
Sri diam menatap Amira Lamat. Amira meremas tangan Sri sambil menatap netra gadis itu. Saling tatap beberapa saat, lalu Amira melepaskannya. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Kamu sudah lihat apa yang terjadi di apartemen bukan? Kau lihat betapa Lucky masih mencintai ku, Sri" sambung Amira lagi.
Sri menaikkan sebelah alisnya. Tak percaya Amira masih bisa berbohong.
"Lucky bersamamu, hanya sekedar menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami. Apa kau tidak merasakan itu Sri?"
"Mbak Amira berpikir seperti itu?" Sri balik bertanya.
"Bukan aku. Tapi Lucky mengatakan itu pada ku. Itu hanya sekedar tanggung jawab. Dia bilang masih mencintai ku"
"Oohh.." Sri manggut-manggut.
Amira mengernyitkan alisnya. Menatap Sri di depannya. Amira agak heran melihat reaksi Sri setelah mendengar apa yang dia katakan tentang isi hati Lucky. Tenang sekali dia?
"Bagaimana menurut mu, Sri?" tanya Amira.
"Hmmm... sejauh ini, Mase Ndak pernah bilang begitu ke Sri, mbak. Malah Mase mesra banget sama Sri, gitu. Jadi Sri ndak bisa ninggalin Mase kayaknya"
Ada kilatan marah di mata Amira. Tapi dia masih meredam sebisanya. Tanpa dia kira, ternyata gadis kampung ini susah juga di pengaruhi.
"Apa kamu tega membuat hubungan kami jadi terhalang karena kamu? kamu itu sadar tidak, kamu itu penghalang antara aku dan Lucky, Sri" Amira mulai tak sabar.
Sri tersenyum miris mendengar apa yang di ucapkan Amira. Dengan tenang, Sri meraih minuman di hadapannya. Menyesapnya sedikit. Lalu meletakkan lagi di meja. Mencecep di bibirnya rasa yang masih tertinggal. Sikap cuek Sri itu semakin membuat Amira dongkol.
"Hmmm.. minumannya lumayan. Lembut. Tapi Ndak sebanding dengan permintaan mbake sama saya. Hehe.." Kalimat sarkas itu terlontar begitu saja dari bibir Sri.
Amira menggegat rahangnya keras. Sangat jengkel melihat tingkah cuek yang di tunjukkan Sri.
"Seharusnya, ucapan mbake tadi itu cocoknya tertuju sama mbake dewe lho. Mbak Amira gak sadar apa, kalo mbake itu sebenarnya yang jadi penghalang rumah tangga Sri sama Mase. Gimana toh mbak?"
Amira mendengus kesal. Dia berpikir, gadis kampungan ini sudah sangat keterlaluan sekali. Sudah berani menunjukkan taring di depannya.
"Kalian berdua menikah bukan karena saling mencintai, Sri. Kalau kamu meninggalkan Lucky, kamu bisa mendapatkan hartanya. Itu yang di katakan papi Frans bukan?"
"Lho? bener tah mbak?" Sri seakan terkejut mendengar itu.
"Kau bisa miliki harta Lucky. Tapi tolong, lepaskan dia" Amira mencondongkan tubuhnya ke depan. "Pergi lah dari hidupnya. Bawa apa saja yang kau mau"
Bukannya menggubris omongan Amira, Sri malah terkekeh melihat Amira memohon padanya.
"Sebenarnya Sri iku kasihan lihat mbake ngene Lo.. mbak Amira ini apa Ndak malu ya? meminta seorang istri meninggalkan bojo ne. Iku dosa lho mbaaak..."
Amira meradang. Amarahnya sudah tidak bisa di sembunyikan lagi. Menatap Sri penuh kebencian.
"Kamu yang tidak tau malu. Kamu merebut Lucky dari ku. Apa ini yang di ajarkan orang tua mu? hhh.. tidak sopan!"
Mulut Sri terkatup rapat mendengar itu. Tadinya dia masih menarik ulur kemauan Amira. Tapi mendengar orang tuanya di sebut dan di ikut sertakan, Sri juga meradang. Orang tuanya tidak bersalah. Kenapa harus di bawa-bawa? Senyum manis hilang seketika dari bibirnya.
