OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Noah Itu Seperti Apa?


__ADS_3

Malam ini Sri gelisah menantikan suaminya pulang. Sudah hampir mendekati larut malam tapi Lucky belum juga memberi kabar. Satu jam yang lalu Sri sudah mengirim pesan. Tapi jangankan membalas pesannya, centangnya pun hanya terlihat satu.


Sri segan menghubungi lagi. Takut Lucky masih sibuk. Takut mengganggu pekerjaan suaminya. Bagaimana jika Lucky lagi rapat? atau sibuk dengan berkas? atau sedang bicara penting dalam sebuah pertemuan? tentu tidak lucu jika Sri selalu mengganggu dengan pesan ataupun panggilan telepon.


Sri membaringakan tubuhnya di tempat tidur. Gelisah menghantui. Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu ingin dekat dengan Lucky. Rasanya sangat nyaman ketika dalam pelukan suaminya. Terkadang sampai merengek minta Lucky selalu di dekatnya. Sri merasa konyol.


Tadi siang Nunik meneleponnya. Memberinya kabar mengejutkan. Nunik bilang akan menikah bulan depan dengan seorang pemuda yang di jodohkan kakaknya. Nunik meminta Sri untuk bisa hadir bersama Lucky.


Rencananya malam ini Sri ingin mengatakan itu pada Lucky. Tapi sampai larut begini Lucky belum pulang juga. Mami dan papi mertuanya sudah masuk ke kamar setelah makan malam tadi. Jadi Sri memutuskan untuk segera beristirahat saja.


Tok.. tok.. tok..


Pintu kamar di ketuk. Sri terkesiap bangkit. Terburu-buru membuka pintu. Nita membungkuk hormat dan mengatakan kalau tuannya baru saja pulang.


Senyum mengembang di bibir Sri. Melangkah dengan semangat menuju lantai bawah. Mobil Lucky baru saja berhenti tepat di depan teras. Sri berdiri di pintu bersama pak Sam, menyambut suaminya pulang.


Tapi begitu Lucky turun dari mobil, Sri tercenung melihat keadaan suaminya. Wajah Lucky tampak kaku. Dia sudah melepas jasnya dan dasinya di tumpuk di tangan beserta jasnya. tangan kemejanya di gulung sampai siku.


"Mas" Sri mencoba tersenyum manis walau tampak kikuk. Bingung kenapa Lucky tampak berubah.


Lucky hanya menyunggingkan senyum kecil. Menyerahkan jas dan tasnya pada pak Sam. Sri terpaku. Hatinya berdenyut nyeri bertanya-tanya kenapa Lucky kembali menjadi kaku.


Tapi cepat saja Sri membuang pikiran negatif yang menyebar meracuni otaknya. Mungkin saja suaminya lagi banyak pekerjaan. Berjalan menyamai langkah Lucky dan menggandeng lengan suaminya. Lucky masih diam saja.


"Mase mau mandi dulu?" tanya Sri begitu mereka sudah ada dikamar.


"Hem" Lucky mengangguk.


Segera Sri menyiapkan air untuk mandi Lucky. Setelah selesai, Sri keluar dari kamar mandi. Tapi terkejut melihat Lucky sudah berada di ambang pintu. Memakai handuk membelit di pinggangnya. Menatapinya seakan menelisik bahasa tubuh Sri.


"Sudah mas"


Sri tersenyum. Lucky membalas sedikit sekali. Seakan malam ini senyum dan kata-kata sangat mahal harganya. Tanpa bicara, Lucky masuk dan memulai ritual mandinya tanpa menghiraukan Sri yang masih menatapnya heran.


Karena Lucky tak menggubris, Sri menutup pintu kamar mandi. Duduk di tepi ranjang dan berpikir keras. Bingung dengan kembalinya kekakuan Lucky. Seingatnya dia tidak melakukan hal yang salah. Seharian hanya dirumah dan tak banyak melakukan aktivitas. Tapi kenapa Lucky begitu dingin? apa kesalahan yang telah ia lakukan?


Sambil menunggu Lucky mandi, Sri keluar kamar dan meminta pak Sam menyiapkan teh hijau. Dan meminta pak Sam untuk siaga jika Lucky ingin makan malam. Lalu kembali ke kamar membawa teh hijau untuk Lucky.


Lucky sudah selesai mandi ketika Sri masuk ke kamar. Pria itu berdiri membelakangi pintu sedang menggosok rambutnya dengan handuk. Sri meletakkan teh hijau di meja. Lalu mendekati Lucky dan memeluk punggung kekar yang terasa dingin dan harum menyegarkan.


Menghirup aroma sabun di punggung kekar itu. Sangat menenangkan jiwanya. Sri kecanduan aroma tubuh suaminya akhir-akhir ini. Lucky berhenti sejenak. Melirik Sri dibelakangnya dan tersenyum. Lalu melepaskan lingkarang tangan Sri di perutnya, lalu berbalik dan memeluk Sri.


"Hmm.. kamu sudah makan?"


Sri mendongak menatap wajah suaminya. Bukan itu yang ingin dia dengar. Kenapa harus tanya makan padanya? dia hanya ingin mendengar pernyataan cinta dari Lucky. Kembali Sri membenamkan wajahnya di dada Lucky. Memeluk erat menempelkan pipinya di sana.

__ADS_1


"Kenapa tanya itu sama Sri, mase? kan mase yang baru pulang" rengek Sri lirih. Masih menikmati dada bidang itu dengan mata terpejam.


"Aku sudah makan sayang. Kamu bagaimana?" Membelai kepala Sri dengan sayang.


