
Sri membuka matanya. mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa perih.
"Awwhh.."
Sri memegangi kepalanya yang terasa pusing. Memejamkan matanya lagi rapat. Memijit kecil keningnya untuk mengurangi rasa pusingnya. Rasa mual menyerangnya tiba-tiba.
Ingin bangkit, tapi tubuhnya masih terasa lemas. Pusing itu membuatnya seakan melayang. Sri menarik napas panjang untuk meredakan rasa mual. Membuka matanya lagi setelah merasa lebih baik.
Menatap langit-langit di atasnya. Mengerutkan kening merasa asing dengan tempat ini. Berusah bangkit dengan susah payah.
"Di mana ini?" gumam Sri lemah.
Memandangi kamar yang tidak pernah ia tempati. Semua prabotan di dalamnya terasa sungguh tak pernah ia lihat. Selimut tipis turun dari dadanya ke perut. Tanpa sadar Sri kembali menariknya dan merapatkan ke dadanya.
Deg!
Wajahnya menegang tiba-tiba. Ia merasakan dingin di punggungnya. Artinya punggungnya terbuka tanpa kain yang menutupi. Jantungnya berdebar kencang. Matanya melotot ngeri. Pelan sekali ia menunduk melihat dadanya yang hanya tertutup selimut.
"Hah??!!"
Kembali Sri melihat kedepan. Matanya masih terbelalak. Tak percaya keadaannya kini tanpa pakaian. Keringat dingin langsung bermunculan. Kepalanya kembali terasa berdenyut nyeri. Bagaimana bisa ia dalam keadaan telanjang?
Tak sengaja kakinya menyenggol benda keras di sampingnya. Jantung Sri semakin berdebar kencang ketika baru menyadari ada tubuh yang terbujur di sampingnya. Sri melirik bagian kaki sampai ke perut yang masih tertutup selimut itu.
Napas Sri memburu. Tak berani melihat sampai ke wajah orang itu. Otot tubuhnya berkontraksi. Memegang sejadi-jadinya. Tangannya meremat erat selimut di dadanya. Keringat mengucur deras.
Siapa pria itu? Sri tak berani menebak. Itu bukan bentuk tubuh suaminya. Dan seingatnya, dia sedang berada di parkiran toko roti. Tapi kenapa jadi berada di sebuah kamar yang tidak dia kenali?
Sri berpikir keras mengingat kejadian yang dia alami di halaman parkir toko roti. Ya.. Dia ingat sekarang. Ada dua lelaki yang menculiknya. Menyerangnya dan membekapnya dengan saputangan yang membuatnya hilang kesadaran.
"Gusti! Apa yang mereka lakukan?! Apa mereka melecehkan ku?"
Sri panik. Matanya sudah memanas dengan air mata yang mendesak keluar. Dia di lecehkan! Melihat keadaannya sedang di atas ranjang dengan tubuh seorang pria yang tak di kenalnya!
Perlahan Sri memberanikan diri untuk memastikan siapa lelaki di sebelahnya. Sri menoleh melihat dari perut sampai ke batas dada. Jantung Sri berdebar keras hingga terasa ke lehernya. Dentuman jantungnya seakan ingin jebol keluar dari dadanya ketika matanya tepat melihat wajah siapa yang ada di sampingnya dalam keadaan sama polos dengannya. Hanya selimut yang menutupi kaki sampai ke perutnya.
"Aaaaaaaaaa....."
Sri menjerit sekuatnya. Tak percaya apa yang dia lihat. Itu Noah! Wajah tampan itu terlelap seperti tak bersalah. Sri bergerak bangkit, menghindari Noah yang masih belum bangun. Sri turun dari ranjang dengan tergesa membebatkan selimut itu ke tubuhnya.
Sri mengigil ketakutan. Napasnya memburu tersengal-sengal. Jantungnya seakan mau copot. Keringat dingin membanjir di kening dan pelipisnya. Menatap nanar dengan air mata berlinang.
Noah?? Kenapa Noah?? Kenapa Noah menculiknya dan melakukan hal tidak senonoh padanya?
