
Malam semakin larut. Rintik gerimis mulai datang menyapa alam di gelapnya malam. Menebarkan titik-titik air menyebar di jagat raya. Lucky memandangi gerimis dari dalam mobilnya. Menyisakan banyak titik air di kaca mobil. Membentuk buliran kecil dan mengalir turun kebawah berjalur-jalur seperti tali yang menjulur turun.
Perasaannya bercampur aduk saat ini. Ada rasa sedih dan juga lega sekaligus. Sedih melihat Amira menangis, dan lega akhirnya bisa tegas memilih Sri untuk masa depannya.
Tadi Amira memukuli dadanya, Lucky diam. Membiarkan Amira menumpahkan kekesalan hatinya. Amira menampar pipinya, Lucky juga diam. Dia menyerahkan tubuhnya sebagai pelampiasan rasa marah Amira. Menjadi media untuk Amira bisa lebih mencurahkan marah.
Cukup lama Lucky terus berusaha menenangkan Amira dan membuatnya lebih bisa menerima. Tapi dia juga tidak bisa selalu menemani gadis itu. Dia harus pulang. Istrinya menunggu.
Lucky menghela napas panjang, lalu mulai menyalakan mesin mobil. Melajukan mobilnya membelah kesunyian jalanan malam hari. sesampainya di apartemen, Lucky menemukan keadaan gelap yang sunyi. Sri sudah tidur. Lucky menatap wajah Sri yang terlelap tanpa tahu kepulangannya.
Wajah mungil itu meneduhkan hatinya. Wajah yang kini selalu menghiasi dan memadati hari-harinya. Sri yang bisa membalikkan hatinya dari Amira. Lucky lelaki tipe setia. Satu saja cukup. Tidak berniat melirik yang lain walaupun banyak godaan menghampiri.
Tapi Sri, gadis ini mampu mengalihkan perhatiannya dari Amira. Membuatnya kalang kabut jika Sri cuek dan membangkang. Lucky mengelus pipi Sri dengan sayang. Tersenyum melihat wajah Sri yang tenang dalam mimpi indahnya. Merebahkan kepalanya di samping wajah Sri.
Tapi entah kenapa ada rasa kosong di separuh hatinya. Gelisah yang tidak tahu apa penyebabnya. Ingat apa yang di katakan Amira tadi.
"Kau mencintainya?"
Lucky tertegun. Cinta? ya cinta. Apakah rasa dihatinya untuk Sri adalah benar cinta? Atau apa?
Lucky mengangkat kepalanya lagi. Tegak menatap Sri. Rasa gelisah itu timbul makin kuat. Lucky menarik tangannya dari pipi Sri. Beranjak keluar kamar. Membuka gorden jendela besar menghadapkan pemandangan lampu kota yang berkelip berkilauan. Duduk di sofa dan mengusap wajahnya kasar. Meremas rambutnya kuat.
Menjerit dalam hati mencari jawaban atas kekosongan sebelah hatinya. Masalahnya semakin rumit jika sudah bersangkutan dengan hati. Banyak tanda tanya di hati yang tidak mudah di singkap begitu saja.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Sri tersentak bangun. Terduduk dengan napas terengah. Tadi dia bermimpi suatu hal buruk. Menoleh kesampingnya. kosong. Lucky tidak pulang? Ada rasa sakit menyusup di hatinya. Tapi.. mungkin saja Lucky sudah bangun.
Sri turun dari ranjang dengan tergesa. Berharap hal buruk yang ia bayangkan tidak terbukti. Berdebar jantungnya dalam pengharapan. Berlari kecil kearah pintu kamar dan membukanya. Tapi seketika wajah murung menerpanya. Keadaan apartemen gelap. Itu berarti Lucky tidak pulang.
Sri menoleh ke sebelah kanannya. Gorden jendela terbuka. Sri melangkah kesana. Seingatnya, tadi gorden itu tertutup. Tapi kenapa sekarang terbuka lebar? pelan-pelan Sri mendekati. Dan tertegun melihat Lucky tertidur lelap dengan duduk disofa. Tubuhnya melengkung dengan kaki menyelonjor panjang kebawah.
Sri menatap wajah tampan itu. Ternyata Lucky pulang dan ketiduran di sofa. Ketiduran di sofa masih belum berganti baju. Terlihat wajah lelah pria itu. Sri bisa tersenyum lega. Pikiran buruknya langsung lenyap melihat suaminya ada bersamanya. Itu artinya Lucky meninggalkan Amira.
