
"Hai sayang.. Maaf menunggu lama"
"Hah?!" Sri mendelik. "M-m-maseee.." lirihnya tergagap. Lucky tersenyum manis menatapnya.
Sri dan Agnes terbengong melihat penampilan Lucky yang di luar dugaan. Jaket ojol berwarna hijau itu tampak sangat ketat di tubuh kekarnya. Celana bahan dan sepatu pantofel yang mengkilap. Ah.. janggal sekali! Sri hampir terpekik melihat itu.
Tak kalah mengejutkan begitu seseorang kelaur dari mobil Lucky. Sri dan Agnes menoleh pelan kearah mobil Lucky dengan perasaan ngeri. Tampak Rian memakai jas, Baju kaos berkerah, celana jeans hitam dan sepatu kets putih. Tak lupa topi berbahan jeans yang terbalik kebelakang.
Astagaaa!! Agnes terhuyung lemas melihat itu. Penampilan kedua orang edan di depannya ini sungguh absurt. Tubuh Rian memang tidak bisa di bilang kurus. Lumayan tinggi dengan bahu bidangnya. Tapi tetap saja jas itu tidak cocok di tubuhnya. Bahasa kerennya, jongklang!! kebesaran di bagian bahunya.
"Halo Nes" Rian melambaikan tangannya menyapa Agnes dan menyeringai lebar.
"Ya ampun Gusti.. wes edan opo Yo.." keluh Sri lirih. wajahnya memerah melihat penampilan Rian.
Sementara Dila, Niar, Lukman dan kedua teman lainnya, memperhatikan Lucky dengan seksama. Siapa yang tidak mengenal wajah Lucky? tapi mereka merasa bingung dengan penampilan Lucky saat ini. Apalagi Lucky hanya naik motor metik yang terlihat kecil di bandingkan tubuh tinggi tegapnya.
"Itukan Tuan Presdir ya? kok jadi ojol mbak Dil?" Niar tercengang menatap Lucky.
"Aku juga bingung. Wajahnya sih Presdir. Tapi kok... ojol ya?" Dila juga terperangah heran.
Lukman menatap lekat wajah Lucky. Seakan ingin bertanya langsung, tapi masih mempertimbangkan langkahnya. Kalaupun Presdir, sungguh tidak sopan bertanya langsung. Tapi kalau bukan, tetap saja tidak sopan. Akhirnya Lukman dan kedua temannya hanya diam.
Lucky sungguh cuek. Turun dari motor dan melangkah mendekati Sri. Meraih pundak Sri dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Tubuh Sri kaku. Sangat terkejut melihat kelakuan Lucky yang menurutnya aneh.
Lucky meraih dagu Sri menghadapkannya. Membuat wajah mungil itu mendongak melihat netra suaminya yang tampak penuh binar cinta.
"Maaf ya, kamu lama nunggu" ujar Lucky mesra.
Seeerrr...
Sri terhipnotis. Hanya bisa mengangguk kaku. Lucky tersenyum mesra menatapnya. Di saksikan banyak pasang mata. Tatapan tak percaya dan tercengang takjub. Dila dan Niar baru pertama kali ini melihat langsung suami Sri. Selama ini Sri tidak pernah menunjukkan suaminya.
Sama-sama terkesima melihat wajah suami Sri yang hanya sebagai Abang ojol ini tidak kalah tampan dengan ketampanan artis papan atas. Dan yang lebih mencengangkan, wajah itu mirip sekali dengan tuan Presdir mereka.
(Emang iya coy!! šš)
Rian datang mendekat. Menarik tangan Agnes agar berdiri di sampingnya.
"Ayo pulang, Nes"
Agnes terhuyung mendekat pada Rian. Pemuda itu masih menggenggam tangannya erat. Agnes melirik Dila dan Niar yang menatapnya ternganga. Selama Agnes berteman dengan mereka, belum pernah Agnes terlihat bersama dengan pemuda itu. Mereka berdua juga tidak pernah melihat Rian.
"Oh ya, sayang. Mereka siapa?" tanya Lucky melihat pada Lukman.
"Eh.. anu Mase.. Kenalin mas, ini teman-teman sekantor Sri" jawab Sri tersadar dari keterpakuannya.
Lucky mengulurkan tangannya pada Lukman. Menatap pria itu dengan gagah dan percaya diri. Jauh sekali sikap gantlenya jika di bandingkan dengan pekerjaannya. Tapi sebagai seorang suami, sudah sepantasnya berbangga hati bukan?
