
Setelah mereka makan siang, Lucky memutuskan untuk beristirahat. Kurang tidur tadi malam membuat kantuk menyerangnya setelah kenyang. Setelah Lucky terlelap, Sri keluar dari kamar. Mencari Agnes tapi tidak menemukannya.
"Bune, mbak Agnes kemana ya?" tanya Sri pada ibunya di halaman depan. Warti sedang menjemur emping yang di beli dari pengepul tadi pagi.
"Di belakang kayaknya nduk. Sama Iyan."
Sri segera pergi ke halaman belakang. Dan benar saja. Agnes sedang berada di kolam lele di bagian paling ujung halaman belakang rumah bersama Rian. Mancing berdua.
Melihat mereka berdua sangat serius memancing sambil sesekali bersenda gurau, Sri tak mau mengganggu. Sri melangkah keteras belakang rumah. Kebetulan Noah di sana sedang fokus dengan gawainya. Sri mendekat.
"Pak Noah lagi apa?"
Noah mendongak menatap Sri. Lalu tersenyum kecil.
"Tidak ada. Hanya memeriksa kerjaan sedikit"
Sri duduk di kursi di samping Noah. Ada meja kecil di antara mereka. Noah menatap Sri lekat. Tapi Sri menatap ke arah Agnes dan Rian.
"Bahagia ya pak, punya teman seperti mereka berdua. Selalu ceria. Ndak ngambekan" ujar Sri masih tak lepas melihat Agnes dan Rian.
Noah mengalihkan pandangannya. Kini mereka berdua sama-sama melihat ke arah yang sama. Noah tersenyum.
"Ya. Kamu benar. Mereka teman yang baik."
"Menurut pak Noah, mbak Agnes gimana?" Sri menatap Noah. Ingin tahu apa yang di rasakan pria ini tentang Agnes.
Noah diam sejenak. Tidak langsung menjawab pertanyaan Sri. "Agnes.. Baik. Periang" lalu Noah menoleh membalas menatap Sri. Tatapan mereka bertemu. "Bagaimana menurutmu?"
"Mbak Agnes suka sama pak Noah. Apa pak Noah ndak ngerasa, gitu?" Sri langsung to the point.
Noah tertawa renyah. Memalingkan pandangannya lagi. Terkekeh geli.
"Lho? Malah ngguyu.. Piye pak?" Tuntut Sri. Noah menghentikan tawanya. Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Masalah hati, tidak bisa di paksakan, Sri."
"Ah.. Pak Noah ndak asik!" Sri merengut kesal.
"Haha.. Menurut kamu, yang asik itu gimana sih?"
"Ya terima aja pak. Lagian mbak Agnes kan cantik. Bapak Ndak suka apa, lihat rambut mbak anges yang bisa ngeper itu? Kan asik pak. Kalo pak Noah jadian sama mbak Agnes, bapak bisa narikin rambutnya."
"Hahahaa.. Ada-ada aja kamu, Sri" Noah tergelak.
"Tapi beneran lho pak. Mbak Agnes suka banget sama bapak. Harus bapak pertimbangkan itu"
Noah diam saja. Sri tidak tahu, jantung Noah berdegup kencang karena dekat dengannya. Noah menyembunyikan mati-matian. Takut Sri menyadari kegugupannya.
"Lucky, mana?" Noah mencoba mengalihkan perhatian Sri.
__ADS_1
"Mase tidur."
"Kok kamu malah di sini? kamu juga butuh istirahat."
"Iissh.. Pak Noah ndak suka ya, Sri nemenin bapak di sini?" Sri tersinggung.
"Eh.. Bukan begitu. Kamu butuh istirahat. Biar kehamilanmu sehat." buru-buru Noah meralat kata-katanya.
"Males ah.. Sri masih ngambek sama Mase!" omel Sri kesal.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Noah mengernyitkan dahi.
"Pak Noah beneran ndak tau, apa cuma pura-pura?" Sri menatap netra Noah dengan berani. Noah hanya tersenyum saja. "Udah tau Mase beneran salah 'kan? Masak dia udah tau Sri isi, eh.. Malah sandiwara melulu! Pak Noah juga sama kan? Suka sandiwara"
"Itu demi kebaikan kamu, Sri"
"Iya.. Emang. Tapi tetep aja ndak mikirin gimana kalo terjadi apa-apa sama janinnya Sri, pak?" Sri ngotot.
"Sri" Noah mengubah posisi duduknya. Miring menghadap Sri langsung. "Kamu beruntung punya Lucky. Dia sangat mencintai kamu. Yah.. Walaupun di awal kalian terhalang oleh Amira. Tapi percayalah, Lucky sungguh cinta kamu" Noah meyakinkan Sri.
