OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Sepeda Ontel Tua


__ADS_3

Setelah Oma beristirahat, Sri masuk ke kamar. Lucky masih tidur pulas mengembara ke alam mimpi. Sri duduk di kursi dekat tempat tidur. Memperhatikan wajah tampan suaminya.


Pertanyaan Oma tadi sedikit mengganggu pikirannya. Hamil. Selama ini Sri tidak pernah memikirkan soal itu. Apalagi pernikahannya yang hanya berawal dari sebuah kesepakatan dengan Lucky. Itu membuatnya tidak pernah memikirkan arah tujuan rumahtangganya.


Sebenarnya Sri masih menyangsikan kesungguhan Lucky. Walaupun sikap Lucky sudah semanis madu padanya, tapi Lucky belum pernah menyatakan cintanya pada Sri.


Gadis itu berpikir itu adalah gaya orang dewasa. Tidak penting pernyataan cinta dari lisan. Tapi dengan perbuatan, maka semua telah menampilkan rasa cinta itu sendiri.


Di lubuk hati Sri yang paling dalam, sebenarnya ingin sekali Lucky mengungkapkan rasa cinta itu padanya dari mulut suaminya sendiri. Tapi Sri merasa malu dan takut untuk bertanya. Takut di kira terlalu banyak permintaan dan banyak aturan. Sri selalu memendam keinginan itu.


Jujur saja. Hatinya telah terpaut oleh Lucky. Wanita itu selalu mengedepankan perasaan dari logikanya. Apalagi Lucky sudah menunjukkan sikap manis. Ketika Sri rela menyerahkan tubuhnya pada Lucky, maka cinta itu pun semakin bertumbuh dengan berjalannya waktu.


Tapi bagaimana dengan Lucky? benarkah dia merasakan hal yang sama? atau hanya sekedar tanggung jawab sebagai seorang suami? Sri menghela napas panjang.


Lucky bergerak menggeliat dan perlahan membuka matanya. Yang pertama kali di lihat adalah istrinya yang duduk sambil menatapinya dengan senyum manis.


"Hai.. sayang" sapanya dengan suara serak dan mata yang menyipit.


Sri hanya tersenyum. Hatinya masih banyak tanda tanya untuk Lucky. Tapi dia tak ingin merusak suasana liburan dadakan ini.


"Kenapa? hmm?"


Sri menggeleng pelan. Mengatakan dia baik-baik saja. Tapi Lucky tahu kalau Sri sedang memikirkan sesuatu. Bergerak bangkit dengan bertumpu lengannya di tempat tidur. Lalu meraih tangan Sri dan menariknya agar bergabung bersamanya.


Sri menuruti. Lucky bergeser sedikit memberi tempat untuk Sri. Gadis itu berbaring di sebelahnya. Lucky menelusupkan tangannya di bawah kepala sri. Memberi tangannya sebagai bantal. Mendekap erat tubuh Sri yang berbaring miring memunggunginya.


"Ada apa? Kau memikirkan sesuatu? hmm?"


Lucky mengendus tengkuk belakang Sri. Menghirup aroma tubuh dan rambut Sri yang harum. Sri hanya menggeleng pelan.


"Jangan bohong. Aku lihat kamu memikirkan sesuatu. Apa tidak kerasan disini? kita bisa segera pulang"


"Ndak kok mas. Sri suka di sini" Jawab Sri lirih.


"Hmmm"


Lucky mengecup lembut daun telinga Sri. Membuat gadis itu menggeliat geli.


"Oma bilang apa pada mu?" Lucky berbisik sambil terus mengecupi telinga Sri.


"Aduh.. geli mase" Sri agak mengedikkan bahunya agar Lucky berhenti. "Oma Ndak bilang apa-apa kok"


"Bohong. Pasti Oma bilang aku tampan kan?"


Tak mengindahkan permintaan Sri untuk berhenti. Tapi malah menjilat telinga Sri lagi. Sri bergidik dan makin merapatkan bahunya ke telinganya.