Sri mendekat dan berlutut di samping sofa. Menatap lekat wajah lelah Lucky. Tampan paripurna. Tidak ada cela sedikitpun yang bisa meruntuhkan ketampanan suaminya. Sri tersenyum penuh rasa sayang. Menyentuh wajah Lucky dan mengusapnya perlahan. Pasti tubuh Lucky tidak nyaman dengan tidur di sofa seperti ini.
"Mas.. Mas Lucky..." panggil Sri pelan dan sedikit mengguncang wajah tampan itu.
Lucky menggeliat dan mengerjapkan matanya. Membuka matanya sedikit dan mendapati wajah Sri di depannya.
"Ehmmm... Kamu sudah bangun?" tanya Lucky dengan suara serak.
"Ehm" Sri mengangguk masih dengan senyum menghiasi bibirnya. "Mase kenapa tidur disini? apa badannya ndak sakit?"
"Ehmm.. ini nyaman sekali" gumam Lucky dengan suara seraknya.
Sri membalas pelukan Lucky. Merengkuh kepala Lucky dalam pelukannya. Keningnya berkerut. Dapat merasakan kegelisahan hati Lucky. Entah apa yang telah terjadi tadi antara Lucky dan Amira. Sri tidak dapat menebaknya. Dia hanya bisa mengecup kepala Lucky memberi ketenangan.
"Ayo pindah ke kamar mas. Ntar badan kamu sakit loh tidur kayak gini" Sri melirik jam dinding. Masih pukul empat pagi. Entah jam berapa tadi Lucky pulang.
Lucky bergerak bangkit. Masih menggendong Sri seperti anak kecil. Sri terkikik geli melingkarkan tangannya di leher suaminya. Lucky tersenyum saja. Membawa Sri masuk kekamar dan menutup pintunya dengan tendangan kaki ke belakang.
Merebahkan tubuh Sri di tempat tidur tanpa melepas gendongannya. Mereka berdua berpelukan. Lucky mengecupi pipi Sri lembut. Sri agak merasa heran dengan tingkah Lucky. Tidak biasanya pria ini begitu terlihat melow. Mengecupi ya seakan mencari sesuatu dari rasa kecupan di pipinya.
"Mase kenapa? ada apa mas?" tanya Sri menatap mata hitam di sampingnya.
__ADS_1
"Sri.. kuatkan aku" bisik Lucky membalas tatapan Sri.
Sri tersenyum. Dia tahu apa maksud Lucky. Mungkin pria ini masih terguncang karena memutuskan Amira.
"Kita sama-sama membangunnya mas. Kita kan pacaran" Sri menyentil hidung mancung Lucky sambil tersenyum lebar.
Lucky memeluknya erat. Seakan tak mau terpisah. Mengecupi puncak kepala Sri dengan sayang.
"Mbak Amira gimana mas?" tany Sri sambil tangannya memainkan kancing kemeja Lucky.
Mendengar pertanyaan itu, Lucky memejamkan matanya rapat. Wajah Amira dengan linangan air mata terbayang di pelupuk matanya.
"Dia kacau. Tapi tadi dia sudah bisa tenang dan bisa menerima" jawab Lucky pelan sekali.
"Sri jadi merasa bersalah. Ini semua karena Sri ya mas?"
"Ssshhh.. Ini bukan salah siapa-siapa. Memang sudah harus begini" Lucky mengecup pelipis Sri.
"Mase bagaimana?" tanya Sri lagi.
Lucky mengurai pelukannya. Menatap wajah Sri lekat. Tak mengerti apa maksud pertanyaan Sri tadi.
"Maksudnya?"
"Mas Lucky masih bingung. Mas Lucky juga merasa bersalah. Mase masih bimbang"
Lucky kaget mendengar ucapan Sri. Gadis ini tahu apa yang di pikirkannya. Gadis ini bisa membaca apa yang di rasakannya. Lucky tersenyum dan mengusap pipi Sri lembut.
"Makanya kuatkan aku. Tolong yakinkan aku bahwa kamu bisa membuatku yakin. Hem?"
__ADS_1
Sri membalas senyum itu. Mengangguk mantap untuk memulai bersama Lucky. Semampunya meyakinkan hati Lucky.
Lucky mengikis jarak antara mereka. Mengecup lembut bibir mungil Sri. Memagutnya hangat. Mencari rasa manis yang selalu membuatnya rindu dan candu.