OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Kelakuan Aneh Lucky


__ADS_3

Lucky tidak membiarkan istrinya menapak ke lantai. Turun dari mobil pun dia menggendong Sri. Sri hanya menurut bergayut di leher dan dada bidang suaminya. Ia rindu. Rindu dada kokoh itu.


"Pak Sam, sediakan makanan terenak untuk istriku" ujar Lucky terus berjalan naik ke lantai atas tanpa menoleh pada pak Sam.


"Baik, tuan"


Tanpa banyak protes, pak Sam pergi ke dapur untuk memerintahkan koki membuat pesanan tuan mudanya. Frans dan melani membiarkan saja Lucky mengurus istrinya. Mereka berdua juga butuh istirahat.


Masuk ke kamar, Lucky menurunkan Sri di sisi ranjang. Lalu dia pergi ke kamar mandi. Menghidupkan keran air dan mengisi bathub. Menunggu air penuh, Lucky keluar kamar mandi. Tanpa banyak bicara, membuka bajunya sendiri dan hanya menyisakan ********** saja. Lalu mendekati Sri, menariknya berdiri. Membuka baju Sri satu persatu.


Sri hanya bisa terbengong melihat tingkah Lucky. Sungguh aneh kelakuan Lucky kali ini. Dia tidak pernah begini. Apalagi sampai mengurusinya untuk mandi. Biasanya juga Lucky minta di ladeni. Tapi kenapa malam ini dia yang menyediakan semua? Apa Lucky kena mental setelah melihat kejadian di hotel tadi sore?


"Mase.."


"Hem?" Lucky menatap wajah Sri.


"Mase kenapa?"


"Apanya?" mengedikkan bahu.


"Kok aneh?" Sri mengernyitkan dahi. Tatapannya menelisik.


"Hmm.. Ayo mandi. Aku harus membersihkan tubuhmu dari aroma si bangsat itu"


Lucky membopong Sri lagi. Tidak membiarkan istrinya jalan sendiri. Langsung meletakkan Sri ke dalam bathub berisi air hangat. Lalu dia menyusul masuk.


Menyirami tubuh Sri dengan air hangat di bathub yang beraroma mawar kesukaan Sri. Menggosoknya dengan lembut. Sri hanya bisa diam memperhatikan. Tiba di bagian perut Sri, Lucky agak berhenti. Diam mematung sesaat. Tangannya berhenti di sana. Tapi segera bergerak lagi seperti baru saja tersadar.


Sri sudah sangat ingin bertanya banyak. Tapi Lucky seakan tak memberinya kesempatan itu. Lucky diam seribu bahasa. Beraktivitas tanpa banyak bicara. Sri takut jika bertanya, Lucky menjadi marah lagi. Jadi lebih baik hanya menikmati saja keanehan suaminya.


Semua di lakukan Lucky tanpa banyak bicara. Dari memandikan Sri, sampai mengeringkan tubuh Sri, memilihkan baju tidur, dan juga memakaikan baju Sri, dia lakukan dalam diam. Setelah selesai, Lucky mempobong Sri lagi ke sofa di kamar. Dia memakai bajunya sendiri dan duduk di samping Sri.


Pak Sam datang dengan seorang pelayan lain. Membawa nampan berisi penuh makanan yang terlihat enak. Sri sangat merasa lapar. Tapi melihat tingkah suaminya, rasa lapar itu seakan hilang entah kemana.


Lucky mengambil sup jamur dan ayam. Ingin menyuapkan pada Sri. Tapi Sri cepat menolak. Sri memegangi tangan Lucky menatap suaminya tajam.


"Sri Ndak mau makan kalo Mase Ndak bilang apa sebenarnya yang terjadi" tegas Sri.


Lucky diam saja. Tapi segera menarik tangannya.


"Ini sup jamur. Baik untukmu. Ayo makan"


Sri menggeleng. "Cerita dulu. Atau Sri Ndak makan" Cemberut Sri membuang muka.

__ADS_1


"Yang rugi siapa? Kamu tidak lapar?"


Sri meragu. Perutnya sudah terasa perih saking laparnya. Apalagi setelah mandi. Tentu Rasa lapar lebih kuat menyerangnya. Dengan ragu, Sri membuka mulutnya. Lucky tersenyum kecil. Lalu menyuapkan sup itu ke mulut Sri.


Begitu merasakan sup yang begitu lezat, Sri jadi ketagihan. Dengan senang hati Lucky menyuapi Sri dan sesekali menyuap untuk dirinya sendiri. Dengan telaten Lucky menyuapi istrinya sampai selesai.