"Jangan bawa-bawa orang tua saya" desis Sri marah.
"Kenapa? bukannya orang tuamu yang menjodohkan mu dengan Lucky? Pasti lah mereka bilang kau harus bisa merebut Lucky agar bisa menguasai hartanya" Amira menatap Sri sinis.
Sri menyipitkan matanya. Menatap Amira penuh kemarahan. Tapi sebisa mungkin Sri menahan tidak berkata kotor.
"Ckckck.. kasihan kamu mbak. Kalo orang tuane Sri ngajarin begitu, bagaimana dengan orang tua mbake? apa mereka ngajarin mbake untuk jadi pelakor? Merebut suami orang yang sudah sah hidup berumah tangga dengan baik? aahh.. kasihan Yo orang tua mbake. Pasti sedih"
Amira naik pitam. Menegakkan punggungnya tegas dan menatap Sri marah. "Jaga bicara mu Sri!"
"Sama. Mbake juga. Jangan ikut-ikutkan wong tuwo ne Sri" jawab Sri cuek. Mempermainkan emosi Amira.
Ting..Ting...
Pesan masuk di ponsel Sri. Menatap Amira sekilas, lalu mengecek ponselnya. Pesan dari Lucky.
"Sayang, kamu di mana?"
Tapi Sri tidak menjawab. Meletakkan lagi ponselnya di atas meja. Menatap Amira lagi dengan tenang.
"Hh.. Lucky hanya belum tau apa yang kamu inginkan darinya. Kamu itu benalu, tau?! kamu cuma jadi beban dalam hidupnya. Kamu tidak bisa menghasilkan apa-apa untuk dirimu sendiri. Kamu pecundang Sri. Masih mengharapkan mertua dan suamimu mencukupi kebutuhan mu" semakin tajam saja kata-kata Amira.
Jantung Sri seakan di remas kuat. Sakit mendengar kata-kata penghinaan itu keluar lagi dari mulut Amira secara terang-terangan. Sri benalu. Sri pecundang. Tidak punya apa-apa.
"Kenapa diam? aku benar bukan? kamu itu pecundang. Lucky tidak pernah mencintaimu. Dia hanya butuh tubuh mu. Tapi tidak pernah meletakkan mu di hatinya. Ayo.. coba jelaskan apa yang bisa kamu beri untuknya!"
__ADS_1
"Saya harap, omongan mbake tidak salah alamat" jawab Sri tenang.
"Salah alamat? hhh.. yang benar saja!" Amira memutar bola matanya malas. Mengejek apa yang di katakan Sri. Tersenyum sinis.
Tlilit.. Tlilit..
Ponsel Sri berbunyi. Meliriknya sejenak. Terlihat nama Lucky muncul di layar ponselnya. Masih mendiamkan saja panggilan video call dari suaminya.
Tapi begitu dia melirik ke arah Amira lagi, otak kotornya bekerja dengan baik. Ingin mengerjai Amira dan menabok mukanya dengan keras.
"Aduuhh.. Mase ini berisik banget yo? sek sek mbak.. Biar Sri jawab dulu Yo?"
Amira menatap benci padanya. Tapi Sri cuek saja. Meraih ponselnya dan membuka panggilan dari Lucky. Sengaja mengencangkan volume suaranya.
"Halo Mase"
"Sayang, kamu dimana? kenapa tidak menjawab pesan ku tadi? hmm?"
Wajah tampan rupawan itu muncul di layar. Sri tersenyum manis menatap Lucky di layar ponselnya. Membiarkan Amira berwajah seribu warna. Amarah yang memuncak tapi tak bisa berbuat apapun.
"Maaf cinta ku.. Sri lagi ketemu temen ini lho mas. Ngobrol sebentar" jawab Sri lembut pada Lucky. "Ono opo mas?"
"Siapa sih? ayo cepat pulang. Kita lanjutkan yang tadi"
Lucky mengedipkan sebelah matanya. Pipi Sri bersemu merah tersipu malu. Amira melihat itu sampai merah padam.
"Mase mesum ihh.. Masih inget yang tadi aja" Ujar Sri sambil melirik Amira.