Lukman menjabat tangan Lucky dengan tatapan bimbang. Tapi ada rasa jengkel dan juga tak suka di wajahnya.
"Lukman" ujarnya dingin.
"Saya suami Sri. Uky"
Duar!!!
Uky!!
Mas Uky!! Haha!!
Sri hampir tergelak mendengar Lucky menyebut namanya sebagai Uky. Agnes sampai terbatuk-batuk. Dan Rian hanya tersenyum geli. Bergantian Lucky berkenalan dengan yang lain. Lalu Rian ikut juga berkenalan dengan yang lain.
__ADS_1
"Maaf bro, sudah merepotkan kalian semua menemani istriku disini" ujar Lucky tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa. Kamu juga sudah mau pulang" jawab Boby.
Lukman melirik Sri yang selalu menatap wajah suaminya dengan senyum. Ada rasa tak suka melihat binar cinta terpancar jelas di mata Sri. Cemburu menyentak jantung Lukman. Ternyata Sri punya suami yang tampan rupawan. Rasa percaya dirinya agak merosot tajam.
"Maaf, kami harus segera pulang. Permisi"
Lucky pamitan pada semuanya. Tidak mempedulikan lagi tatapan lapar untuk menanyakan banyak hal padanya.
Menarik tangan Sri di genggamannya menuju motor. Naik ke motor di ikuti Sri.
"Mbak Dil, mbak Niar, Sri deluan ya?" Sri minta ijin pada Dila dan Agnes.
Keduanya hanya mengangguk. Masih belum hilang rasa terpana melihat suami Sri yang tampak begitu sayang dan cinta pada gadis medok itu. Sri menoleh pada Lukman. Mengangguk dan tersenyum menggantikan pamitan pulang. Lukman hanya mengangguk dan tersenyum kecut.
Rian juga pamitan pada yang lain. Menarik Agnes untuk naik ke mobil. Dengan perasaan berkecamuk, Agnes hanya menurut saja.
"Kalian berdua sama gilanya" bisik Agnes pada Rian.
"Tapi dia lebih gila dari aku" Rian melirik Lucky di depan mereka yang sudah bersiap akan pergi dengan motor metiknya. Agnes geleng-geleng kepala.
Dengan dekapan sempurna di pinggang Lucky, Sri melingkarkan tangannya di perut suaminya. Punggung kokoh Lucky sangat hangat menampung kepala Sri yang bersandar di sana.
"Sudah siap sayang ku?" tanya Lucky.
"Sudah Mase"
"Siip.. pegangan yang erat sayang.. kita meluncur"
motor bergerak pelan. Dan tak lupa klakson motor menggema mengiringi kepergian keduanya.
Tin tin!!
š
š
š
Jika ditanya apa rasanya sekarang? Sri pasti bilang bahagia tak terkira. Cinta yang bermekaran di setiap sudut hatinya. Penuh bunga dengan harum semerbak sungguh memabukkan.
Kepala bersandar di punggung kokoh suaminya. Tangan memeluk pinggang dan melingakari sampai perut. Memejamkan mata meresapi setiap momen di bonceng Mase ojol, itu tidak bisa di bandingkan dengan apapun.
Angin semilir yang mulai sejuk, seakan hembusan angin surgawi yang beraroma wangi di sepanjang jalan. Goncangan mesin motor tak terasa bagi Sri. Bagaikan berjalan di awan empuk dengan mulus. Senangnya tak terkira. Tak sanggup berkata apa-apa lagi. Hanya menikmati momen indah ini.
"Sayang" panggil Lucky berseru sedikit kencang.
"Ya mas"
"Suka sate?"
"Suka. Kenapa mas?"
"Kita makan sate, mau?"
"Boleh" Sri mengangguk tersenyum senang.
Lucky tersenyum. Melajukan motornya santai. Mobil yang di tumpangi Beni, Agnes dan Rian, masih mengikuti di belakang mereka. Lucky menepikan motornya di pinggir jalan depan warung kaki lima yang menjual sate. Begitupun mobil yang di kemudikan Beni. Mereka turun.
Lucky menggandeng tangan Sri memasuki warung sate kaki lima. Ketiganya mengikuti saja. Duduk di satu meja. Agnes dan Rian hanya diam saja. Saling lirik dengan canggung.
__ADS_1
Setelah memesan beberapa porsi sate untuk mereka, Lucky duduk di samping Sri dan menatapi wajah istrinya tanpa mempedulikan ketiga orang yang dengan canggungnya melihat kemesraan mereka berdua.
