
Aroma bahagia terpancar jelas di wajah keduanya. Selalu tersenyum dan menatap mesra satu sama lain. Cinta itu baru saja terbebaskan. Mulai saat ini mereka berdua bisa menunjukkan di depan semua orang, sebagai pasangan bahagia. Tanpa ada lagi penghalang yang membentengi keduanya.
Tanpa ada Amira dan batasan di depan publik. Bisa melakukan apapun tanpa harus takut atau was-was. Sri masih punya tiga sahabat yang akan selalu berteman dengannya. Dan Lucky, tidak perlu menutupi lagi hubungan pernikahan mereka.
Seperti saat ini. Sri selalu berada di pelukan suaminya di dalam mobil. Menggelendot manja dan sesekali Lucky mengecup puncak kepalanya mesra. Merengkuhnya menempel erat di dadanya.
Noah menyadari kemesraan itu. Membuat wajah Noah merah dan duduk salah tingkah. Bisa-bisanya dia merasa cemburu pada istri kakak sepupunya sendiri. Sebisanya Noah menekan rasa cemburu itu di dasar hatinya yang paling dalam. Tapi gelisah itu tidak bisa tertutupi sepenuhnya. Sesekali Lucky melirik padanya.
Untung saja Beni tidak terlalu memperhatikan. Jika tidak, pastilah Beni dapat melihat kegelisahan hati Noah saat ini.
Mereka sampai di depan mansion. Langsung saja mami Melani menyambut kedatangan mereka. Memekik girang memeluk Sri. Mengatakan dia sangat bahagia melihat berita hari ini secara live di televisi.
Mereka masuk ke dalam mansion di sambut papi Frans. Lelaki tua yang masih gagah itu memeluk putranya senang. Menepuk-nepuk punggung tegap Lucky. Mengucapkan selamat pada putranya.
"Ahahahh.. Sekarang menantu ku sangat populer. Dia akan menjadi ratu tranding topik setelah ini" Melani mengecupi pipi sri. Sri hanya terkikik geli.
Mami Melani menggenggam tangan Sri sambil senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Akhirnya, setelah kesabaran penuh dia berharap Lucky bisa membuka hati untuk Sri, dan sekarang terkabul.
Mereka duduk di sofa empuk di ruang tamu. Noah juga ikut duduk di sana. Sedangkan Beni segera menyingkir pergi ke ruangan lain.
"Kamu tau, sayang? hari ini full berita kalian berdua di televisi" Melani sangat senang berkata sambil menepuk-nepuk punggung tangan Sri. Sri tersipu malu.
"Tadi ibu kamu telepon mami, Sri"
"Bune bilang apa, mi?"
"Ibumu bilang, dia sangat senang setelah melihat berita itu"
"Syukurlah bune Ndak sedih lagi"
Pak Sam datang dengan dua pelayan yang membawa nampan berisi teh dan cemilan. Menaruhnya di meja dengan hati-hati, lalu pergi.
"No, silahkan di minum" mami Melani mempersilahkan untuk Noah.
"Ya, bibi. Terimakasih" ujar Noah pelan.
Lucky mengerutkan keningnya menatap Noah heran. Adik sepupunya ini terlihat tak bersemangat dan gelisah.
"Hey.. kau kenapa?" tanya Lucky menatap Noah menyelidik.
__ADS_1
"Aku? apa? aku tidak apa-apa" Noah bersikap bodoh dengan pertanyaan Lucky.
"Aku perhatikan sedari tadi kau tampak gelisah. Ada apa?"
Noah tersudut. Semua orang melihat padanya. Apalagi tatapan papi Frans. Sangat menusuk kejantungnya.
"Aku baik-baik saja, kak" Noah tampak mengelak.
"Tapi.." ucapan Lucky menggantung karena langsung di potong mami Melani.
"Isshh.. kau ini!" Melani melotot pada putranya. "Tentu saja Noah lelah. Dia mengurusi urusan mu terus. Kau tidak merasa rupanya"
"Aku hanya bertanya, mam. Aku lihat dari tadi Noah gelisah" Lucky membela diri.
"Jangan dengarkan dia, no. Ayo cicipi kuenya. Tadi bibi yang masak. Kau pasti suka"
Noah merasa di selamatkan bibinya. Melirik Lucky dengan memicingkan matanya kesal. Setelahnya dia melengos dan mencomot satu kue dari piring.
