
Noah memutuskan beristirahat sebelum waktu makan malam tiba. Bibinya menahannya untuk tinggal. Tidak berdaya untuk menolak. Setelah berbincang sejenak dengan pamannya, Noah pergi ke kamar yang telah di sediakan Melani.
Menghempaskan tubuhnya di ranjang. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran menerawang. Hatinya gelisah setiap kali melihat Sri. Cinta yang tidak bisa tersalurkan itu pasti sungguh menyiksa.
"Aarrgghh.. pergilah dari pikiranku, Sri!"
Noah mengusap wajahnya kasar. Bangkit terduduk di ranjang. Tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya terus membayangkan apa yang di lakukan pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta itu di kamar mereka.
Noah merutuki nasipnya yang selalu apes dalam percintaan. Dulu Amira dan sekarang Sri. Sialnya lagi, keduanya jatuh dalam pelukan Lucky kakak sepupunya. Jika dulu Amira terobsesi mendapatkan seorang pria kaya dan pilihannya jatuh pada Lucky, Noah tidak mempermasalahkan itu walau sempat terpuruk di tinggal Amira setelah menjalin hubungan sejak kuliah.
Tap Sri? Noah galau. Baru saja menemukan gadis polos yang membuatnya bisa tersenyum, tapi akhirnya mengetahui bahwa Sri adalah istri dari kakak sepupunya sendiri.
"Sri.. kenapa aku harus jatuh cinta padamu?" keluh Noah. Kembali berbaring di ranjang.
Noah mengingat lagi bagaimana pertama kali dia tahu siapa Sri sebenarnya. Ketika Sri menghilang di pulau. Noah mencarinya ke kondominium tempat Sri menginap. Dan di sana Noah bertemu om Baris. Lelaki tegap setengah baya itu langsung menghubungi Frans.
Noah terhenyak dalam nestapa begitu mengetahui Sri sedang bulan madu bersama kakak sepupunya. Petir menyambar telak di jantungnya. Tak bisa menerima kenyataan jika Sri adalah kakak iparnya sendiri.
Pamannya langsung menghubunginya dan memintanya kembali. Dengan berat hati Noah pulang menemui pamannya. Dan dengan bijaksana papi Frans bisa menyentuh hati Noah untuk mengalah.
"Paman tau apa yang sebenarnya terjadi, No. Om Baris selalu memberi informasi akurat. Tapi paman mohon padamu, mengalah lah. Lucky butuh Sri. Dia harus lepas dari jeratan Amira" Itu yang dikatakan pamannya.
Noah luluh. Itu bukan salah Lucky. Dia sudah menikah dengan Sri lebih dulu. Dan Noah mengenal Sri setelahnya. Pamannya juga yang meminta Noah untuk memasukkan Sri ke dalam perusahaan Bronze group. Pamannya juga yang meminta Noah harus menganggap Sri sebagai adik kecil yang butuh perlindungan.
Tapi semakin Noah mengelak dari Sri, semakin wanita itu merasuki pikirannya. Lugunya, nakalnya, sikap memberontaknya selalu menari dalam benak Noah. Diam-diam menatapi Sri dari jauh. Bersembunyi memandangi wajah ayu iparnya itu.
Noah merasa bersalah. Terbersit untuk segera menikah dengan seorang gadis agar tidak selalu menginginkan Sri. Tapi tidak semudah itu. Noah frustasi. Ingin rasanya pergi jauh meninggalkan kota ini. Tapi Noah lagi-lagi tak berdaya dengan situasi keluarganya.
Noah terlelap dalam lelah. Memimpikan seorang gadis yang bisa mengusir bayang-bayang Sri dari pikirannya.
š
š
š
Makan malam kali ini istimewa. Lucky juga mengundang Richard, Erwin asisten Noah, Rian, om Baris, Agnes dan kedua temannya tidak ketinggalan. Lucky ingin Sri merasa senang. Mengundang teman-teman yang menyangi istrinya dengan tulus. Dan sekalian papi Frans ingin mengadakan rapat nanti setelah makan malam.
Semua wanita berkumpul di ruangan lain. Bercanda dan mengobrol dengan riang. Dila dan Niar terus menerus berdecak kagum pada Sri. Tidak menyangka Sri bisa menyembunyikan hubungannya dengan tuan Lucky selama ini.
"Iihh.. gak nyangka aku, Sri. Kamu itu penuh kejutan!" mata Niar berbinar menatap Sri dengan senyum sumringah.
Sri hanya tergelak melihat Niar. Dila juga tak mau kalah bercerita kehobahan di kantor setelah rombongan tuan Lucky pergi.
