
Malam semakin larut. Sri sudah terlelap. Lucky keluar dari kamar dan melihat Noah sedang duduk sendiri di bangku panjang di bawah pohon jambu air. Menghadap ke petakan sawah yang terlihat gelap. Lucky Menaikkan sebelah alisnya merasa heran kenapa pria itu seperti sedang ingin menikamati waktunya sediri. Lucky mendekatinya.
"Kau memang sangat baik ya, No?"
Noah menoleh melihat Lucky di belakangnya. Tapi tidak menjawab dan membiarkan Lucky duduk di sampingnya.
"Saking baiknya sampai kau rela jadi donor darah pada nyamuk malam ini" Noah tertawa kecil mendengar apa yang di katakan Lucky sambil geleng-geleng kepala.
"Rokok?" Noah menawarkan pada Lucky.
"Tidak. Istriku bisa marah kalau menciumku dan bau tembakau" tolak Lucky.
Noah diam saja dan menarik lagi tangannya yang mengulurkan rokok. Menyesap rokoknya dalam dan menatap kegelapan malam yang membentang di depannya.
"Kenapa, No?" tanya Lucky tiba-tiba. Noah menoleh lagi menatap Lucky dengan penuh tanda tanya.
"Apanya?"
"Akhh... Aku pikir kau tidak sebodoh itu." Lucky merampas rokok dari tangan Noah. Noah hanya meliriknya sejenak dan tersenyum mengejek. Lucky merobek egonya tadi untuk tidak menghisap rokok karena istrinya.
Lucky memantik mancis dan menyulut rokoknya. Menyesapnya dalam dan ikut memandang kegelapan di depan mereka.
"Kau sudah di khianati Amira. Lalu Sri, dia tidak menanggapi cintamu. Dan sekarang Agnes. Kenapa kau tidak mengambil kesempatan itu? Kenapa kau membiarkan Rian lebih dulu menikungmu?"
Kedua lelaki itu diam membisu lagi. Hanya menikmati menyesap rokok dan mengepulkan asap yang bergulung lalu hilang di terpa angin malam.
"Kau juga butuh pendamping. Agnes menanti reaksimu" ujar Lucky lagi tanpa melihat ke arah Noah.
"Aku masih ingin sendiri"
Hanya itu jawaban Noah. Selebihnya dia hanya menikamati kesendirian. Lucky meliriknya sejenak. Lalu menarik napas dalam.
"Kau masih belum bisa move on dari Sri?"
Deg!
Noah langsung menoleh terperanjat mendengar pertanyaan itu. Lucky hanya tersenyum miris menatap adik sepupunya.
"Apa-apaan sih, Luck!" Noah tampak marah.
"Jangan menentang hatimu. Tapi biarkan mengalir. Kau bertemu Sri setelah kami menikah. Jadi jangan salahkan aku jika aku mempertahankannya. Dan aku mencintainya, No. Aku bersumpah akan selalu menjaga dan mencintainya sampai mati."
"Ngomong apa sih, kak?" Noah merasa tak nyaman. Meninju lengan Lucky pelan.
__ADS_1
"Aku tahu, papi yang memintamu mengalah dulu. Tapi sungguh, aku juga mulai jatuh cinta padanya. Itu tidak kusengaja. Dan kau harus menelan rasa kecewamu lagi karena aku untuk yang kedua kali setelah Amira. Tapi.." Lucky berhenti dan menoleh menatap netra Noah yang masih menatapnya.
"Aku tidak bisa melihatmu begini. Raih bahagiamu, No. Jika Sri sudah milikku, setidaknya ada Agnes yang menanti kau membuka hati. Gadis itu sangat tergila-gila padamu. Aku yakin kau melihatnya tadi"
Noah membuang pandangannya kearah lain. Menyesap lagi rokoknya dalam-dalam. Ada rasa gelisah menyusup dalam hatinya. Tapi dia tidak tahu apa itu. Agnes? ah.. Dia tidak bisa mengkhianati Rian. Pemuda itu sudah mengatakan padanya lebih dulu. Memohon padanya untuk membiarkan Agnes menjadi miliknya.
Dan lagi pula, sungguh benar apa yang Lucky katakan. Sri! Istri kakak sepupunya itu sangat membuatnya kelimpungan. Padahal Sri tidak pernah meliriknya dengan pandangan cinta sedikitpun. Noah hanya memendamnya dalam lubuk hati yang paling dalam.
Lucky berdiri. Menyesap dalam rokok di tanganya. Lalu membuangnya begitu saja.
"Aku harap, ketika Agnes datang padamu dan bertanya, kau bisa memberi jawaban pasti untunya. Jangan biarkan dia melangkah ke arah yang salah."
Lucky pergi meninggalkan Noah. Dia tidak bisa memaksakan Noah untuk membuka hati untuk Agnes. Tapi dia berharap, Noah bisa mengambil keputusan bijak.
❤️
❤️
❤️
Sri melihat kegelisahan Agnes yang belum lekang. Gadis itu masih uring-uringan dari pagi tadi. Sri tidak bisa diam saja melihat itu. Lucky dan Noah masih bicara dengan pak Rahman di ruang depan. Melihat ada kesempatan, Sri menarik tangan Rian di dapur. kebetulan ruang dapur lagi sepi.
"Mas! aku mau bicara!" Rian mengikutinya ke dapur.
"Opo Sri?" Rian tampak antusias.
"Ayo keluar"
Sri menarik Rian lagi ke halaman belakang. Rian tampak penasaran dan mengikuti saja. Mereka berhenti di bangku panjang di dekat parit kecil aliran air untuk persawahan.
