OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
MIMPI!!!


__ADS_3

Sri pusing mendengarkan teman-temannya heboh melihat petinggi perusahaan yang datang tadi. Sampai di ruangan juga itu melulu yang di bicarakan. Mereka masing-masing memilih salah satu dari beberapa yang tampak paling menonjol. Tapi pilihan terakhir adalah Lucky.


Sri menutup telinga dari suara heboh bak halilintar menggelegar di telinganya. Aneh lagi wanita-wanita ini. Baru tadi Agnes dan Niar ternganga melihat Noah. Sekarang malah sudah beralih membicarakan Lucky yang katanya tampan lah, gagah lah, sampai-sampai mereka dengan tak tahu malunya membayangkan tubuh kokoh Lucky bergerak erotis di ranjang.


Wajah Sri merah padam mendengar itu. Ada rasa cemburu, tapi tak kuasa untuk menghentikan mereka. Teman-temannya tidak tahu bukan, kalau Sri itu adalah istri Lucky? jadilah Sri hanya mengelus dada mendengar gosip hangat mereka.


Belum lagi para fans Noah yang bergosip ria membandingkan ketampanan Lucky dan Noah. Rasanya Sri terbakar hangus karena cemburu. Ingin rasanya menyumpal mulut-mulut genit itu dengan kertas HVS di depannya.


"Ojo tp tp Mase!"


Sri mengetik pesan pada Lucky dan segera mengirimnya. Hatinya terbakar cemburu. Tak peduli Lucky sedang ada kesibukan bersama para petinggi.


Menunggu beberapa menit, lalu pesan masuk di aplikasi chatnya.


"Tp tp? apa itu?"


"Tebar pesona! banyak yang jadi ODGJ di sini gara-gara Mase!"


Lucky tidak menjawab lagi. Sri cemberut tidak dapat balasan chatnya. Mungkin lucky sedang sibuk. Sri mengalihkan perhatiannya melihat Agnes dan Niar yang masih sibuk berkasak kusuk.


"Aku jadi beralih sama yang tinggi itu deh kayaknya, Niar. Ganteng bangeett.. ahhh.. lumer aku" Agnes meragakan tubuhnya tumbang dengan lambat di kursinya.


"Hihihii.. kayak kamu lagi di belai aja Nes" Niar terkikik geli.


"Iya lah! mana aku kuat lihat senyumnya tadi. Aduh Niaaarr.. itu orang pasti hot banget ya" Mata Agnes berbinar membara.


Sri sampai ingin muntah mendengar ocehan Agnes. Tapi dia merasa geli juga mendengar Agnes bilang Lucky tersenyum.


"Jadi udah gak pak Noah lagi nih?" Dila menimpali.


"Ahh.. kalau bisa dua-duanya mbak Dil. Yang satu kalem, yang satu lagi hot banget" jawab Agnes antusias.


"Waahh.. serakah kamu!"


Mereka tertawa melihat tingkah Agnes. Agnes mau dua-duanya. Memang diantara mereka berempat, hanya Agnes yang belum punya pasangan. Jadi Agnes lebih berani membayangkan dan memilih yang belum tentu mau untuk di pilih. Sri terkikik geli menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh Sri.. kalau kamu, pilih yang mana?" tanya Dila


"Hah? opo mbak? pilih apa?" Sri tergagap.


"Itu yang tadi. Menurut mu, pilih yang mana?" ulang Dila.


"Pilih opo toh mbak.. Lah wong udah di pilih mbak Agnes" Sri menghindar.


"Iya lah.. jangan Sri. Kamu tuh kan da punya suami. Yang dua tadi untukku aja" Agnes menggerakkan tangannya menepis di udara. Tidak terima kalau Sri ikut-ikutan memilih satu diantara kedua pria tampan tadi.


Duuhh.. mbak Agnes! yang satu itu suamikuuuu


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Para petinggi berkumpul di ruang rapat yang luas. Meja panjang dikelilingi kursi empuk di setiap sisinya. Kakek Fredi duduk sendirian mengahadapi semua pemegang saham. Sudah satu jam lebih mereka membahas soal penyerahan saham Fredi pada Lucky.


"Jadi, saya memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya saham saya pada Lucky" ujarnya tegas.


Tampak Fardo menatap ayahnya tak suka. Dan di sebelahnya, Levi duduk dengan gelisah.


"Bagaimana? apa masih ada pendapat lain?" tangannya dengan suara khas yang bergetar dimakan usia.


"Saya setuju. Lagi pula, tuan Lucky juga punya kedudukan penting. Jadi, saya rasa itu akan menunjang kemajuan perusahaan" Tuan Akbar menyahut.


Segera Fardo mengangkat tangan menginterupsi.


