
"Tutup mulutmu, Luck!" bentak Levi panik. Lalu menatap semua hadirin. "M-maaf.. Maafkan saya. Ada kesalahan teknis. Maaf semua" Levi terbata-bata meminta maaf pada para tamu.
"Kenapa aku harus menutup mulut, Lev? Dan kenapa terlalu takut mereka melihat dan mendengar percakapan kalian? Hmm?"
"Diam kau, Lucky!" teriak Fardo marah.
"Hahaha... Lihatlah. Mereka sangat panik" Lucky terbahak seraya bertepuk tangan. Membuat Levi dan Fardo semakin kalut.
Amira dan Neni pias. Jantungnya berdegup kencang. Hancur sudah! Semua yang mereka lakukan terbongkar dalam waktu tak kurang dari sepuluh menit! Semua mata menyaksikan ini. Menyaksikan persekongkolan yang telah di rencanakan jauh-jauh hari.
Lucky berjalan ke arah panggung dengan penuh wibawa dan kemenangan. Matanya terus menatap Levi penuh kilatan kelicikan yang kini ia tampilkan full power.
"Haha.. Levii.. Adik sepupuku." Lucky menepuk bahu Levi. Berdiri di belakangnya. "Berapa lama kau menginginkan ini Lev? Jadi super star yang di puja. Pimpinan perusahaan yang terkemuka. Dan di katakan smart melibihi aku? Hm? Berapa lama?" sarkas Lucky.
Levi diam mematung. Grahamnya mengetat keras. Sangat geram mendengar ocehan Lucky. Yang lebih parahnya lagi, di saksikan semua orang. Kembali dia jatuh terpuruk tanpa daya di tangan Lucky. Hatinya mengumpat marah. Ingin rasanya meninju mulut Lucky saat ini juga.
"Haha.. kau tidak bisa menjawab, Lev?" Lucky memiringkan kepalanya. Menatap wajah Levi yang sudah berubah-ubah warna. Semburat merah dan pias silih berganti. "Haha.. Sangaaatt lama bukan? Dan kau mendapatkannya? Ahh.. Kasihan.. Masih belum dapat!" lucky penepuk bahu Levi dengan keras. Membuat Levi semakin mengetatkan rahangnya menahan amarah.
Lucky melirik Fardo. Lalu tersenyum sinis. Berganti mendekati Fardo. Berjalan pelan mengelilinginya sambil tersenyum mengejek.
"Paman... Far..do! Hmmm... Beginikah contoh ayah yang baik? Paman?" tentu tidak. Karena paman tidak pernah merasakan punya ayah." Fardo menatap mata Lucky tajam. Mengikuti kemanapun Lucky bergerak. Sangat benci melihat keponakan tirinya ini.
"Ah.. Sungguh miris sekali apa yang paman katakan barusan bukan? Lihatlah kelayar paman! Lihat! Wajah kalian penuh dengan Kebahagiaan membicarakan kematian seorang keponakan dan seorang ayah. Hhh.. Paman benar. dia bukan ayah kandung paman. Tapi.. Dia ayah kandung papiku!"
Lucky mendorong pundak Fardo sampai terhuyung ke belakang. Semua orang menahan napas melihat itu. Pertikaian antar keluarga Albronze telah pecah di saksikan semua pasang mata. Levi menggeram marah dan ingin membalas Lucky. Tapi cepat Lucky menahan dadanya dengan kepalan tinju tepat di dada Levi bagian kiri. Levi menunduk melihat tinju yang siap menghajarnya.
"Bergeraklah. Bergerak sedikit saja, maka tinju ini akan menghentikan detak jantungmu!" desis Lucky marah. Dia sudah muak untuk berdiam diri dan menahan diri dengan semua yang telah di lakukan Levi.
__ADS_1
Levi berhenti tak berani bergerak. Dia tahu sebesar apa kekuatan tinju Lucky jika dengan sengaja di tujukan ke bagian jantungnya. Melihat Levi diam, Lucky menarik tinjunya lagi.
Lucky berdiri di depan panggung. Menatap semua orang dengan dingin dan penuh wibawa.
"Para hadirin sekalian. Maafkan atas kejadian ini. Sebenarnya saya juga tidak mau dan merasa sangat malu atas semua ini. Saya tidak ingin aib keluarga Albronze sampai naik kepermukaan. Tapi.. Anda semua telah lihat dan dengar sendiri bukan? Bagaimana kelompok mereka sangat bernafsu ingin menjatuhkan saya" Lucky memohon maaf pada semua tamu.
