
"Kamu mau kita cerai?" tanya Lucky menegang.
Sri juga ikut resah. Haruskah bercerai? Tapi.. apa secepat ini?
"Bukannya Mase yang mau begitu? Sri nanya sama Mase Lo" Sri cemberut mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
Lucky tertawa di tahan. Hanya dada dan perutnya bergetar menahan tawa. Sri semakin merengut melihat Lucky mentertawakannya. Lucky mengerti jika mereka berdua telah salah paham.
"Tuh kan.. Mase ngetawain aku" Sri menahan tangisnya lagi. Hatinya nelangsa di tertawakan Lucky.
"Hhhhehehh.. Maaf.. maaf. Aku bukan menertawakan m, Sri. Tapi kita berdua salah faham" Lucky minta maaf sudah membuat Sri tak nyaman.
Dia harus segera bertindak. Bicara adalah solusinya. Beni benar. Harus bicara pada kedua gadis itu secepatnya. Kalau tidak, dia tidak akan mendapatkan salah satu dari mereka.
"Sini" Lucky menepuk sofa di sampingnya. Meminta Sri pindah ke sebelahnya.
Sri menatap ragu. Ini senjata Lucky. Pasti pria ini mau mesum kalau sudah bersikap manis.
"Ndak mau. Sri di sini aja" jawab Sri ketus.
Lucky tergelak. Ia tahu kekhawatiran Sri. Mengalah, dan berpindah duduk di samping Sri. Merangkul gadis itu dengan sabar dan sayang. Membelai rambut halus milik Sri. Tapi Sri bereaksi lain. Agak menghindar. Lucky merasakan itu. Tapi dengan sabar dia hanya tersenyum.
"Maksudku bukan cerai, Sri. Tapi kita buang saja kesepakatan itu. Kita mulai dari awal ya? mau?"
"Hah? Maksudnya?" Sri masih bingung.
"hmmm.." lucky menghela napas panjang. "Begini, aku tidak mau ada kesepakatan lagi di antara kita. kita mulai dari awal. Kita pacaran. Mau?"
"Lah? pacaran piye Mase?! Lah wong kita udah nikah, mau pacaran gimana lagi?" Sri menoleh menatap Lucky.
Sumpah! Lucky geli. Ingin terbahak saat ini juga. Tapi dia takut Sri tersinggung. Sungguh istrinya ini sangat menggemaskan. Kenapa dia tidak menyadarinya dari awal menikah ya? bodoh!!
"Iya sayang. Kita menikah. Tapi kita kan belum mengenal satu sama lain dengan baik. Aku mau kita mulai mengenal. Kita pacaran yang halal"
Sri menunduk. Bagaimana pacaran? Trus Amira mau dikemanakan? di sulap jadi debu? gelisah itu menyerangnya. Tembok besar masih menghalangi mereka.
"Trus, mbake Amira piye mas?" tanya Sri lirih.
Lucky menarik dagu Sri menghadapkan wajahnya di depan Lucky. Menatap gadis itu teduh. Ia tahu Sri gelisah karena Amira. Mereka berdua terlihat seperti pasangan selingkuh yang akan mencari taktik untuk menceraikan istri pertama. Ironis memang.
Lucky mengecup kecil bibir Sri. Menatap lagi dan mengusap bibir mungil di depannya dengan jempolnya.
"Beri aku waktu. Aku tidak bisa membuang janji ku begitu saja padanya. Aku akan menjelaskan padanya agar kami berpisah. Bisakan?"
Sri menatap netra hitam di depannya. Tidak ada kebohongan di sana. Tulus Lucky mengatakan itu. Sri mengangguk kecil. Dan Lucky tersenyum menang. Mengecup lagi bibir segar itu. Memagutnya sesaat. Melepaskan dan memeluk tubuh mungil istrinya.
Sri dapat merasakan degup jantung Lucky berdetak berirama. Lucky memintanya pacaran. Edan memang. Sepasang suami istri yang sah ingin menjalin hubungan baru dengan berpacaran untuk pendekatan satu sama lain.
"Mas, tapi kerjanya Sri gimana?" tanya Sri lirih.
"Di kantor ku saja"
Sri melepaskan pelukan Lucky. menatap mata pria itu berani. "Ndak bisa gitu mas. Mas Noah.. ehh.. pak Noah sudah menjamin Sri kerja Lo mas. Ndak enak kalau sampai Sri keluar"
"Hmm.." Lucky mengetatkan rahangnya. Teringat Noah lagi. Sialan memang Noah. Masalah ini, dia selangkah lebih maju dari Lucky. "Ya sudah. Kerja saja"
"Beneran mas?" Sri mencengkram lengan Lucky erat. Lucky sampai melirik tangan mungil itu di lengannya. Tak percaya Sri sebahagia itu bekerja bersama Noah.