"Aku pemegang saham kedua" ujarnya dingin. "Apa tidak lebih baik Presdir memikirkannya lagi? Selama ini kita bersaing dengan perusahaan mereka. Bagaimana mungkin sekarang kita bersatu di sini?"


Lucky menatap tajam pamannya itu. Ada rasa geram di hatinya. Frans duduk tenang memperhatikan Fardo bicara. Noah duduk di sebelah kakenya dengan pandangan tajam menghujam Fardo dan Levi.


"Kita sudah membicarakan ini Fardo. Lucky pewaris utama. Mau tidak mau, dia adalah pemegang kendali utama di perusahaan ini. Kau tidak bisa menolak keputusanku" kakek Fredi berkata tegas.


Fardo mengetatkan rahangnya menatap sinis kearah Lucky. Yang lain tampak berkasak kusuk membicarakan mereka.


"Bagaiman menurut mu Lucky?" tanya tuan Aditya.


Lucky menghela napasnya. Menatap semua orang satu persatu. Lalu berbicara setelah melihat Frans menganggukkan kepala padanya.

__ADS_1


"Sebenarnya saya tidak berminat dengan kedudukan ini. Yang lebih berhak sebenarnya adalah papi saya. Tapi, kakek menyerahkan kendali perusahaan ini di pundak ku. Dan sayang, sepertinya paman merasa keberatan"


Sejenak Lucky melirik Fardo dan Levi. Lalu melanjutkan lagi.


"Selama ini kita bersaing. Tapi jika itu mengharuskan saya untuk bergabung, saya harus mempelajari dahulu lebih lanjut. Saya tidak mau gegabah dengan mengesampingkan perusahaanku sendiri. Saya akan pikirkan lagi" ujar Lucky tegas.


Senyum sinis mengembang di bibir Fardo. Dia senang Lucky masih merasa bimbang dengan ajakan bergabung dan menjadi pemegang saham terbesar. Sementara dia hanya bisa di tempatkan di perusahaan cabang oleh ayahnya. Fardo merasa tidak terima.


Yang lain manggut-manggut. Mereka tahu kalau Lucky dan Frans masih ada masalah intern di dalam keluarga Albronze yang harus diselesaikan. Tapi mereka juga tidak bisa mengijinkan Fardo untuk duduk di singgasana pemimpin. Mereka tahu reputasi buruk Fardo. Suka foya-foya.


"Baiklah. Kalau begitu, rapat kita undur lagi. saya harap, Lucky memperlajari lebih lanjut secepatnya" kakek Fredi memutuskan.


Semua pihak harus puas dengan keputusan Lucky. Mereka bubar. Satu persatu meninggalkan ruangan. Fardo dan Levi juga ikut keluar. Berpamitan pergi. Fredi mengiyakan saja.


Tinggal mereka berlima yang tinggal di ruang rapat. Barry selaku pemegang jabatan CEO yang di titahkan Noah padanya, juga masih harus memberi laporan pada Fredi.


"Noah, panggil semua kepala divisi. Kakek mau mereka menyerahkan hasil kerja sekarang" ujar Fredi.


Lelaki tua ini masih saja menunjukkan taringnya sebagai Presdir. Tubuh tuanya tidak bisa menghalangi ketegasan dan integritasnya sebagai seorang pemimpin. Sangat berwibawa duduk di kursi kebesarannya.


Noah mengangguk lalu menelepon semua kepala divisi untuk hadir di ruang rapat.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Sri tak dapat menutupi kekagetannya ketika Dila mengatakan dia harus mengantar berkas keruang rapat di lantai atas. Dila sebagai wakil Noah juga terbengong mendengar perintah Noah.


"Kenapa Sri mbak? bukannya mbak Dila yang harus kesana?" Sri tegang melihat Dila menyerahkan berkas kerja yang dikerjakan Dila tadi ke mejanya.


"Ini perintah pak Noah. Mana aku tau kalau kamu yang di suruh mengantar keatas" jawab Dila mengedikkan bahu.


Sri mendesah berat. Dia tidak siap bertemu keluarga mertuanya dan juga suaminya di dalam satu ruang yang banyak di hadiri staf kantor yang punya kedudukan tinggi. Dan pasti akan gugup nantinya.


"Mbak Dila saja, mbak. Saya Ndak tau loh mbak. Entar salah" Sri menolak.


"Cepetan Sri. Entar pak Noah marah Loh" Dila memaksa. Dia senang. Hilang bebannya mendampingi Noah. Lagipula, pasti akan nervous jika bertemu Presdir yang terkenal tegas jika ada kesalahan.


Terpaksa Sri menerima. Agnes dan Niar juga tertegun melihat Sri membawa berkas kerja ke lantai atas. Sangat aneh jika staf bawahan yang mendampingi Noah menghadap Presdir.


