OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Masalah Dan Gosip Panas


__ADS_3

Sri duduk di sofa depan televisi. Memikirkan kenapa pria asing yang tidak dia kenal itu selalu berada di dekatnya. Dan sesekali melirik dan memperhatikan gerak-geriknya. Sri memegang dadanya dan menarik napas panjang untuk menetralisir debaran jantungnya karena cemas.


Ada sedikit rasa takut yang menyelimutinya. Tidak tahu siapa saja musuh Lucky yang berkeliaran di luar sana. Sri juga harus waspada. Melirik pintu kaca balkon yang masih terbuka lebar. Beranjak menutupnya agar tidak ada yang bisa mengintai ke dalam kamar.


Memeriksa ponselnya sejenak. Melihat jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Tapi Lucky belum datang juga. Sri mulai di rundung rasa gelisah. Rasanya sudah terlalu lama Lucky keluar. Tapi sampai sekarang belum datang juga.


Mencoba mengirim pesan pada Lucky. Bertanya dia sekarang sedang berada di mana. Tapi setelah menunggu sampai lima belas menit, pesannya belum terbalas. Dan Lucky sama sekali tidak membuka pesannya.


Sri bingung harus berbuat apa. Tidak ada kabar dari Lucky. Dan dia hanya sendiri di kamar hotel. Apalagi ada seorang lelaki yang terlihat seperti menguntitnya.


Drrttt.. Drrttt..


Ponsel Sri bergetar kencang. Sri segera meraihnya dari meja. Melihat Lucky menghubunginya, segera Sri menjawab.


"Mase!"


"Sri, tetaplah di kamar. Jangan keluar lagi"


Suara Lucky terdengar serius dan tegas. Itu perintah. Sri sampai terpaku bingung. Tiba-tiba saja Lucky memerintahkan untuk tetap di dalam kamar. Dan darimana Lucky tahu kalau dia sudah kembali ke kamar?


"Tapi, kenapa mas?"


"Turuti saja. Aku akan segera kembali"


Tut..Tut.. tutt..


Suara nyaring nada putus memekakkan telinga. Lucky memutuskan panggilan telepon. Sri menjauhkan ponselnya dari telinganya. Menatapi layar ponselnya bingung. Tidak mengerti apa yang terjadi.


Tapi mengingat suara Lucky yang terdengar sangat tegas tadi, Sri yakin sudah terjadi sesuatu yang tidak baik. Sri kembali memeriksa pintu dan gorden jendela. Menutupnya rapat. Rasa cemas semakin melanda.


Rasa laparnya sudah lenyap. Sri duduk sendirian di sofa, sambil memeriksa ponselnya. Tidak ada apapun yang bisa menjadi petunjuk disana. Pesan Lucky dan Beni seakan membeku. Entah dimana mereka berdua.


Iseng Sri membuka YouTube. Dan betapa terkejutnya Sri melihat thumbnail dan judul di banyak video tranding topik hari ini. Denga mata terbelalak lebar, Sri mengecek banyak video yang menanyangkan gosip perselingkuhan antara Lucky sebagai pacar amira, dan dirinya sebagai pelakor. Ada Lucky dan foto dirinya juga.

__ADS_1


"Ya ampun Gusti.. Kok iso?" gumam Sri lemas.


Sri terhenyak kaget. Bagaimana media online bisa mendapat banyak fotonya dan Lucky? Melihat judul berita yang menyajikan clickbait yang tidak sesuai dengan fakta.


Dan yang lebih mengerikan lagi, Sri di anggap sebagai pelakor! Rasanya sesak di dada. Ingin menangis saja. Menonton Amira di wawancara banyak pemburu berita, mengatakan kalau dia di selingkuhi oleh Lucky.


Sri mengambil remote televisi. Memencetnya dan televisi segera menyala. Sri mencari acara infotainment yang banyak bertebaran di banyak media televisi. Dan benar saja. Gosip panas tersaji di sana. Semua pemberitaan gosip sedang panas-panasnya membicarakan tentang persingkuhan Lucky dan Sri.


Merinding bulu Roma Sri mendengar pengakuan Amira yang tidak sesuai dengan kenyataan. Gadis itu tampak sedih dan terisak sambil bicara.


"Saya sedih banget. Tega Lucky berbuat itu di belakang saya. Hiks.."