"Ada syaratnya"
"Syarat? apa?"
__ADS_1
"Jangan lihat yang lain. Tidak boleh panggil mas pada lelaki lain. Selalu bersama ku sampai kapan pun. Dan tidak usah pakai baju kalau bersama ku"
"Hah? apa? ih.. piye to Mase? Gimana gak pake baju coba?"
"Kalau kita sedang berdua" jawab lucky akhirnya.
"Hmpt.. mesum!" Sri mencebik.
Lucky tergelak. Sangat senang Sri sudah bisa bersikap seperti biasa. Tidak murung dan menangis lagi.
"Sri, kamu membuat ku candu"
Lucky mengusap pipi Sri. Gadis itu merona. Lucky gemas dan mengigit pipinya. Sri mengaduh kesakitan.
"Sakit Mase!" memukul bahu Lucky.
"Aku gemes sama kamu"
Lucky menarik Sri bangkit. Menaruh di pangkuannya. Tubuh mungil itu terhenyak di kedua paha kekarnya. Saling menatap dan Lucky tersenyum. Sri menunduk malu di perlakukan begitu.
"Kamu cantik. Tapi pesek" Sri mendongak dan mencebik pada Lucky.
"Iya.. Sri pesek. Kan mbak amira yang mancung. Cantik lagi"
"Sssttt.. tapi aku suka kamu"
"Hmpt.." Sri cemberut memonyongkan bibirnya.
"Jadi kita pacaran ya?"
"Maunya Mase kan gitu. Bentar pacaran sama Sri. Ehh bentar lagi di telepon mbak Amira ya lengket juga kesana. Mase itu bunglon. Pindah tempat terus ganti warna. Sri Ndak mau pacaran sama bunglon!" tegas Sri.
Lucky mendelik mendengar ucapan nyerocos itu. Menangkup wajah Sri denga. kedua tangannya, mengahdapkan padanya.
"Ya bunglon lah. Kemarin Mase kemana sampe Ndak pulang? Sama mbak Amira toh? ahem-ahem juga. Sri ngerti lah" Sri menepis tangan Lucky dari wajahnya.
"Haha.. Jadi kamu cemburu?"
"Ya cemburu lah! Mase sama Sri aja mesum tingkat dewa. Apalagi sama mbak Amira yang cantik selangit. Hih.." Sri mencubit dada Lucky.
Lucky diam. Menikmati aroma cemburu yang di tampilkan istrinya. Cemburu tanda suka. Itu artinya mereka punya rasa yang sama. Merasa tak ada jawaban, Sri menatap tajam ke mata Lucky yang masih menatapnya dengan senyum.
"Beneran mas? Mase ahem-ahem sama mbak Amira kemarin? makanya Ndak pulang?"
Ahhh.. istriku.. Kau lucu sekali. Aku semakin tidak bisa lepas dari jeratmu. Kau menggemaskan..
"Mase! kok diem sih? beneran ya mas?" Sri merengek mencubit dada Lucky lagi.
"Sayang, ku akui aku masih belum bisa melepas Amira. Kami bersama sudah dua tahun ini. Tapi, aku belum pernah berbuat jauh dengannya. Aku menunggu sampai sah. Tapi malah kamu yang ambil perjakaku"
Sri membulatkan matanya sempurna. Merasa tidak percaya kalau Lucky melepas perjaka bersamanya.
"Tidak percaya?" Lucky mengedikkan dagunya.
"Tapi, Sri lihat mase di dapur lagi.. lengket tu lambe kayak perangko"
"Lambe?" Lucky mengernyitkan alisnya tidak mengerti.
"Ini... ini lambe. Lengket kayak perangko sama mbake" Sri mengusap bibir Lucky gemas.
"Hahaha.." Lucky tergelak. Lucu sekali Sri kalau lagi cemburu.
__ADS_1
"Dikit itu. Banyakan sama kamu"
"hih.. Kayak lintah" Sri bergidik.
"Aku pertama kali sama kamu. Belum pernah sama yang lain. Sekalipun Amira. Aku tergila-gila sama kamu, Sri"
Wajah Sri bersemu lagi. Gombal banget nih bunglon. Lucky menggerakkan pinggulnya di bawah. Membuat Sri mendelik. Dapat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana. Mengganjal duduknya.
"Aku selalu terbayang hangatnya, sayang. Kamu nikmat sekali"
Lucky menggeram. Pandangannya sayu. Masih bergerak menggesek pelan. Sri diam bergidik ngeri. Merangkulkan tangannya di leher Lucky.
