
Matahari bersinar terik. Menebar hawa panas ke segala penjuru negeri. Melelehkan peluh di tubuh setiap insan yang berjibaku mencari penyambung hidup. Tanpa kenal lelah dan tak menghiraukan panasnya mentari yang bersinar garang.
Seperti saat ini. Noah melangkah lebar-lebar dengan wajah dingin mematikan. Memasuki sebuah butik yang terlihat ramai karena pamornya semakin naik setelah pulang dari show di Paris.
Ya. Butik Delova milik Amira. Noah sungguh geram dengan tingkah Amira yang menurutnya sudah kelewat batas. Sekarang lah saatnya menegur wanita yang pernah singgah di hatinya hampir empat tahun itu.
Selama ini Noah hanya mendiamkan apapun yang di lakukan Amira. Selagi Lucky masih bisa menuruti apa saja yang Amira inginkan, Noah hanya diam. Tapi sekarang sudah berbeda. Lucky sudah beristri dan memutuskan mengakhiri hubungan mereka. Jadi Noah merasa punya andil untuk menegurnya.
Yesi tampak kaget melihat Noah masuk ke butik dengan pandangan dingin ke arahnya. Segera saja Yesi menghampirinya. Mengangguk hormat dan tersenyum canggung.
"Selamat datang tuan Noah. Anda ingin melihat koleksi terbaru kami?"
Noah diam. Menatap tajam wajah Yesi yang membuat gadis itu bergidik ngeri. Lalu Noah mengedarkan pandangannya ke segala arah. Seperti mencari sesuatu. Tapi belum menemukannya.
"Maaf, tuan Noah. Jika anda tidak keberatan, bagian jas ada di sebelah sini" Yesi sebisa mungkin bersikap ramah walaupun Noah tidak menggubrisnya sama sekali.
Pandangan Noah jatuh di satu titik. Ruang kerja Amira. Gadis itu tampak baru muncul dari balik lemari yang mengantungkan banyak baju. Pantas saja tadi dia tidak melihatnya.
Tanpa menghiraukan Yesi, Noah langsung beranjak ke sana. Yesi dengan panik berlari kecil mengikutinya di belakang.
"Maaf, tuan.. anda mau kemana?" cicit Yesi.
Noah diam saja. Membuka pintu ruang kerja Amira dengan kasar Sampai menimbulkan suara berisik. Amira tersentak kaget mendengar dorongan pintu dengan keras. Matanya bersirobok dengan mata Noah. Noah tidak peduli dengan paniknya Yesi mengikutinya dan bercicit berisik di belakangnya.
Melangkah lebar masuk ke ruangan Amira. Berdiri tegak tepat di depan meja kerja Amira.
BRAAAKK!!
Amira kaget bukan kepalang melihat Noah menggebrak meja kerjanya dengan keras. Mata tajam itu menatapnya marah. Sedangkan Yesi sudah mendelik dan menutup mulutnya. Sangat takut melihat kemarahan Noah. Selama yang ia tahu, Noah sangatlah penyabar. Tapi kali ini, Noah tampak seperti singa lapar yang terluka.
"Kita perlu bicara" desis Noah geram.
Amira melirik pengunjung yang berkasak-kusuk di luar. Mereka mendengar gebrakan keras di meja kerjanya. Pengunjung butik dapat melihat bagaimana marahnya Noah. Karena memang dinding kaca itu tembus pandang.
"Yesi, pergilah urus pengunjung. Dan tutup tirainya" Amira memerintahkan asistennya.
Yesi bergerak cepat. Menutup semua tirai untuk menutupi dinding kaca. Lalu keluar dan menutup pintu.
Amira menatap Noah. Ada rasa gentar di hatinya. Tapi ia coba untuk bersikap tenang. Tidak boleh Noah melihat rasa takut itu tergambar di matanya.
"Duduk lah, No" pintanya.
Noah masih diam mematung. Menatap Amira tajam.