Sri beringsut di pojok kamar. Mengigil ketakutan dengan tangan gemetar. Menatap Noah yang masih diam tak terpengaruh dengan suara berisik teriakannya.
Tapi tunggu! Sri terpaku memikirkan itu. Kenapa Noah masih tidak bereaksi dengan teriakan kencangnya tadi? Apa Noah begitu lelah sampai tak mendengar apapun di sekelilingnya? Atau.. Noah pingsan?
Sri memberanikan diri mendekat lagi ke ranjang. Memperhatikan wajah Noah yang masih diam tanpa pergerakan sedikit pun. Sri mencoba melempar bantal ke wajah Noah. Tapi pria itu masih diam saja. Tidak merasakan lemparannya.
Penasaran Sri memutari ranjang. Berdiri tepat di samping Noah berbaring. Apa Noah sebegitu lelahnya sehabis melakukan hal bejat padanya, sampai dia tidak merasakan apapun? Apa Noah sudah mati?
Sri memperhatikan dada Noah yang naik turun dengan napas teratur. Dia tidur? Atau apa? Sri memijit lengan Noah dengan jari telunjuknya. Mencoba membangunkan Noah. Tapi tubuh itu masih diam saja. Sri mulai panik. Apa yang terjadi? Kenapa Noah diam seperti orang pingsan?
"Pak! Pak Noah?!"
Sri mulai berani mengguncang tubuh Noah dengan keras. Tapi pria itu masih saja diam. Geram Sri pergi ke kamar mandi. Mengambil mug wadah sikat gigi. Membuka keran air dan menampung airnya. Keluar lagi dan langsung menyiram wajah Noah dengan geram. Berhasil! Noah bergerak menggeliat dengan lemah. Matanya terbuka perlahan.
"Aawwhh..!!"
Noah mengeluh memegangi tengkuknya. Meringis kesakitan. Tapi belum menyadari kalau Sri ada di sampingnya. Sri masih menunggu dengan raut wajah marah. Noah meringis memijat tengkuknya yang terasa sakit. Lalu perlahan melihat sekeliling dengan heran. Sampai akhirnya Noah tersentak kaget begitu melihat Sri ada di sampingnya.
"Hah??! Sri?! Ngapain kamu di sini?!" tanya Noah terbelalak kaget.
__ADS_1
"Seharusnya saya yang tanya sama bapak! Kenapa bapak bawa saya kemari? Dan.. Dan bapak sudah.. Hikss..hikss.. melecehkan saya" Sri menutup wajahnya dan terisak sedih.
"Apa?! Jangan main-main kamu Sri?!"
Sri membuka wajahnya menatap Noah. Lalu melengos kesal dengan marahnya. Noah memperhatikan keadaan dirinya. Dan semakin tersentak kaget begitu menyadari dirinya dalam keadaan polos.
"Astaga! Apa ini?!"
Noah langsung menarik selimut menutupi dada polosnya. Mendelik panik dan bingung sekaligus. Menatap Sri dengan nanar. Dia juga tidak mengerti mengapa jadi seperti ini.
"Sri? Ada apa ini?"
"Kenapa tanya saya? Tanya sama diri bapak sendiri!" sentak Sri sambil menangis tersedu.
"Apa-apaan ini!"
Noah marah. Dia bingung kenapa menjadi seperti ini. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar. Mencari pakaiannya. Dan Belum sempat dia bergerak, pintu kamar di gedor dengan keras.
Dorrr.. Dorrr.. Dorrr..
"Noah!! Buka pintunya!!"
Deg!!
Sri dan Noah saling tatap. Panik dengan mata mendelik ngeri. Itu suara Lucky. Mereka berdua mengenalnya dengan baik.
Doorrr.. Doorrr.. Dorrrr!!
"Noaahh!!! buka!!! Atau aku dobrak!!"