"Kamu ini gimana sih mas? Apa Mase udah yakin, kalau mbak Agnes mau nerima? Jangan main-main lho sampeyan. Ini menyangkut keluarga."
Rian tertegun. Menatap netra Sri seakan membacanya.
"Agnes bilang apa?" Rian balik bertanya.
"Kamu pasti udah tau, mas. Tapi kenapa Mase seakan Ndak peduli hati mbak Agnes?"
Rian tersenyum sarkas. Duduk di bangku panjang itu dengan geleng-geleng kepala. Membuat Sri semakin jengkel.
"Iishh.. kok malah ngguyu-ngguyu toh?" Sri mendelik. Rian hanya tersenyum kecil balik menatap Sri dengan tenang.
"Aku itu malah ingin melepaskan Agnes dari cintanya yang buta, Sri."
__ADS_1
"Hah? Apa? Piye toh maksute?" Sri bingung.
"Pak Noah ndak bisa lupain cintanya sama orang lain. Dia Ndak bisa buka hati untuk Agnes. Aku mau Agnes lepas dari rasa penasarannya."
"Apa? Pak Noah cinta orang lain?" siapa?" Sri mencecar banyak pertanyaan dalam kebingungan. Rian malah makin melebarkan seringainya. Dia sangat lucu melihat Sri tidak menyadari cinta Noah padanya.
"Sini. Duduk dulu" Rian menarik Sri duduk di sampingnya. Sri menurut. "Aku kenal Agnes lumayan lama. Waktu aku cari kamu ke kota, aku ketemu dia. Kami tetanggaan. Kamu tau itu kan?" Sri mengangguk mendengarkan.
"Aku tau dia suka sama pak Noah. Tapi pak Noah cinta orang lain. Agnes masih saja mimpi pak Noah mau melihat cintanya. Jadi..."
"Sek.. Sek.." Sri menghentikan Rian bicara. "Aku tuh Yo bingung ya.. Pak Noah cinta sama siapa sih?"
Rian menatap mata Sri lekat. Tidak menyangka istri bosnya ini benar-benar tidak menyadari jika adik sepupu suaminya jatuh cinta padanya sejak lama. Tapi Rian tidak akan bilang tentang itu pada Sri. Dia tidak mau akan terjadi kecanggungan jika Sri mengetahui yang sebenarnya.
"Pak Noah di tinggal nikah. Kamu Ndak usah tau orangnya. Pak Noah masih patah hati."
"Oh.. Gitu.." Sri manggut-manggut. Ia pikir, nanti akan bertanya pada suaminya mengenai itu. "Tapi, mbak Agnes, piye?"
"Hmm.. Aku mau Agnes sadar kalau pak Noah ndak bisa di jangkau. Aku mau mereka bicara dan saling terbuka. Inilah waktunya Sri. Aku yakin, pasti Agnes nanya pak Noah nanti."
Sri menatap Rian lamat. Tidak menyangka jika Rian ternyata bisa serius juga.
"Tapi, Mase itu cinta beneran apa Ndak sama mbak Agnes?"
"Aku udah Ndak bisa membuat kamu jadi istriku. Aku gagal. Aku lihat Agnes. Aku kasian melihat dia bertepuk sebelah tangan. Ndak bunyi Sri. Itu sakit, rasanya nyesek. Aku lihat dia seperti lihat diriku sendiri. Kalau nanti dia kasih jawaban iya, aku janji akan mencintai dia sepenuh hati. Aku mau dia bangun dari mimpi panjang yang Ndak pernah terwujud."
Hati Sri terenyuh mendengar ketulusan Rian. Merasa nyeri kenapa dia juga tidak pernah bisa melihat cinta Rian dari dulu. Itu adalah takdir. Takdirnya bersama Mase Lucky. Dia tidak bisa mengubahnya. Jodoh kita, tuhan yang menentukan. Sejauh apapun berlari, pasti akan sampai pada satu titik yang telah di tentukan.
"Tapi kamu janji lho, mas. Kalau nanti mbak Agnes bilang iya, kamu harus benar-benar jagain dia. Sumpah mas!"
"Heheh.. Aku Ndak pernah bohong sama kamu, Sri. Aku pasti buat Agnes seperti ratu."
"Tapi... Dari mana Mase tau kalau pak Noah cinta sama orang lain?"
Rain terdiam. Mencari apa kira-kira jawaban yang cocok untuk menjawab itu.
"Ehmm.. Anu.. Itu.. Ya aku cari tau lah!"
"Alahhh.. Ngawur! Pak Noah ndak seterbuka itu. Apa pak Noah cerita sama kamu?"
Rian terpaksa mengangguk mengiyakan saja. Biar tidak banyak lagi yang di tanyakan Sri padanya. Sri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung. Setahunya, Noah itu sangat tertutup. Dan dia tidak pernah melihat Rian dan Noah seakrab itu. Tapi, yah.. Mungkin saja mereka berteman dekat selama Sri pulang kampung.
"Yo wes. Pegang janjimu mas! nek Ndak, tak lotak endas mu."
__ADS_1
Sri melangkah pergi meninggalkan Rian. Rian menatapnya sambil tersenyum. Dia tahu tentang cinta Noah pada Sri, ketika mereka bekerja menyelidiki Amira dan Levi. Noah berterus terang pada Rian tentang cintanya pada gadis yang sama di taksir Rian juga. Dan mereka terkekeh setelah sama-sama tahu bahwasannya sama-sama mencintai satu gadis yang kini sudah menjadi milik bos mereka.
"Kamu beruntung Sri. Banyak cinta yang hadir dan siap menjagamu. Semoga kamu bahagia selalu bersama tuan Lucky" gumam Rian lirih.