
Sri mendekati Oma dan langsung nenek tua itu memeluknya erat. Tulang punggungnya sudah sedikit melengkung bungkuk. Berjalan pun sudah di bantu dengan tongkat. Tapi masih saja berjiwa muda. Ceria sekali menyambut pelukan Sri.
"Ternyata salah. Lani bilang kau sangat cantik. Tapi ternyata tidak. Hidung mu pesek" ujar Oma begitu pelukan mereka terurai.
Sri terkesiap mendengar perkataan Oma yang menurutnya sangat menohok. Ucapannya menyatakan kekecewaan. Tapi wajahnya masih tetap berbinar.
"Khekheeheee..."
Hah?! nenek tua ini masih terkekeh setelah mengejekku?
Sri melirik Lucky yang masih mengatur napasnya karena lelah berlari menghindari angsa-angsa tadi. Tapi Lucky tidak memperhatikannya.
"Hkeehkeeeehee.. Tidak usah meminta bantuan anak nakal itu" Oma melirik Lucky di bekangnya. Lalu menatap Sri lagi. "Aku bercanda. Kau manis sekali. Lani tidak salah memilih mantu"
Suara tua itu menjelaskan. Wajah Sri bersemu malu sudah berpikir jelek pada Oma.
"Terima kasih Oma"
"Ayo.. ayo.. bantu aku masuk kedalam"
Oma menarik tangan Sri untuk memapahnya berjalan. Tertatih melangkah dengan kaki tuanya.
"Sayang, biar aku saja" tiba-tiba Lucky sudah berada di samping Sri. Ikut memegangi tangan Oma.
"Haaiisshh.. Lepaskan tangan mu!" seru Oma memukul tangan Lucky sampai terlepas. "Biar istri mu yang membantuku"
"Oma, Oma berjalan lambat sekali. Dari pada capek, lebih baik aku gendong"
Tak menghiraukan ocehan Omanya, Lucky langsung saja mengangkat Oma dalam gendongannya layaknya gaya bridal style. Membuat Oma terpekik kaget.
"Astaga! kau kuat sekali Lucky!"
Lucky hanya tersenyum menatap Oma dengan menaik turunkan alisnya. Membuat Sri geleng-geleng kepala dan tertawa melihat Oma memukuli lengan Lucky karena kaget.
Mereka masuk kedalam rumah. Sri tampak takjub melihat isi rumah Oma. Dari luar biasa saja. Tapi begitu masuk, suasananya langsung terasa sangat berbeda.
Rumahnya memang model pedesaan. Tapi dalamnya, hmm.. semuanya prabotan berkelas. Ada juga perabotan dari kayu jati. Semua tertata apik. Sri sampai terbengong melihat isi dalam rumah.
"Kenapa Oma sendirian? Mana Nirah?" Lucky meletakkan tubuh tua Oma di sofa empuk. Lalu duduk di sebelahnya.
"Masih pergi ke kebun mengantar makanan"
"Kenapa tidak ada yang tinggal? yang lain kemana?"
"Jangan terlalu cerewet Luck. Oma masih bisa berjalan sendiri" Oma cemberut.
__ADS_1
"Iya Oma, aku tau Oma bisa jalan. Tapi jalan Oma seperti siput. Kalau Oma jatuh gimana? Nanti aku yang repot harus menggendong Oma setiap hari"
"Oohh.. jadi kau keberatan kalau harus mengurus ku?" Oma mendelik marah.
"Hehehe.. tidak cinta kuuuu... Cucumu ini masih sanggup menggendong Oma sampai seratus tahun non-stop" Lucky mencolek pipi keriput Oma yang sudah menggelambir.
Oma tersenyum senang mendengar gombalan cucunya. Menyentuh pipi Lucky dengan sayang. Lalu mengecup dahi cucu tersayangnya.
Lucky bangkit dan menghampiri Sri yang sudah duduk di seberang mereka. Duduk di sampingnya sambil merangkul pundak Sri dan mengecup pipinya.
"Oma, dia Sri istri ku. Bagaimana? Oma suka kan?"
"Ya, Oma suka. Istrimu manis sekali" Oma tersenyum lebar menampilkan gusi tanpa giginya. Membuat Sri hampir tertawa ngakak. Oma terlihat lucu sekali.
"Assalamualaikum" Nirah datang bersama seorang gadis.
"Wa alaikumsalam"
"Eh.. Tuan Lucky datang" Mereka berdua membungkuk dan mengangguk hormat. Melihat ke arah Sri juga. Dan Sri Membalas anggukan itu dan tersenyum.