"Gimana sayang? suka? hmm?" Lucky mengelus kepala Sri dengan sayang.
Sri menoleh menatap suaminya. Mengangguk tersenyum senang.
"Mase kok bisa ketemu mas.. eh.. kak Rian?" Sri meralat panggilannya pada Rian.
"Hah? Kak?" Rian terperanjat kaget mendelik pada Sri. Tidak terima kenapa Sri jadi menyebutnya dengan panggilan kak yang maksudnya adalah kakak.
"Hihhii.. iya kak. Kakak Rian" jawab Sri terkikik geli.
"Aku uduk(bukan) kakak mu Sri!" Rian jengkel.
"Hmm.. cuma satu mas di hidup Sri. Aku" jawab Lucky tegas.
"Iisshh.." Rian melengos kesal.
Agnes menahan tawanya. Menunduk tak berani terlihat geli. Beni duduk dengan tenang. Pesanan sate sudah datang. Kini meja mereka sudah penuh dengan hidangan. Lucky mengambil satu tusuk dan menyuapka. ke mulut Sri. Dengan patuh, Sri menerima saja.
Lucky menyuapi Sri dengan telaten. Wajah Sri bersemu, malu di depan ketiganya di perlakukan sangat mesra oleh Lucky. Tapi suaminya tidak peduli. Menganggap semua orang hanya patung.
Pengganti Lukman, Rian harus rela melihat kemesraan yang menyakitkan matanya. Menyuapkan sate kemulutnya dengan kesal. Mengunyahnya dengan jengkel. Menarik tusuk sate dengan kencang. Menganggap sate itu adalah Lucky.
"Tapi mas, kenapa pake ini?" Sri menarik jaket ojol yang di pakai Lucky.
Lucky menunduk melihat jaket yang di pakai. Lalu menatap istrinya.
"Aku mewujudkan keinginanmu, sayang. Suami ojol. Dari pada teman mu menganggap dia yang jadi suami mu.." Lucky melirik Rian yang juga sedang meliriknya. Lalu menoleh pada Sri lagi. " 'kan lebih baik aku saja yang sah"
"Hihihii..."
Sri dan Agnes terkikik geli. Membuat Rian jadi semakin kesal.
"Iya iyaaa.. aku ojoool.." dengus Rian dengan kunyahan geram.
Lucky menahan senyumnya melihat kekesalan Rian. Beni, Sri dan Agnes tertawa melihat kejengkelan yang tidak bisa di sembunyikan Rian.
Lucky tetap menyuapi Sri dengan telaten. Makan bersama di warung kaki lima seperti ini, baru pertama kali di lakukan Lucky sepanjang hidupnya. Hidupnya yang selalu teratur dan terencana, tidak pernah merasakan kebebasan seperti sekarang. Ini sungguh pengalaman yang mengasyikkan buatnya.
Setelah selesai makan, mereka bersiap pulang. Lucky membuka jaket ojol milik Rian. Menyerahkan pada pemuda itu. Dan tak lupa menyerahkan kunci motor pada Rian. Lalu mengajak Sri pulang.
"Mbak Nes, kak Iyan, Sri pulang dulu ya?"
"Iya Sri. Kami belakangan aja deh" Agnes tersenyum.
"Agnes, terima kasih sudah menemani istriku hari ini" Lucky menatap Agnes penuh rasa terima kasih.
"Iya tuan. Itu bukan apa-apa" Agnes membungkuk hormat.
Lucky menarik tangan Sri keluar dari warung. Rian yang tidak di sapa, mendelik marah. Merasa di remehkan.
"Laahh.. aku di anggap apa ya?!" geramnya menatap marah pada punggung Lucky yang sudah keluar dari warung.
Tapi tak disangka, Lucky berbalik. Menatap langsung ke netra Rian.
"Rian" Lucky tersenyum kecil. "Besok, datanglah ke kantor jam sepuluh pagi"
Setelah mengatakan itu, Lucky berbalik. Sri sangat kaget Lucky mengatakan itu barusan. Itu artinya Lucky akan menerima Rian bekerja di kantornya. Senyum bahagia mengembang di bibir Sri.
Rian dan Agnes ikut keluar dari warung. Menunggu sampai mobil Lucky akan pergi. Lucky membuka kaca mobil dan melongokkan kepalanya keluar. Berseru ke arah Rian.
__ADS_1
"Rian! jam sepuluh pagi! jangan pakai jaket tadi! Terima kasih barternya!"