"Lebay Mase! mana ada Oma bilang begitu. Malah Oma bilang Mase itu nakal" Sri mencubit kecil tangan Lucky yang melingkari pinggangnya.


"Hehe.. akhirnya kamu bicara"


"Isshh.. jangan begitu mas. Geli loh.."


Sri mendorong tubuh Lucky kebelakang. Agar tidak terlalu menempel di punggungnya. Tapi mana bisa lucky berhenti. Yang ada dia malah mendekap Sri lebih erat. Tangannya nakal sudah masuk kebalik baju Sri. Membuat gadis itu mengejang tiba-tiba.

__ADS_1


Jari Lucky bergerak gesit menyentuh ujung dadanya. Bergerak pelan di puncaknya dan menggesek lembut.


"Aku tidak nakal. Mereka saja yang selalu mengganggu ku, sayang. Jadi aku hajar sekalian" tanpa menghentikan aksi jarinya.


"Itu sama saja mas. mmhh"


Sri menarik tangan Lucky. Tapi nihil. Jari besar itu malah mengapit puncak dadanya dengan lembut.


"Mereka yang nakal sayang"


Lucky membalikkan tubuh Sri tiba-tiba. Kini mata mereka bertemu. Lucky menaikkan baju Sri keatas. Membuka akses lebih mudah. Puncak gunung itu menyembul dengan jari Lucky diantaranya.


"Hmmm .. lihat betapa tinggi puncak gunung ini"


Topik Lucky sudah lari jalur. Sekarang menatap dada Sri dan memi lin lembut. Membuat Sri memejamkan matanya malu. Perlahan Lucky menunduk. Menji Lat ujung pinky yang telah tegak menantang. Lalu mendongak menatap Sri lagi.


Melihat wajah istrinya yang telah bersemburat merah dengan mata terpejam, Lucky tersenyum menang. Dengan mudah meluluhkan sri. Kembali mencucup ujung pinky itu dengan jahil. Sri meremas tangan Lucky erat.


Mulutnya sibuk mengu lum dan menghisap, sementara tangan yang satu lagi tak mau tinggal diam. Menarik dan memi Lin sesekali. Sri menggelinjang resah. Lucky selalu bisa membakarnya dengan rasa panas sampai keseluruh tubuh.


Sri mengerang nikmat dengan suara lirih. Membuat Lucky semakin bersemangat ingin mendengar rintihan Sri lebih keras. Menggigit kecil sampai Sri menarik rambut Lucky agar berhenti. Tapi tarikan itu malah semakin menarik ujung dadanya membuat Sri meringis sakit.


Lucky melepaskan bibirnya dari sana. Menatap istrinya sayu.


"Sayang, mau sensasi baru lagi?" bisiknya mesra.


Sri membuka matanya resah. Sensasi apalagi? mereka di rumah Oma. Kalau Lucky nekat dengan sensari barunya, bisa-bisa atap rumah Oma bergetar hebat akibat teriakan mereka berdua.


"Ojo macem-macem loh Mase. Kita di rumah Oma" Sri memperingatkan.


"Di mana mas?"


Lucky tidak menjawab. Bangkit dari tempat tidur dan menarik Sri agar mengikutinya. Tergesa membenahi pakaiannya yang sudah morat-marit. Keluar kamar dan menuju ke dapur. Bertemu dengan Nirah.


"Bu Nirah, pak Edi mana?"


"Ada di belakang tuan" jawab Nirah membungkuk hormat.


Lucky segera keluar dari dapur lewat pintu belakang. Tampak pak Edi sedang sibuk menyiram tanaman jahe.


"Pak Edi!"


Lelaki paruh baya itu menoleh menatap Lucky. Segera meletakkan ember dan gayung, lalu segera menghampiri Lucky.


"Iya tuan" terbungkuk hormat.


""Sepeda pak Edi mana?"


"Sepeda?" pak Edi mengerutkan dahinya. "Ada tuan. Tapi tuan Lucky mau kemana?"


"Saya pinjam dulu ya. Mau jalan-jalan sore" jawab Lucky.