"Hangat sayang. Sempit"
Mendengar itu Sri ingin terbahak. Senang rasanya melihat wajah Amira merah padam. Terlihat Amira duduk dengan gelisah. Sementara Agnes cekikikan. Dan Yesi menatap benci pada Agnes dan Sri.
"Mase"
"Hmm..?"
"Mase cinta Ndak sih sama Sri?"
Sri segera mengubah kamera depan menjadi kamera belakang. Lalu menghadapkan layar ponsel pada Amira. Amira melotot melihat di layar wajah mesum Lucky menatap lurus kearahnya. Tapi di ponsel Lucky pasti masih wajah Sri yang terlihat.
"Iya sayang. Jangan ragukan cinta ku. Aku jatuh cinta padamu" jawab Lucky lembut.
"Aawwhh.. senengeee..." Sri menutup wajahnya malu. Itu membuat Amira sudah ingin muntah saja. Melotot menatap layar ponsel yang menampilkan wajah Lucky tersenyum manis.
"Sayang, aku kangen"
"Iya Mase. Sebentar lagi Sri pulang"
"Kamu di mana?"
Sri mengambil lagi ponselnya. Tapi masih kamera belakang yang aktif. Membuat Lucky kini melihat Amira di layar ponselnya. Melihat itu, Lucky terbahak. Ia senang istrinya sudah bisa mengikuti alur yang ia buat. Dasar gadis nakal.
"Hahaha... kamu nakal sayang"
Sri tersipu. Ia menunjukkan Amira. Dan Lucky mengerti itu. Sri mengubah lagi kamera depannya. Menampilkan wajahnya lagi di layar ponsel.
"Ya udah dulu yo, mas"
"Iya sayang. Tapi, cium dulu"
"Mmuuwwaaahhh"
"Aahh.. hangat banget bibirnya, sayang"
"Udah ah.. nanti lagi mas"
Lucky menurut. Memutuskan panggilannya. Sri menyimpan lagi ponselnya. Tersenyum menatap Amira yang sudah merah padam penuh dengan kemarahan.
"Mbake lihat toh? gimana mesranya Mase sama Sri? jadi gimana Sri bisa ninggalin Mase?"
"Kamu pembohong!" sentak Amira marah.
Sri menatap Amira tajam. Sudah muak melihat Amira belum juga menyerah. Masih memaksa kemauannya sendiri.
"Ya.. terserah mbake Amira waeee.." Sri menoleh menatap Agnes. Tak disangka, agnes mengacungkan jempolnya. Lalu terkekeh melirik Yesi.
__ADS_1
Amira gelisah. Ingin rasanya menjambak Sri saat ini juga. Tapi itu tidak mungkin. Ada banyak saksi yang akan melihat itu. Dan pasti saja reputasinya akan rusak. Geregetan dengan tangan saling meremas.
"Aku akan menghancurkan mu Sri. Kau pecundang!"
"Ah.. terserah mbak. Sri Ndak peduli. Sri masih punya Mase"
"Oh.. kau menatang ku?" Amira melotot marah.
"Hmm.. tidak mbak. Cuma, Mbak Amira Ndak ngeri, kalo video ini tersebar?"
Sri mengambil ponselnya. Mengecek email yang di kirim Lucky. Membukanya dan menunjukkan pada Amira.
Amira terhenyak kaget. Mendelik melihat video di layar ponsel Sri. Itu kejadian di apartemen bersama Lucky.
"Mbak Amira Ndak yangka toh kalo saya tau apa yang terjadi di apartemen? Saya tau mbak. Dan biar mbak Amira tau aja. Saya dan mas Lucky Ndak akan bisa mbak pisahkan semudah itu. Maaf mbak"
"Kamu licik! Aku benci kamu!"
Teriak Amira sudah tak bisa menahan marahnya lagi. Bangkit berdiri dan ingin menghantam Sri dengan tasnya. Agnes dan Yesi segera bangkit dan mendekat. Yesi menarik tangan Amira agak tidak menghantam Sri. Dan Agnes berdiri dan merentangkan tangannya menutupi Sri dari hajaran Amira.
"Sabar Mira" Yesi menarik tangan Amira.
Amira tidak peduli. Masih mengibaskan tangannya dari cengkraman yesi. Ingin merangsek maju menghajar Sri.