"Semua karyawan heboh gitu tau kamu istrinya tuan Lucky lho, Sri. Apalagi Lukman. Haha.. langsung lemas dia"
"Hihihi.. Lukman kena mental mbak Dil" Agnes terkikik geli mengingat bagaimana Lukman pucat pasi begitu mengetahui siapa Sri.
"Eh.. kalain denger gak sih? ceritanya nih ya.. Si Susan langsung sakit lho" Niar menimpali.
"Sakit apa?"
"Sakit jiwa!"
"Hahahaa.."
Mereka tertawa riang. Sri ikut merasakan kegembiraan ketiga temannya. Sampai mami Melani datang menghampiri, mereka masih saja heboh bergosip.
__ADS_1
"Hey.. ladies.. Ayo kita makan malam. Semua sudah siap"
Mereka langsung berhenti tertawa. Segan melihat nyonya rumah datang.
"Eh.. kenapa jadi tegang begitu?" mami Melani tertegun.
"Maaf, nyonya" Dila berdiri dan membungkuk hormat. Diikuti Agnes dan Niar.
"Lho.. kenapa malah minta maaf? aduuhh.. kalian ini. Sudah-sudah.. ayo kita makan malam. Mereka sudah menunggu"
Dengan ramah, mami Melani menarik tangan Dila. Mengajak mereka semua untuk menuju ruang makan. Agnes dan Niar saling pandang. Lalu tersenyum lega mengetahui nyonya rumah sangat ramah dan baik hati.
Di sana sudah menunggu para pria. Sri duduk di samping Lucky. Suaminya menggengam tangan Sri mesra. Noah hanya menunduk pura-pura memeriksa ponselnya.
"Baiklah, semua sudah berkumpul" papi Frans membuka suara. "Saya dan Lucky mengundang anda semua untuk mengucapkan terima kasih. Selama ini sudah membantu menantu saya. Dan sudah mendampingi putra saya. Jadi, malam ini saya ingin menjamu kalian semua"
"Ya. Saya juga berterima kasih buat rekan kerja sekalian. Rich, terima kasih sudah menyediakan konfrensi pers hari ini. Dan Noah.." Lucky berhenti sejenak. Noah menatap Lucky dalam diam. "Terima kasih. Kau adik sepupuku yang paling the best" Lucky mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.
Noah melengos. Bukannya senang, dia malah jengah mendengar apa yang dikatakan Lucky tadi. Itu sanjungan. Tapi juga sekaligus membuka penyamarannya pada staf bawahannya. Agnes, Niar dan Dila sampai tersentak kaget mendengar Noah adalah adik sepupu Lucky.
"Kau berlebihan sekali" gumam Noah.
"Sudah-sudah. Ayo semua. Silahkan di nikmati hidangannya ya.. " Melani menengahi.
Lucky terkekeh senang me Lo ihat wajah jengah Noah. Entah kenapa Lucky sangat suka menggoda Noah. Itu kesenangan tersendiri baginya.
Mereka makan dengan sesekali mengobrol. Richard terlihat sangat sopan malam ini. Hanya menjawab sesekali apa yang ditanyakan papi Frans. Tampak cool sekali. Niar curi-curi pandang ke arahnya. Sementara Agnes, matanya tak lepas dari Noah. Menatap penuh binar semangat membara.
"Sayang, mau yang ini?" tanya Lucky pada Sri. Menunjuk daging.
Sri mengangguk. Lucky mengambil daging dan meletakkan di piring Sri. Sesekali menyuapkan makanan pada Sri. Membuat yang melihat itu merasa iri sampai baper. Noah menulikan telinganya mendengar itu semua. Menganggap matanya rusak dan tidak bisa melihat adegan mesra itu. Lucky melirik Noah lalu terkekeh geli.
"Nyonya Melani baik banget ya, Sri. Beruntung banget kamu punya ibu mertua yang baik gitu" Dila memuji kebaikan Melani.
"Iya mbak Nes. Mami baik banget mbak" jawab Sri tersenyum.
"Udah cantik, baik, kaya, ramah lagi" Niar menimpali.
"Aku juga pingin deh punya mertua kayak nyonya Melani" Agnes menerawang membayangkan punya mertua baik.
"Huuu.. mimpi kamu Nes" Niar mendorong bahu Agnes.
"Ya boleh dong aku mimpi" Agnes membela diri.
"Iya mbak Nes. Boleh. Kan mau jadi istri pak Noah. Entar mami juga jadi mertua mabk Nes lah.. hihihii.." Sri terkikik.
