
Kini hari-hari terasa lebih nikmat. Sri dan Lucky memadu kasih tanpa ada lagi penghalang di antara mereka berdua. Jika dulu bantal guling sebagai pemisah ketika satu ranjang, kini keduanya melekat erat seakan tak ingin terpisahkan sesenti pun.
Lucky benar-benar telah luluh seratus persen. Hatinya lumer di tangan Sri. Satu-satunya gadis pembangkang yang mampu membuat Lucky klepek-klepek.
Setelah konfrensi pers waktu itu, media memberitakan Amira melakukan playing victim. Itu membuat reputasi Amira merosot tajam. Banyak bisnisnya anjlok. Dan Lucky tidak main-main kali ini. Dia memutuskan semua bentuk kerja sama dengan Amira. Tidak mendukung dan membatalkan banyak brand ambassador yang di bintangi Amira.
Menjerit sekalipun Amira di depan Lucky, pria itu kini tidak akan pernah goyah. Lucky menutup hatinya rapat-rapat. Seperti saat ini. Amira datang ke perusahaan Lucky's corp dengan wajah yang di penuhi kemarahan dan benci. Menerobos masuk walau sekuriti menghadangnya.
"Nona Amira, jangan begini" seorang sekuriti memperingatkan Amira sekali lagi.
"Heh!! jangan ikut campur! pergi kalain!" Amira menjerit marah. Urat malunya sudah putus. ke empat sekuriti itu bingung harus berbuat apa.
Dor..dor.. doorrrr!!!
"Lucky!! aku ingin bicara! buka pintunya!!" teriak Amira menggedor pintu ruang kerja Lucky dengan keras.
Semua sekuriti panik dan ketakutan. Amira sungguh berani menggedor ruangan CEO mereka. Tamatlah riwayat mereka kali ini. Tidak becus membereskan kerusuhan Amira. Mereka hanya takut bersikap tegas. Karena mereka tahu, Amira adalah mantan kekasih Lucky.
Pintu ruang kerja Lucky terbuka. Beni muncul dari dalam. Menatap Amira dingin. Tapi Amira tidak peduli. Juga menatap beni dengan mata memancarkan kemarahan dan napas terengah. Dia hanya ingin Lucky. Bukan yang lain.
"Minggir!"
Sri mendorong Beni sekuat tenaga. Tapi beni bergeming. Tetap berdiri kokoh di depan pintu. Membuat Amira semakin naik pitam.
"Beni! menyingkir kataku!" teriak Amira marah.
"Tempat anda bukan di sini, nona Amira" ujar Beni dingin.
Amira melotot. Sangat geram pada Beni. Serasa ingin menelan beni bulat-bulat saat ini juga. Tapi pria itu tak terpengaruh.
"Ben, biarkan dia masuk"
Terdengar suara Lucky dingin menusuk dari dalam ruangan. Beni masih diam mematung. menatap mata Amira tajam. Amira juga balas menatapnya sengit. Pelan sekali Beni bergeser kesamping. Memberi celah untuk Amira bisa melirik ke dalam ruang kerja Lucky. Dengan tidak sabar, Amira mendorong keras tubuh beni agar segera menyingkir dan memberinya akses masuk.
__ADS_1
Melangkah masuk dengan tergesa. Berdiri di depan meja kerja Lucky. Mata mereka bertemu. Sama-sama menatap dingin. Dada Amira naik turun menahan gejolak amarah yang tidak bisa terkontrol lagi.
"Apa maumu, Mira?" tanya Lucky dingin.
"Apa?! kamu tanya lagi apa mauju?!" Amira memicingkan matanya sadis. Ingin rasanya berteriak kencang saat ini juga.
Lucky menarik napas panjang. Menyandarkan punggungnya di kursi. Menautkan jari jemarinya membentuk Piramida. Matanya masih tidak lepas menatap Amira tajam. Beni segera saja menutup pintu. Berdiri tak jauh dari Amira. Waspada menjaga tuannya.
"Apa maksudmu, Luck! apa kau masih belum puas dengan pemberitaan itu? hingga kau hancurkan aku?! Kenapa kau ubah semua kontrak kerja sama kita? kau memutuskan semua dukunganmu padaku! apa maumu Luck? Apaaa!!" Teriak Amira lantang. Dia sudah tidak tahan menahan geram pada Lucky.
Lucky masih diam. Hanya menatapi Amira berteriak padanya. Belum ingin menjawab semua pertanyaan Amira.
"Lihat! lihat ini!" Amira meraih remot televisi. Memencetnya dengan kasar. Televisi besar di depan Lucky menyala. Berita seputar Amira yang belum berhenti juga. "Lihat! kau puas? kau merusak citraku, Luck! jawaaaabbb!!"
