OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Titah Seorang Presdir


__ADS_3

Jam istirahat telah usai. Semua staf kembali bekerja di kubikel masing-masing. Tak terkecuali Sri. tapi pikirannya sungguh kacau siang ini. Merasa di awasi terus menerus. Lebih sering memperhatikan sekelilingnya dari pada fokus mengerjakan tugasnya.


Perasaan Sri bercampur aduk. Antara senang bisa dekat dengan Lucky terus, dan perasaan terkekang jika harus diperhatikan Lucky terus. Dan pastinya akan banyak rasa cemburu ketika mendengar banyak staf perempuan yang selalu mengelu-elukan tentang Lucky.


Ruang divisinya terpisah lantai dengan lantai ruang kerja Presdir. Masih butuh melewati beberapa lantai keatas lagi untuk mencapai ruangan Lucky. Lantai gedung paling tinggi lah tempat ruang kerja presdir. Bersatu dengan beberapa ruangan lain, dan rapat khusus para petinggi Bronze group. Tidak sembarangan orang bisa sampai di sana.


Sri tak dapat melihat apa saja yang di lakukan Lucky di sana. Tapi Sri merasa bahwa Lucky bisa memperhatikannya. Sri jadi merasa canggung sendiri dengan gerak-geriknya. Kadang membuang pikiran itu. Tapi tetap saja jadi tidak leluasa bergerak seperti biasanya.


Noah juga sedari tadi belum kembali ke ruangannya. Kabar yang Sri terima, banyak petinggi perusahaan sedang mengadakan rapat besar-besaran. Membicarakan perkembangan apa saja yang sudah di capai Bronze group belakangan ini.


Erwin, selaku asisten Noah, masuk dengan terburu-buru. Masuk keruangan Noah dan menutup pintu. Sri tertegun melihat pintu itu tertutup. Entah apa yang di lakukan Erwin disana.


Tak berapa lama, Erwin keluar lagi dengan banyak map di tangannya. Berjalan tergesa tanpa memperhatikan mereka semua. Tapi sebelum benar-benar keluar ruangan, Erwin berbalik dan menatap Agnes tajam.


"Kamu Agnes, kan?" tanyanya langsung.


Agnes langsung berdiri. Mengangguk hormat. "Iya, saya pak"


"Kamu ikut saya"


Erwin langsung bergegas pergi. Tampaknya sibuk sekali. Dan Agnes, terbengong bingung. Kenapa harus dia yang di tunjuk? dan untuk apa dia ikut erwin?


"Nes, buruan lu. Entar pak Noah marah" Dila menyuruh Agnes mengikuti Erwin. Karena mengira Noah lah yang meminta.


"Tapi.. kok aku ya?" Agnes masih tegak berdiri di kubikelnya dengan bingung.


"Hey.. ayo!"


Kepala Erwin tampak nongol lagi di pintu ruangan mereka. Kaget Agnes beranjak pergi menyusul Erwin. Sri hanya memandangi kepergian Agnes.


"Sri" panggil Dila. Sri menoleh melihat Dila. "kira-kira, apa ya kesalahan Agnes? kok pak Noah manggil sampai di lantai atas?"


"Sri Ndak tau mbak Dil" Sri mengedikkan bahu.


Dila terdiam dan melanjutkan lagi kerjanya. Sri juga kembali mencoba memfokuskan pada kerjanya yang menumpuk.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Jantung Agnes berdebar keras di saat Erwin membawanya ke lantai atas. Agnes tahu itu adalah tempat para petinggi Bronze group. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Sempat bertanya pada Erwin, tapi pemuda itu hanya menjawabnya sangat singkat.


"Lihat saja nanti"

__ADS_1


Hanya itu. Agnes sudah berkeringat dingin. Entah mimpi apa dia semalam hingga harus di panggil ke lantai elit ini. Entah kesalahan apa yang sudah ia perbuat. Pastilah ini masalah besar. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke lantai ini. Dan yang biasanya terjadi, jika staf di panggil ke lantai ini, pasti ada pemecatan. Agnes gemetaran.


Mereka sampai di depan pintu yang tertulis ukiran besar di depannya. Chief Executive Officer. Erwin mengetuk pintu. Dan tak berapa lama, pintu terbuka. Beni muncul.


"Tuan beni, ini Agnes. Staf yang di minta tuan Lucky untuk datang" Ujar Erwin sopan.


Beni melihat ke arah Agnes sejenak. Lalu melebarkan pintu besar itu dan mempersilahkan Agnes masuk.


"Silahkan masuk"


Agnes menatap Beni dan Erwin bergantian. Kedua pria itu juga menatapnya tajam. Agnes semakin berkeringat dingin. Lututnya gemetar tidak karuan. Kedua lelaki itu terlihat tinggi menjulang seperti anggota pengadilan yang akan menjatuhinya hukuman berat. Agnes meragu untuk masuk.


"Silahkan nona Agnes? kenapa masih di situ?" tanya Beni heran melihat wajah Agnes pucat pasi.


Dengan langkah berat, Agnes melangkah pelan melewati Erwin di pinggir pintu.


"Saya permisi tuan beni" Erwin pamit pergi. Beni mengangguk.


Agnes masuk dengan lutut hampir tak mampu menopang tubuhnya. Tapi ia coba menguatkan hati. Melihat Lucky duduk di belakang meja besar, di kursi kebesarannya. Lucky masih menunduk memeriksa banyak berkas di mejanya.


