
Sri lebih dulu keluar dari kamarnya. Malas jika harus bersitegang lagi dengan Lucky. Pria itu selalu saja mengajaknya bertengkar. Entah apa alasannya harus marah pada Sri setiap kali mereka bersama.
Sri menuju ke dapur. Ibu dan ibu mertuanya sudah ada di sana. Sibuk menyiapkan sarapan pagi bersama bik Wagi pembantu di rumahnya.
"Selamat pagi bune" sapa Sri mengangguk dan tersenyum pada Melani ibu mertuanya.
"Selamat pagi menantu" jawab Melani dan tersenyum lebar memperhatikan Sri.
Warti juga tersenyum memandang Sri. Membuat gadis itu merasa risih diperhatikan dengan seksama.
"Suami mu belum bangun nduk?" tanya Warti.
"Sudah bune. Masih mandi" jawab Sri cuek saja.
"Kenapa tidak di tungguin saja Sri?" tanya Melani.
Sri terdiam. Bingung mau menjawab apa. Mana mau Lucky di tunggui di dalam kamar begitu. Yang ada pasti mereka bertengkar lagi.
"Kata mase, Sri deluan saja bune" jawab Sri akhirnya.
"Oohh.. gitu"
Melani melirik pada Warti. Lalu mereka berdua tersenyum-senyum geli. Melihat itu, Sri jadi bingung. Entah apa yang di pikirkan kedua ibu-ibu ini sampai tersenyum-senyum penuh arti begitu melihat Sri.
"Buat sarapan apa bune?" tanya Sri seraya mendekati Warti di dekat kompor.
"Ini bune masak nasi uduk, Sri" jawab Warti.
"Baunya enak bune. Sri jadi laper"
Sri membuka penutup dandang pengukus nasi uduk. Dan menggerakkan tangannya mengibas uap nasi ke hidungnya. Menghirup uap harum nasi uduk yang di kukus ibunya.
"Loohh.. ya sebentar toh nduk. Nunggu suami mu"
Warti menarik tangan Sri agar menjauh. Meraih tutup dandang dan menutupkannya kembali.
"alah bunee.. Sri cuma nyium aja kok" Sri merengut.
"Wes, kene (sini) nduk. Duduk sini"
Warti menarik tangan Sri untuk mengikutinya duduk di kursi depan meja makan di dapur. Sri menurut Saja. Duduk di antara Warti dan Melani. Menatap mereka berdua di kanan kirinya bergantian.
"Gimana tidur mu? nyenyak Ndak?"
Tanya Warti yang terlihat sangat antusias dengan wajah cerah. Melani juga terlihat tersenyum sumringah menatap Sri. Kedua ibu-ibu itu menunggu jawaban Sri dengan senyum mengembang.
Sri jadi kikuk di perhatikan sedemikian rupa. Apa yang harus di jelaskan pada ibunya dan ibu mertuanya ini? bahwa malam pertamanya sama saja dengan malam-malam sebelumnya. Yang berbeda hanya bertengkar dengan Lucky.
"Biasa aja bune. Sri tidur nyenyak" jawab Sri.
Kedua ibu itu terdiam dan saling lirik satu sama lain. Entah apa arti pandangan mereka berdua. Sri coba menerka-nerka dalam hati.
"Ono opo toh bune?" tanya Sri lagi.
"Mesra kan Sri?" tanya Melani dengan mata mengerjap-ngerjap.
Opone seng mesra?? lah wong lucky kayak macan gitu!
__ADS_1
Sri merasa sedikit sebal dengan pertanyaan itu. Dia mengerti sekarang kenapa kedua ibunya ini terlihat sangat antusias menanyakan kualitas tidurnya tadi malam.
"Iya, bune. Mesra" jawab Sri berbohong pada Melani.
"Naaahh...!!!" seru Melani.
"Astaga!!" Sri terjengkit kaget. "Bune bikin kaget" Sri mengelus dadanya.