Hati Sri tersentuh mendengar itu. Tatapannya yang tadi judes, kini meredup. Dia tahu Lucky sudah mencintainya. Tapi dia hanya kesal kenapa Lucky tidak memikirkan janin di dalam kandungannya.
"Kamu tau, Sri? Ketika hari pertama kamu pulang, Lucky mengalami ngidam. Dia muntah-muntah hebat. Sampai menggigil kedinginan. Dokter bilang, dia terkena sindrom kehamilan simpatik. Itu karena dia terlalu banyak memikirkan kamu dan bayi kalian."
"Beneran pak?" mata Sri berbinar mendengar itu.
"He'em"
"Lucky mengalami ngidam juga, Sri. Hidungnya jadi sensitif. Tidak suka bau yang menyengat, trus minta makanan yang jarang sekali dia makan. Dan parahnya, dia makan pasti sambil menangis karena rindu kamu"
"Hikss.. Hikss.. Bener tah pak?"
"Eh.. Kok malah nangis Sri?" Noah terperanjat kaget melihat Sri menangis haru.
"Sri ndak tau Mase ngidam juga, pak. Hikss.. Hikss.. Mase ndak cerita" Sri tersengguk dan mengusap air matanya.
Noah tersenyum. Kakak ipar kecilnya ini hanya terharu mendengar cerita suaminya sebucin itu.
"Ya sudah... Makanya jangan ngambek lagi. Kakak ku itu bucin banget sama kamu" Noah menepuk-nepuk bahu Sri.
"Eeheemmm!!"
Eh!!
Mereka berdua tersentak kaget. Menoleh melihat dari mana asal deheman keras itu. Ternyata Rian dan Agnes sudah berdiri di depan teras belakang rumah.
"Pak Noah, apa belum cukup merebut Agnes dari aku? Sekarang mau istrinya tuan Lucky juga?" Rian menatap marah pada Rian.
"Rian! Apaan sih kamu?" Noah tersentak mendengar apa yang di katakan Rian. "Merebut apa maksudmu?"
__ADS_1
"Lah itu.. Pake pegang-pegang Sri segala" Rian mengedikkan kepalanya menunjuk bahu Sri.
"Opo toh kak. Ngawur sampean" Sri melotot pada Rian.
"Tau nih si Rian. Da korsleting otaknya" Agnes ikut mengomel.
Rian dan Agnes ikut bergabung. Tapi karena kursi hanya ada dua, mereka berdua duduk di lantai. Rian duduk berselonjor kaki.
"Pak Noah, tau tidak?" Rian menatap Noah.
"Apa?" Noah menaikkan dagunya.
"Saya tuh pernah pak, melipat-lipat paman saya, trus saya masukkan ke dalam ransel!"
"Hah?! yang bener kamu, Yan?" Agnes terlonjak kaget.
"Iya, Nes!" Rian tampak sangat bersemangat. Dia bermaksud menyindir Noah.
"Maksute piye toh kak?" Sri juga penasaran.
"Yo ngene iki, Sri. Emmmp.. Emmpp.. Ngene.. Tak lipet-lipet.. Trus tak lebokke nang tas ku!"
Rian bersemangat menirukan melipat kain dengan gerakan tangan menekuk-nekuk suatu benda di udara.
"Maksudnya apa sih? Kamu lipat, trus kamu masukkan di tas? Gitu?" Agnes mengulangi pertanyaannya.
"Iya, Nes!"
"Tapi kenapa?" Agnes merentangkan tangannya saking jengkelnya. Tidak mengerti apa maksudnya Rian.
"Jengkel aku, paman ku itu selingkuh! Suka bener sama cewek-cewek. Ya tak lipet tak masukkan ke tas!"
Rian bicara sambil melirik Noah sinis. Menunjukkan kalau dia juga akan melipat Noah jika berani merebut Agnes atau Sri. Sekarang logatnya sudah sangat kental seperti bicara dengan orang sekampungnya. Saking kesalnya, Rian lupa kalau Noah itu masih atasannya.
"Kok bisa sih, orang kamu lipat kayak kertas?" Agnes menggebuk lengan Rian kesal.
"Ya bisa, Nes. Itu akibatnya kalau suka ngambil cewek orang lain" jawab Rian pongah.
Noah hanya terkekeh geli. Dia tahu apa maksud Rian. Pemuda itu hanya takut dan tidak terima kalau gadis-gadis selalu melirik Noah penuh minat. Apalagi terang-terangan kalau Agnes gadis yang Rian taksir malah sebenarnya suka pada Noah.
"Rian." panggil Noah. Rian menatap Noah dengan berani. "Sebenarnya, paman kamu itu kertas, apa baju? Enak banget melipatnya?"
"Bukan pak"
"Lalu?"
"Tetris pak!"
Hah?! š¤š³šØš®ššš
__ADS_1
Mendelik ya mendelik dah lu.. Inilah absurdnya Rian. Otakmu semplak Riiaaann..