Agnes berdiri di depan meja Lucky. Menunduk takut dan otak yang penuh tanda tanya apa kesalahan fatal yang pernah ia lakukan. Meremat jemarinya kuat.


"Tuan, ini nona Agnes yang anda maksudkan" ujar beni.


Lucky mendongak. Langsung melihat Agnes di depannya. Lalu menutup berkas yang baru ia periksa. Agnes tidak berani menatap Lucky.


Agnes melirik Lucky dan Beni sejenak. Lalu duduk di kursi depan meja kerja Lucky sambil menunduk dalam.


Lucky dan Beni saling pandang. Mengernyitkan dahi. Tatapannya pada Beni seolah bertanya mengapa Agnes terlihat setakut itu. Beni menggeleng dan mengedikkan bahu.


"Nona Agnes, lihat saya" titah Lucky.


Deg!


Jantung Agnes berdebar kencang. Sungguh dia tak berani melihat Lucky. Pasti suami Sri ini merasa Agnes telah berbuat sesuatu yang tidak baik pada istrinya. Sebelum Lucky memarahinya, lebih baik dia berterus terang saja agar Lucky tidak marah.


"M-ma-af t-tuan. Apa kesalahan saya? S-saya b-b-bersikap baik dengan Sri, tuan. Saya tidak pernah jahat dengannya. T-tolang t-tuan Lucky, jangan pecat saya" Agnes bicara panjang dengan terbata-bata dan menunduk takut.


Lucky dan beni melongo. Saling tatap dengan pandangan lucu. Lucky tersenyum geli melihat Agnes ketakutan. Wajah gadis itu pucat pasi. Dia ketakutan Lucky akan memecatnya.


"Kenapa Anda berpikiran begitu?" tanya Lucky masih tersenyum.


"Maaf, tuan" Agnes semakin gemetar.


"Justru karena saya lihat istri saya dekat dengan anda, makanya anda saya panggil kemari"

__ADS_1


"Hah?" Agnes sontak mendongak melihat Lucky di depannya. "jadi saya tidak di pecat tuan?"


"Tergantung" jawab Lucky tegas.


Yang tadinya sudah lega, kini Agnes terkulai lemas lagi. Tergantung apa?


"M-maksud tuan?"


"Kamu bisa bela diri?"


Agnes menggeleng. Lucky menghela napas.


"Oke, tidak penting. Saya minta, anda terus bersama istri saya. Saya mau anda mengawasi siapa saja yang ada di dekat istri saya. Setelah itu, anda melaporkan apa saja yang terjadi pada Beni, selama anda bersamanya"


"Hah? Maksudnya, saya harus jadi mata-mata? Begitu tuan?" Agnes terperanjat kaget.


"Anggap saja begitu" Lucky menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


"Tapi saya..." Agnes meragu. Yang benar saja lah.. masak iya dia harus jadi mata-mata?


"Tidak berat bukan? hanya melihat dan melaporkan apa saja yang di lakukan istri saya, dan siapa saja yang berinteraksi dengannya. Dan pastikan, tidak ada yang tahu jika dia adalah istri ku. Jaga dia dengan baik. Hanya itu"


Hanya itu? katanya hanya itu.. padahal sama saja Agnes harus menjadi tameng bagi Sri. Dia yang harus berdiri di depan Sri jika ada serangan bibir culas penyebar gosip.


"Kalau saya tidak bisa...?"


"Maka anda di pecat"


Astaga!! ini pemaksaan. Tapi ini Lucky. sang penguasa. Kalau dia menolak, sama saja bunuh diri. Itu artinya, Agnes harus selalu ada di dekat Sri. Dengan kata lain, menjadi pengawal si istri penguasa.


"Bagaimana? gaji anda saya naikkan tiga kali lipat"


Hekh!!!


Agnes mendelik. Dalam otaknya dia menghitung cepat berapa gaji yang akan dia terima setiap bulan. Tapi masalahnya, apa Sri tidak curiga dan marah padanya nanti, jika tahu Agnes memata-matai nya?


"Tapi.. nanti Sri akan marah pada saya tuan" Agnes lemas.


"Itu pekerjaaan mu untuk membuat dia tidak curiga"


Maju salah, mundur pun lebih parah. Dengan berat hati, Agnes mengangguk. Lucky tersenyum.


"Baiklah. Hanya itu. Anda boleh kembali bekerja"


Agnes bangkit dari duduknya. Beranjak ke arah pintu. Masih banyak yang ingin dia tanyakan. Tapi Lucky sudah kembali melihat berkas di mejanya. Agnes mengurungkan niatnya. Itu pengusiran dan tidak bisa di ganggu gugat.

__ADS_1


"Emm.. satu lagi" Lucky mendongak dan menatap Agnes yang sudah di depan pintu. "Tolong katakan pada istri ku, agar dia segera datang kemari"


Agnes mengangguk saja. Dan pergi keluar dari ruang kerja Lucky. Berjalan gontai. Tidak ada yang tahu jika Sri adalah istri dari Presdir mereka saja, sudah banyak gosip beredar. Apalagi tahu, bisa-bisa meledak perusahaan ini karena seluruh dindingnya akan tertempel nama Sri dengan gosip paling hot seantero negeri.


__ADS_2