"Sudah selesai?" tanya Lucky menatap Nirah.
"Sudah tuan. Tapi pak Edi masih di sana" jawab Nirah.
Nirah yang bekerja di rumah Oma. Dia bersama putrinya Susi, di tugaskan mengurus Oma dan segala keperluannya. Sedangkan suaminya yang mengurus kebun milik Oma.
"Iya nyonya"
Nirah mengangguk hormat lalu melangkah ke arah dapur bersama Susi.
❤️
❤️
❤️
Setelah makan siang, Lucky memilih beristirahat di kamar. Melepas lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh tadi. Lucky memang lebih suka menyetir mobilnya sendiri. Tidak suka jika asistennya mengikuti terus kemanapun dia pergi.
Lucky lebih memilih privasinya tidak terlalu diketahui orang luar. Walaupun tetap saja Beni tahu segalanya. Tapi dia lebih nyaman tanpa mata Beni selalu mengawasinya.
Sri tidak bisa tidur. Duduk menemani Oma di beranda samping. Oma duduk di kursi goyangnya, dan Sri duduk tak jauh darinya.
"Oma kenapa tidak tinggal di mansion saja sama mami?" Sri mengupas buah salak dan memakannya sambil menatap Oma.
"Oma lebih suka di sini" jawab Oma.
__ADS_1
"Iya Oma. Disini seperti di kampung Sri. Indah. Banyak sawah" Sri mengalihkan pandangannya menatap petakan sawah.
"Oma sudah cukup senang melihat kalian bahagia. Suamimu tidak nakal kan?"
Sri mengernyitkan dahi. Agak tidak mengerti apa yang di maksud 'nakal" yang di katakan Oma.
"Lucky itu nakal. Dulu, kalau sudah main dia selalu menghajar temannya?"
Sri membulatkan matanya. Benarkah Lucky senakal itu?
"Tapi dia sangat menyayangi putriku. Lani itu terlalu memanjakannya" Oma diam sejenak. Matanya menerawang jauh mengingat kenangan masa kecil Lucky.
"Lani sangat takut kehilangan Lucky. Itu karena kejadian waktu dia melahirkan Lucky. Hampir saja anak itu pergi. Tapi syukur ada ayahmu" Oma menatap Sri dan tersenyum hangat.
"Paknenya Sri cuma mbantu, Oma"
Oma masih mengembangkan senyumnya. "Aku tidak sempat mengucapkan terima kasih padanya, Sri. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikannya pada cucu ku"
Sri mengangguk. Memperhatikan Oma makan buah salak. Melihat Oma mengunyah di mulutnya yang tanpa gigi itu sangat lucu. Salak itu seperti bola yang terombang-ambing kesana kemari seperti pemain bola yang sibuk mengoper dan berkelit dari lawan. Sri sampai terkikik geli.
"Hehee.. benginilah kalau sudah tua, Sri. Makan apapun seperti makan batu. Ahggrr.. cuiihh.."
Dengan kesal Oma membuang salak dari mulutnya. Sri tertawa renyah melihat itu.
"Sri"
"Ya Oma"
"Kamu sudah isi?"
Sri tertegun. Isi? Isi apa maksud Oma?
"Sudah telat?" Oma bertanya lagi.
"Telat kemana, Oma?"
"Hehehe.. kamu ini" Oma terkekeh. "Maksud Oma.. kamu sudah hamil? Sudah ada tanda-tandanya tidak?"
Sri diam. Hamil? tidak pernah terpikir olehnya soal itu. Yang ia tahu, dia masih dapat tamu bulanan. Eh.. tapi...
"Belum ya?" tanya Oma lagi.
"Eh.. emm.. Ndak tau Oma" Sri menggeleng seperti linglung.
"Hehe.. ya sudah tidak apa-apa. Kalau rejeki tidak kemana" ujar Oma akhirnya.
__ADS_1
Dia tahu pertanyaan itu sangatlah sensitif. Oma tidak mau membuat Sri merasa tak nyaman dengan pertanyaannya. Mungkin gadis itu belum tahu seperti apa tanda-tanda kehamilan.
Sri memang jadi merasa resah dengan pertanyaan Oma barusan. Bagaimana tanda-tanda kehamilan? berhenti datang bulan kan? Tapi seingat Sri, dia masih datang bulan di bulan terakhir. Masih menjalani bulan ini. Dan belum tepat tanggal menstruasinya. Sri pikir, itu masih sepuluh hari lagi.