Sri gemetar ketakutan. Suara Lucky dalam kemurkaan. Apalagi nanti setelah melihat keadaannya seperti ini. Sri tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
"Tenang Sri.. Tenang. Kita di jebak. Jangan panik"
"Sri! Pakai pakaianmu!" sentak Noah kasar melihat Sri hanya terpaku menatap pintu kamar dengan mata terbelalak lebar.
Noah bergegas meraih pakaiannya yang teronggok di sudut lain. Tergesa memakai celana panjangnya. Tapi belum sempat dia memakai baju, pintu kamar sudah di dobrak dengan keras.
Deg!!
Noah terbelalak. Kaku. Sri apalagi, tubuhnya menegang seakan urat dan otot di tubuhnya berubah menjadi kayu yang tak bisa di gerakkan. Matanya terbuka lebar dengan jantung yang berdebar keras.
Di pintu kamar, sudah berdiri Lucky dan papi Frans dengan mata yang tak kalah melototnya menyaksikan keadaan mereka berdua. Ada Amira di belakang mereka. Menutup mulutnya terperangah melihat keadaan Sri dan Noah yang belum selesai memakai pakaian dengan benar.
"Astaga!" lirih Amira.
Para pengawal tidak berani masuk. Nona muda mereka masih dalam keadaan yang tidak baik.
"Luck" papi Frans menyentuh lengan Lucky pelan.
Segera Lucky tersadar dan buru-buru masuk ke dalam kamar. Mendekati Sri dan melepas jasnya. Menutupi pundak polos istrinya agar tak terekspos lebih terbuka.
Sri masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Perlahan tubuhnya menggeletar ketakutan. Mengigil bibirnya dan menatap mata Lucky yang sedang menatapnya tajam.
"M-m-masss-e" terbata Sri memanggil Lucky.
"Apa yang kalian lakukan??!!" teriak Lucky marah sampai Sri terjangkit kaget dengan air mata menetes saking takutnya.
"Luck. Tenanglah. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa menjelaskan ini. Kami di jebak luck" Noah bicara dengan panik. Mencoba menjelaskan pada Lucky.
"Diam!! Apa katamu? Di jebak??" Lucky bergerak mendekati Noah dengan wajah merah padam. Matanya melotot seperti ingin melompat keluar. "Sudah tertangkap basah begini kau masih punya alibi bilang di jebak?!!"
"Luck! Dengarkan aku dulu!" Noah masih mencoba membela diri.
__ADS_1
"Lucky. Tenang dulu" papi Frans menengahi. Menarik tangan Lucky agar tidak segera menghajar Noah.
Lucky terduduk lesu di tepi ranjang. Matanya berkaca-kaca. Pikirannya kacau. Sungguh tega Noah dan Sri berselingkuh di belanganya. Amira melangkah masuk. Menatap Sri dan Noah dengan sinis.
"Kau tidak pernah percaya dengan apa yang ku katakan, Luck. Aku sudah bilang 'kan, kalau mereka berdua selingkuh. Mereka memiliki hubungan di belakangmu. Tapi kau terlalu percaya pada istrimu yang berpura-pura menjadi gadis lugu. Hhh.. Menjijikkan!" desis Amira di kata terakhirnya sambil menatap sinis pada Sri yang masih diam mematung.
Lucky mendongak menatap Amira. Benar, Amira pernah mengatakan itu. Dan dia tidak percaya. Tapi sekarang apa yang ia temukan? Noah dan Sri di dalam kamar hotel dalam keadaan kacau.
"Kau sudah lihat buktinya sekarang, Luck. Lihat mereka berdua. Kau masih mau di bohongi lagi? Kamu bodoh! Istrimu ini iblis dalam balutan sikap lugunya!" Amira memprovokasi lebih gencar.
"Diam kau Amira!! jangan memfitnah!!" teriak Noah marah. "Jangan pernah katakan seperti itu pada Sri!"
"Waahh.. Wah.. Lihatlah!" Amira merentangkan tangannya mendengar marahnya Noah membela Sri. "Lihat Luck!Sekarang dia masih sanggup membela wanita yang bukan miliknya. Hhhh.. Tapi yaaahh.. Miliknya ya? Kan sudah sering tidur bersama. Karena kau hanya sebagai topeng untuknya, Luck!"