Ingin rasanya melempar remote di tangannya ke arah televisi yang menampilkan wajah Amira yang penuh kepalsuan itu. Bukannya urusannya sudah selesai? kenapa kini Amira menebar gosip yang sangat omong kosong itu?


Ceklek!


Hendel pintu terputar. Sri terperanjat kaget. Matanya melotot melihat ke arah pintu dengan was-was. Berdiri waspada sambil memegang remot dengan kencang untuk berjaga-jaga. Tidak ada senjata lain yang bisa di gunakan. Menaikkan remot untuk melempar penyusup yang masuk.


Jantungnya berdegup kencang. Keringat panik mulai menyebar. Lututnya gemetar. Tapi sebisa mungkin Sri bertahan.


Ceklek!


BRAK!!


"Awwhh!!"


"Astaga! Mase!!"


Sri terpekik kaget. Remot itu tepat terlempar mengenai kepala Lucky, dan lanjut ke dinding di samping pintu. Jatuh tergeletak di lantai dengan retak di sana sini saking kencangnya lemparan Sri.


Lucky memegangi kepalanya dan memicingkan matanya menatap Sri. Sri panik mendekati Lucky yang kesakitan.


"Aduh.. maaf Mase. Sri kira ada penyusup masuk, mas. Maaf ya mas.." Sri memegangi lengan Lucky. Berjinjit memeriksa kepala suaminya.

__ADS_1


Lucky hanya mendengus kesal. Mengusap-usap dekat keningnya yang benjol. Kepalanya benjol akibat ulah Sri saking paniknya. Sri merasa bersalah dengan kejadian ini. Tapi itu hanya caranya membela diri.


Sri melirik ke arah pintu. Ada Beni di sana sedang berbicara dengan beberapa pria. Tampak sangat serius. Tapi Sri tidak menghiraukannya. Lebih mencemaskan kepala Lucky.


"Mas, benjol itu mas" Sri semakin panik. Melihat benjolan yang memerah di kepala Lucky.


"Sudah. Tidak apa-apa"


Lucky menepis tangan Sri pelan. Melihat ke arah televisi yang masih menyala. Beranjak menuju kesana. Beni masuk dengan seorang pria yang berpakaian hitam. Tubuhnya lumayan tegap. Sepertinya Lucky membawa pengawal.


Sri mengikuti Lucky yang sudah duduk di depan televisi. Menyaksikan acara infotainment yang sedang membicarakan tentang dirinya. Sri berdiri di samping lucky. Juga menatap ke arah televisi.


"Hhh.. sampah! dia berbohong" desis Lucky benci.


Beni berdiri tak jauh dari mereka. Melihat berita infotainment dengan tatapan datar. Lucky berdiri dan menatap Sri. Mendekat lalu meraih tangan Sri.


"Ayo, Sri. Bersiaplah. Kita pulang" Ujar Lucky tegas.


Sri melihat wajah muram itu. Lucky terlihat dingin. Raut kejam terpancar jelas. Sri tidak tahan jika tidak bertanya. Sri menarik lengan Lucky.


"Mase. Ada apa?"


Lucky berhenti. Berbalik menatap Sri. Tatapan membunuh itu berangsur pudar. Berganti tatapan hangat dan mendekat pada Sri. Mengelus pipi istrinya dan berbisik.


"Ada masalah. Kita harus segera pulang"


"T-tapi, Masalah apa mas? Tadi ada orang yang seperti mengikuti Sri. Sri takut Mase" suara Sri bergetar ingin menangis.


"Sudah, tidak apa-apa" Lucky memeluk istrinya. "Kamu aman bersamaku. Jangan takut" Mengurai pelukannya dan meraih dagu Sri. Menatap netra sendu yang berkaca-kaca itu.


"Ada masalah di kantor ku. Kita harus segera pulang. Jangan takut. Hmm?" Lucky tersenyum kecil mengusap pipi istrinya.


Sri mengangguk mengiyakan. Segera mereka bersiap untuk pulang. Sri harus kuat. Suaminya lagi menghadapi banyak masalah. Apalagi celotehan Amira yang mengada-ada. Lucky jadi semakin murung dan marah.

__ADS_1


Keluar dari kamar hotel dengan di kawal beberapa pengawal. Penjagaan ketat untuk Sri dan Lucky. Sri menggandeng lengan Lucky erat. Dan Lucky bersikap waspada untuk melindungi istrinya.


__ADS_2