OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Pangeran Usil


__ADS_3

Mereka bertiga keluar dari lift. Telah sampai di lantai gedung tepat di divisi Noah. Melangkah beriringan menuju ruang kerja Noah. Lucky menampilkan wajah tegas dan dada membusung tegap. Ia akan menunjukkan pada Sri, kalau dia sebagai penguasa di tempatnya bekerja. Dan istrinya yang selalu mengedepankan prioritas perusahaan, pasti tidak bisa berkutik di depannya. Ada tawa bahagia di hati Lucky ingin segera melihat reaksi Sri.


Begitu masuk ke ruang divisi pemasaran, semua staf langsung berdiri melihat Lucky dan Noah masuk. Tak terkecuali Dila, Niar, dan Agnes. Sri tampak agak sedikit kaget melihat Lucky mengintil di belakang Noah. Tapi cepat ia sembunyikan rasa kaget itu. Menunduk pura-pura tidak melihat.


Lucky melirik Sri di kubikelnya. Tapi gadis itu tidak mau melihatnya. Hanya menunduk menatap ke mejanya. Entah apa yang di lihat di sana. Geram juga melihat Sri pura-pura tak mengenalnya.


Mereka bertiga terus berjalan melewati banyak kubikel staf yang bekerja. Dengan keki, Lucky meraba kantong kemejanya. Ada pulpen disana. Mengambilnya dan membuka tutup pulpen itu. Menggenggam di tangannya. Sambil memperhatikan semua staf divisi pemasaran. Mereka semua tidak melihat kearahnya karena menunduk. Ini kesempatan bagus. Lucky menyeringai jahil. Begitu lewat di depan kubikel Sri, Lucky melempar tutup pulpen itu ke arah Sri.


Tuk!


Tak di sangka, tutup pulpen itu mengenai dada Sri. Terperanjat Sri Melihat tutup pulpen yang terlempar mengenai dadanya dan jatuh di atas meja. Mendelik kaget langsung mendongakkan kepalanya melihat Lucky berjalan di depan kubikelnya.


Ting!


Sungguh Sri sangat geram melihat lucky mengedipkan matanya genit dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya. Dan genggaman tangannya menempel di pipi membentuk telepon, jari kelingking di mulut dan ibu jari di telinganya. Lalu mulut Lucky berkata tanpa suara.


"Call aku"


Sri semakin melototkan matanya lebar dengan pandangan geram pada Lucky. Tapi sialnya Lucky malah tertawa tanpa suara sambil mendongakkan kepalanya. Tergelak senang sampai menghilang masuk ke dalam ruang kerja Noah.


Sri duduk lagi dan mengambil tutup pulpen di atas mejanya. Menggenggam dan ia remat keras. Agnes meliriknya dan tersenyum geli. Gadis itu melihat aksi Lucky tadi dari sudut ekor matanya.


Dila melihat Agnes terkikik sendiri. Menatapnya curiga. "Nes! ngapain kamu cekikikan begitu?"


"Hihiihi.. enggak kok mbak. Aku baru lihat pangeran jahil"


"Hah? apaan sih lu? Perasaan dari tadi pak Noah diem aja" Dila mengernyitkan dahi, menatap Agnes sinis.


Gadis itu tak menjawab lagi. Hanya terkikik kecil sambil melirik Sri. Dila menyangka, Agnes membicarakan Noah. Dia tidak tahu maksud Agnes adalah Lucky. Sang pangeran yang sedang menjahili istrinya.


Sri pura-pura tidak mendengar itu. Masih menunduk menatapi genggaman tangannya yang berisi tutup pulpen Lucky. Tidak mau Dila mengikut sertakan dirinya karena ulah Agnes.


Tidak ikut nimbrung saja sudah banyak gosip tentangnya. Apalagi mereka tahu tadi kejahilan Lucky, pasti gosip panas menyebar lagi. Untung Agnes masih bisa di ajak kompromi untuk tidak membuka status Sri sebagai istri sahnya Lucky. Gadis berambut kriwil itu menurut saja.

__ADS_1


Sri jadi tidak fokus bekerja. Melihat Lucky, rasa nyeri itu muncul lagi. Semua memori yang sudah menumpuk di kepalanya seakan menari mengelilinginya. Di tambah memikirkan kenapa Lucky sampai datang ke kantor.


" Ndak punya kerjaan lain apa? kok bisa-bisanya mesti dateng ke sini?" gumam Sri gemas sambil meremasi tutup pulpen di tangannya. Berdoa semoga Lucky tidak bersikap yang aneh-aneh.