"Eh.. tapi beneran ya, Sri? pak Noah itu sepupu tuan Lucky?" Niar bertanya dengan semangat.
"He'em" Sri mengangguk enteng.
"Kok pak Noah namanya gak pake Albronze, ya?" Dila juga ikut penasaran.
"Sengaja katanya mbak. Pak Noah Ndak mau orang tau"
"Iihhh.. gemes deh sama pak Noah itu. Baik hati bangeeett" Agnes mengguncang badannya dengan gemas seakan memeluk Noah erat.
"Ehem"
__ADS_1
Mereka menoleh mendengar deheman. Tampak Lucky, Noah dan Rian sudah datang. Serempak Dila, Agnes dan Niar bergeser agak menjauhi Sri. Menunduk hormat dan membiarkan Lucky mendekati istrinya.
Noah duduk agak mundur dari mereka. Rian langsung duduk di samping Agnes. Pemuda itu terlihat bergaya lebih selengekan.
"Sudah selesai, mas?" tanya Sri pada suaminya. Lucky tersenyum menatap Sri lalu mengecup keningnya.
"Sudah"
"Tuan Richard, mana?" tanya Sri lagi sambil melihat ke arah pintu.
"Sudah pulang"
Lucky merangkul pundak Sri. Merapatkan tubuh Sri lebih menempel padanya. Malam ini Lucky bersikap santai. Tidak seperti biasanya ketika di kantor. Dingin dan berwibawa. Malam ini Lucky memberi kelonggaran pada staf bawahannya untuk bisa merasakan juga kebahagiaan yang dia rasakan.
Tapi siapa yang bisa merasakan santai jika di depan Lucky? Itu adalah jauh panggang dari api. Berdekatan dengan Noah saja mereka tidak berani, apalagi dengan Presdir? bisa kaku karena takut dan segan.
Sri bisa merasakan kecanggungan itu. Segera mempersilahkan teman-temannya untuk mencicipi cemilan.
"Mbak Dil, ayo di cicipi cemilannya mbak"
"Kalian santai saja. Saya tidak mengigit" kelakar Lucky menatap mereka.
Ketiganya hanya cengengesan dengan canggung tingkat dewa. Lucky sampai terkekeh melihat itu. Noah hanya diam dan sibuk memainkan gawainya.
"Iya, Nes. Ayo makan ini" Rian mencomot sepotong kue kering. Memakannya tanpa takut pada Lucky. Toh dia sudah pernah bertarung dengan Lucky untuk mendapatkan Sri. Walaupun kalah! š
Lucky juga mengambil cemilan di piring. Menyodorkannya ke depan Sri. Begitu Sri mau mengambil dari tangan Lucky, tapi Lucky menariknya menjauh.
"Buka mulutnya, sayang" pinta Lucky.
"Eh?" Sri tercekat. Canggung di perhatikan temannya.
"Ayo, buka mulutnya" pinta Lucky lagi.
Terpaksa Sri menuruti. Membuka mulutnya dan Lucky menyuapi cemilan ke mulut Sri. Tak berhenti hanya di situ. Jari Lucky berhenti di bibir Sri lalu mengusapnya pelan.
"Manis" gumamnya seakan pada dirinya sendiri.
Hekhh!!
Ketiga temannya menegang menyaksikan kemesraan itu. Di depan mereka tuan Presdir seakan memamerkan betapa mesranya mereka berdua. Bulu kuduk Agnes merinding. Dila melongo dengan mata terbuka. Sementara Niar dan Rian tebengong. Noah yang geleng-geleng kepala.
"Nes" Rian menyolek tangan Agnes.
"Hem?" Agnes menjawab tanpa menoleh pada Rian.
"Buka mulut mu"
Agnes membuka mulutnya tanpa dia sadari. Rian segera memasukkan cemilan kemulut Agnes. Membuat gadis itu kaget sampai terbatuk.
"Uhukk... uhukk... Apaan sih kamu Rian?" Agnes melotot menoleh ke arah Rian denga. kaget.
"Biar sama kayak gitu" Rian mengedikkan dagunya menunjuk Lucky dan Sri. Agnes ingin perotes. Tapi Rian segera bertindak.
"Ssstttthh.."
Tiba-tiba Rian meletakkan jari telunjuknya di bibir Agnes. Membuat Agnes mengatupkan bibirnya semakin tegang dengan mata melotot. Rian memperhatikan bibir Agnes lamat. Seakan membaca sesuatu disana. Semua orang melihat mereka berdua penasaran. Dan tiba-tiba saja Rian berkata yang membuat jantung Agnes mencelos.
__ADS_1
"Bibir ini cerewet! pahit!'