"
Agnes dengan sigap membuka bungkusan nasi gudek dari warung ibunya sri. Membentangkan di meja depan Noah. Noah masih terbengong melihat itu, hanya diam tak menyahut.
"Waahh.. Gudek. Kesukaan ku ini, Nes. Pinter kamu" Rian mendekat. Tapi Agnes cepat menepis tangan Rian yang ingin menjangkau bungkusan makanan.
"Hus! Sembarangan kamu." Agnes melotot. "Ini untuk pak Noah"
"Iishh.. Galak banget nona cantik" Rian mengusap tangannya bekas pukulan Agnes.
"Makanya jangan asal!" Agnes mendengus kesal. Lalu menatap Noah lagi dengan binaran cinta di matanya terlihat jelas. ",Ayo, pak. Silahkan di cicipi" Tersenyum manis dengan sejuta pesona.
"Aduh.. Maaf Agnes. Saya masih kenyang." tolak Noah halus.
"Pak No, Ndak baik lho nolak rejeki. Makan aja pak" Sri memprovokasi Noah.
Noah melirik Lucky lagi. Lucky mencebik. Ia tahu Noah grogi. Karena sudah mengetahui kalau Agnes cinta mati padanya. Bukannya tidak tahu, tapi Noah belum bisa mengganti cinta lain di hatinya.
"Tapi aku belum lapar, Sri" Noah tersenyum lembut.
"Nes, pak Noah gak mau tuh. Buat aku aja yah?" Rian menyerobot. Tapi Agnes melotot marah dan menepis tangan Rian.
"Iisshh.. Apaan sih? Ini tu buat pak Noah. Ucapan terima kasih aku sama dia. Eee... Minggir.. Minggir.." Agnes mengusir Rian agar menjauh. Rian cemberut.
Lucky dan Sri terkikik geli melihat pertikaian antara Agnes dan Rian. Roman-romanya, ada cinta segitiga. Nampak jelas sekali kilatan cemburu di matanya. Tapi Agnes tidak menyadari itu. Matanya tetap tertuju pada Noah seorang. Dan Noah? Yaahh tahu sendiri lah bagaimana dia kesengsem sama Sri. Belum bisa move on!
"Emang terima kasih untuk apa sih, mbak Nes?" Sri penasaran.
"Hihihii.." Agnes terkikik malu-malu. Wajahnya tertunduk tapi masih sempat melirik Noah yang melihatnya heran. "Waktu pak Noah pergi dari kantor, pak Noah bilang.. Eemmm... Anu.." Agnes menggantung ceritanya.
"Apa mbak?" cecar Sri.
"Nes.. Cukup." Noah menatap Agnes memperingatkan untuk tidak meneruskan. Tapi dasar Agnes, dia nyerocos lagi.
"Kata pak Noah, khusus untuk aku, pak Noah akan bertemu aku secepatnya. Uuuhh.. Malu!"
Agnes menutup wajah bersemu merahnya dengan tangan. Menunduk malu di tatap Noah yang sudah melebarkan matanya.
"Astaga..." Noah menepuk jidatnya kesal.
"Yeeee... Cieee.. Ciee... Pak Noah ada janji sama mbak Agnes, yaa? Cieee.. Ciee..." Sri meledek Noah menatapnya menggoda.
"Makanya pak Noah ikut ke sini. Kan mau jemput aku. Ya kan pak No?" Agnes menatap Noah dengan puppy eyes nya. Terlihat genit-genit lucu.
"Eeh.. Bukan begitu, Agnes. Saya... Emm.. Ah.. Entah lah" Noah duduk dengan lesu. Salah paham tercipta sudah.
Noah salah tingkah. Bukan itu maksud kedatangannya ke rumah Sri. Kalau Lucky tidak memaksa, dia juga tidak mau. Malas saja melihat kebucinan Lucky dengan Sri.
"Alamaaakk.. Mati lah aku.." Rian menjerit dan tubuhnya merosot lemas di sandaran sofa sambil memegangi dada sebelah kirinya.
"Kenapa yan?" Agnes panik dan memegangi tangan Rian. Rian Melirik Agnes dengan wajah sedih.
"Lungo warung tuku jamu. Pesen limo gari siji. Nek aku tresno marang sliramu. Opo yo kudu seloro iki?"
__ADS_1
"Hah? Mengkudu?" Agnes bengong. š¤š§