
Lucky tampak lebih baik pagi ini. Moodnya sudah kembali segar setelah jamuan malam yang di suguhkan Sri hingga membuatnya terkapar kelelahan. Sudah seminggu lebih Sri tidak masuk kantor lagi. Lucky melarangnya bekerja. Hanya di perbolehkan mempercantik diri, shoping, dan menantinya pulang bekerja.
Enak bukan? ya tentu saja. Istri mana yang tidak memimpikan menjadi istri kesayangan yang selalu di manjakan suami? pastilah semua istri di dunia ini menginginkan seperti kehidupan Sri.
Tapi lain lagi buat Sri. Rasa bosan dan rasa tak puas jika tidak bekerja membuat Sri kelimpungan. Untungnya mami Melani selalu menemani dan terkadang mengajaknya ke acara-acara yang harus di hadiri ibu mertuanya. Jadi Sri banyak mengenal teman-teman baru.
Ketiga temannya selalu menanyakan kabarnya. Meraka berempat membuat group chating. Dari situlah Sri bisa mendapatkan informasi tentang kantor dan teman-teman yang lain.
Lucky sudah bersiap akan berangkat ke kantor pagi ini. Tapi Sri masih terus menggelendot manja di tubuhnya. Memeluk erat dan mendusalkan wajahnya di dada Lucky.
"Kenapa manja sekali pagi ini, sayang? hmm?" mengecupi puncak kepala Sri lembut. Geli melihat Sri selalu melekat erat padanya akhir-akhir ini.
"Kangen, Mase" lirih Sri manja. Mengendus-endus kemeja Lucky.
"Kangen? Kan masih di sini. Belum juga berangkat kerja" Lucky terkekeh.
"Nanti pulangnya lama lagi. Sri kangen"
Sri gemas. Membuka kancing kemeja Lucky. Membuat suaminya kaget melihat tingkahnya.
"Eh? mau lagi, sayang?"
"Bentar mas. Pengen ini"
Sri membuka tiga kancing kemeja Lucky. Lalu menghirup aroma tubuh suaminya dalam-dalam. Mengecupi dada Lucky gemas Seakan ingin menyimpannya sebagai stok untuk sepanjang siang nanti.
Lucky tertawa renyah melihat tingkah Sri. Istrinya seperti anak kucing yang sedang mencari kehangatan pada induknya. Menghirup aroma dadanya dan mengecupi tak henti.
"Sayang, kamu kelihatan aneh kalau begini" Lucky terkekeh kegelian.
Sri menghentikan aksinya. Mendongak menatap mata Lucky cemberut.
"Kok aneh toh mas? cuma di cium doang kok" merasa tersinggung di bilang aneh.
"Ah.. bukan begitu sayang. Tidak aneh. Tapi lucu"
"Laahh.. emang Sri badut? kok lucu sih?" Sri makin jengkel.
"Hahaaahaa.." Lucky tertawa kencang. Semakin lucu melihat Sri cemberut jengkel.
Merasa ditertawakan, Sri semakin sedih. Mewek ingin menangis. Lucky langsung saja menghentikan tawanya. Jadi panik melihat mata Sri sudah di genangi air mata.
"OMG. Sorry baby.. bukan maksudku begitu. Kamu itu menggemaskan. Sudah jangan menangis" Lucky sibuk menenangkan Sri. Istrinya ini semakin sensitif saja.
__ADS_1
"Mase jahat! Sri bukan badut. Masak di bilang lucu?" Sri merajuk manja.
"Iya, sayang. Kamu bukan badut" Lucky semakin membuka kemejanya. Mengendurkan dasinya lagi. Memampangkan dada bidangnya di depan Sri. "Ini.. ini sayang. Mau ini kan? ayo.. kecup lagi. ini.."
Menyodorkan dada bidang yang tampak liat itu di depan istrinya. Membuka kemejanya di bagian depan semakin lebar.
"Jangan di bilang aneh lagi Mase!" Sri memberi peringatan keras.
"Hem" Lucky mengangguk dan tersenyum lebar.
Sri menunduk lagi. Menempelkan bibirnya di dada suaminya. Mengecup dan menghirup aroma tubuh Lucky. Itu sangat menyegarkan baginya. Sebenarnya Sri juga merasa heran dengan tingkahnya sendiri. Entah bagaimana dia jadi kecanduan aroma tubuh Lucky.
Apalagi di pagi hari. Sri maunya terus menempel di dada suaminya. Seperti sekarang ini, jiwanya mengembara dengan leluasa begitu menghirup aroma di dada suaminya. Rasa tenang tak terkira menghinggapi dirinya. Rasanya seperti mendapat sejuta berkah yang menenangkan jiwa.
"Sayang.. ehhmm.. jangan put**gnya. Nanti jadi on" d*sah Lucky gemetar.