Menguatkan hati dan melangkah ke lift menuju lantai atas. Sudah banyak kepala divisi yang hadir di ruang rapat. Sri tersenyum canggung begitu masuk ke dalam. Pertama yang di lihat adalah Lucky. Pria itu tersenyum di kulum melihat Sri datang. Papi Frans juga tersenyum. Apalagi kakek Fredi. Dia langsung menatap Sri secerah mentari pagi.


Semua orang duduk berjejer. Masing-masing membawa berkas yang harus di serahkan. Kepala divisi masing-masing membawa asisten mereka. Sementara Sri harus mendampingi Noah saat ini.


Sri menatap Noah sedikit memicingkan matanya. Protes dari keputusan Noah memintanya mengantar berkas. Tapi pria itu hanya tersenyum dan menaikkan alisnya.


Lucky tak lepas menatap Sri. Duduk tenang di kursinya sambil menangkupkan jemarinya dan mengetuk berirama. Sri risih di lihat begitu. Saat Sri ingin duduk di sebelah Noah, Lucky cepat mencegah.


"Pak Noah, biarkan asisten anda duduk di sini. Di situ sudah terisi bukan?" ujar Lucky.


Tubuh Sri menegang. Tidak jadi menghentakkan pantatnya di kursi. Kembali berdiri dengan kikuk menatap semua orang yang juga menatapnya seketika.


"Oh.. ya. silahkan kamu duduk di sana, Sri" jawab Noah mengedikkan dagunya ke arah kursi sebelah Lucky.


Lucky tersenyum senang. Noah tidak dapat menolak permintaannya. Lucky tidak mempedulikan banyak mata menatapnya heran. Frans hanya geleng-geleng kepala melirik kearah Fredi.


Wajah Sri merah menahan malu. Beranjak ke kursi di sebelah Lucky. Duduk di sana dengan menunduk. Tak berani menatap kakek dan ayah mertuanya. Sangat merasa sungkan. Meletakkan berkas di atas meja.


Otak Sri terasa kosong. Tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan kakek Fredi lagi. Yang bisa di direkam otaknya hanya sedikit sekali. Fokusnya terpecah dengan kejahilan tangan Lucky.


Dengan tak tahu malu Lucky meletakkan tangannya di paha sri. Untung saja tidak ada yang melihat. Tubuh Lucky condong ke meja di depannya. Sebelah tangannya terulur dan mengelus paha Sri pelan sekali.


Wajah Sri merah padam. Keringat mulai menyembul di dahinya. Dia sangat takut ada yang melihat aksi Lucky. Ingin menyingkirkan tangan itu tapi takut ada yang menyadari. Tubuhnya tegak tak berani bergerak sedikitpun.


Lucky pura-pura memperhatikan kakeknya bicara. Matanya tetap fokus padahal dia sedang menikmati elusan tangannya di paha sri. Terbahak dalam hati melihat wajah Sri yang memerah menahan malu.


"Noah, mana berkas laporan mu?" Fredi menatap Noah.


Mendengar itu, Sri sangat bersyukur bisa menghindari tangan jahil di sampingnya. Segera dia bangkit berdiri membuat tangan Lucky langsung terlepas dari pahanya. Sri berjalan menyerahkan berkas ke depan fredi. Kakek tua itu tersenyum.


"Sudah. Duduk lah di sini. Jangan menuruti anak nakal itu" ujar Fredi pelan. Tak banyak orang yang bisa mendengar.


Sri mengangguk dan duduk di dekat kakek Fredi. Melirik Lucky yang kini melotot menatpnya. Sri tidak peduli. Dari pada ada yang memergoki aksi Lucky. Bisa runyam jadinya.


Sampai selesai rapat, dan semua orang bubar, Sri duduk di dekat kakek Fredi. Langsung berpamitan pada kakek Fredi untuk kembali bekerja. Fredi mengangguk mengiyakan. Juga berpamitan pada papai Frans.

__ADS_1


Keluar dari ruang rapat dengan tergesa. Takut Lucky akan memanggilnya. Tapi bukan Lucky namanya jika tidak bisa menaklukan Sri. Melihat Sri pergi dengan tergesa, Lucky ikut keluar.


Dan benar saja. Belum sempat Sri menghindar, Lucky sudah menarik tangannya dan menggeretnya agak masuk ke sebelah ruang lainnya, dan memepetnya Kedinding. Sri tidak tahu ruangan apa ini. Tapi yang terlihat banyak rak berkas.


"Mase. Ojo ngene mas!" Sri terpekik tertahan kerana kaget dan gelagapan menyadari wajah Lucky sudah berada tepat di depannya.


"Kenapa? Kamu takut?" Lucky mengungkungnya. Mendekatkan wajahnya ke pipi Sri.