BRRAAAKKK!!
PRAAANG!!!
Tiba-tiba saja Lucky bangkit dan menggebrak meja kerjanya keras. Lalu melemparkan ukiran papan nama kebesarannya yang ada di atas meja kearah televisi. Dan tentu saja televisi itu pecah dan menimbulkan suara yang cukup gaduh. Membuat Amira tersentak kaget dan mendelik gemetar melihat itu.
Amira semakin membeku. Tercengang tak percaya Lucky berteriak padanya. Baru kali ini Lucky marah padanya. Melotot dengan nyala berkobar. Lucky bergerak ke dekat Amira dengan langkah lebar. Mencekal lengan Amira kencang. Lalu mengguncangnya keras.
"Kau sudah gila! tidakkah kau berpikir apa yang telah kau lakukan itu adalah kesalahan besar??! jangan ikuti nafsumu Amira!"
Amira terhenyak. Sepanjang mereka bersama, Lucky tidak pernah sekalipun berkata kasar atau membentaknya. Tapi kali ini, Lucky berteriak marah. Lucky membencinya. Lucky tidak lagi menganggapnya penting.
"Kau tanya apa yang ku lakukan? hah!! tidak kau tanya dirimu sendiri? apa yang telah kau lakukan?? ****!!"
Lucky menghentakkan Amira kasar. Tubuh Amira terhuyung kebelakang. Tapi Lucky tidak peduli. Ia memijit keningnya keras. Bertolak pinggang memunggungi Amira. Beni diam terpaku melihat kemarahan tuannya. Belum pernah Lucky menunjukkan sikap marah luar biasa seperti sekarang di depan Amira.
Mata Amira memanas. Meneteskan buliran bening. Hatinya berkecamuk. Entah sekarang dia merasakan apa. Kacau, marah, kaget menjadi satu. Lucky berbalik. Menatap Amira. Menarik napas panjang mencoba menetralkan emosinya.
"Kau egois Amira. Apa yang kau pikirkan sampai kau membuat playing victim itu hah?? Kau kira istriku akan hancur? hah?"
__ADS_1
Amira membatu. Berdiri tegak dan kaku. Hanya mampu menatap Lucky dengan linangan air mata. Dia bukan menangisi mengapa Lucky bersikap kasar. Tapi lebih tepatnya menangisi kemerosotan popularitasnya.
"Kau salah Amira. Itulah yang membuat Sri semakin bersinar. Kau memberiku jalan untuk mempubliskan siapa istriku yang sebenarnya. Selama ini aku menurutimu untuk tidak membuka itu. Aku menuruti semua kemauanmu. Tapi kau gegabah. Kau yang menyebabkan ini semua terjadi"
"Tapi tidak dengan memutus semua hasil kerja kerasku, Luck! kau curang!" pekik Amira disela isaknya.
"Curang? apa itu curang?" Lucky merentangkan tangannya dan menaikkan alisnya. "Lalu kau mau bilang kalau kau bermain lurus? begitu?" Lucky mencemooh.
"Aku hanya berusaha mempertahankan apa yang telah ku capai. Apa salahku?" Amira semakin berlinang air mata.
"Ya.. teruslah merasa tidak bersalah. Itu baik untuk mu"
"Hiks.. hiks.. kau membuat semua yang aku punya hancur, Luck! hiks.. hikss.." Amira menagkup wajahnya. Tersedu pilu.
"Tolong. Hentikan air mata buaya mu. Pergilah. Itu balasan ketika kau berharap istriku hancur"
Amira membuka tangannya. Menatap Lucky dengan kebencian.
"Baik. Aku akan pergi. Tapi satu yang harus kau ketahui. Istrimu selingkuh"
Lucky menaikkan sebelah alisnya. Merasa heran Amira mengatakan itu. Sri selingkuh? dengan siapa?
"Apa yang kau katakan?" Lucky mengernyitkan dahinya.
"Kau tidak tahu selama ini kau di bodohi. Kau tidak tahu bahwa selama ini istrimu selingkuh dengan Noah! kau bodoh!!"
Hening. Lucky diam membisu. Terasa otot tubuhnya menegang kaku.
"Hhhh.. Kasihan kau Luck. Kau dan Noah selalu bersaing" Amira mencebik sinis.
"Cukup Amira. Pergilah!"
"Baik. Aku pergi. Tapi ingat, kau akan merasakan yang lebih parah dari ini!"
__ADS_1
Amira berbalik. Mengusap air matanya kasar. Lalu melangkah pergi meninggalkan Lucky. Setelah Amira pergi, Lucky terhuyung dan terduduk di kursi kerjanya dengan lemas. Beni menatapnya prihatin. Amira sudah membuat isu yang lebih parah.