Tak mendengar, Sri malah mengigit kecil daging kecil di dada Lucky. Membuat Lucky jadi menggeram tertahan.
"Oohh.. baby. Aku tidak usah pergi ya?"
Sri berhenti. Duduk tegak menatap lurus netra Lucky yang sudah sayu. Cepat-cepat dia menutup kemeja Lucky dan mengancingkannya kembali. Memtulkan ikatan dasi di leher Lucky.
"Lho? kenapa di tutup lagi, sayang?" lucky protes dan tampak kecewa.
"Yaaahh.. padahal sudah on, sayang"
Lucky menarik tangan Sri mengarah diantara kedua pahanya. Bagian tengah yang menggembung besar itu tak bisa di tutupi lagi. Lucky menggesekkan tangan Sri di sana.
Sri meringis menyadari kerasnya tongkat bisbol yang kaku itu. Tapi jika dilajutkan, pastilah Lucky jadi lupa jika masih banyak pekerjaan menantinya di kantor.
"Eeehhmmm.." Sri meremat gemas. Lucky tersentak dan meringis kesakitan. "Tidurin dulu, mas. Ntar malem aja"
"Waahh... PHP aja nih" Lucky menggerutu kesal. Giliran sudah on, Sri malah melepaskan kesempatan.
"Mas, semalam Nunik telepon" Sri mengalihkan pembicaraan agar Lucky junior tidak menuntut balas.
"Nunik?" Lucky lupa. Berpikir keras siapa Nunik.
"Iishh.. Nunik lho mas.. temen Sri di kampung" Sri mencubit paha Lucky gemas.
"Awwhh.." Lucky meringis kesakitan. "Iya, sayang. Sekarang aku ingat. Kenapa Nunik?"
Sri menyandarkan kepalanya di dada Lucky lagi. Menarik-narik pelan dasi Lucky.
__ADS_1
"Nunik udah mau nikah mas. Kita di undang. Mase mau ya? sekalian pulang kampung. Sri kangen bune"
Lucky tersenyum. Mengelus pipi Sri. "Iya. Aku akan mengatur jadwal agar kita bisa ke sana"
"Beneran, mas?" mata Sri berbinar senang menatap suaminya.
"Hem" Lucky mengangguk dan tersenyum.
"Aaagghhh... senengnyaaa..." Sri kegirangan. "Makasih Mase. Sri sayang mas Uky.. Muuuaaahh"
Sri mengecup pipi Lucky. Bahagia tak terhingga. Akhirnya setelah sekian lama tidak bertemu ibunya, kini akan terwujud. Sri akan pulang kampung bersama Lucky. Suaminya juga senang melihat kebahagian Sri. Ia akan membalas setiap detik yang terbuang akibat keegoan mereka berdua dulu saat pertama kali menikah, dengan selalu membahagiakan Sri.
"Begitu caranya berterima kasih?" Lucky menaikkan sebelah alisnya.
"Lho? terus piye mas?"
"Kenapa di pipi? kan masih ada yang lebih hot" Lucky menunjuk bibirnya.
"Hihihi.. maunya iiihh.." Sri tersipu malu mencubit tangan Lucky gemas.
"Ayo, sayang. Berterima kasihlah yang benar"
Lucky menyodorkan wajahnya. Memajukan bibirnya minta di kecup. Sri tersipu malu melihat wajah tampan itu tepat di depan wajahnya. Perlahan Sri mendekat dan mengecup lembut bibir suaminya.
Tapi tentu saja Lucky tidak akan melepaskan kesempatan baik itu. Segera menahan belakang kepala Sri. Mencegah Sri menjauh. Menyesap bibir manis itu dengan lembut tapi menuntut. Menelusupkan lidahnya ke celah bibir istrinya yang terbuka.
Mengabsen setiap inci dalam mulut Sri. Meminta Sri membalas. Menggelitik lidah hangat istrinya. Melepaskan ciuman basah itu dengan napas memburu. Sri terengah kehabisan napas.
Lucky menatapi bibir mungil nan merah milik istrinya. Mengusap pelan dengan ibu jarinya bekas sisa salivanya di bibir sri. Mata mereka besitatap lalu senyum keduanya mengembang.
"Masih manis saja, sayang. Bikin nagih" bisik Lucky lembut.
Sri tersipu mendengar pujian suaminya. Lucky selalu memanjakannya. Setelah banyak yang mereka lalui, kini Sri bisa puas telah mendapatkan cinta Lucky seutuhnya.
"Mase" bisik Sri.
"Ya, baby?"
"Kerja mas"
Seketika Lucky menegang. Matanya terbelalak kaget. Baru ingat dia masih ada di rumah dan belum berangkat kerja.
"Astaga!! aku terlambat sayang. Ada meeting pagi ini!"
__ADS_1
"Hihihi... kapok mas!"