Lucky mendengus kesal dan bergumam jengkel. Mami dan papinya selalu membela Noah. Sehingga tidak ada celah baginya untuk menjitak kepala Noah.
"No, tinggallah untuk makan malam, ya?" papi Frans meminta pada Noah.
"Tidak bisa, no. Kamu harus makan malam disini. Bibi sudah menyiapkan yang spesial untuk kita hari ini" Melani menimpali.
Dengan berat hati Noah mengangguk. Melirik Lucky lagi Sambil mengunyah makanannya pelan-pelan. Lucky hanya diam.
"Ah.. rasanya bahagia sekali hari ini" mami Melani kembali heboh. "Tapi masih terasa kurang kan Lucky?"
"Apa itu mam?"
"Kalian harus bulan madu lagi. Mami sudah kepingin cucu!"
"Uuhukk.. uhuukk.."
Noah tersedak mendengar itu. Kue yang ia makan tiba-tiba terasa mengeras di kerongkongannya. Kata-kata bibinya telah menghujam jantungnya dengan telak.
"Astaga, no! hati-hati makannya.." Melani tersentak melihat Noah tersedak makannya. Mengambil minuman dan langsung menyodorkan pada Noah.
"Ini, minum dulu"
__ADS_1
"Uhukk.. uhukk.."
Noah masih terbatuk dengan wajah merah padam dan menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Menerima gelas dari tangan bibinya. Meneguknya dengan kasar. Menyudahi minumnya dan menatap Lucky dengan napas memburu.
Lucky langsung saja menatap Noah tajam. Ia tahu kenapa Noah sampai tersedak begitu. Sri juga memperhatikan Noah dengan dahi berkerut heran. Sementara papi Frans hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Kenapa kau jadi batuk begitu, No?" Melani berpindah tempat duduk di samping Noah. Menepuk-nepuk punggung Noah khawatir.
"Aku tidak apa-apa, bibi"
Lucky melengos kesal. Maminya sangat perhatian pada Noah. Padahal Lucky tahu kenapa Noah sampai tersedak. Dan mami Melani tidak menyadari itu. Lucky berdiri. Menarik tangan Sri untuk bangkit dan mengikuti langkahnya.
"Ayo, sayang. Ikut aku. Jangan lama-lama disini"
"Eh.. tapi Mase.. i-itu.." Sri tergagap ketika Lucky menariknya menjauh. Merangkul pundaknya tanpa memberi kesempatan Sri untuk berhenti.
"Sudah.. ayo. Jangan hiraukan si licik itu" Lucky melirik sinis ke arah Noah. Dan Noah hanya bisa diam menatap punggung tegap Lucky menutupi Sri.
"Hah? licik?" Sri kebingungan.
Melani tak ingin kehilangan menantunya secepat itu. Segera berlari kecil menarik tangan Lucky untuk berhenti.
"Lucky. Jangan menyekap menantuku secepat ini! kau harus melepaskannya untuk mami!"
"Mami, kalian bisa ngobrol di kamar ku. Aku tidak mau istriku dekat-dekat dengan pebinor" Lucky juga menarik maminya. Diapit dua wanita di kanan kirinya, Lucky membawa kabur keduanya.
"Hah? pebinor? siapa maksudmu, Luck?" Melani mengikuti Lucky.
"Ada mam. Makanya kita ke kamar Lucky saja ya mam?" Melirik dan memonyongkan bibirnya mengejek Noah.
Noah menatap jengah pada Lucky yang telah menjauh dengan dua wanita tercintanya. Kesal juga rasanya di katai sebagai pebinor. Bukan maksudnya ingin merebut Sri. Tapi hatinya yang tidak bisa berkompromi.
Tiba-tiba saja Noah merasakan sofa di sampingnya ada pergerakan. Entah kapan papi Frans sudah duduk di sampingnya dan menepuk pundaknya. Noah menoleh melihat pamannya tersenyum teduh padanya.
"Sudah. Jangan terus menatapi Sri. Mereka sudah dekat sekarang. Bersabarlah. Kau juga akan mendapatkan istri yang tidak kalah baik dan cantik dari menantuku itu"
Noah tertunduk lesu. Pamannya ini sangat tahu apa yang ia rasakan.
"Semoga saja paman" keluhnya.
__ADS_1