
Sri terpakasa menuruti kemauan Lucky. Memakai selimut menutupi tubuhnya. Duduk berdua di meja makan, menikmati nasi goreng yang di pesan Lucky.
Lucky makan dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya. Menatap Sri yang hanya bisa tertunduk membisu. Sesekali melirik Lucky takut-takut.
Lucky tidak menyangka Sri nekat memakai da lamannya hanya karena alasan risih. Dia tidak marah. Bahkan menurutnya itu lucu. Gadis pembangkang ini ternyata sangat polos. Sangat berbeda dengan Amira.
Ah.. Amira lagi. Teringat Amira, senyum Lucky langsung pudar. Pasti gadis itu sedang menangis sekarang. Tadi dia menelepon Lucky sambil terisak. Lucky menenangkannya dengan mengatakan tidak terjadi apa-apa. Memilih untuk tinggal menemani sri. Amira sudah bisa menjaga diri. Tapi Sri, dia masih belum mengerti keadaan di sini.
"Aku sudah selesai" ujar Lucky dingin seraya beranjak dari meja makan.
Sri tercengang. Menatap punggung Lucky yang sudah menjauh darinya, dengan pandangan tidak mengerti. Yang tadinya Lucky sudah bisa tertawa dengannya, kini pria itu kembali kaku seperti biasa.
Bagi Sri itu tidak masalah. Mau Lucky kaku atau tidak, itu tidak akan merubah hati Lucky. Dan tidak akan berpengaruh besar padanya. Baginya, Lucky itu tidak ada. Pria itu hanya milik Amira.
Selesai makan nasi goreng, Sri membereskan meja makan. Mencuci piring kotor dan menaruh di tempatnya. Lalu dia duduk di sofa depan televisi. Menyalakan televisi dan mencari Chanel kesukaannya.
Menemukan acara tv yang menayangkan sebuah film. Duduk serius menonton. Lucky sudah di kamar. Mungkin saja sudah tidur. Sri belum mengantuk. Sesekali melirik pintu kamar yang tertutup rapat.
Berpikir Lucky tidak akan keluar lagi, Sri merebahkan tubuhnya di sofa. Menonton sambil rebahan itu sangat menyenangkan. Tapi lama-kelamaan matanya sudah mulai berat. Meminta jatah untuk di istirahatkan. Apalagi dengan keadaan perut sudah kenyang. Rasa kantuk mulai datang menyerang.
Sri terlelap dengan keadaan televisi masih menyala. Sri belum mematikannya. Sudah terbuai di alam mimpi.
🌺
🌾
🌺
Lucky terbangun pada tengah malam. Melirik jam di atas nakas. Sudah menunjukkan jam dua dini hari. Menoleh kesampingnya. Sri tidak ada. Itu berarti gadis itu tidak masuk ke kamarnya. Tidak tidur dengannya.
Lucky terlonjak kaget. Dia ketiduran ketika menunggu Sri masuk ke kamar. Karena masih mendengar suara TV menyala, Lucky mengira Sri masih ingin menonton. Tapi ternyata sampai sekarang gadis itu tidak masuk ke kamar.
Takut jika Sri pergi keluar lagi tanpa permisi, Cepat-cepat Lucky turun dari ranjang. Berjalan ke arah pintu dengan tergesa. Membukanya terburu-buru. Melihat ke arah televisi yang masih menyala. Tapi Sri tidak terlihat.
Tergesa Lucky melangkah ke sana. Dan dia tertegun melihat Sri tidur dengan pulas sambil memegang remot tv. Lucky bernapas lega. Ternyata Sri hanya ketiduran di sofa. Tidak melarikan diri seperti tadi.
Lucky meraih remot tv dan memencet tombol off. sunyi langsung tercipta. Lucky menoleh menatap Sri di depannya. Gadis itu tidur seperti peri kecil yang polos.
Lucky duduk di sofa lain. Masih menatap Sri yang sudah terbuai di alam mimpi. Menatap wajah mungil itu lekat-lekat.
"Hmm.. tidak jelek" gumam Lucky pada dirinya sendiri.
Wajah Sri cukup cantik. lebih tepatnya manis. Hidung mungil yang bangir. Bibir lumayan sesuai. Dengan bentuk wajah hati dengan dagu sempit, lumayan manis. Tapi jika di bandingkan Amira, Sri jauh tertinggal.
__ADS_1
Tapi lagi-lagi Lucky teringat sikap pembangkangan Sri, itu yang membuat Lucky semakin dongkol. Sepengetahuan Lucky, gadis Jawa itu kebanyakan lemah lembut. Bersikap penurut apalagi jika sudah bilang 'enggeh'. Tapi sangat bertolak belakang dengan Sri. Gadis ini selalu membangkang.
Lucky beranjak berdiri. Mendekati Sri dan membungkuk untuk membopongnya pindah ke kamar. Gadis mungil itu masih terlelap. Mungkin karena berjalan ke taman yang cukup jauh tadi, membuatnya kelelahan.
Lucky membawa Sri ke kamar. Merebahkan tubuh mungil istrinya di ranjang. Menyelimutinya. Tampak Sri menggeliat semakin meringkuk di bawah selimut tebal. Lucky hanya Melengkungkan bibirnya naik sedikit. Lalu ikut rebahan di sebelah Sri.
Meneruskan tidurnya yang sempat terganggu. Membuang segala keruwetan hubungannya dengan Sri. Sejauh ini cukup bisa di tangani. Tapi entahlah esok hari. Biarlah waktu yang menjawab.