"Benar kan jeng Warti. Sebentar lagi kita pasti nimang cucu" ujar Melani seketika.
"Iya jeng. Kita itu beruntung Yo jeng"
kedua ibu-ibu yang sedang berbahagia itu saling bergenggaman tangan dengan bahagia di depan Sri.
Ampun biuuung... nimang cucu!!
Sri memejamkan matanya erat. Merasa tertohok dengan kedua ibunya ini. Mereka berpikir malam pertama Sri seperti malam pertama pengantin baru pada umumnya.
"Sri" Melani beralih menggenggam tangan Sri dengan erat. "Di tingkatkan lagi ya. Servis suami mu biar selalu rindu sama kamu. semoga mami cepat dapat cucu"
Sri menatap mata ibu mertuanya yang penuh kebahagian. Sri jadi tidak tega. Sri dan Lucky sudah berbohong pada mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Lucky juga tidak mencintainya. Sekalipun dia bersikap lunak, tetap saja Lucky tidak bisa membuka hati padanya.
Sri hanya bisa mengangguk dan tersenyum pada Melani. Membuat wajah Melani semakin di penuhi kecerahan hakiki pagi ini.
"Iyo Sri. Sekarang wes nduwe (punya) bojo. Harus nurut sama bojo mu nduk. seng mesra biar tetap cinta" ujar Warti menasehati.
"nggeh (iya) bune" jawab Sri patuh.
"Yo wes. Kono (sana) panggil mas mu. Kita sarapan"
Warti menyuruh Sri menjemput Lucky ke kamar. Sri menuruti saja. Ingin cepat-cepat menghindari kedua ibu-ibu yang sedang merasakan kebagian penuh ini.
Sri hanya berdiri di balik pintu. Bersandar dan memperhatikan Lucky yang masih membereskan rambutnya. Tampak lelaki yang sangat perfeksionis. Mematut diri di depan cermin dengan seksama. Tidak ingin ada yang kurang dari penampilannya.
"Mase mau kemana?" tanya Sri.
Lucky melirik Sri lagi dengan tajam.
"kenapa?" tanyanya dengan hanya menatap Sri dari cermin.
"Rapi banget" jawab Sri sambil memperhatikan Lucky.
Lucky membalikkan tubuhnya menghadap Sri. menatap Sri dengan tajam dan dingin. Tampak tidak suka dengan pertanyaan Sri.
"Ingat perjanjian kita. Tidak mencampuri urusan masing-masing" ujar Lucky tajam.
Mendengar itu Sri hanya melengos. Makin sebal saja Lucky mengingatkan akan perjanjian mereka berdua. Sri juga tidak mau mencampuri urusan Lucky. Hanya merasa heran dengan penampilan Lucky yang sangat rapi jika hanya sekedar di rumah.
"Ck.. cuma tanya" ujar Sri malas sambil memutar bola matanya malas.
"Tidak ada pertanyaan" ujar Lucky tegas.
"iisshh.. sok eram!" sungut Sri bergumam kesal.
"Yo wes. Ayo keluar. Sarapan"
Lucky menaikkan sebelah alisnya menatap Sri. Merasa curiga apa maunya gadis itu sampai mengajaknya sarapan. Sri mengerti mengapa Lucky menatapnya begitu curiga. Dia sangat sebal sekali melihat Lucky Selalu menatapnya curiga.
__ADS_1
"Bune yang suruh. Bukan aku" celetuk Sri menjelaskan.
Wajah Lucky sedikit mengendurkan kecurigaannya. Tapi masih menatap Sri tajam
"Kamu deluan saja" ujar Lucky sambil menggerakkan dagunya sedikit, mengusir Sri keluar dari kamar lebih dulu.
Iisshhh Lanang edaan!! Ndak ngerti apa, maunya bune bune itu gimana?!
mendengar kata-kata Lucky, rasa marah Sri bangkit. Lucky tidak tahu apa yang barusan Sri dengar dari ibu-ibu mereka. Belum apa-apa, Sri sudah mendapat wejangan pagi.