"Tutup mulutmu, Amira!!" teriak Noah lagi.
"Diam!!"
Lucky berteriak dan berdiri dengan amarah yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Segera menerjang Noah hingga Noah terpental kebelakang menghantam tembok. Frans sudah tidak bisa menghalangi Lucky. Lucky segera menarik Noah bangkit. Lalu..
Bhuugg!! Bhugghh!!
"Berengsek kau!! Berani kau lecehkan istriku??!! Hah!! Aku akan membunuhmu Nooooo...!!" Lucky lepas kontrol. Menghantam Noah membabi buta.
Sri mengigil ketakutan. Menangis histeris melihat Lucky menghajar Noah tanpa ampun. Wajah Sri pucat pasi. Tak berani mendekat. Setelah Noah, pasti akan tiba gilirannya.
Bogem mentah menghantam pipi dan mulut Noah. Hingga bibir Noah robek dan mengalirkan darah segar. Frans segera menarik Lucky dengan kuat. Melepaskan cengkraman tangan putranya dari tubuh keponakannya yang sudah babak belur.
"Sudah Luck! Sudah!"
Frans mendekap Lucky yang masih meronta minta di lepaskan untuk kembali menghajar Noah. Noah mengalah. Tidak memberi perlawanan pada Lucky. Ia mengerti apa yang di rasakan Lucky saat ini.
"Andriiii!!!" teriak Lucky memanggil Andri pengawalnya.
Andri masuk dengan sigap. Menghadap pada Lucky siap untuk menerima tugas.
"Bawa dia" ujar Lucky dingin melirik Noah. "Bunuh. Lalu buang mayatnya jadi santapan buaya"
Andri mematung. Melirik Noah di sudut dinding dengan wajah babak belur. Masih ragu untuk melaksanakan tugas dari tuannya.
"Kau tidak dengar?" tanya Lucky marah menatap Andri tajam. "Kerjakan!"
"Siap, tuan"
Andri mendekati Noah dan menariknya keluar kamar dengan kasar. Melihat itu, Sri bagaikan tersambar petir mendengar perintah Lucky barusan. Bunuh? santapan buaya? astaga! Semudah itu Lucky melenyapkan Noah? Lalu bagaimana dengannya?
Setelah Andri keluar dengan menyeret Noah dari kamar, kini Lucky menatap Amira. Amira merasa menang. Telah berhasil membuktikan ucapannya dulu, kalau Sri dan Noah ada hubungan. Tapi itu tidak bertahan lama. Kata-kata Lucky membuyarkan senyum yang merekah di bibirnya.
"Kau sudah selesai?" Lucky menatapnya tajam dan dingin.
"Aku.. Eh.. Yah, baiklah. Aku pergi"
Amira tidak mau Lucky berubah pikiran. Toh apalagi yang ia harapkan dari Lucky? Kejayaannya telah hancur berkeping. Dan Amira sudah cukup puas dengan ini semua. Lucky akan segera membuang istrinya ke tempat sampah.
Amira berbalik dan melangkah perlahan. Masih mencoba mendengarkan apa yang akan di katakan Lucky pada Sri. Sebelum mencapai pintu kamar, dia masih sempat mendengar ucapan Lucky pada istrinya.
"Sekarang giliranmu. Aku akan membuat perhitungan dengan seorang perempuan licik!"
Ahh... Puasnya... Hati Amira berbunga dan bermekaran di setiap kuncupnya. Dia kini dapat melenggang dengan ringan membayangkan Sri akan mendapat hukuman dari Lucky dengan kejam. Amira tersenyum puas. Wajah sumringahnya tak bisa ia sembunyikan. Terus melangkah meninggalkan tragedi yang ia ciptakan. Iblis jahat tertawa keras di dalam tubuh dan hatinya.
"Hahahaaa... Akhirnya... Mampus kamu Sri!!"
"
__ADS_1