"Baiklah. Terserah mu saja" Amira mengedikkan bahu karena Noah tidak menggubrisnya.
__ADS_1
"Ada apa kau sampai bersikap tidak sopan begini?"
"Kau.. keterlaluan Amira!" sentak Noah marah.
"Apa? apa yang keterlaluan?" Amira bersikap bodoh.
"Hhh.. kau terlalu licik untuk jadi wanita lugu" sarkas Noah.
"Jangan ganggu Lucky lagi. Kalian sudah sepakat berpisah. Dan kau menyanggupinya. Dia sudah memberikan akses buat mu. Tapi kenapa kau masih saja menjeratnya?"
Amira menatap Noah penuh selidik kedalam netra hitam pria itu. Lalu tertawa terbahak.
"Hahahaa.."
Noah sangat jijik melihat tawa itu. Amira selalu bisa menguliti hatinya. Gadis ini terlalu pintar untuk tidak melihat cinta di mata Noah.
"Oh.. jadi.. perempuan kampung itu mengadu padamu? Hahaa... Noaaahh.. Noah. Kau mencintainya?"
Noah diam. Tak ingin memberi angin segar pada Amira. Gadis ini pasti telah melihat cinta itu untuk Sri dari matanya.
"Bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku? hmm?"
Amira mendekat dan memeluk sebelah bahu Noah. Mendekatkan bibirnya ketelinga Noah dan berbisik.
Noah sangat membenci tawa mengejek itu. Amira selalu bisa membaca matanya. Tawa Amira laksana petir menghujam hatinya.
Amira duduk dan menopangkan kakinya. Menampilkan paha putih mulus karena mini dressnya naik. Noah membuang pandangannya jijik.
"Noah ku sayang.. kenapa harus marah? hmm.. Ini kesempatan mu untuk masuk bukan? aku tau kalau kau selalu mengintai perempuan kampung itu setiap saat. Jadi..."
"Tutup mulut mu!" Noah jengah mendengar ocehan Amira. Ingin rasanya menampar mulut tajam Amira.
"Oowwhh.. kau terlihat berbeda, No" mata Amira menatap takjub wajah Noah.
Ini bukan Noah yang dulu. Noah yang lembut dan bersikap kalem. Seterluka itukah Noah mengetahui Sri menangis? Amira belum pernah melihat kilat amarah yang begitu berkobar di mata pria yang dulu pernah dia manfaatkan ini.
"Amira.. jangan membuatku semakin muak melihatmu!" Sentak Noah jengkel. "Jangan pernah mengganggu Lucky lagi. Atau.."
"Atau apa? hah?" Amira bangkit berdiri tak kalah marah. "Apa, No?!"
"Atau aku akan bongkar semua skandal mu"
Amira sedikit kaget mendengar apa yang di katakan Noah barusan. Berarti selama ini Noah juga menyelidikinya. Pria ini sampai tahu semua skandal yang dia lakukan.
"Kau mengancam ku, No!?"
__ADS_1
"Ya. Kenapa? sekarang kau takut?" Noah menatapnya sinis. "Aku sudah melepaskan mu untuk Lucky, Mir. Aku mengalah. Tapi setelah aku tau kau hanya memanfaatkan dia saja, aku tidak bisa tinggal diam"
"Alaaah.. Alasan! bukan karena Lucky kau ikut campur. Tapi karena permpuan kampung itu kan? iya kan?"
Amira melotot pada Noah. Dia sungguh muak berpura-pura di depan Noah. Pria ini sudah tahu segalanya. Apalagi yang harus di tutupi?
"Ya. Aku tidak mau kau merusak hubungan mereka"
"Bohong!!" sergah Amira cepat. Berteriak marah. Berjalan mendekati Noah dengan wajah judes. "Kau juga mencintai dia! kau membelanya!"
Mata mereka saling tatap dengan penuh kemarahan. Napas memburu penuh emosi tinggi. Mencari tragedi di mata masing-masing. Mata keduanya yang dulu penuh cinta, kini berganti saling ejek dan mencaci penuh benci.