Di tengah keributan itu, wajah Yesi tiba-tiba tampak menegang menatap ke arah depan. Berbisik pada Amira sebentar untuk melihat ke arah yang ia tunjuk. Amira langsung tampak terperanjat kaget. Tapi cepat mengubah mimik wajahnya. Sri dan Agnes juga menoleh ke belakang.
Tampak lucky berjalan dengan penuh wibawa. dengan tangan masuk ke dalam saku celananya. Beni mengikutinya di belakang. Menatap tajam kearah mereka berempat bersitegang.
"Sayang" lirih Amira.
Sri hanya diam menatap Lucky berjalan ke arah mereka. Lucky tersenyum, tapi tatapannya tidak fokus di satu titik. Antara menatap Amira dan juga Sri. Amira baper. Ia bergerak mendekat menyambut Lucky.
"Sayang, kamu datang?"
Berjalan mendekati Lucky dengan senyum kemenangan. Pasti Lucky datang menemuinya. Akan membelanya di depan Sri.
"Sayang" sambut Lucky.
Tapi.... bukan pada Amira. Melainkan kepada Sri. Melewati Amira di depannya. Menendang tangan Amira yang merentang ingin menyentuhnya.
Mendekat pada Sri lalu merengkuh kedalam pelukannya. Mengecup kening Sri hangat. Hati Sri berdesir hangat. Di penuhi bunga mekar di setiap relung hatinya. Lucky menyudahi kecupannya. Menatap Sri dengan sayang.
"Masih lama?" tanyanya mesra.
Sri mendongak menatap mata Lucky Tak menjawab apa yang di tanyakan suaminya. Seakan tak percaya Lucky melakukan ini padanya. Menunjukkan rasa sayang dan cintanya di depan Amira.
"Ayo pulang sayang"
"Iya mas" Sri mengangguk.
Melihat itu, Amira seakan di ledakkan dengan bom atom berkekuatan dahsyat. Hatinya mencelos melihat kemesraan suami istri di depannya. Dan yang paling membuatnya meradang, itu adalah Lucky! pria yang sedang mereka perebutkan. Pria yang sedang di elu-elukan mencintainya. Tapi malah melewatinya begitu saja. Menganggapnya seperti angin tak berbentuk.
Lucky dan Sri berjalan melewati Amira begitu saja. Lucky tak melihatnya sedikitpun. Membuat hati Amira menjerit pilu. Rasa malu seakan menampar wajahnya dengan telak.
"Tunggu!" sergah Amira.
Sri menghentikan langkahnya. Lucky menoleh kebelakang menatap Amira dengan dingin.
"Ada apa lagi, Mira? istri ku harus pulang. Masih ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Lucky dingin.
Amira tidak peduli pada Lucky. Dia marah. Mengutuk Lucky dalam hati. Matanya hanya melihat pada Sri. Menatapnya dengan pandangan membunuh yang kental.
"Sri! jelaskan pada ku dan juga Lucky. Bahwa kau hanya ingin mencurangi hubungan kami!" Amira menggeram dengan mata melotot.
Sri hanya tersenyum. pinggangnya masih di dalam rengkuhan tangan Lucky. Merasa suaminya ada di pihaknya, Sri semakin merasa menang. Keberanian terkumpul di dadanya.
"Maaf mbake. Sri Ndak perlu menjelaskan apapun pada seorang musuh. Karena apapun penjelasan itu, musuhku pasti ndak akan percaya. Dan sebanyak apapun Sri menjelaskan keburukan Sri, Mase pasti tidak akan mendengar. Karena Mase sudah terlanjur mencintai Sri"
Amira tercengang mendengar itu. Menatap Lucky penuh dengan luka. Seakan meminta pertolongan untuk Lucky menjelaskan padanya.
Lucky tersenyum mendengar apa yang di katakan Sri. Semakin menarik Sri dalam rengkuhannya. Mengecup puncak kepala Sri dan meraih dagunya.
"Aku mencintai mu Sri"
"Sri juga cinta Mase"
__ADS_1
Keduanya tersenyum. Saling menatap penuh rasa cinta membara. Berbalik dan berjalan meninggalkan Amira yang sudah meneteskan air mata. Menatap punggung keduanya dengan tatapan penuh benci dan luka yang menganga lebar.