Ting Ting..


Pesan masuk di ponselnya. Sri mengecek notifikasi pesan. Tampak di sana Lucky yang mengirim pesan. Membacanya tanpa membuka aplikasi chatnya.


"Sayang, masuk ke ruang kerja Noah. Aku rindu kamu 😘😘😘😘"


"Iiishhh..."


Sri mendesis sebal. Agak kasar meletakkan ponselnya di meja. Tidak mau menuruti apa yang dikatakan Lucky di pesannya. Kembali fokus pada pekerjaannya yang tertunda. Membuang pikiran kusut yang sedang menari ria di otaknya.


Sri melirik Dila yang tampak mengangkat telepon dan berbicara sejenak. Lalu Dila mendongak ke arahnya.


"Sri"


"Eh.. ya mbak" Sri melongokkan kepalanya.


Deg!


Pasti ini kerjaan Lucky. Baru saja berdoa, malah doanya tidak terkabul. Sri resah. Merutuki Noah dalam hati. Alih-alih mengerti kalau Sri tidak mau bertemu Lucky, malah alasan agar Sri mengantarkan berkas.


"Aduh mbake.. Sri masih nanggung ini. Mbak Dila aja yang antar mbak. Ini udah selesai kok" Sri mengacungkan map merah yang di berikan Dila tadi untuk di periksa.


Tanpa curiga, Dila mengalah. Bangkit berdiri dan mendekati kubikel Sri. Meminta berkas yang sudah di periksa ulang oleh Sri. Lalu pergi keruangan Noah. Sri menghembuskan napas lega. Lepas dari jeratan suami jahil.


Tapi tak berapa lama, Dila sudah kembali lagi. Merengut di depan kubikelnya. Sri merasa bersalah melihatnya. Pastilah Dila di tolak masuk. Karena memang targetnya adalah Sri sendiri.


"Kamu bandel Sri. Nih.. aku ditolak. Harus kamu yang antar"


Dila menyerahkan map merah itu lagi di meja kerja Sri. Gadis itu menatap nanar map berkas itu. Tidak bersemangat untuk bangkit dan masuk ke dalam ruang kerja Noah.

__ADS_1


"Sri, cepetan dong. Tuan Lucky mau lihat laporan yang ini" Dila menowel pundak Sri.


"Eh.. iya mbak"


Sri bangkit dan memegangi map merah itu. Dila sudah kembali ke kubikelnya lagi. Sri merasa nelangsa jika harus masuk dan bertemu Lucky didalam. Tapi dia tidak bisa membantah. Semua rekan kerjanya tidak tahu apa yang terjadi.


"Sri" Agnes memanggil dengan suara tertahan. Sri menoleh.


"Semangat!"


Agnes mengacungkan kepalan tangannya keatas. Memberi yel yel pada Sri denga. senyum ceria. Bukannya Tertular ceria, Sri malah ingin menjitak kepala Agnes saja rasanya. Gadis itu sama saja seperti Noah. Menyebalkan.


Melangkah pelan ke depan ruang kerja Noah. Mengetuk pintunya sesaat. Tak menunggu hitungan menit, pintu sudah terbuka. Beni berdiri didepannya dan mengangguk hormat. Tapi tak berani menatap mata Sri karena masih merasa bersalah telah mengingkari janji. Beni menyingkir memberi jalan Sri masuk kedalam.


Sri melangkah masuk. Noah duduk bersama Lucky di sofa sebelah kanan ruangan. Noah cuek saja melihat kedatangan Sri. Tapi pria di sampingnya, melihat Sri seperti melihat cahaya kemilau yang datang dari syurga. Tersenyum senang dengan wajah menunjukkan antusiasme yang kental. Sri sampai bergidik melihatnya.


"Bawa ke sini berkasnya, Sri. Tuan lucky ingin memeriksanya" ujar Noah.


Sri memutar bola matanya malas. Tapi tak urung melangkah juga mendekati mereka berdua.


"Ini pak" Sri menyodorkan map merah itu ke depan Noah.


Noah menatapnya lekat sambil menaikkan kedua alisnya. "Bukan aku. Tapi serahkan pada Tu-an Lu-cky" Noah mendikte.


"Ck.. sama saja ini pak. Bapak atau siapa pun, saya kira Ndak ada bedanya" Sri berdecak kesal.


"Beda, Sri"


"Apa bedanya? sama saja kalian berdua" ujar Sri skeptis.


"Bedanya..." kata-kata Noah terpotong.


"Aku cinta kamu sayang" Suara berat itu menggema.

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2