"Tutup mulutmu Luck!" hardik Levi. Dia masih belum mau menyerah. "Saudara saudara.. Tolong jangan dengarkan bualan busuknya!" Levi menuding wajah Lucky dengan kebencian yang memuncak. "Ini hanyalah rekayasa yang ingin menjatuhkan saya! Kalian tau 'kan, dia ini sudah bangkrut! Dia hanya tidak suka melihatku berhasil sekarang!"
Semua orang diam. Menatap Levi yang masih berusaha meyakinkan mereka semua. Lucky hanya menatap Levi prihatin.
"Rekayasa?" tanya Lucky.
"Ya! Ini hanya akal-akalan busukmu! Kau mengedit video ini!" teriak Levi.
"Oohh.. Mengedit.. Hmm.. Canggih sekali aku bisa mengedit sampai sedetil ini, ya?? Lihat wajah mu" Lucky menunjuk wajah Levi di layar lebar itu. "Sampai jerawatmu pun, aku edit?"
"Kau licik, Luck! Penipu! mana buktinya kami melakukan itu semua?!" Levi dalam keadaan panik level tertinggi. Berteriak pada Lucky samapi ludahnya banyak yang muncrat keluar.
"Aah.. Ini baru smart. Kau cerdas Lev. Kau ingin bukti, ya? Baiklah. Aku senang kau memintanya tanpa harus aku tawarkan" Lucky tersenyum. Lalu melihat pada tamu di depan panggung lagi.
"Saudara saudara.. Dia meminta bukti pada ku. Sebenarnya aku masih enggan membuka ini semua. Aku tidak mau orang-orang licik ini semakin malu dan tak punya muka. Tapi.. apa boleh buat. Dia yang memintanya sendiri. Jadi.. Silahkan kalian saksikan"
Lucky menyingkir ke samping panggung. Semua mata melihat ke layar lebar itu. Di layar mulai menampilkan visual seperti film pendek. Kamera cctv yang menampilkan kejadian demi kejadian yang telah terjadi. Dari mulai penyeludupan narkoba di gudang kantor cabang sampai ke kantor pusat, penembakan yang terjadi pada kakek Fredi, sampai penculikan yang terjadi pada Noah dan Sri. Semua terekam dengan baik. Dan semua pelakunya adalah sama. Orang-orang yang ada di video sebelumnya.
Semua terkejut. sekarang bicara tidak dengan gumaman lagi. Tapi sudah langsung to the point. Semua mata menuju pada Fardo, Levi, Amira, dan Neni. Tidak ketinggalan pak Bayu dan juga Indah yang telah terbongkar perselingkuhan mereka.
"Puas? Atau belum?" tanya Lucky melihat pada para tersangka.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Bagaimana kau bisa menemukan cctv itu?! Kau bohong!!" teriak Amira dari bawah panggung. Air mata sudah berderai di pipinya.
"Ohh.. Hmmm.. Kalian lupa rupanya. Aku punya teman yang super jenius di sini. Tuan Deva Elliot. Dia punya FORCE MATTA. Menyambungkan cctv ke seluruh penjuru dunia. Dan aku bisa melihat semuanya dari sana. Jadi, jangan terkejut"
Serempak mereka semua melihat ke arah Deva. Yang di tatap sampai grogi. Beratus pasang mata mengarah padanya. Caera sampai bersembunyi di balik punggung Deva saking risih di perhatikan banyak orang.
"Dedev.. Kenapa semua orang melihat kita?" bisik Caera gemetar.
"Tenanglah, sayang. Mereka hanya terpesona melihat ketampananku" jawab Deva juga berbisik. "Eh.. Hehe.. Hai semua.." Deva melambaikan tangannya pada semua orang.
"Iih.. Kau ini." Caera mencubit pinggang Deva. "Kau hanya milikku! Mengerti Dev?"
"Awwhh... Itu sudah pasti sayang" Deva tersenyum penuh cinta melihat istrinya.
"Ehemm.. Fokus Dev!" geram Jacko di Samping mereka.
"Ah.. Kau ini! Jangan larang aku bermesraan dengan istriku, Jack!" Deva mendorong punggung Jacko dengan jari telunjuknya.
"Tapi pertunjukkan belum selesai! Nanti saja lanjutkan di rumah!" bisik Jacko dengan menahan suaranya berat.
""Tutup mulutmu Jack! Atau aku akan mencium istriku di sini sekarang!" Deva ikut menggeram marah.
"Wah.. Cium saja! Dan kau akan di tertawakan orang di sini!" Jacko melotot.
"Kau hanya cemburu! Kau belum mencium Neneng!"
"Hey! Hentikan! kenapa jadi kalian yang bertengkar?" Caera sebal melihat kedua lelaki yang beradu mulut dengan menggeram dan melotot.
__ADS_1