"Kita pacaran ya?" tanya Lucky lagi dengan bisikan. Mata mereka saling menatap intens. "Maukan, sayang?"
Sri mengangguk pelan. Wajahnya sudah Semerah tomat matang. Hawa panas mengalir deras kekepalanya. Lucky menggeram bergerak di bawahnya. Tangannya mulai merambat membuka Kancing baju Sri. Gadis itu hanya pasrah.
Menampilkan tonjolan indah padat menggantung. Dengan puncak yang sudah tegak minta sentuhan. Dengan lembut mulut Lucky mampir disana. Membuat Sri mengerang kecil. Memejamkan matanya meresapi lidah panas bergelora milik kekasihnya.. suaminya tercinta.
Bergantian kanan dan kiri, menciptakan bercak merah kecil-kecil di sekelilingnya. Meremas gemas dan memi Lin ujung pinky itu. Menatap mata Sri lagi. Tak bosan ingin melihat reaksi istrinya ketika di sentuh. Merekam dengan baik dalam otaknya setiap ekspresi wajah Sri. Itu candu baginya.
"You are mine baby. I am yours. Hmmm.. mende sah lah Sri.." bisik Lucky gemas melihat geliatan Sri melenting ke depan. Menyajikan puncak indah itu di depan wajahnya.
"M-mmaass.."
"Yahh.. Begitu.. Lagi sayang"
"Mas.. L-luckyy.."
"Yahh.. aku bersama mu"
Lucky tergesa melepas sabuknya. Menarik resletingnya ke bawah. Mengangkat Sri agar berdiri. Lalu menarik celana Sri cepat. Membuat Sri kelabakan bingung dengan apa yang terjadi. Itu sangat cepat.
Lucky menarik Sri lagi kepangkuannya. Mengangkat pinggul gadisnya sedikit. Lalu mengeluarkan juniornya yang sudah sekeras batang kayu laut. Pongah ingin segera menaklukan badai.
"Kemari. Ayo kita dayung" Lucky menggeram gemetar.
Sri menggigit kecil bibir bawahnya. Mengernyitkan keningnya menanti penyatuan mereka. Dengan sabar Lucky menggesek agar bisa menembus surganya. Sedikit menekan pinggul Sri kebawah, dan seirama dia menyentak ke atas.
"Ughh.."
"Hkkmmm.."
Sama-sama mengerang menahan napas. Lucky memasuki istrinya. sempit, di remas, berkedut-kedut. Lucky memeluk tubuh Sri. Memburu napasnya di dada polos istrinya. Mendiamkan sejenak agar Sri bisa terbiasa dengan kesesakan di dalam dirinya.
Sri meremas belakan kepala Lucky. Memejamkan mata merasakan dahsyat yang baru pertama di rasakan dalam posisi ini. Sesak menyumpal dalam dirinya. Penuh tanpa sisi kosong lagi. Napas memburu dan mengeluh sesaat.
Tangan Lucky menelusup di paha bagian bawah. Melingkarinya sampai ke pinggang Sri. Lalu mengangkat tubuh Sri seperti terduduk. Dan menghujam bersaman menghentak Sri kebawah.
"Maasss!!" Sri berteriak. Mendelik dan bergetar seluruh tubuhnya.
"Ya sayang.. Kamu suka? hmm.."
Sri menggigit bibirnya keras. Tak kuasa merasakan gelombang dahsyat hentakan keras itu. Menunduk melihat mata Lucky sayu. Lucky mengulanginya lagi. Mengangkat tubuh Sri dan menghenyakan keras kebawah.
"Heggghhh.."
Sri tidak kuat. Merasakan tubuh Lucky menghujam dalam. Mentok di ambang batas. Berkedut dan mengalirkan rasa yang tak bisa dilukiskan kata.
Banjir.. Air bah menggulung memecah dahsyat. Baru beberapa kali gerakan, Lucky sudah menyentuh titik sensitif dalam dirinya. Terengah Sri menadorong dada Lucky. Meremas rambut pria itu dengan gusar. Kelojotan dengan mulut menganga.
"Yahh.. begitu.. lepaskan dengan ku.. kau milik ku. Ahh Sri.. aku tergila-gila padamu.. "
__ADS_1
Lucky meracau saking gemasnya melihat ekspresi wajah Sri dalam nikmat. Mulai memacu dengan ritme pelan, dan sekali menyentak. Tak peduli mereka masih berpakaian lengkap. Peluh membanjir akibat panas yang mendera. Pendingin ruangan tak mampu mengusir hawa menggebu diantara mereka. Sampai melenguh bersama dalam nikmatnya cinta.