"Oh iya tuan. Sebentar saya ambil dulu"

__ADS_1


Pak Edi pergi mengambil sepedanya. Sri menarik tangan Lucky agar pria itu melihat padanya.


"Kita mau kemana Mase?"


"Tenang saja. Dijamin kamu suka" Lucky merncubit dagu Sri. "Aku ingin kamu mengerang nikmat di sana" bisiknya.


"Ihh... apa apaan Mase!"


Sri memukul lengan Lucky. Merasa gerah dengan kata-kata vulgar suaminya tadi. Lucky hanya terkekeh senang. Pak Edi datang dengan sepeda ontelnya. Memarkirkannya tepat di depan mereka.


"Ini tuan sepedanya"


Lucky naik ke atas sepeda. Menatap Sri dan menggerakkan kepalanya menunjuk boncengan di belakang sepeda. Meminta Sri agar cepat naik. Tapi Sri meragu. Sepeda tua itu terlihat tak seimbang dengan beban yang akan di tanggung.


Sepeda ontel tua dan tubuh Lucky yang kekar, membuat Sri merasa ngeri untuk naik ke boncengan. Ia merasa sepeda itu pasti akan bengkok jika di tambah beban tubuhnya.


"Ndak ah mas. Ntar sepedane penyok" Sri menolak.


"Hehehe.. jangan takut nona. Sepedanya aman" pak Edi terkekeh melihat Sri ketakutan.


"Ayo sayang, cepat naik"


Lucky seakan tak sabar ingin Sri segera naik. Tapi Sri masih ragu.


"Benaran kuat toh pakne?" Sri melihat pak Edi untuk meyakinkannya.


"Di jamin nona" pak Edi tersenyum


Agak takut Sri melangkahkan kakinya. Naik ke boncengan sepeda. Meremat kuat kaos Lucky. Segera Lucky bersiap mengayuh sepedanya meninggalkan rumah Oma.


Sri memejamkan matanya takut. Ada suara berisik entah di bagian mana dari sepeda itu ketika Lucky mulai di kayuhan yang pertama.


"Mase! hati-hati!" Sri gemetaran.


"Iya sayang. Jangan berisik. Nanti ketahuan Oma"


Lucky tampak kesusahan mengayuh sepeda yang terasa berat. Membuat Sri merasa hampir pingsan ketakutan. Setang sepeda bergoyang dan meliuk ke kiri dan kanan karena Lucky mencoba mencari keseimbangan.


"Mase bisa naik sepeda Ndak sih maaaasss.." Sri memukul punggung Lucky saking cemasnya.


"Ck.. diam lah Sri. Atau Oma akan memergoki kita" Lucky bicara dengan sedikit jengkel karena Sri berisik di belakangnya.


Oma tidak pernah suka ketika Lucky naik sepeda. Karena dari dulu Lucky selalu jatuh ketika naik sepeda. Lucky sangat kesusahan mengayuhkan kakinya di pedal sepeda. Entah kenapa dari dulu selalu saja ini kelemahannya. Kakinya terasa kaku ketika mengayuh.


Perlahan, Lucky mulai menadapat keseimbangan sempurna. Bisa mengayuh pedalnya dengan lancar. Tapi begitu sampai di halaman depan, mereka berdua di kagetkan ketika Oma berteriak lantang dengan suara khas bergetarnya.


"Lucky!! berhenti!! mau kau bawa kemana menantuku! cucu kurang ajar! kau akan menjatuhkan menantuku nanti!! berhentiiii..."


Tapi dengan gesit Lucky mengayuh makin kencang sambil menjawab Oma dengan teriakan juga.


"Tenanglah Omaaa... sebentar sajaaaa... Istriku tidak akan jatuuhh.."


"Heeeyyy... berentiii!!"

__ADS_1


Akhirnya Oma hanya bisa menatapi kepergian sepeda yang semakin jauh. Geram dan cemas melihat Lucky membawa Sri dengan sepeda.


__ADS_2