"Kenapa jika benar aku membelanya? apa masalah mu?" tanya Noah menggeram.
"Kau dengar, No! sampai kapanpun aku akan tetap merusak hubungan mereka. Aku tidak peduli apapun yang terjadi! dia merebut Lucky dari ku!" Amira menari jas Noah sampai pria itu melekat erat padanya. Jarak mereka sangat dekat.
Noah dapat merasakan dengusan napas panas Amira. Menatap mata indah yang penuh dendam itu. Sebenarnya hatinya terenyuh dan prihatin melihat obsesi Amira untuk bisa mendapatkan pria kaya yang bisa menaikan status sosialnya lebih melambung ke puncak.
Dulu Noah mengenalnya sebagai gadis lugu yang hanya tahu sedikit dunia luar. Sampai ketika Amira melihat teman-temannya penuh materi berlimpah, Amira menjadi terpaut untuk menunjukkan taringnya juga.
Noah tidak mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Dia membuka hanya sedikit sekali tentang kehidupan keluarganya yang sebenarnya. Amira menuntutnya untuk bisa memberi lebih. Bukan Noah tidak bisa, tapi Noah mau menemukan gadis yang tidak melihat harta. Tapi tulus mencintai apa adanya. Dan Amira gagal dalam sesi itu.
Setelah menapaki karir yang sedikit naik, Amira mengenal Lucky. Sebagai seorang model, Amira menjadi brand Ambassador dari produk perusahaan Lucky. Dan terjadilah jalinan cinta itu. Amira meninggalkan Noah di saat sedang cinta-cintaannya.
Noah mengalah dan tidak menyalahkan Lucky dalam hal itu. Lucky tidak tahu hubungan Amira dan Noah. Karena Noah selalu tertutup masalah pribadinya pada orang lain. Dan setelah beberapa bulan berlalu, ketika Lucky melihat pertengkaran mereka berdua, baru Lucky mengetahui kebenaran antara Amira dan Noah. Amira lebih memilih untuk tetap bersama Lucky. Dan Noah pergi menghindar.
Noah menarik paksa tangan Amira yang mencengkram jasnya. Menghempaskan tangan Amira kasar. Membenahi jasnya lagi.
"Jika itu keputusan mu, jangan salahkan jika aku akan tetap menghalangi mu" ujar Noah dingin. Beranjak menuju pintu.
Amira menatapnya nanar. Hatinya perih melihat Noah lebih membela Sri dari pada dia. Merasa Sri adalah duri dalam daging. Penghalang bagi dirinya menuju puncak. Padahal tinggal selangkah lagi dan langkah itu terhenti di anak tangga kedua paling atas.
Impiannya setelah show di Paris yang bisa melambungkan namanya, akan lebih fantastis jika dia segera menikah dengan Lucky setelahnya. Obsesinya itu sangat kuat setelah mengetahui bahwa Lucky bukan saja pemilik Lucky's corp. Tapi juga pewaris utama dari keluarga Albronze yang kaya raya.
"Aku benci kalian semua Nooo...!!" teriak Amira ketika Noah sudah sampai di pintu dan membukanya.
Noah berhenti dan menoleh menatap Amira.
"Bencilah kepada diri mu sendiri Amira. Obsesi mu sungguh menjijikkan!"
Setelah itu Noah pergi dan menutup pintu. Amira terhenyak dalam nestapa. Mengapa mereka berdua malah membela Sri yang notabene sebagai perusak hubungannya dengan Lucky? Kenapa jadi dia yang terpojok dengan semua ini?
Salahkah dia yang ingin menggapai asa dan cita yang telah di impikan sedari dulu? Kenapa juga Sri harus hadir dan menjadi penyebab Lucky berpaling?
Mata Amira memanas. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Mengalir tanpa bisa di cegah. Sakit dan dendam semakin merajai sanubarinya. Lucky miliknya. Hanya miliknya! tidak boleh yang lain!
__ADS_1