Sri beranjak mendekati Lucky dengan langkah lebar. Gemas pada laki-laki yang satu ini. Begitu dekat, Sri menarik tangan Lucky dan menggeretnya sekuat tenaga menuju pintu.
Lucky agak menahan tubuhnya agar Sri tidak dapat menariknya. Sri melotot pada Lucky, karena dia masih kalah tenaga menarik tubuh tegap Lucky. Dengan kesal, Sri menghempaskan tangan Lucky. Tak sanggup menarik lagi.
"Mau apa kamu?" tanya Lucky dingin.
"Aduh Mase! Ojo GR Yo. Aku juga Ndak suka sama kamu. Jangan kamu pikir aku tu ganjen sama kamu Mase" Sri sangat jengkel pada Lucky.
"Lalu?"
"hhhhahhh"
Sri menghela napas dengan kesal. Mencoba bersabar menghadapi lelaki dingin dan menyebalkan ini. Menatap Lucky dan mencoba menjelaskan.
"Kita harus pura-pura mesra di depan mereka Mase. kamu tu Ndak tahu apa yang bune ku dan bune mu bilang ke aku Lo mase... Mereka kira, kita udah tidur bareng. Udah wik wik" ujar Sri menjelaskan panjang lebar.
Lucky menaikkan satu alisnya menatap Sri tak percaya. Agak terkejut mendengar penjelasan Sri tentang apa yang di pikirkan ibu mereka.
"Halaaahh.. lama! wes lah, ayo keluar. Ntar di kira kita ngapa-ngapain lagi"
Sri menarik paksa tangan Lucky. Kali ini Lucky tak banyak menolak. Ia mengikuti saja Sri menariknya keluar kamar.
Sesampainya di luar, Sri menggandeng lengan lucky. Tapi Lucky agar sedikit menolak dengan menarik lengannya agar Sri tidak menggandengnya.
Sri menatap Lucky melotot. Menarik lengan Lucky lagi dengan keras. Mengapitnya dengan erat agar Lucky tidak banyak bergerak. Sri mengajak Lucky berjalan dengan bergandengan tangan menuju ke ruang makan.
Lucky diam saja. Ia mengerti maksud Sri setelah sampai di ruang makan. Di meja makan, sudah hadir semua. Kakak-kakak Sri, ibunya dan mami papi Lucky. Mereka semua menoleh serempak menatap pasangan pengantin baru, dengan senyum menawan dan penuh kecerahan.
Sri mencubit kecil lengan Lucky seraya bergumam tertahan sambil merapatkan giginya dengan jengkel. Gumaman yang hanya bisa di dengar lucky.
"Senyum! pura-pura! Ojo ngeyel sampean!!"
Sontak saja Lucky dan Sri memamerkan senyum paling menawan dengan sejuta bahagia yang terpatri di wajah mereka berdua. Melihat itu, semua orang senyum mesem-mesem. mengulum senyum geli melihat pasangan baru yang sedang di Landa asmara sejak melewati malam pertama mereka.
"Selamat pagi semua" sapa Lucky.
"pagi" jawab mereka.
"Ayo sini luck, kita sarapan" ujar Melani.
Sri dan Lucky berjalan ke meja makan. Duduk berdampingan dengan masih memamerkan senyum manis. Sri menyendokkan nasi uduk ke piring Lucky. Lalu menyendokkan kepitingnya sedikit. Duduk di samping Lucky.
"Ini Sri, buat bojo mu"
ibunya menyerahkan gelas kecil yang sudah berisi telur setengah matang di dalamnya, dan ada sedikit taburan merica dan garam.
"Untuk apa ini bune?" tanya Sri agak heran menatap gelas kecil itu.
__ADS_1
"Biar kuat Sri. Tetep joooss!!" sahut dani kakak ipar Sri.
Mendengar itu, sontak semua keluarga mereka tertawa riuh. Wajah Sri terasa panas. Dan Lucky sampai tersedak makannya.