"He'em. Sudah"


Lucky tersenyum melihat tingkah manja Sri. Mengecupi kepala Sri dengan sayang. Membawanya duduk di sofa.


"Minum dulu Mase" Sri memberi teh hijau pada Lucky.


Sri memperhatikan Lucky menyeruput tehnya. Tampak tenang. Tapi Sri merasa ada sesuatu yang berat sedang di pikirkan suaminya.


"Mase"


"Hmm?"


"Lagi banyak kerjaan ya mas?"


Lucky menyanderkan punggungnya di sandaran sofa. Menoleh menatap Sri dan tersenyum. Mengangguk mengiyakan pertanyaan Sri. Terlalu banyak tersenyum malam ini dan sedikit kata yang keluar dari bibir Lucky, itu semakin membuat Sri yakin bahwa ada masalah.


"Pesan Sri kenapa ndak di bales, mas?"


"Hah?"


"Tadi Sri kirim pesan. Kenapa ndak bales?"


"Mmm.. ponselku mati. Maaf sayang"


Sri mengernyitkan dahinya. Berpikir keras kenapa Lucky beralasan ponselnya mati? apa itu tidak mengganggu kerjanya? Tapi Sri tidak mau memperpanjang. Tidak baik memaksa Lucky untuk menjelaskan ketidak puasannya.


Lucky diam. Seakan sedang termenung. Seperti tak menganggap Sri ada di sampingnya. Sri merasa tak enak hati. Entah apa yang terjadi pada suaminya ini. Sikap kakunya yang dulu kembali lagi.


Jantung Sri berdenyut nyeri. Entah bagaimana akhir-akhir ini Sri merasa cengeng. Tidak seperti biasanya yang selalu tegar dan judes bila menghadapi Lucky. Sedikit saja Lucky tampak berubah, Sri akan merasa sensitif. Sifat perasanya sangat peka.


"Masee.. " panggil Sri lirih dan bergetar. Lucky diam seakan tak mendengar. "Hikss.. Mase kenapa?" Sri mulai tersengguk.


DEG!


Lucky tersentak menoleh melihat Sri berlinang air mata. Bagai di kejutkan aliran listrik tegangan rendah. Darahnya berdesir nyeri. Terlalu banyak berpikir sampai tidak menyadari keberadaannya saat ini. Istrinya bingung dengan sikap kakunya.


"Eh.. sayang. Kenapa jadi menangis?"


Lucky menggengam tangan Sri. Meremasnya tampak khawatir.


"Mase kenapa? dari tadi aneh. Sri ndak buat salah kan?" Isak Sri menatap suaminya dengan linangan air mata.

__ADS_1


"Tidak, sayang. Kamu tidak salah. Maaf ya, maafkan aku" Lucky mengusap air mata di pipi sri mesra. Merasa bersalah telah mengabaikan istrinya.


"Mase ada masalah ya?"


"Tidak, sayang. Hanya banyak pekerjaan. Rapat beberapa kali. Tapi tidak ada masalah"


Merengkuh tubuh Sri dan mendekapnya hangat. Membopong Sri ke tempat tidur. Membaringkannya di sana dan dia ikut berbaring di samping Sri.


Berpelukan menempel erat. Memperhatikan wajah Sri Lamat. Bentuk alis, mata, hidung bibir, lucky merekam semua dalam memori otaknya. Seakan belum pernah melihat Sri sebelumnya.


Terngiang apa yang dikatakan Amira tentang Sri. Selingkuh dengan Noah? selingkuh.. selingkuh... Menggema di gendang telinganya. Berputar di dalam pikirannya.


"Ada yang Mase pikirkan ya?" tebak Sri.


Lucky hanya tersenyum. Mengecup bibir Sri sekilas. Masih bimbang ingin menanyakan sesuatu pada Sri. Takut jika Sri akan tersinggung.


"Ayo tidur sayang" pinta Lucky.


Menarik selimut menyelimuti mereka berdua. Mematikan lampu dan mengganti lampu tidur dia atas malas. Berpelukan dan saling merangkul mesra. Sri menempel di dada dan kepalanya beralaskan lengan kokoh suaminya.


Agak lama mereka sama-sama membisu. Hanya tarikan napas mereka yang terdengar. Suasana hening. Sri berpikir mungkin Lucky sangat lelah. Tak ingin meneruskan memberitahunya ada masalah di kantor. Sri memejamkan matanya. Memutuskan besok pagi saja ia bicarakan tentang undangan Nunik.


Memejamkan mata dan menikmati degup jantung Lucky yang berirama dengan ritme sedikit kencang. Dadanya naik turun dengan teratur. Itu menandakan kalau Lucky belum mau tidur. Masih berpikir sambil memejamkan matanya.


"Sayang" panggil Lucky tiba-tiba.


"Hmm? ya mas?"


"Boleh aku bertanya?"


Deg!


Sri menegang. Bertanya? kenapa harus permisi dulu? bertanya apa? Sri mendongakkan kepalanya. Agak sedikit mengangkat kepalanya dan menatap mata Lucky yang masih terpejam. Begitu beratkah beban pikiran suaminya saat ini? tapi karena apa?


"Iya Mase, Boleh. Mau tanya apa?"


Perlahan lucky membuka matanya. Langsung berhadapan dengan mata Sri yang menatapnya menyelidik. Lucky tersenyum geli.


"Hehe.. santai saja, baby. Jangan tegang begitu"


Sri tesenyum kecut. Lucky bisa merasakan tubuhnya menegang dengan rasa penasaran.


"Cepetan Mase. Mau tanya apa?"


"Menurut kamu, Noah itu seperti apa?"

__ADS_1


__ADS_2