Membawa Sri keranjang dan membaringkannya. Lucky juga rebahan di samping Sri lalu memeluk Sri hangat.


"Mase Ndak marah lagi?"


"Untuk apa?"


"Ehm.. Yang tadi itu.."


"Ssstt.. Sudah" Lucky menepuk-nepuk pundak Sri dalam pelukannya. Sri berbantalkan lengan kokohnya. "Tidur lah. Kamu butuh istirahat"


Sri terdiam. Lucky tidak mau membahas masalah tadi. Tapi hati Sri masih belum puas. Secepat itukah amarah Lucky hilang? Dan kenapa sikapnya jadi semanis ini? sekalipun dalam diam, Lucky terlihat sangat perhatian.


Tiba-tiba Sri teringat Noah. Bagaimana kabarnya pria itu? Apa dia sudah tewas? Atau sikap manis Lucky hanya ingin membuatnya melupakan nasib Noah?


"emm.. Mase"


"hm?"


"Em.. Itu.. P-pak.. N-noah..,"


"Kenapa? Kau ingin tidur dengannya lagi?"


Deg!


Sungguh tajam pertanyaan itu. Dingin menusuk jantung. Sri bergidik ngeri. Lucky marah lagi.


"Ndak gitu mas. Tapi.."


"Noah sudah lenyap. Mungkin sudah di perut buaya-buaya darat"


"Hah? Buaya darat?"


"Ya. Sama sepertinya kan? Dia juga buaya darat. Berani sekali dia melihat tubuhmu. Dia bahkan seranjang denganmu. Atau dia sudah.."


"Iya iya mas. Sudah mas sudah. Sri mau tidur aja. Ojo nesu"


Sri cepat membungkam mulut Lucky. Ngeri rasanya jika membayangkan tubuh Noah di cabik-cantik buaya. Dan jika di lanjutkan, pastilah amarah Lucky meledak lagi. Lebih baik memilih tidur. Masalah yang lain, besok saja.

__ADS_1


"Bagus. Tidur lah"


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Lucky menunggu sampai Sri tertidur pulas. Lalu dia beranjak ke balkon. Menyulut sebatang rokok dan menyesapnya dalam. Menatap bintang di langit kelam, sekelam suasana hatinya saat ini.


Telah banyak yang terjadi. Akhir-akhir ini duka menghampiri bertubi-tubi. Perusahaan mengalami kemunduran yang signifikan. Tapi masih bisa terkontrol walaupun harus mengorbankan banyak orang.


Lucky bersandar di pagar besi pembatas balkon. Memandangi istrinya yang tampak tertidur pulas. Terlihat damai tanpa dosa. Dia harus bertindak secepatnya. Sudah muak dengan permainan Levi dan Amira.


Lucky mengambil ponselnya di saku celana. Mendial nomor Andri. Menunggu sesaat dan terdengar nada sambung.


"Andri. Bagaiman?"


"Semua terkendali tuan" terdengar jawaban Andri di seberang sana.


"Noah?"


"Sudah beres, tuan"


"Bagus"


"Apa selanjutnya, tuan?"


"Culik semua orang yang sudah melihat tubuh istriku. Aku ingin kau mencungkil mata mereka"


"Siap, tuan"


"Jangan sampai mereka menyadari sebelum semuanya beres. Mengerti?"


"Baik, tuan"


Sambungan terputus. Lucky mematikan rokoknya. Berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu balkon. Berbaring lagi di sebelah Sri. Menatapi wajah ayu dan polos milik istrinya.


Mengelus pipi halus itu lembut. Mengecupnya dengan mesra. Sri menggeliat miring dan balas memeluk dadanya. Menyurukkan kepalanya mencari kehangatan.


Lucky tersenyum dan mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. Gemas rasanya melihat Sri tertidur seperti bayi.


"Sabar Sri. Ini demi kita. Jangan menyerah" ujar Lucky lirih.

__ADS_1


Mendekap Sri dalam hangat pelukannya. Ikut memejamkan mata meninggalkan lelahnya hari ini. Terbuai dalam mimpi. Mencari jalan keluar yang tinggal sebentar lagi. Harus banyak bersabar jika ingin sukses menaklukkan dunia.


Berharap istrinya tidak akan pernah menyerah dengan semua yang telah terjadi. Lucky terlelap di buai alam mimpi yang menyajikan indahnya hari esok yang akan menjelang penuh dengan kebahagian.


__ADS_2