"Nanti ada yang lihat mas. Ndak baik" bisik Sri. Takut ada yang mendengar.


"Hmm.." Lucky menggeram pelan. "Kenapa tadi tidak duduk di sebelahku lagi?" suara Lucky terdengar berat. Mengendusi pipi dan leher Sri.


Gadis itu menggelinjang geli. Menahan dada Lucky dan meremas kemejanya.


"Kan kakek yang suruh Sri duduk dekat dia, mas"


Lucky menghentikan endusannya. Menegakkan kepalanya menatap manik mata Sri. Mereka saling tatap.


"Aku cemburu" bisik Lucky.


"Hah?"


Sri tak percaya Lucky mengatakan itu. Sama kakeknya sendiri cemburu? apa itu?


"Aku kangen kamu sayang" bisikan itu sangat pelan. Hampir tak terdengar. Tertekan rasa menggebu di dadanya.


"Iihh.. Mase.. awas! nanti ada yang lihat ini loh mas.." Sri menggelinjangkan kakinya. Gemas melihat Lucky tak memikirkan reputasi mereka.


"Aku tak peduli. Aku rindu kamu"


Lucky menempelkan hidung mancungnya ke hidung mungil istrinya. Tersenyum sendu menatap bibir di depannya. Hati Sri menghangat mendengar itu. Lucky mengecup kecil hidung Sri. Lalu perlahan mengecup bibir Sri lembut.


"Umm.. manis"


Sri bergidik. Memejamkan matanya. Lucky senang di beri lampu hijau. Kini Melu mat bibir manis milik Sri yang kini sudah menjadi miliknya. Sri terlena. Membalas pagutan suaminya. Tapi segera sadar di mana mereka sekarang ini. Sri mendorong pelan dada Lucky hingga pagi Tan itu terlepas.


Napas memburu yang menuntut. Lucky mengusap bibir Sri dengan ibu jari yang gemetar halus. Menandakan dia terlena dengan aksinya.


"Sudah mas. Kita di kantor ini"


"Hmm.. oke. Kita lanjutkan di rumah"


Lucky mengedipkan matanya genit. Sri tertawa tanpa suara. Lucky sudah sangat mesum ketika berada di dekatnya. Sri membenahi rambutnya sejenak, lalu siap pergi. Tak di sangka Lucky menampar bokongnya pelan dengan gemas. Sri terpekik kaget melihat wajah Lucky dengan mata mesumnya.


"Aku tak sabar kita di rumah"


"mesum"


Sri berlari kecil meninggalkan Lucky. Banyak pertanyaan yang terlontar dari ketiga temannya. Tapi Sri hanya bilang kalau dia hanya mengantar, dan duduk sebentar menemani Noah.


Ketika mereka asik mengobrol, terdengar beberapa staf perempuan berkerumun di pintu ruang kerja mereka. Penasaran mereka berempat juga ikut berkerumun. Hanya kepala saja yang nongol di pintu, melihat keluar ruangan.


Tampak Noah dan Lucky sedang berjalan menuju lift. Kedua pria gagah itu asik berbincang. Tak menyadari banyak pasang mata yang memperhatikan.


"Wahh.. mereka berdua sangat tampan.. uughh..." Agnes menatap keduanya penuh minat.


"Iya. Lihat deh tuan Lucky itu. Uughh.. pahanya kokoh banget. Pasti kuat ya kalau lagi bergerak"


Sri tercengang mendengar itu. Seketika mantap Agnes dan Niar menatap Lucky dengan liur menetes. Seakan Noah dan Lucky adalah daging panggang yang lezat siap untuk di santap.


Ada pikiran jahil di otak Sri berseliweran. Niat mengerjai temannya.


"Hey.. mereka berdua itu mempesona banget Yo.." ujar Sri.


"Ho'oh" jawab mereka bertiga serempak tanpa mengalihkan pandangan dari Noah dan Lucky.


"Hmmm.. Kalau misalnya Sri bilang pernah makan malam sama mereka berdua, kalian percoyo Ndak Yo?"


Serempak mereka bertiga menoleh menatap Sri dengan tatapan aneh. Seakan salah dengar dengan apa yang di ucapkan Sri. Lalu mereka bertiga saling melempar pandangan satu sama lain. Dan menatap Sri lagi dengan wajah yang sangat lucu menurut Sri.


"Apa Sri? kamu bilang apa?" tanya Agnes.


"Kalau Sri bilang pernah makan malam sama mereka berdua, kalian percaya tidak?" Sri mengulangi.


Dan ketiganya serempak menjawab dengan keras sambil menoyor bahu Sri.


"MIMPI!!!"

__ADS_1


"Wahahhaahhahhaaa..." Sri tergelak sampai sakit perut.


__ADS_2