❤️
🌹
❤️
Ting tong...
Ting tong Ting tong..
Bel pintu berbunyi. Menggema di seluruh penjuru apartemen Lucky. Suaranya sangat berisik. Seseorang memencet bel berkali-kali. Seakan menggedor telinga Lucky dengan keras.
Merasa terganggu, Lucky bangkit dari tidurnya dengan malas. Melihat jam di atas nakas, masih menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Mengusap wajahnya kasar. Jengkel pada suara bel pintu yang belum berhenti.
Menoleh melihat Sri. Gadis itu juga masih tidur pulas. Seakan tidak terganggu dengan bunyi bel yang sangat berisik.
Ting tong Ting tong!!
Lucky bergumam memaki dengan jengkel. Berpikir Beni lah yang memencet bel. pria itu datang sepagi ini. Lucky melangkah keluar kamar dengan malas menuju ke pintu depan.
Memutar kunci pintu dan membukanya. Sudah bersiap ingin memaki Beni. Tapi bukan asistennya itu yang terlihat. Melainkan Amira. Gadis itu sudah berdandan rapi sepagi ini. Dengan wajah marah Amira menerobos masuk. Lucky menutup pintu dan menyusul Amira.
"Amira, ada apa datang sepagi ini?" Tanya Lucky dengan wajah bantalnya.
"Lucky. Kamu baru bangun?" tanya Amira menyelidik.
"Astaga. Ini masih terlalu pagi sayang. Aku baru bangun" jawab Lucky malas. Duduk di sofa dan memejamkan matanya lagi. Masih ada sisa kantuk yang menggantung di pelupuk matanya.
Amira mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan tingkah Lucky. Tidak biasanya pria ini bangun Setelah matahari sudah terbit.
"Baru bangun? tumben sekali? Kamu begadang Luck?" Amira masih menyelidik. Menatap Lucky dengan wajah tak percaya.
"Iya. Aku masih..."
"Sopo Mase? berisik banget?"
__ADS_1
Tiba-tiba Sri muncul di ambang pintu kamar. Dengan mata masih setengah terpejam. Baru bangun tidur!! Amira melotot melihat penampilan Sri. Dengan rambut kusut dan mata yang masih terlihat mengantuk.
Apalagi melihat baju yang di kenakan Sri. Itu baju lucky!! kaos oblong yang longgar terlihat kebesaran di tubuh gadis itu. Dan.. dan.. Dada itu!! Sri tidak pakai bra!! Amira melotot marah menatap Sri dan Lucky bergantian dengan mulut ternganga lebar.
Apalagi melihat penampilan Lucky yang bertelanjang dada. Hati Amira terbakar api cemburu. Memikirkan hal apa yang telah di lakukan pasangan suami istri ini tadi malam.
"Lucky!! apa yang kamu lakukan??!!" pekik Amira kencang. Marah yang telah sampai di ubun-ubun.
Mendengar suara pekikan itu, Sri tampak tersadar dengan penampilannya. Mempertegas penglihatannya dengan jelas. Kaget melihat siapa yang datang. Pastilah Amira berpikir yang tidak-tidak jika melihat penampilan mereka berdua.
"Apa sayang?" tanya Lucky tidak mengerti kenapa Amira marah.
"Kamu.. Kalian berdua.. astaga!!" Amira masih memekik marah.
Sri segera masuk ke kamar lagi. Menutup pintu dengan rapat. Nyawanya telah terkumpul sepenuhnya ketika mendengar pekikan kemarahan Amira tadi.
"Apa sayang? kenapa kami berdua?" Tanya Lucky lagi. Kini dia yang menatap Amira dengan heran.
"Iisshh.. kau jahat!" Amira menghentakkan kakinya jengkel. Sudah mau menangis melihat Lucky bersikap pura-pura bodoh.
"Aku? jahat?" Lucky menunjuk dirinya.
"Apa yang aku lewatkan tadi malam? Kamu dan dia.. Oh, ya ampuunn!!"
Amira menghentak-hentakan kakinya. Melampiaskan amarah karena berpikir Lucky dan Sri kelelahan karena pergulatan tadi malam. Makanya Lucky bangun kesiangan.
"Oohh.. ayolah Mira. Ini masih pagi. Jangan membuat ku semakin lelah" Ujar Lucky malas.
"Tapi.. tapi kamu dan dia..."
"Apa?"
"Sudah..."
"Iya. Kami tidur" jawab Lucky cuek.
"Apa??!! jadi dugaan ku benar?"
Amira makin melotot marah mendengar jawaban Lucky. Mereka tidur! Sudah tidur seranjang dengan tampang kusut pagi ini. Pastilah pergulatan itu sangat sengit sampai Lucky kelelahan dan Sri acak-acakan begitu.
Ting tong...
Kembali bel pintu berbunyi. Lucky dan Amira saling pandang. Lalu Amira beranjak membuka pintu. Tampak Beni berdiri diambang pintu dengan paper bag ditangannya. Amira menyingkir dan mebiarkan Beni masuk.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan, ini pakaian nona Sri seperti yang anda pesan tadi malam" ujar Beni menunjukkan paper bag yang di pegangnya ke depan Lucky.
Lucky menegang. Ia baru ingat Sri. Tadi Amira melihat Sri. Lucky baru menyadari kenapa Amira marah. Pasti Amira menyangka dia sudah tidur dengan Sri. Lucky langsung menatap Amira yang sudah terlihat mau menangis.